Inspirasi

Anak Daerah, Prestasi Dunia

PAMUNGKAS PRAWISUDA SUMASTA, UKIR PRESTASI DUNIA

Lebih akrab dipanggil Ipung, cowok kelahiran 1993 ini punya segudang prestasi mendunia. Tahun 2004, Ipung berhasil menjadi Juara 1 sepak bola tingkat nasional mewakili Provinsi Lampung. Ia sempat diundang merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Semenjak itu, banyak prestasi sepak bola tingkat nasional yang ia capai antara tahun 2005 hingga 2008.

Gak cuma hobi main bola, dia punya minat dan bakat di dunia elektronika. Ipung menjuarai beberapa kontes robot di Jogja antara tahun 2008 hingga 2010. Ipung pernah jadi Duta Young IM3 MOBAC di Jogja dan beberapa karyanya pun sempat diliput majalan nasional, HAI-Magazine pada masa SMA.

Gak heran, kalau Ipung lebih memilih melanjutkan kuliah S1 nya di Belanda tahun 2011. Gak pernah berhenti berprestasi, Ipung berhasil menjadi Pemenang kontes Arduino Challenge di Belanda Utara dan berhak atas kunjungan ke Silicon Valley, USA.

Di tahun yang sama, berkat kerja kerasnya, ia sempat mewakili Belanda di kompetisi robot tingkat Eropa di Wilhemshaven, Jerman dan menjadi finalis Internasional terbaik.

Tahun 2013, hasil karyanya menjadi pemenang kontes inovasi global dari perusahaan semikonduktor dunia bernama ATMEL dan berhak atas gelar AVRHERO.

Setelah mendapatkan gelar AVRHERO, ia sempat memamerkan hasil karyanya bernama PHOENARD di beberapa eksibisi tingkat dunia, seperti Maker Faire di Bay Area, California, Maker Faire di Roma, Italia, dan puncaknya di acara Elektronika Internasional terbesar, ELECTRONICA di Munich, Jerman.

Kesibukannya sepanjang tahun 2014 dalam dunia start-up bisnis, berakhir cukup manis. Ia dan dua koleganya berhasil mengumpulkan dana crowfunding sebesar 35.673 Euro. Ia yakin, ketekunan dan ilmu yang ia dapatkan di bidang teknologi dari negara lain, harapannya semoga bermanfaat kemashlahatan bangsa Indonesia ke depannya nanti. Duh, keren banget!

Guys, sebenarnya permasalahan yang ada di Indonesia itu mediocrity. Merasa sudah cukup senang saat menjadi biasa-biasa aja sehingga melupakan diri buat mencapai hal yang lebih dari batasan. Well, gak salah kalau Jim Collins bilang: Good is the enemy of the great.

sumber: idntimes.com