Opini

Climate Change Picu Keracunan Makanan

PERUBAHAN IKLIM PICU PENINGKATAN KERACUNAN MAKANAN

Menurut penelitian terbaru, kasus keracunan makanan bisa melonjak karena kenaikan suhu global berpotensi membawa segerombolan lalat yang menularkan penyakit.

Jika emisi rumah kaca terus memburuk seperti sekarang ini, populasi lalat diperkirakan meningkat dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dalam beberapa dekade mendatang karena perubahan iklim menciptakan kondisi yang sempurna untuk serangga berkembang biak dan berpindah-pindah.

Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan Kanada melihat dampak yang diakibatkan oleh penyakit yang ditularkan oleh lalat.

Bakteri Campylobacter adalah salah satu penyebab utama penyakit yang ditularkan melalui makanan di seluruh dunia. Sementara pakar telah mengetahui bakteri ini mencemari daging, tetapi cara populasi mereka menyebar tidak sepenuhnya dipahami.

Oleh karena fluktuasi infeksi diketahui bertepatan dengan puncak musim panas selama berbulan-bulan ke depan, peneliti memprediksi serangga merupakan penghubung utama dalam penularannya.

Sebelumnya, peneliti telah menemukan bahwa mikroba hidup dalam organ internal lalat dan diperkirakan pindah ke makanan.

Transisi tersebut, menurut peneliti, terjadi kala lalat berdengung dan menempel pada makanan yang Anda konsumsi.

Para peneliti pun melakukan proses penelitian dengan menggunakan informasi tentang penularan bakteri berbahaya oleh serangga. Mereka mengamati dan mempelajari efek ledakan populasi lalat terhadap penyebaran penyakit.

“Serangga sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan berkembang dalam suhu yang lebih hangat,” kata Melanie Cousins, seorang mahasiswa PhD yang melakukan studi sebagai bagian dari tesis master di Guelph University.

“Ketika suhu menjadi lebih hangat, telur-telur lalat terbang menetas jauh lebih pesat yang berarti populasinya dapat meningkat dengan cepat. Oleh karena itu, dengan proyeksi peningkatan suhu dan meningkatnya durasi musim hangat, pergerakan lalat diprediksi makin aktif menyebar.”

Di bawah tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi, peningkatan populasi dan aktivitas lalat dapat menggandakan kasus keracunan makanan Campylobacter pada tahun 2080 mendatang.

Hasil studi ini menggunakan data dari provinsi Ontario di Kanada. Data tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan model dan melengkapi informasi mengenai tingkat penyakit dari 12 tahun terakhir.

Peneliti telah memastikan tingkat akurasi yang rinci untuk temuan ini.

Hasil studi telah dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Open Science. 

Persoalan dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan juga mengancam kesehatan bayi yang baru lahir.

Hasil studi yang disimpulkan oleh tim peneliti dari University of Albany menuliskan, jumlah bayi yang lahir dengan kelainan jantung bakal meningkat pesat pada tahun 2025 dan 2035.

Kondisi mengkhawatirkan tersebut risiko lebih tinggi pada ibu hamil yang tinggal di area tropis. Lalu, mereka yang tinggal di negara empat musim akan berhadapan dengan risiko serupa apabila mereka mengandung antara musim semi dan musim panas.

Hasil studi yang dipublikasikan Journal of American Heart Association ini dilakukan di Amerika Serikat. Peneliti memprediksi adanya 7.000 kasus tambahan kelainan jantung bawaan setidaknya selama 11 tahun ke depan.

Penulis: Syafrina Syaaf