Celoteh

Beda Makan Dan Camilan

GENERASI MILENNIAL PERLU KENAL BEDANYA MAKAN BENERAN DAN CAMILAN

Bepergian, terutama ke tempat yang jauh dari rumah, bagi saya barangkali agak beda dengan kebanyakan orang. Apalagi, jika saya kembali ke kota atau desa yang sama setelah sekian tahun. Seandainya bangunan dan pemandangannya masih sama, biasanya yang berubah cepat justru perilaku makan orang.

Di kota kecil atau lebih tepatnya daerah di mana komunitas tradisional masih kental terasa, mustahil jam 3 sore masih ada rumah makan atau warung yang buka. Begitu pula di malam hari, jangankan tempat nongkrong, toko-toko pun tutup begitu senja mulai turun. Di negara maju, masih ada kota yang bertahan dengan siklus seperti itu. Seandainya pun ada ‘kehidupan malam’ – maka hanya di area yang amat terbatas, dan pengunjung tetapnya dapat dikenali, walaupun belum tentu saling menyapa.

Kebanyakan rumah makan Tionghoa di Pecinan, ketika saya masih kecil punya tradisi ‘jam istirahat’ yang biasanya antara jam 14.00 hingga 18.00. Sekali pun belum tentu pintunya tertutup rapat, babah pemilik kedai nampak leyeh-leyeh di atas kursi rotannya sambil mengipasi tubuhnya yang hanya berbalut kaos singlet dan celana pendek.

Hidup tenang ‘secukupnya’ seperti itu sudah makin langka. Sekarang ini, restoran buka non-stop, mulai jam 10 pagi hingga 10 malam. Apalagi versi cepat saji – ada yang 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Berdalih melayani pelanggan, sebetulnya omset pun dikejar. Sewa tempat mahal, gaji pegawai tak bisa ditunggak, bahan mentah yang sudah setengah jadi tak boleh jadi basi. Pusat perbelanjaan yang hidup 12 jam sehari mendukung jaminan pembeli dan pelanggan yang kecanduan. Jika awalnya disebut melayani kebutuhan konsumen, justru fenomena terbalik bisa muncul: gerai makanan yang ada menimbulkan kebutuhan baru: snacking – alias kudapan.

Arena food court atau pusat jajanan serba ada di berbagai mal besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, justru sekarang memperlihatkan fenomena menarik, anak-anak sekolah menyelesaikan PR didampingi pengasuh atau ibu masing-masing, dan sebagian wajah mahasiswa berkutat di depan laptopnya.

Hal yang sama dari mereka semua: ditemani satu gelas plastik minuman bergula kekinian dan sepiring kudapan. Di beberapa sudut juga ada grup magang yang berbincang-bincang dengan calon kliennya untuk menambah isi portfolio. Sama juga, wadah minuman ukuran venti dan pastinya bukan air minum biasa. Jika mereka ini usai dengan urusan masing-masing di sekitar waktu maghrib, pastinya perut dan gula darah sudah melebihi porsi.

Saya kenal dengan seorang wanita karier yang saking suksesnya membutuhkan pengasuh yang disebutnya Nanny bagi kedua anaknya. Dan laporan Nanny selalu memuaskan. Sore hari, anak-anak sudah selesai membuat PR – dan ‘makan’ di mall. Berhubung sang nyonya mengamini bahwa mi, roti, spageti sama saja dengan nasi, maka ia setuju-setuju saja ketika sang Nanny melapor bahwa anak-anak sudah makan malam berupa roti isi kornet dan satu kotak susu rasa coklat. Keesokan harinya, makan malam mi ayam jamur dengan fruit punch.

Keesokan harinya lagi, sang Nanny memilihkan pizza keju bertopping sosis dan bonus jus jeruk. Sehat dong, kata mereka.

Duh. Sebetulnya saya penasaran dengan tanggapan pembaca saya terhadap menu-menu di atas. Tapi tanpa perlu ‘meracuni’ pendapat pribadi setiap orang, izinkan saya bertanya: apa bedanya kudapan dengan makan ‘beneran’? – yang artinya 3 waktu makan utama yang normalnya disebut sarapan, makan siang, dan makan malam.

Pergeseran budaya, transformasi makna, mau tak mau membuat kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi semuanya kembali. Beberapa mahasiswa saya pernah berkomentar, ”Kudapan sebetulnya sih snacking ya. Tapi kalau snacking sorenya sudah larut dan berat, yaaaa anggap saja makan malam deh. Kan yang penting kalori hariannya tercukupi?” Jawaban yang semakin membuat pusing kepala.

Fakta memang menunjukkan, cukup banyak anak, remaja hingga mahasiswa dan karyawan muda tidak lagi sarapan di rumah. Alasan terbanyak: tidak cukup waktu dan tidak terbiasa. Satu pasien muda saya, berusia 10 tahun dengan berat badan 50 kilo. Saat ibunya panik membaca berita penderita obesitas dewasa yang harus jebol tembok untuk ke rumah sakit, anaknya diberi sarapan oatmeal, susu skim, dan 3 macam buah setiap pagi di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Dan ternyata anaknya makin gemuk.

Kebingungan makan bertahun-tahun dan mencari jawaban instan jika sudah timbul masalah bagi saya merupakan dering tanda bahaya – di mana seorang perempuan yang siap punya anak tapi tidak punya ‘manual’ bagaimana membesarkan anaknya – karena ia sendiri tidak punya protokol manual hidup sehat. Persis seperti manual yang tak pernah dibaca dan terselip di kartu garansi sejak mesin cuci atau kulkas di antar ke pembeli. Saat kerusakan muncul, baru pemiliknya kelabakan.

“Makan seketemunya” versi generasi milenial ini, mengingatkan saya pada kisah pisau yang dipakai bukan hanya untuk memotong, tapi sudah biasa buat apa saja, mulai dari mencongkel saringan wastafel yang mampet, hingga membuka tutup botol kecap. Lebih sarkastik lagi, mirip seperti sendal jepit pengganjal rem metromini atau angkot yang semestinya sudah jadi rongsokan besi tua. Peruntukan yang tidak jelas, membuat manusia merendahkan produk budaya bernama makanan, yang mestinya makin lama nilai pemahamannya makin tinggi.

Makan berbudaya, jauh berbeda dengan makan hanya sebagai ganjal rasa lapar. Berbudaya bukan soal pakai piring dan sendok garpu, tapi tentang isi piringnya, dengan proses memilih – meracik – dan mengolah yang dipandu kesadaran tentang hasil ke depannya mau bagaimana.

Kebablasan dengan paham praktis, semua proses ini dipercayakan kaum milenial ke pihak kedua: entah industri atau orang lain yang menyediakan jasa pembuatan makanan asal jadi, yang penting enak. Lebih bagus lagi jika instagramable. Itu baru soal apa yang dimakan. Waktu makan? Lebih parah lagi. Bangun siang, tak jelas itu sarapan yang sudah terlewat atau menjelang makan siang. Begitu pula makan siang akan bergeser menjadi sore yang rupanya bisa jadi seperti kudapan. Dan makan malam menjadi larut sekali, pengisi perut sambil mengerjakan tugas – yang dikala ‘tanggal tua’ hanya berupa makanan instan dan kopi kekinian yang berisi emulsifier.

Itu semua disejajarkan dengan jam kerja generasi milenial yang katanya ‘tidak kenal ke-ajeg-an waktu’. Kerja bisa fleksibel, baik waktu mau pun tempatnya. Padahal tubuh tidak bisa diajak se-fleksibel itu. Baca juga: Antara Tom Cruise, Badan Bagus dan Mood Oke Terus Mengasuh generasi terbaru ini ternyata tidak mudah. Sebab, yang mengasuh pun tidak punya polanya apalagi ‘manual’nya. Bahkan, yang mengasuh alias orangtua cenderung menjadi permisif. Takut jika anaknya kabur atau mengamuk kalau permintaan atau tuntutan si anak tidak dipenuhi. Mulai dari makanan hingga rokok.

Itu awalnya. Lama-kelamaan ada anak yang merasa berhak mengambil warisan sebelum orangtuanya meninggal. Chaos kehidupan yang tadinya tidak ada sama sekali. Kebingungan yang dimulai bisa jadi dari ketidakmampuan membedakan mana makan benar di jam makan yang benar dan mana kudapan. Hingga akhirnya menjadi kebingungan untuk membedakan mana yang prioritas, dan mana yang di luar batas. Yuk, mulai temukan kembali ‘manual’nya.

penulis: DR.dr. Tan Shot Yen, M.hum,
sumber: Kompas.com