Opini

Belajar Keteladanan Dari Tokoh Nasional

TELADAN TOKOH NASIONAL, 2 SAHABAT

Duo proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta, nyaris selalu digambarkan sebagai pasangan sehati sevisi; dwitunggal. Namun sejarah juga mencatat cela hubungan keduanya. Ada saat hubungan kedua tokoh itu memburuk.

Sejarawan Universitas Indonesia Andi Achdian menyebut gesekan antara keduanya sering terjadi sejak masa perjuangan kemerdekaan tahun 1930-an. Perbedaan bermula dari perbedaan pandangan politik Bung Karno dan Bung Hatta.

“Strategi pergerakan Soekarno berfokus pada penggalangan massa, sedangkan Hatta elite terdidik yang mengutamakan pendidikan segelintir elite. Jadi sejak awal ada perbedaan visi menggalang kekuatan pergerakan,” ucap dia.

Dalam otobiografi Hatta berjudul ‘Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang’, konflik besar pertama saat Soekarno dan tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja ditangkap Belanda.

Setelah penangkapan itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya bubar. Petinggi partai membentuk partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo). Hatta menyesalkan hal itu. Ia sebenarnya berharap banyak dari PNI. Namun, politik agitasi ala Soekarno malah berakibat antiklimaks.

“Pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat,” ucap Hatta dalam buku itu.

Namun toh Soekarno-Hatta terus berjuang dengan tujuan bersama, Indonesia merdeka. Nama keduanya juga yang tercantum di naskah Proklamasi Kemerdekaan atas nama Bangsa Indonesia. Nama Soekarno-Hatta pula yang tertulis dengan tinta emas sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.

Namun hubungan keduanya tak selalu mulus meski kemerdekaan sudah direngkuh.

Puncak konflik Soekarno dan Hatta terjadi pada 1956. Saat itu Soekarno menawarkan sistem politik baru, demokrasi terpimpin.

Ia menganggap sistem parlementer membuat negara tak stabil dan selalu berujung kebuntuan dalam pengambilan keputusan. Hasilnya, semua keputusan akan ditumpukan ke pemimpin negara, Soekarno.

“Sejak saat itu, Hatta secara terang-terangan beroposisi terhadap Soekarno. Bukan lagi berbeda, tapi beroposisi dengan apa yang dia sebut kediktatoran dalam cara dan gaya Soekarno memerintah,” ujar Andi.

Bahkan pada 20 Juli 1956 Hatta mengajukan surat pengunduran diri ke DPR. DPR baru membahas empat bulan setelahnya. Pria kelahiran Bukit Tinggi pada 12 Agustus 1902 itu pun resmi meninggalkan jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1 Desember 1956.

Kepada anak angkatnya, Des Alwi Abu Bakar, Hatta menyatakan dirinya hanya diminta mengurus koperasi selama jadi orang nomor dua di republik. “Aduh, Des, Om cuma disuruh ngurus koperasi. Segala keputusan politik tidak dikonsultasikan dengan saya. Jadi Om berhenti saja jadi wakil presiden,” kata  Hatta kepada Des Alwi, dikutip dari buku ‘Wapres: Pendamping atau Pesaing?’.

Menyimpan Hormat

Meski sering bertolak belakang dalam urusan politik, Soekarno dan Hatta tetap saling memiliki rasa hormat satu sama lain sebagai personal.

Setelah lengser dari RI 2, Hatta berkeliling Eropa untuk mengisi ceramah di kalangan mahasiswa. Satu waktu, ia ditanya soal kebijakan Soekarno beberapa waktu terakhir. Hatta yang keluar dari pemerintahan lantaran kecewa, tak sama sekali merendahkan koleganya itu.

“Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya,” ucap Hatta.

Begitu pun saat Soekarno jatuh sakit di akhir periode 1960-an. Hatta menggantikan Soekarno menjadi wali pernikahan Guntur Soekarnoputra.

Momen haru juga terjadi pada akhir hayat Soekarno. Pria kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Buku ‘Bung Karno: The Untold Stories’ mencatat pada 16 Juni 1970 Hatta sempat mengunjungi sahabatnya yang terbujur lemas di tempat tidur. Tak lama usai ia datang, Soekarno sempat menyapanya. “Hatta, apakah kau di sini?” ucap Soekarno dari atas tempat tidur. Sembari mengangguk perlahan, Hatta menjawab, “Ya aku di sini. Bagaimana keadaanmu, No?”. “Hoe gaat het met jou? [Bagaimana keadaanmu?]” Soekarno bertanya balik. Sambil mengenggam erat tangan Soekarno, Hatta tersenyum dan tak kuasa menahan tangis.

Lima hari kemudian, Soekarno meninggal dunia. Hatta menyusul sepuluh tahun setelahnya, tepatnya pada 14 Maret 1980. Soekarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Sementara Hatta dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

(arh/sur)
penulis: Dhio Faiz
Editor: esispr
sumber tulisan: CNN Indonesia.