Celoteh

Antipati Atau Apatis, Bukan Keduanya

BUKAN APATIS, BUKAN PULA ANTIPATI

 

Bukan kadangkala, akan tetapi bisa dibilang hampir selalu saya tidak mampu menahan senyum kecut dan agak sinis melihat ungkapan kalimat para calon wakil rakyat terhormat yang terpampang di poster-poster, di hampir sudut dan dan simpangan jalan. Bagaimana tidak, nyaris semua mengumbar dan mengobral kata ‘rakyat’; seperti, bekerja untuk rakyat; berjuang untuk rakyat; tampil bela rakyat; siap jaga amanat rakyat; dan masih banyak ragam kalimat seakan menunjukkan diri layak dan pantas untuk dipilih.

Demikian pula cukup banyak yang kemudian menampilkan perubahan sikap dan perilaku yang seakan menunjukkan dirinya dekat dan memberi perhatian pada ‘rakyat’.

Nah, kembali ke sikap saya yang cenderung agak sinis, yang sebenarnya lebih tepat cermin kegundahan dan rasa kurang percaya apakah pada waktunya bila mereka terpilih nanti akan benar-benar melaksanakannya? Sebab, bukan rahasia umum lagi jika banyak kasus memalukan dan menohok nurani justru dilakukan oleh mereka setelah terpilih dan duduk di kursi terhormat itu. Yang menyolok, seperti tindak korupsi, kolusi, dan ragam tidak jauh dari keteladanan lainnya.

Anehnya, meski sudah banyak yang terjerat kasus hukum dan juga rendahnya apresiasi dari banyak kelompok masyarakat (termasuk saya), peristiwa penyimpangan atas komitmen tetap marak terjadi. Sehingga, membaca jargon politik yang terpampang malah sering kali membuat muak dan perut saya mual. Itu sebab, saya amat menghindar dan enggan membicarakan serta mengulas hal-hal yang sedang ramai jadi perbincangan di tahun politik ini.

Apalagi dengan agak kesulitannya saya memilah berita yang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Dan itu mungkin ada benarnya juga seperti diungkap salah satu komentator/pengamat politik di salah satu stasiun televisi tadi pagi (05/03) yang merasakan indikasi beberapa media cetak sudah mulai terkontaminasi berita media sosial.

Mungkin (dan masih ada keyakinan juga) tidak semua para calon bermain dengan topeng; tentu ada juga yang sungguh-sungguh berkeinginan untuk melaksanakan niat tulusnya. Namun kembali pertanyaan mengganjal mengganggu muncul, apakah mungkin seseorang akan bisa melepaskan diri dari pusaran yang sudah tersistem sedemikian rupa? Apakah mampu dia merubah lingkungan yang sudah jauh dari penegakan nilai idealis?

Sungguh saya berusaha keras untuk mencoba membangun dan memperbaiki kepercayaan diri yang mulai melemah dan berburuk pandang terhadap mereka-mereka yang menjual kata ‘rakyat’. Soalnya, energi dan emosi negatif kian lama, kian menyesakkan dan cukup tidak membuat nyaman. Tentu anda bisa membayangkannya.

Apakah apatistik sudah mulai meracuni otak ini? Mudah-mudahan dan berharap tentu jangan sampai terjadi.

Kesadaran untuk menggunakan hak pilih (dan dipilih) harus menerus dihidupkan pada kenyataan hidup berbangsa dan bernegara. Bukan saja dikarenakan kewajiban kita untuk menjaga dan tegaknya demokrasi politik melainkan lebih menyentuh pada hak kita untuk melindungi keterjaminan kelangsungan bangsa dan Negara.

Dukung mendukung sah-sah saja, hanya hindari agar tidak sampai membutakan nurani; menjadikan segalanya cukup diwarnai hitam dan putih, terpisah tegas.

Meski belum berhasil sepenuhnya melenyapkan sinistis dan guna membangun kenyamanan diri, perlahan-lahan saya mulai memberanikan diri membuka nilai dari perspektif yang penuh aura positif. Saya tidak peduli apakah pada akhirnya mereka akan berkhianat pada janjinya atau tidak, sementara saya singkirkan dulu dari pusaran pikiran. Yang terpenting, Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden, 17 April 2019 mendatang musti sukses, aman, dan terkendali serta saya dan anda akan menggunakan hak pilih tentunya…

Salam…