Opini

Bonus Demografi dan Karakter Manusia Indonesia

BONUS DEMOGRAFI DAN KARAKTER MANUSIA INDONESIA
Sarlito Wirawan Sarwono
Guru Besar Psikologi, Universitas Indonesia,

 

catatan redaksi: berikut tulisan (Alm) Sarlito Wirawan Sarwono yang tersimpan di file jurnal YBB. Tulisan tersebut kami muat pada kolom artikel untuk memudahkan khalayak membuka dan membacanya, mengingat tulisan terpublikasi sebelumnya dalam bentuk pdf. Semoga bermanfaat dan menjadi bagian dari amal Alm.

ABSTRAK

Indonesia adalah satu-satunya negara di masa ini yang sedang beruntung, karena mengalami Bonus Demografi (2010-2045), yaitu masa di mana generasi produktif (pekerja) dua kali lipat generasi non-produktif (pensiunan, anak-anak). Dengan keadaan ini, diramalkan Indonesia bisa menggenjot peningkatan kesejahteraan rakyatnya berkali-kali lipat. Tetapi berbagai kajian dan pengalaman membuktikan bahwa kualitas manusia Indonesia tidaklah sebaik itu untuk bisa mendorong produktivitas bangsa. Muchtar Lubis pernah menggambarkan kualitas mental bangsa Indonesia dalam pidato kebudayaannya di tahun 1977, yang tidak menggembirakan dan masih berlaku sampai sekarang. Kualitas mental seperti ini harus didorong menjadi kualitas mental manusia modern versi Alex Inkeles dengan sembilan ciri karakternya. Pemerintah Jokowi-JK mencoba untuk mempercepat laju perubahan mentalitas manusia Indonesia melalui Program GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental) dengan tiga ciri mental yang harus ditumbuhkan pada manusia Indonesia, yaitu Integritas, Etos kerja dan Gotong royong. Dalam makalah ini dibahas, dengan contoh-contoh kongkrit di lapangan, seberapa jauh upaya GNRM ini berhasil mendonhgkrak mentalitas manusia Indonesia sehingga bisa menjawab tantangan Bonus Demografi.

Kata kunci: Bonus Demografi, Revolusi Mental, Karakter, Manusia Indonesia

PENDAHULUAN

Indonesia sedang dalam era Bonus Demografi (2010-2045[1]), yaitu saat penduduk usia produktif  (15-64 tahun) berjumlah dua kali lipat dari penduduk non-produktif. Para pakar menamakannya peluang emas untuk menggenjot kemajuan di segala bidang, guna menyejahterakan dan memakmurkan bangsa, khususnya karena negara-negara lain sudah meliwati masa ini bertahun-tahun yang lalu (negara-negara maju seperti Kanada dan AS sudah mengimport  imigran untuk mengisi kekurangan tenaga kerja mereka) dan Indonesia sendiri akan kehilangan peluang itu juga pasca 2045. Peluang emas inilah yang ingin direbut oleh Presiden Jokowi dengan seruannya “Kerja, kerja, kerja!!!”. Maka kabinetnya pun dinamakan Kabinet Kerja. Grafik di bawah ini memberi ilustrasi betapa kemajuan yang bisa dicapai Indonesia sebagai dampak Bonus Demografi[2].

Tetapi kalau bangsa Indonesia lebih suka berhura-hura atau hanya berdoa saja, jangan-jangan seliwat tahun 2045 (100 tahun setelah kemerdekaan), Indonesia bukannya menandingi Jepang (kalah dan negaranya hancur pasca Perang Dunia II), Korea Selatan (Kemerdekaannya hanya beda dua hari dengan Indonesia) atau Tiongkok (baru bangkit dari selepas era Komunisme)  melainkan lebih tertinggal dari Vietnam (baru selesai dari ajang perang di pertengahan tahun 1970an).

Makalah ini akan mengulas potret manusia-manusia Indonesia dari sudut pandang psikologi, dalam berbagai episode kehidupan berbangsa dan bernegara dan mencoba menggambarkan sampai seberapa jauh karakter manusia Indonesia sudah sesuai dengan kriteria yang diharapkan untuk membawa Indonesia bangkit menjadi negara besar yang mengungguli negara-negara lain dengan memanfaatkan Bonus Demografi. Kriteria itu, menurut konsep Revolusi Mentalnya Jokowi, adalah Integritas, Etos kerja dan Gotong Royong. Yang dimaksud dengan Integritas adalah kejujuran, bisa dipercaya, sesuai kata dan perbuatan dan berpegang teguh pada moral dan etika; Etos Kerja adalah orientasi pada hasil yang terbaik, semangat bersaing, optimis, selalu inovatif dan produktif; sedangkan Gotong Royong adalah keyakinan bahwa hasil yang optimal bisa dicapai secara lebih cepat, efektif dan efisien, melalui kerja sama, sukarela, saling menghargai, dan tidak berjalan sendiri-sendiri, apalagi saling memusuhi[3]. Pada bagian Kesimpulan akan dicoba memberi beberapa solusi terhadap kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada bagian pembahasan, tetapi sudah pasti solusi-solusi yang dikemukakan di sini tidak akan mungkin menjadi single factoruntuk menyelesaikan permasalahan, karena permasalahan Karakter Manusia, apalagi karakter manusia Indonesia yang sudah terlanjur terbentuk sekian lamanya di bawah pemerintah-pemerintah Indpnesia sejak awal kemerdekaan, terbentuk melalui proses yang dipengaruhi oleh 1001 macam variabel. Diperlukan pemimpin yang tangguh, cerdas, punya visi dan berani tegas dalam mengambil keputusan untuk mengarahkan pembangunan bangsa ini ke tujuan yang dicita-citakan, yaitu menjadi bangsa besar yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain, dengan dorongan dari Bonus demigrafi.

Adapun bagian Pembahasan, akan dibagi dalam empat sub-bagian, yang masing-masing mewakili salah satu episode dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yaitu tentang Karakter Manusia Indonesia itu sendiri, tentang Tahayul, tentang Waktu dan terakhir tentang Hak dan Kewajiban. Tulisan dari setiap sub-bagian itu sudah pernah dimuat dalam beberapa media massa, yang untuk makalah ini sudah diedit dan dikembangkan sesuai dengan tujuan tulisan ini.

 PEMBAHASAN

Karakter manusia indonesia[4]

Beberapa waktu yang lalu, ketika melintasi jalan Kapten Tendean, Jakarta, yang sedang direnovasi, saya terkejut ketika melihat salah satu backhoe (alat berat penggali tanah) bermerek “Samsung” (Korea), karena selama ini yang saya ketahui Samsung adalah produser HP, smart phone, gadget dan barang-barang elektronik, yang sudah jauh menggusur posisi Sonny dan Nokia (Jepang), tetapi bukan produsen alat-alat berat. Tetapi bukan itu saja, di Indonesia para Korea ini sudah mulai menggusur Jepang di bidang kuliner (Resto Korea versus Resto Jepang), budaya pop (K-pop, Gangnam style,Boys band, Sinetron Korea dll), dan otomotif (“H” dari Hyundai versus “H” dari Honda). Padahal Korea pernah “dijajah” Jepang (1876-1945) dan orang Korea punya dendam kesumat kepada orang Jepang. Tetapi dendam itu tidak dibalaskan dengan perang lagi atau agresi politik, melainkan dengan kerja keras yang menghasilkan prestasi di bidang teknologi, ekonomi dan budaya. Dalam waktu 70 tahun kita sama-sama melihat hasilnya.

Indonesia juga pernah dijajah Jepang, tidak lama, hanya 3½ tahun, tetapi rakyat sangat menderita selama masa penjajahan yang singkat itu. Anehnya, walaupun akhirnya Jepang kalah Perang Dunia II dan Jepang diwajibkan membayar pampasan perang kepada Indonesia, setelah 70 tahun Indonesia tidak berhasil mengimbangi Jepang hampir di segala bidang. Malah di tahun 1974 terjadi peristiwa Malari (15 Januari), saat mahasiswa dan massa membakari mobil-mobil bermerk Jepang.  Orang Indonesia bukannya bekerja lebih giat untuk menyaingi Jepang, tetapi menyalahkan dan menyerang si pesaing. Dalam psikologi mentalitas seperti ini disebut “ekstra-punitif” (menghakimi pihak lain) yang bersumber pada “pusat kendali eksternal” (External Locus of Control).

Menurut teori Pusat Kendali (Locus of Control[5]), ada dua macam tipe manusia, yaitu yang Pusat Kendalinya Internal dan Eksternal.  Orang dengan Pusat Kendali Internal (PKI) percaya bahwa dirinya sendirilah yang menentukan apa yang akan terjadi dengan dirinya, bahkan lingkungan di sekitarnya pun bisa dia kendalikan sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan orang dengan Pusat Kendali Eksternal (PKE) jika terjadi sesuatu, cenderung menyalahkan pihak lain, bukannya mengoreksi diri sendiri.

Sebagian besar orang Indonesia, menurut hemat saya, tergolong PKE[6]. Bukan hanya dalam kasus Malari, tetapi hampir pada setiap peristiwa sehari-hari. Kalau dalam Pilkada ada calon Bupati/Walikota yang dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan maka kantor KPU-nya dibakar. Kalau kebanjiran menyalahkan pemerintah, kalau kekeringan minta bantuan pemerintah. Si pemerintah juga lebih senang menyalahkan alam yang tidak bersahabat. Bahkan ketika perekonomian nasional mengalami perlambatan seperti sekarang ini, para menteri di pemerintah pusat lebih senang menyalahkan faktor-faktor luar negeri (menggiatnya perekonomian dan kenaikan suku bunga di AS dll), ketimbang merekayasa perekonomian dalam negeri untuk mendongkrak laju perekonomian nasional[7]. Pengendara motor yang melawan arus, ketika ditangkap polisi, akan membantah, “Loh, tiap hari saya liwat sini. Ada polisi, tetapi tidak pernah diapa-apakan. Kok sekarang saya mau ditilang?”

Salah satu dampak dari sifat bangsa Indonesia yang KPE ini adalah mencari jalan pintas. Tidak punya ijasah, ya beli ijasah Aspal saja. Mau menang Pilkada, beli suara. Mau main di pengadilan beli hakimnya. Kalau tidak bisa dibeli, liwat kekerasan. Termasuk Tuhan pun dijadikan faktor yang dijadikan sarana untuk mencapai sesuatu. Ingin lulus Ujian Nasional, sholat Istigozah rame-rame. Demo anti kenaikan harga BBM, teriak “Allahu Akbar”. Tetapi karena Tuhan tidak bisa dibeli, maka yang menikmati (yang terima duit) adalah para pemain di balik agama, termasuk para da’i komersial (yang sering masuk TV dan honor tausyiahnya 10 kali lipat dari ceramah profesor), Biro perjalanan haji dan Umroh, dan para pemain politik yang menggunakan agama sebagai kendaraannya.

Akhir-akhir ini bahkan makin kuat kecenderungan untuk lebih menuhankan agama ketimbang menuhankan Tuhan (Allah) itu sendiri. Agama sudah dianggap jauh lebih penting dari pada negara, pemerintah, bendera dan lagu kebangsaan, kewarganegaraan, dsb. Kalau Kartosuwiryo yang memproklamasikan NII (Negara Islam Indonesia) di tahun 1949 (isterinya tidak berjilbab), masih mencita-citakan sebuah negara yang bernama Indonesia, JI (Jamaah Islamiah) dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) tidak lagi mempersoalkan wilayah, dia maunya seluruh dunia adalah daulah Islamiah, yang dipimpin oleh seorang Amir atau Khalifah saja. Berita mutakhir, ISIS telah mengeksekusi 19 perempuan yang menolak bersetubuh dengan para pejuangnya, atas nama agama, atas nama daullah Islamiah.Padahal Allah sendiri tidak pernah mengatakan begitu. Bukankah ini menuhankan agama lebih dari pada menuhankan Allah itu sendiri? Apa namanya kalau bukan musyrik? Tetapi malah makin banyak orang Indonesia yang setuju pada paham-paham radikal seperti ini[8].

Dampak yang serius dari mentalitas PKE adalah orang jadi malas kerja. Jauh dari harapan Presiden Jokowi yang semangatnya untuk membangun negeri adalah “Kerja, Kerja, Kerja!”[9]. Orang PKE yang tidak berorientasi agama memilih hidup hedonis, mumpung muda hura-hura, tua foya-foya, mati masuk alam baka (surga atau neraka? Emang gue pikirin?). Mereka terlibat Narkoba, seks berisiko, kenakalan dan kriminal untuk memenuhi kebutuhuan hedonisnya. Sementara PKE yang orientasinya agama lebih rajin “beribadah”. tetapi tetap enggan bekerja serius. Bahkan mereka pikir tidak apa-apa sedikit bermaksiat dan/atau korupsi, karena mereka pasti sudah diberi pahala dan ampun oleh Allah yang Maha Pengampun, karena ibadah mereka sudah berpuasa yang pahalanya lebih dari seribu bulan dan sudah sholat Arbain di Medinah, yang pahalanya entah berapa juta kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain. Itulah sebabnya Indonesia tidak pernah lepas dari korupsi dan maksiat, walaupun mayoritas penduduknya adalah muslim terbanyak di dunia.   Itulah sebabnya Indonesia tidak pernah lepas dari STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan).

Tahayul[10]

Pada tanggal 10 Nopember 2014 yang lalu, kebetulan saya menghadiri sebuah acara hari Pahlawan, di Gedung Joang, di Jakarta Pusat. Selesai acara, ketika siap naik mobil mau lanjut ke kampus, Junus, sopir saya, minta uang Rp. 50,000. Ketika saya tanya buat apa? Jawabnya bahwa dia barusan tidak sengaja menggilas kucing yang sedang tidur di bawah roda mobil yang sedang parkir, dan dia mau minta tolong Satpam untuk mengubur jenasah kucing selayaknya, jangan sampai nanti dia celaka gara-gara arwah si kucing.

Karena saya tidak percaya tahayul, saya tidak mau memberinya uang. Maka kata saya, “Kucing itu kan kamu yang melindas, bukan saya? Ya, sudah kamu tanggung jawab”. Eeeh… ternyata dia benar-benar mau tanggung jawab, yaitu dia minta uang makannya untuk hari itu, siang itu juga, dan diserahkannya langsung kepada pak Satpam. Buat Junus, lebih baik dia pulang ga bawa uang makan, dari pada dia diuber-uber arwah kucing terus.

Sebaliknya, saya pernah berwisata dengan teman-teman dari kampus UI, menuju ke Cirebon, naik bis wisata. Di tengah jalur Pantura yang mulus, bis sedang berjalan kencang, tiba-tiba terdengar suara “Dug!” dan terasa bis membentur benda keras. Penumpang yang duduk di kursi paling belakang, menyempatkan diri untuk menengok ke belakang. “Apaan, tuh?” tanya penumpang yang lain. “Engga apa-apa, anjing doang”, jawab yang melihat, dan bus itu melaju terus tanpa mengurangi laju bus. Bahkan, percaya atau tidak, kita sering membaca berita tentang kasus tabrak lari, walaupun yang tewas itu manusia, bukan kucing, apalagi anjing.

Lain ceritera teman saya yang kebetulan bermukim di Melbourne, Australia. Pada suatu hari dia juga naik bis, dan tiba-tiba bisnya menabrak kanguru (yang sering nyeberang seenaknya, seperti sapi-sapi di Aceh), maka bis itupun berhenti. Tetapi yang mencengangkan ada 3 mobil lain yang ikut berhenti, penumpangnya turun untuk ikut membantu kalau-kalau ada yang bisa dilakukan, dan salah satu di antara mereka melalui HP-nya menelpon petugas Taman Wisata (kalau di Amerika disebut Ranger) untuk melaporkan kejadian dan minta pertolongan. Sesudah mobil petugas datang, barulah orang-orang ini pergi meninggalkan tempat. Di Australia, negara sekuler, nyawa binatang pun dilindungi undang-undang.

***

Pada tahun 1970-an, seorang sosiolog dari Universitas Harvard, AS, bernama Alex Inkeles, mengamati bahwa banyak negara berkembang yang tidak berkembang, alias macet-cet, seperti jalan Ciawi-Puncak di masa liburan dan lebaran[11]. Inkeles kemudian meneliti lima negara berkembang dan satu negara maju (Argentina, Chili, India, Bangladesh, Nigeria dan Israel) dan menyebarkan angket ke berbagai lapisan dari atas sampai paling bawah dan dari berbagai pekerjaan. Maka ia menemukan bahwa negara-negara yang macet justru yang punya SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah, tetapi SDM (Sumber Daya Manusia) mereka tidak mempunyai “Mentalitas Modern” (pastinya Indonesia juga seperti itu)[12].

Adapun mentalitas Modern, menurut Inkeles ditandai oleh sembilan ciri, yaitu: (1) menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan (2) bisa menyatakan pendapat atau opini mengenai diri sendiri dan lingkungan sendiri atau hal di luar lingkungan sendiri serta dapat bersikap demokratis, (3) menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu (4) punya rencana dan pengorganisasian, (5) percaya diri, (6) punya perhitungan, (7) menghargai harkat hidup manusia lain, (8) lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (9) menjunjung tinggi keadilan, yaitu bahwa imbalan  haruslah sesuai dengan prestasi[13].

Sekarang marilah kita lihat bagaimana ciri-ciri mental orang Indonesia. Muchtar Lubis (budayawan Indonesia, pemenang penghargaan Ramon Magsasay), dalam pidato budayanya di Taman Islail Marzuki, tahun 1977 menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia[14], yaitu (1) munafik atau hipokrit, (2) enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) sikap dan perilaku yang feodal, (4) masih percaya pada takhayul, dan (5) artistik.

Ciri lainnya, manusia Indonesia tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta.
Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.Kita, menurut Mochtar Lubis, juga bisa kejam, mengamuk, membunuh, berkhianat dan membakar[15]. Sifat buruk lain adalah kita cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati.

Selain menelanjangi yang buruk, pendiri harian Indonesia Raya itu tak lupa mengemukakan sifat yang baik. Misalnya, masih kuatnya ikatan saling tolong. Manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, serta dapat tertawa dalam penderitaan. Manusia Indonesia juga cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan. Selain itu, punya ikatan kekeluargaan yang mesra serta penyabar.

Tentu saja tidak semua manusia Indonesia mempunyai sifat negatif seperti yang digambarkan oleh Muchtar Lubis. Karena itu saya termasuk salah satu pengritik beliau, ketika pidato budaya itu diterbitkan sebagai buku. Tetapi setelah sekian puluh tahun berlalu, saya pikir-pikir betul juga kata Muchtar Lubis, dan masih berlaku sampai hari ini[16]. Tentu bukan untuk semua orang Indonesia, tetapi jelas untuk sebagian besar orang Indonesia. Orang Indonesia masih memberlakukan “jam karet”, Caleg dan Calon Kepala Daerah minta dukungan dukun atau mandi di bawah air terjun keramat, koruptor yang ditangkap KPK malah senyum-senyum dan memakai baju koko serta berkopiah atau bertopi haji yang putih, atau berjilbab untuk yang wanita; di pengadilan seakan-akan dia paling siap masuk surga; pejabat tingkat atas mewajibkan setoran dari pejabat-pejabat tingkat bawahnya; orang Indonesia lebih percaya kepada “yang di atas” (baca: nasib) dari pada perencanaan dan ilmu pengetahuan; ia merasa dirinya (baca: agama, etnik atau golongannya) sendiri yang benar dan seterusnya.

Menyadari kenyataan bahwa mentalitas orang Indonesia masih jauh dari modern, dalam rangka “Revolusi Mental”, Presiden Jokowi meminta sebuah tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Paulus Wirutomo, sosiolog dari UI, untuk merumuskan ciri-ciri mental yang paling diperlukan oleh orang Indonesia untuk menjadikannya modern dan mampu bersaing.

Maka tim itu pun mengundang berbagai golongan masyarakat, dari pengusaha sampai rohaniwan, dari mahasiswa sampai cendekiawan, untuk dilibatkan dalam rangkaian FGD (Focus Group Discussion) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dengan tujuan untuk menjaring dan menyaring nilai-nilai yang paling diperlukan, yang kongrit dan yang operasional untuk membangun bangsa ini. Hasilnya adalah enam nilai Modern versi Indonesia, yaitu (1) Citizenship(sebagai warga negara sadar akan hak dan kewajibannya dan aktif berpartisipasi untuk masyrakat), (2) jujur (dapat dipercaya), (3) Mandiri (dapat menyelesaikan persoalan sendiri, tidak hanya bergantung kepada pemerintah atau pihak lain), (4) Kreatif (mampu berpikir alternatif, mampu menemukan terobosan, berpikiran flexibel),  (5) Gotong Royong, dan (6) saling menghargai (yang kuat menghargai yang lemah, yang mayoritas menghargai yang minoritas, yang laki-laki menghargai yang perempuan, yang generasi senior menghargai yang muda dan seterusnya, dan tentu saja sebaliknya).

Selanjutnya, ketika sudah menjadi Presiden, Jokowi menugasi Kementerian Koordinator PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) untuk mengembangkan ciri-ciri mental modern menurut timnya Prof. Dr. Paulus Wirutomo tersebut di atas. Pihak Kemenko PMK kemudian menindak lanjuti dengan membentuk Pokja (Kelompok Kerja) yang dinamakan Pokja Revolusi Mental, yang terdiri dari berbagai pakar (termasuk Prof. Dr. Paulus Wirutomo dan saya sendiri) yang bertugas mengembangkan konsep dan gugus-gugus tugas di daerah untuk mengembangkan praxisnya dari Gerakan Revolusi Mental ini di lapangan, di masing-masing daerah. Salah satu keluaran dari Pokja GNRM ini adalah pengembangan rumusan ciri mentalitas orang Indonesia yang diperlukan untuk pembangunan negara kita, yaitu (1) Integritas, (2) Etos kerja dan (3) Gotong royong.

Salah satu ciri manusia Indonesia yang merupakan kontradiksi dari ciri modern adalah percaya kepada tahyul, seperti tahyul tentang kucing yang mati terlindas mobil yang dialami oleh sopir saya. Dalam pidato kebudayaannya tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, Mochtar Lubis mencontohkan tahayul bukan tentang kucing, anjing atau jailangkung, melainkan hal-hal yang biasa disampaikan oleh para pemimpin bangsa ketika itu. Berikut saya kutipkan sebagian dari pidato beliau, “Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ‘mereka’ (baca: kekuatan gaib, yang di atas, yang maha kuasa)agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen.Kemudian kita membuat mantra dan semboyan baru, Tritura, Ampera, Orde Baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang adil dan merata, insan pembangunan. Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi. Model dari negeri industri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala mantranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP[17].

Tetapi apakah Indonesia bisa maju karena mantra dan semboyan itu? Sama sekali tidak. Itulah tahayulisme yang menurut Mochtar Lubis adalah adanya kepercayaan yang di luar logika, yaitu bahwa segala sesuatu ditentukan oleh “yang di luar kita”[18]dan “yang di luar kita” itu bisa kita bujuk melalui doa dan mantera. Kalau kita tarik ke jaman reformasi sekarang, maka kata-kata yang sering jadi jargon pemimpin-pemimpin masa kini seperti demokrasi, otonomi daerah, hati nurani, HAM,  kebebasan pers, good governance, akuntabilitas, hukum syariah dll. juga tahyul. Dengan tahyul, maka salah satu syarat manusia modern yang tidak bisa dipenuhi adalah bahwa manusia modern itu punya rencana dan pengorganisasian dan lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi dari pada tahayul.

Bahkan saya berani mengatakan bahwa agama pun sudah dijadikan tahyul. Seolah-olah kalau sudah meneriakkan Takbir, maka Tuhan akan mengijinkan segala sesuatu yang kita kehendaki, termasuk yang merugikan orang lain. Anak nakal dimasukkan pesantren, dengan harapan otomatis akan menjadi baik. Perempuan dilarang membonceng sepeda motor ngangkang supaya tidak merangsang sahwat laki-laki, dan sebagainya. Padahal semua itu tidak ada hubungan sebab akibat, sejauh yang dilakukan hanya simbol-simbol belaka, tanpa ada usaha khusus. Agama seperti yang diajarkan para nabi adalah bekerja/berusaha dulu, baru diiringi doa (dalam bahasa Latin: Ora et Labora). Jadi anak nakal dididik dulu yang baik sesuai dengan ilmu pendidikan yang benar, baru didoakan (boleh di pesantren, boleh juga tidak), maka anak itu akan menjadi baik. Mau memberantas pelacuran atau perkosaan, laki-lakinya yang dihukum berat, jangan perempuannya yang dilarang ngangkang.

Terus bagaimanacaranya agar Junus, bisa menyopiri saya dengan selamat? Jaga kondisi fisik, cek kondisi mobil dengan teratur, hati-hati dan fokus di jalan, dan jangan lupa berdoa sebelum jalan. Insya Allah selamat. Jadi gak usahlah buang-buang uang makan hanya untuk memakamkan seekor kucing yang wafat di Gedong Joang pas di Hari Pahlawan.

Waktu[19].

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah talk show TV terkenal yang digelar dalam rangka memperingati 10 tahun tsunami dan diselenggarakan di Aceh, Menteri Kelautan dan Perikanan ikut menjadi salah satu nara sumber. Dalam kesempatan itu nara sumber yang lain mengomentari betapa hebatnya Aceh, yang dalam waktu 10 tahun pasca tsunami sudah menggeliat bangun lagi ekonominya, bahkan jauh lebih bagus dari sebelum tsunami. Ditunjukkan dalam talk show itu, antara lain kota Meulaboh, di pantai Barat Aceh, yang dulu rata dengan tanah oleh tsunami, sekarang sudah menjadi kota yang ramai, banyak toko, dan Betor (Becak Motor) berlalu lalang.

Tetapi ibu menteri, nara sumber, yang namanya  Susi Pudjiastuti, hanya sekilas saja ikut memuji perkembangan Aceh. Selanjutnya dia menghimbau kepada masyarakat  agar mengurangi hobi ngerumpi di warung kopi dari tiga jam menjadi sejam saja. Maksudnya, agar ngobrol sebentar saja, selebihnya waktu digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, lebih produktif: kerja, kerja, kerja!

Susi jelas bukan ustadzah, apalagi ulama. Pendidikannya tergolong rendah, ijasah SMA pun dia tidak punya. Apalagi konon (saya sendiri belum pernah melihat) tubuhnya bertato (suatu hal yang sering diidentikkan dengan premanisme). Tetapi ucapannya benar sekali, bahkan dibenarkan oleh wahyu Allah dalam surat Wal Ashri (Demi Masa).

“Waktu” adalah hal yang dibagikan sama-rata sama rasa oleh Tuhan kepada setiap orang. Tidak peduli kaya atau miskin, berpendidikan atau buta huruf, pejabat atau rakyat, ulama atau umat, sakit atau sehat, semua kebagian waktu yang sama, yaitu: 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Tinggal terserah kepada kita (manusia) masing-masing untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Makin banyak waktu kita manfaatkan untuk kemashlahatan orang-orang lain, ataupun untuk diri kita sendiri, semakin baik, dan pahalanyapun tidak usah menunggu sampai hari kiamat. Di dunia inipun Allah akan membalaskan kerja kita dengan balasan yang kontan dan bisa dinikmati, baik oleh diri kita sendiri, maupun oleh masyarakat yang ikut merasakan manfaat dari kerja kita.

***

Beberapa hari sesudah talk show tersebut, tepatnya tanggal 28 Desember 2014, terjadi musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 jurusan Surabaya-Singapura yang menewaskan seluruh penumpang dan awaknya. Terlepas dari drama dan tragedi yang pasti mengikuti setiap musibah, kecelakaan pesawat Air Asia kali ini menyuguhkan tontonan (di TV) betapa sekian banyak orang (termasuk yang tadinya tidak saling mengenal) bisa bekerja sangat kompak berkejaran dengan waktu.

Presiden Jokowi yang ketika musibah terjadi sedang di Papua, segera menggelar konperensi pers dan memerintahkan untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk menemukan pesawat yang hilang itu dan mengevakuasi korban secepat-cepatmya. Maka semua langsung bergerak! Basarnas sebagai pimpinan dan semua terkoordinasi dengan sangat rapi. Bantuan negara lain berdatangan dengan alat-alat dan personil. Helikopter terbang dan mendarat, kapal-kapal mencari korban di tengah laut yang bergolak, setelah lokasi jatuhnya pesawat ditemukan. Di pos-pos evakuasi, petugas bersama-sama berlarian membawa brankar, ada yang berseragam Basarnas, TNI dan Polisi (sama sekali tidak terasa adanya isyu pertikaian antar TNI-Polsi), Dalam waktu tiga hari Walikota Surabaya Risma hadir di Lanud Juanda Surabaya dan juga mendatangi rumah-rumah penumpang yang ditinggalkan semua penghuninya yang ikut dengan pesawat naas itu. Rumah-rumah itu digembok dan disuruh jaga oleh Satpol PP. Di Kabupaten Belitung Timur, Bupati Basuri Tjahaja Purnama spontan menyiapkan sarana Posko karena ada dugaan pesawat jatuh di sekitar situ. Ketika korban mulai dievakuasi ke Pangkalan Bun, Presiden menyempatkan diri untuk mengunjunginya dan dari situ langsung terbang ke Surabaya untuk bertemu langsung dengan keluarga korban.

Bukan itu saja. Sebagian sejawat saya, psikolog-psikolog yang ada di Surabaya, melalui Himpunan Psikologi Indonesia, cabang Jatim, langsung membuka meja-meja konseling di Lanud Juanda. Gak ada yang nanyain uang makan apalagi honorarium. Pokoknya: kerja!

***

Hasil kerja itu ternyata memang luar biasa. Dalam waktu tiga hari lokasi kecelakaan sudah ditemukan dan selanjutnya bantuan dan evakuasi bisa dilaksanakan. Pujian dari luar negeri bermunculan, dan yang terpenting rasa puas dari keluarga korban sendiri di tengah duka mereka (inilah pahala langsung bagi para pekerja keras itu). Tentu hal ini tidak akan terjadi jika dibentuk Pansus dulu, diseminarkan dulu, atau dibahas dulu dengan Panitia Anggaran DPR.

Memang budaya Indonesia lebih cenderung kepada budaya oral atau lisan. Kita mahir sekali untuk berdebat, berdiskusi, berpantun, berseloka, berdendang atau mendongeng, tetapi kurang cekatan kalau disuruh kerja. Waktu bisa dibuang-buang untuk kebiasaan oral ini. Saya lihat sendiri di Banda Aceh (dua minggu dan dua tahun pasca tsunami ketika saya ke sana) warung-warung kopi buka seharian sampai malam, dan selalu penuh dengan orang yang mengobrol sambil minum kopi. Bahkan mungkin lebih dari tiga jam. Konon para elit Aceh juga mengobrol di warung-warung kopi itu.

Tetapi kata kawan-kawan saya yang belakangan ini sering mondar-mandir ke Aceh, jalan-jalan raya di Aceh sekarang mulus-mulus, dibeton, bukan seperti yang dulu jamannya DOM (Daerah Operasi Militer).  Jadi siapa yang membangun prasarana itu? Jelas orang-orang yang senang bekerja demi waktu, karena tidak bisa orang membangun sesuatu sambil ngobrol..ya kan?

Hak dan kewajiban[20]

Ketika terjadi kecelakaan pesawat terbang Air Asia menjelang tahun baru 2015 yang lalu, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, segera menyuruh stafnya mencari nama-nama penumpang, yang penduduk Surabaya dan yang seluruh penghuninya berangkat ke Singapura naik pesawat yang mengalami kecelakaan itu. Ditemukan lima rumah yang memang ditinggalkan dalam keadaan kosong.

Tindakan selanjutnya, Walikota Risma, datang sendiri ke rumah-rumah yang ditinggalkan kosong tersebut, dan melapor ke Ketua RT masing-masing dan dengan sepengetahuan RT, Walikota menyuruh gembok dobel rumah-rumah itu dan menyuruh Satpol PP untuk menjaga rumah-rumah itu 24 jam. Walikota tidak mau kalau di tengah musibah ada orang-orang yang memancing di air keruh, mengaku-aku kerabat korban dan mencoba mengambil alih rumah tanpa hak, atau sekedar mau merampok dsb.

Masalahnya, mengapa Walikota Risma harus melakukan itu, padahal kalau dia tidak melakukannya pun tidak apa-apa. Tidak ada Undang-undang atau Perda yang mewajibkannya untuk berbuat seperti itu, sementara dia sudah muncul di airport Juanda untuk langsung memberi semangat kepada para keluarga penumpang yang sedang sangat stres dan depresi, dan yang penting sudah masuk TV juga. Jadi citranya tetap baik walaupun tidak perlu dia repot-repot membeli gembok untuk rumah-rumah kosong itu.

Di sisi lain, berkali-kali kita menyaksikan demo untuk menuntut sesuatu. Contohnya demo buruh. Massa buruh, ribuan jumlahnya, menutup jalan, menghambat pengguna jalan yang mau ke kantor atau ke sekolah, atau ambulans yang membawa pasien gawat darurat dsb. Seringkali mereka melakukansweeping ke pabrik-pabrik dan memaksa buruh-buruh yang sedang bekerja untuk ikut demo. Tuntutannya tidak jauh-jauh dari UMR. Pokoknya UMR naik, tidak peduli perusahaan untung atau buntung. Tidak terpikir bahwa dengan mereka demo, mereka tidak bekerja, dan kalau mereka tidak bekerja, pabrik tidak berproduksi, kalau pabrik tidak berproduksi tidak menghasilkan uang, dan ujung-ujungnya tidak bisa membayar upah, sehinggga mereka pilih hengkang ke luar negeri saja, dan akhirnya yang paling dirugikan adalah si buruh sendiri yang kehilangan pekerjaan. Ironisnya semua demo itu dilakukan dengan slogan demi kebaikan, dan demi keadilan.

***

Salah satu ilmu yang mempelajari tentang “Baik-Buruk” adalah filsafat Etika. Etika (berasal dari kata Latin “Ethos”), yang artinya sama dengan Moral (dari kata Yunani “Mores”), mempelajari kapan sesuatu hal itu dianggap baik dan kapan dianggap tidak baik.  Jadi Etika tidak bicara tentang Benar lawan Salah (itu dibicarakan dalam Logika) atau Bagus-indah-cantik lawan Jelek-buruk (yang merupakan tugas Estetika).

Tetapi tidak selalu mudah untuk mengatakan mana yang baik atau tidak baik. Demo buruh mungkin saja dianggap baik, harus dilakukan karena buruh sudah sekian lama diabaikan nasibnya, harga-harga melambung terus, terutama sesudah kenaikan BBM (tetapi waktu BBM turun tidak ada yang demo). Adalah hak setiap warga negara untuk mendapat upah yang layak sesuai dengan standar hidup masing-masing daerah. Karena itu mereka demo. Menurut teori Hedonisme dari filsuf Epikuros (341 – 270 SM), demo buruh itu Etis, karena membela kepentingan buruh yang berdemo itu sendiri[21]. Teori Eudonisme yang dipelopori oleh filsuf kondang sampai kiamat, Aristoteles (384 – 322 SM) juga akan setuju dengan demo buruh, karena setiap orang selalu mengejar tujuan terakhir yaitu kebahagian, yang disebutnya dengan Eudomania[22].

Tetapi aliran lain dari filsafat Etika, yaitu Utilitarisme, yang dipelopori oleh filsuf Jeremy Bentham (1748-1832) mempertanyakan bagaimana mungkin perilaku yang hanya menyenangkan diri sendiri, tetapi mengorbankan orang lain bisa disebut Etis atau bermoral[23]. Perilaku Etis atau bermoral harus bermanfaat bagi sebanyak-banyak atau bahkan kalau bisa untuk semua orang. Nah, di sinilah terjadinya selisih pendapat tentang Etika, apakah yang baik itu sebenarnya? Sampai di mana batas-batas kebaikan itu? Untuk diri sendiri, keluarga, golongan, agama?  Demi siapakah kebaikan itu? Di Paris, baru-baru ini, empat orang teroris membunuh 12 orang redaksi majalah Charlie Hebdo gara-gara memuat gambar Nabi Muhammad. Buat orang lain, mungkin perbuatan mereka jauh dari Etis (membunuhi orang tak berdosa, tak bersenjata, tak berdaya, mana mungkin Etis?), tetapi para pelaku sendiri merasa dirinya sangat mulia karena membela agama dan nabi (sama juga dengan serdadu yang dalam perang membunuh lawan demi membela negara).

Di tengah-tengah perdebatan itu, muncullah filsuf  Jerman bernama Imannuel Kant (1724-1804) yang menawarkan teori Deontologi dalam Etika. Buat Kant, yang penting dalam Etika adalah niat atau maksud dalam seseorang itu melakukan sesuatu. Sesuatu yang baik itu wajib dilakukan (“Deon” berarti wajib atau harus), dalam keadaan apapun, kapanpun oleh siapapun (dalam isitlah Kant, “kategori imperatif”). Jadi yang penting bukan dampaknya, melainkan niatnya (dalam bahasa Islam “nawaitu”).  Perbuatan Etis itu universal, kata Kant[24]. Contohnya adalah tindakan Walikota Risma tersebut di atas. Dalam situasi apapun, ditinjau dari sudut manapun, perbuatan Walikota yang didasari oleh niat baik itu, ya baik. Titik.

***

Dalam teorinya tentang manusia modern, Alex Inkeles menyebutkan salah satu ciri manusia modern (ciri ke 7) adalah menghargai harkat hidup manusia lain. Konsekuensi dari ciri ini, adalah manusia modern mendahulukan kewajibannya sendiri (artinya mendahulukan hak orang lain) ketimbang hak dirinya sendiri (artinya menomor duakan hak orang lain). Dalam versi Revolusi Mental, menghargai harkat hidup orang lain termasuk cirimental Gotong Royong, Dengan demikian mudah-mudahan kita dapat menilai, mana yang bisa dijadikan contoh sebagai perilaku yang Etis dan modern: perlaku buruh pendemo, teoris Paris, atau Ibu Walikota Surabaya?

KESIMPULAN

Secara teoretis, di atas kertas, nilai-nilai modern untuk bangsa Indonesia sudah pas dengan kebutuhan Indonesia sekarang. Sudah sesuai dengan ciri-ciri manusia Modern versi Alex Inkels dan sangat kompatibel (saling melengkapi) dengan Pancasila dan Revolusi Mental. Masalahnya, bagaimana mengoperasionalkan nilai-nilai itu sampai ke tingkat lapangan? Alex Inkeles sendiri mengusulkan proses pendidikan, tetapi pendidikan terlalu lama untuk bangsa ini, sementara kebutuhan di Indonesia sudah sangat mendesak. Sebagai contoh, perintah Presiden Jokowi untuk menalangi dana ganti rugi kepada korban Lapindo, belum-belum sudah di bom dengan formalitas (sumber dana dari mana dsb), apalagi di tingkat lapangan, pasti banyak permainan dari Ketua RT/RW, lurah, camat, bahkan mungkin sampai bupati, sehingga dana jatuh ke tangan yang tidak berhak. Percepatan Dwelling time di Pelindo II dan III, dari semula 7 hari untuk dijadikan 2 hari, sampai sekarang belum berjalan, walaupun itu juga perintah Presiden langsung. Apalagi ketika bicara tentang karakter dan mentalitas bangsa Indonesia, kita sedang berbicara tentang sesuatu yang tidak terukur (intangible). Pengalaman saya sebagai anggota Pokja Revolusi Mental di Kemenko PMK, membuktikan betapa sulitnya melaksanakan program GNRM (Gerakan Nasional Revolusi Mental) yang dimaksudkan untuk mengubah mentalitas bangsa Indonesia secara cepat agar bisa meningkatkan kualitas manusia Indonesia untuk menjawab tantangan Bonus Demografi.

Di sisi lain, kita sudah melihat bukti bahwa sebetulnya perilaku manusia bisa diubah dengan cepat, tanpa melalui proses Revolusi Mental yang berbelit-belit. Pertolongan yang cepat dan efisien terhadap korban-korban kecelakaan Air Asia merupakan bukti bahwa manusia Indonesia bisa bekerja optimal dengan perintah tegas dan teladan dari pemimpin (dalam hal ini Presiden yang didukung oleh pimpinan di bawahnya, Ka Basarnas dll). Di DKI kebersihan bisa cepat diatasi dan banjir dikurangi dengan penerapan aplikasi QLUE[25]dan yang paling kasat mata adalah penertiban penumpang kereta api, yang awalnya selalu dipenuhi oleh penumpang tidak bayar (sampai ke atap), pedagang asongan dan PKL yang serba memenuhi dan mengotori stasiun, hanya dalam waktu dua tahun bisa tertib, termasuk jadwal perjalannyapun menjadi jarang terlambat.

Masih banyak contoh yang bisa dijajarkan di sini, tetapi intinya untuk meninggalkan ciri-ciri manusia Indonesia versi Muchtar Lubis dan menuju ciri-ciri manusia modern versi Alex Inkeles tidak mustahil dilakukandalam waktu cepat, yaitu dengan cara langsung mendorong perubahan perilaku (dengan sistem reward-punishment) tanpa perlu terlalu banyak teori, doktrin, dan pendidikan yang bertele-tele. Baru setelah terbiasa dengan perilaku tertentu (misalnya tidak jam karet lagi), nilai-nilai yang tersirat bisa diserap untuk kemudian menjadikan manusia-manusia berkarakter unggul guna menghadapi tantangan Bonus Demografi.

Dengan perkataan lain, perubahan Mental manusia Indonesia bisa dilakukan lebih cepat dan tepat dengan menggunakan teori reinforcement dari psikologi Behaviorisme ketimbang menggunakan teori kognitif seperti yang selama ini kita laksanakan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. (2007) Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Inkeles, Alex (1997), Nine traits that make Ameicans American, Hoover Digest, No. 3,Hoover Institution, http://www.hoover.org/research/nine-traits-make-americans-american, diunduh 14 September 2016
Inkeles, Alex & David H Smith  (1974), Becoming Modern: Individual Change in Six Developing Countries, Harvard University Press
Lubis, Mochtar (1977), Manusia Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor.
Mbai, Ansyaad (2014), Dinamika baru jejaring terror di Indonesia: Dan keterkaitannya dengan jejaring internasional, Jakarta: AS Production Indonesia.
Oberman, Raoul, Richard Dobbs, Arief Budiman, Fraser Thompson & Morten Rosse (September 2012), The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential, McKinsey Global Institute
Rotter, J. B. (1966). “Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement”. Psychological Monographs: General & Applied
Rotter, J.B. (1975). “Some problems and misconceptions related to the construct of internal versus external control of reinforcement”. Journal of Consulting and Clinical Psychology
Rotter, J.B. (1990). “Internal versus external control of reinforcement: A case history of a variable”. American Psychologist
Tim Penyusun (tanpa tahun), Panduan Umum Gerakan Revolusi Mental, Seri 2 (Buku Saku), Jakarta: Kementrian Koordinator Bidang Pembinaan Manusia dan Kebudayaan, RI

[1]Kurun waktu yang diberikan oleh berbagai sumber tidak sama. Batas awalnya berhariasi antara 2015-2020, sedangkan batas akhirnya berkisar antara 2030-2045. Jadi saya mengambil yang paling menampung semuanya, yaitu 2015-2045 (kurun waktu 30 tahun).

[2]Raul Oberman dkk, The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential.

[3]Tim Penyusun (tanpa tahun), Panduan Umum Gerakan Revolusi Mental, Seri 2 (Buku Saku),

[4]Koran TEMPO, 15 Agustus 2015.

[5]Rotter, J. B. “Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement“.

[6]Rotter, J.B. “Some problems and misconceptions related to the construct of internal versus external control of reinforcement“; Rotter, J.B. (1990). “Internal versus external control of reinforcement: A case history of a variable“.

[7]Sejak awal tahun 2016, mulai ada perubahan pada perilaku pemerintah Jokowi-JK, yaitu mulai berusaha mengendalikan dan meningkatkan perekonomian dalam negeri dengan upaya sendiri melalui program Tax Amnesty dan menarik kembali Dr. Sri Mulyani Indrawati dari posisinya sebagai Gubernur Bank Dunia, untuk dijadikan Menteri Keuangan RI.

[8]Mbai, Ansyaad, Dinamika baru jejaring terror di Indonesia: Dan keterkaitannya dengan jejaring internasional,Hlm. 219-225.

[9]Menilik riwayat hidupnya, yang bisa mengangkat dirinya sendiri dari seorang anak tukang kayu di Solo, sehingga bisa menjadi pengusaha kayu, walikota Solo, Gubernur DKI dan terakhir Presiden, Jokowi adalah seorang yang tergolong mempunyai ciri PKI (Pusat Kontrol Internal).

[10]Koran SINDO, 5 Januari 2015

[11]Koran SINDO 28 Desember 2014

[12]Alex Inkeles & David H Smith, Becoming Modern: Individual Change in Six Developing Countries

[13]Inkeles, Alex, Nine traits that make Ameicans American

[14]Muchtar Lubis, Manusia Indonesia

[15]Ini ucapan Muchtar Lubis tahun 1977. Sekarang tahun 2016, dan apa yang diucapkannya ternyata secara harafiah sangat sesuai dengan kenyataan, contohnya: kerusuhan Jakarta (1998), kerusuhan etnik di Kalsel dan Kalbar, kerusuhan sektarian di Ambon, Poso, Maluku Utara (1999-2004), dan seterusnya, yang seluruhnya meminta korban ratusan ribu korban jiwa.

[16]Muchtar Lubis, op cit.

[17]Muchtar Lubis, op cit.

[18]Dalam istilah Rotter: PKE (Pusat Kontrol Eksternal)

[19]Koran SINDO, 12 Januari 2015

[20]Koran SINDO 19 Januari 2015

[21]K. Bertens, Etika, Hlm 231

[22]K. Bertens, op cit, Hlm 242

[23]K. Bertens, op cit, Hlm 246

[24]K. Bertens, op cit, Hlm 254

[25]QLUE adalah aplikasi yang digunakan oleh Pemprov DKI agar warga bisa langsung melaporkan tentang keberadaan sampah yang masih mengganggu dengan memotret sampah itu dan langsung mengirimkannya ke Dinas Kebersihan, dan Dinas Kebersihan akan secepatnya mengirimkan petugasnya ke lokasi yang dimaksud.