Celoteh

Bencana Itu Apa?

MENGENALI UNSUR-UNSUR BENCANA

Beberapa waktu lalu, di akun tweeter staf kepresidenan disampaikan bahwa mulai Januari 2019, Pendidikan Kebencanaan mulai diberikan di sekolah-sekolah. Apa dan seberapa penting permasalahan bencana ini sehingga mesti diberikan pelajaran tersendiri.

Sekali waktu saya coba cari informasi seputar pengertian bencana. Ternyata untuk konsepsi tentang bencana, banyak variasi tetapi ada hal-hal dasar komponen yang harus dipenuhi. Ini yang umum dipakai dimana-mana.

Bencana itu adalah suatu kejadian yang disebabkan oleh alam atau karena manusia yang terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan dan menyebabkan hilangnya korban nyawa manusia atau kerusakan harta benda lingkungan dan untuk menanggulanginya berada diluar masyarakat itu. Jadi untuk mengetahui apakah itu bencana maka kita harus tahu unsur-unsur yang mengarah pada indikasi terjadi bencana. Yang pertama kejadian/peristiwa; artinya ada unsur itu ada kejadian. Yang kedua disebabkan oleh alam atau manusia. Yang ketiga berakibat kepada korban manusia atau rusaknya infrastruktur, fasilitas umum, fasilitas sosial, jembatan, sekolah, rumah sakit dan segala macam. Dan, yang penting juga peristiwa tersebut diluar kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk menangani. Jadi kalau masyarakat tersebut masih mampu menangani belum dianggap bencana.

Contoh sederhana, katakanlah di suatu daerah terjadi gempa dengan skala kecil; kerusakan infrastruktur atau bangunan tidak ada, korban pun, misal, satu orang meninggal, maka ada kecenderungan hal tersebut dianggap tidak termasuk klasifikasi bencana, melainkan sebagai akibat fenomena alam. Lain halnya ketika terjadi tsunami di Aceh, gempa di Yogya, dan atau yang beberapa waktu selang terjadi di Palu dan Anyer (Banten), karena unsur-unsurnya terpenuhi maka dikatakan telah terjadi bencana. Jadi yang disebut bencana apabila terpenuhi unsur-unsur tadi. Apa disebabkan oleh manusia atau alam, ada korban, ada kerusakan, masyarakat tidak mampu menangani sehingga diperlukan bantuan itu.

Bagaimana terjadinya proses bencana. Sangat sederhana sebetulnya. Paling tidak harus memuat 3 (tiga) unsur yang juga saling bertautan satu sama lainnya, tidak bisa berdiri sendiri. Yang pertama adalah adanya unsur bahaya. Ini proses terjadinya bencana. Unsur bahaya kita disini ambil contoh banjir bandang itu bahaya. Tapi dia tidak bisa berdiri sendiri untuk dikatakan bencana harus ada unsur-unsur lain. Unsur yang kedua yaitu, ada kerentanan. Contohnya masyarakat tinggal di pinggir sungai. Sungai besar kita di bantalan tinggal disitu, kalau musim hujan datang banjir ada banjir bandang dia kena kerentanan. Posisinya lemah. Kemudian apabila ketemu bahaya ada masyarakat lemah, maka akan timbul resiko. Resikonya itu adalah kemungkinan yang terjadi, bisa korban manusia, bisa rumahnya hancur, jembatan roboh, dan sebagainya. Jadi unsur pertama bahaya, contohnya banjir. Kedua ada unsur kerentanan misalkan masyarakat ekonomi lemah tidak bisa beli rumah dia di pinggir kali tinggalnya. Jadi karena ada bahaya, masyarakat rentan, ada resiko. Kemungkinan terjadi masyarakat akan terkena banjir. Mungkin rumahnya roboh, mungkin hanyut binatang piaraannya dan sebagainya.

Namun hal itu belum bisa secara otomatis masuk dalam kriteria bencana. Dapat diberi nama bencana apabila ada pemicunya. Katakanlah hujan tinggi baru terjadi luapan air dengan dampaknya yaitu rumah hancur mungkin atau penduduk mungkin ini orangnya luka atau meninggal, ekonomi katakanlah warungnya ikut hanyut jadi mereka tidak punya sumber penghasilan, mungkin dari infrastruktur jembatan di daerah tersebut rusak kena hantaman benda-benda kayu yang lewat, mungkin lingkungan.

Dari ketiga unsur proses bencana, kita tahu bahwa yang dimaksud dengan bahaya itu adalah  kondisi yang secara alamiah atau karena ulah manusia berpotensi menimbulkan kerusakan kerugian dan hilangnya jiwa. Sedangkan kerentanan merupakan sekumpulan kondisi atau suatu akibat bisa fisik, sosial, ekonomi, atau lingkungan yang berpengaruh buruk terhadap upaya pencegahan penanggulangan bencana.

Contohnya, di pemukiman kumuh atau di perkotaan yang padat pemukiman didirkan pabrik baru, pabrik kimia misalnya. Kalau dilihat dari kemungkinan maka kehadiran pabrik itu dapat mengakibatkan munculnya kerentanan masyarakat. Andai nanti terjadi sesuat, masyarakat yang terkena dan oleh karenanya masyarakat jadi sangat rentan. Itu sebab mendirikan pabrik harus pakaiAnalisa Dampak Lingkungan. Karena apa? Pengaruhnya kebelakang bisa puluhan tahun bisa mengancam kehidupan masyarakat.

Kemudian resiko. Resiko lebih dekat dengan pengertian perkiraan/perhitungan atau kemungkinan yang akan terjadi. Misal, mungkin gagal panen, mungkin jembatan rusak, mungkin masyarakat trauma, dan lain sebagainya. Jadi resiko itu baru kemungkinan. Biasanya penilaian resiko agak sulit belum semua daerah bisa menilai karena banyak faktor yang harus diperhitungkan. Namun kalau sudah terjadi baru dampak namanya.

Bencana akan dapat diperhitungkan apabila kita bisa mengukur antara bahaya dan kerentanan. Kalau bahayanya besar banjir bandang besar, tidakapa-apa tetapi asal masyarakat jangan rentan atau kerentanannya kecil. Misalkan masyarakatnya pandai, masyarakatnya tidak tinggal diri dalam bencana, jangan pinggir kali, jangan deket gunung, jangan deket daerah-daerah lempeng. Nah itu mungkin kerentanannya kecil. Ini yang deviasi selisih. Kalau bahayanya besar segini, kerentanannya besar dapat bencananya ini. Tapi kalau bahayanya besar kerentanannya lebih besar makanya bencananya lebih besar kejadian dan dampak maksudnya. Tapi kalau bahayanya kecil, kerentanannya kecil bukan masalah.

Bagaimana mengurangi resiko atau memperkecil kerentanan. Sekarang ada bahaya sekian besarnya diukur. Kerentanan kita diperkecil, caranya bagaimana meningkatkan kemampuan. Salah satu contohnya, dengan meningkatkan kemampuan yang berpengaruh pada kemampuan kita memperkecil kerentanan. Dengan demikian, memperoleh pengetahuan pengalaman itu berarti membantu kita menurunkan kerentanan. Melalui peningkatan kemampuan kita bisa mengukur bahaya yang akan terjadi dan menghindari resiko. Kita tidak mungkin mencegah gunung meletus, menghentikannya untuk tidak erupsi, misal. Tetapi yang kita rubah adalah kerentanan kita perkecil.

Berikut beberapa jenis bencana pada kelompoknya masing-masing. Bencana geologi contohnya. Gempa bumi Aceh, Yogya, Ngadep. Tsunami Pangandaran, gerakan tanah geologi. Bencana metreologi ada banjir, topan, banjir, banjir bandang, kekeringan. Banjir dengan banjir bandang bedanya hanya sedikit kira-kira kalau banjir itu air mengenang, kalau banjir bandang tekanan air arus tinggi sehingga bisa memporak-porandakan apa saja yang dilewati. Banjir, banjir bandang hampir sama. Kekeringan, NTT itu daerah kering. Kalau berkepanjangan keringnya perekonomian masyarakat akan semakin sulit. Tetapi sebelumnya kita bisa perkirakan karena kalau datang musim kering selalu begitu sebenarnya kita tinggal program saja itu bisa karenanya bisa disebut bencana bisa tidak. Tapi kalau sudah meluas meresahkan orang banyak, mengganggu aspek-aspek kehidupan ya dianggap bencana. Tapi kalau hanya musim kering biasa tidak itu cukup dengan program dari pemerintah daerah teratasi. Kemudian Bahaya biologi epidemi, tanaman, hewan. Bahaya teknologi transportasi industri. Seperti lumpur Sidoarjo ada yang mengatakan itu bencana teknologi. Karena kegagalan teknologi. Artinya kegagalan teknologi itu bisa design teknologinya itu sendiri atau bisa kita manusia yang human error yang kita mengoperasikan tidak bener juga bisa. Kegagalan teknologi. Mungkin salah design teknologi,  atau salah  mempopulerasikannya,  itu juga  bisa  kegagalan teknologi.

Bahaya Lingkungan, kebakaran hutan, penggundulan hutan. Lingkungan itu di Sumatera  dan Kalimantan itu alamnya hutan. Yang kebetulan sebagian besar tanah gambut. Tanah gambut itu kalau musim panas suhu sekian derajat celcius titik api yang didalam tanah itu tidak usah diapa-apakan itu nyala sendiri itu. Sampai Malaysia, Singapura mengadukan ke PBB. Karena apa secara alamiah saja gambut Sumatera dan gambut Kalimantan itu alamiah saja disamping memang ada unsur sengaja mungkin pengusaha hutan bakar sengaja untuk memperluas lahan daripada pakai traktor bisa aja bakar. Tapi secara alamiah mereka itu banyak tanah gambut. Tanah gambut itu kalau musim kering, panas sekian derajat celcius otomatis dari atas, dari satelit kelihatan. Kalau sudah membakar jadi api ke hutan, triliyunan ruginya.

Salam…

***

pic: Surya Malang – Tribunnews.com