Opini

Era Bonus Demografi

MEMAHAMI ERA BONUS DEMOGRAFI

Pernahkah anda mendengar dan atau malah mengetahui apa itu bonus demografi? Sekedar untuk memahami secara sederhana saja bahwa bonus demografi itu adalah suatu era atau jaman (bahkan ada juga yang bilang suatu peristiwa) yang ditandai melalui jumlah penduduk usia produktif sudah jauh lebih banyak dari jumlah penduduk usia non-produktif, dengan perbandingan 100 usia produktif berbanding kurang dari 50 usia non-produktif (100 : <50). Hitungan mudahnya, kalau 10 orang menanggung beban sekitar 3 sampai 4 orang tentu akan lebih ringan dan beban pengeluarannya pun akan lebih kecil dibandingkan menanggung 5 atau 6 orang.

Kenapa dikatakan suatu era/jaman? Tentu saja mengingat bonus demografi itu terikat pada satuan kurun waktu tertentu. Kalau merujuk pada pendapat Burden, tahapan era bonus demografi itu terbagi atas 3 (tiga) tahap, namun pada umumnya kita terbiasa menyatukan tiga tahapan itu dalam satu periode saja. Tak jadi soal, yang penting kan substansinya dari bonus demografi itu sendiri.

Adapun yang dimaksud dengan substansinya tersebut ialah usia produktif itu harus benar-benar produktif sehingga menghasilkan nilai ekonomi lebih, dalam arti memiliki penghasilan cukup, baik untuk membantu maupun pemenuhan kebutuhan sendiri, serta dapat menabung. Karena kemampuan itulah, besarnya jumlah penduduk usia produktif diistilahkan sebagai ‘bonus’. Akan tetapi jika sebaliknya yang terjadi justru hal tersebut adalah ledakkan penduduk semata; alih-alih bonus yang didapat, malah petaka yang diraih.

Mari kita coba membayangkan, kalau usia produktif (menurut ILO, rentang usia 15 sampai 64 tahun) itu besar dan tidak mampu berproduktif, itu sama artinya pngangguran akan tinggi, baik yang benar-benar menganggur, setengah pengang-guran maupun yang terselubung. Dampak dari jumlah pengganguran yang banyak, terutama di kaum mudanya, tentu berimbas pada tingginya angka kemiskinan dan ekornya akan sampai pada meningkatnya kriminalitas atau kerawanan sosial. Bukankah itu namanya malapetaka ?

Menurut data BPS tahun 2013, Indonesia sudah memasuki era bonus demografi sejak tahun 2012 dan diprediksikan akan berakhir pada tahun 2045. Sedang puncaknya diperkirakan terjadi antara tahun 2028 hingga 2031; jadi, nanti puncaknya hanya 4 (empat) tahun. Walau demikian sebaiknya, jauh-jauh hari mestinya sudah mempersiapkan diri agar terhindar dari malapetaka. Karena waktu tidak akan dapat diputar balik kembali dan penambahan terus jumlah usia produktif pun tidak dapat kita cegah. Satu hal yang juga perlu diingat, era bonus demografi ini hanya akan dialami 1 (satu) kali sepanjang sejarah Republik Indonesia. Jadi betapa penting dan berartinya era tersebut untuk kita manfaatkan semaksimal mungkin.

Beberapa contoh Negara yang sukses dalam pemanfaatan jendela peluang bonus demografi, diantaranya, China, Korea Selatan, dan Thailand. GNP mereka melesat cukup tinggi. Pastinya yang berhasil akan makmur dan yang gagal akan terjerat kemiskinan berkepanjangan.

Sekarang, pilihan apakah kita akan berhasil atau gagal, sepenuhnya bergantung pada bagaimana cara kita mensikapi jendela peluang langka itu dapat dioptimalkan.

Salam.