Opini

Era Digital Tebar Ketakutan

SEDIKIT PEMAHAMAN TENTANG ERA DIGITAL

Oleh : Prof.Dr. M. Koesmawan *)

Prof KoesUntuk memudahkan saya persempit pemahamabn era digital,ini pada apa yang disebut, Era Disrupsi. Saya kutip Pemikiran Sdr Ahmad Faidz Zainuddin sebagai berikut:

Menurut AFZ, sumbernya adalah tulisan/buku Dr. Rhenad Kasali yang akhir akhir ini, Prof. Rhenald dibuku-bukunya, tulisan-tulisan dan ceramah2nya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma Change Managementyang menjadi bidang keahlian beliau. Dalam ilmu manajemen perubahan, salah satu tokoh utamanya adalah Professor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori beliau tentang 8 Steps to change. Dalam teori ini, langkah pertama untuk bikin sebuah organisasi (dan individu) mau berubah adalah dengan increase urgencyalias bikin orang-orang merasakan urgensitas perubahan. Dan, cara paling ampuh untuk itu adalah dengan bikin mereka ketakutan apa dampaknya jika tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat agar segera berubah.

Seperti apa, gambaran kepanikan yang dimaksud antara lain, khususnya gara-gara ada “Ojek On line” ini:

  1. Pendapatan supir taksi jatuh menurun drastis; taksi putus asa.
  2. Mal-mal banyak yang tutup; pengangguran bertambah.
  3. Tiket di jaan Tol, ganti non tunai; ribuan menganggur.
  4. Pesan Online, travel banyak tutup.
  5. Teller-teller gak bakal dipakai lagi sehingga kata Bill Gates, Banking is OK but Banks are Closed.
  6. Satpam diganti CCTV.
  7. Dan banyak lagi yang menimbulkan kepanikan.

Inilah yang menurut istilah alm Prof Dr. Iskandar Alisjahbana, M.Eng sebagai rugi-rugi teknologi. Teknologi memang menguntungkan, tertapi juga banyak merugikan.

Menurut AFZ, tak harus manusia dibuat panik, ini alasaannya:

a). Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik-baik saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jika tujuan kita adalah untuk melahirkan inovasi, kreatifitas, dan terobosan2 baru. Padahal untuk survive dan berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: KREATIVITAS.

b). Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide-ide kreatif dan terobosan-terobosan inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman tentang kreativitas, The Encyclopedia of Creativitymenyebutkan bahwa salah satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif adalah jika kita sedang mengalami emotional barrier. Dan diantara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut adalah yang paling melumpuhkan. Jadi anda tidak bisa memaksa orang yg sedang dilanda ketakutan tentang bahaya era disruption untuk mencari solusi kreatif tentang bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil membuat mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut trainingnya, tapi bingung dan mati gaya harus melakukan apa.

c). Cara yg lebih pas untuk bikin orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah, sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi adalah dengan memberikan mereka rasa OPTIMISME akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata.  Sekedar contoh menurut AFZ:

1).Bill Gates melahirkan Microsoft bukan karena ketakutan kehilangan pekerjaan, tapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia bisa bikin software bagus. Akhirnya dia telpon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM. Menurut Mahjalah Forbes, terkaya No 1 di dunia.

2) Mark Zuckerberg (terkatya nomor 6, Forbes 2018),  bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO dari Harvard demi mengejar impian “menghubungkan tiap orang di muka bumi”. Pada saat ceramah di acara wisuda di Harvard, dia mengatakan, yg bikin dia bisa melahirkan Facebook, karena dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, untuk mencoba hal2 baru yg inovatif.

3) Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, sebutkan semua inovator kreatif yg bikin perubahan2 radikal abad ini, hampir semuanya tidak ada yg melahirkan inovasinya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua adalah para OPTIMISTS yg melihat kesempatan besar ditengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.

4) Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (Startup bernilai diatas 14 Trilyun rupiah: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak ada yg dilahirkan dari orang2 yg ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan2 tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi akan peluang besar di depan mata.

5) Singkat kata: Takut & pesimis = Bingung & Mati Gaya, harus dilawan oleh perasaan, Tenang & Optimis = Kreatif & Solutif. Alhamdulillah, sukses jadinya.

d). Era Disruption adalah era yg seharusnya bikin kita optimis, bukannya malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan). Minggu lalu saya baru pulang dari training di Singularity Univeristy. Ini adalah salah satu lembaga yg meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah Disruption Era. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan2 teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di pusat penelitian NASA disana. Di pusatnya sini, Istilah “disruption era” itu menimbulkan aura positif, optimis, dan penuh semangat. Saya ndak tahu lha kenapa begitu sampai di Indonesia malah diartikan salah kaparah sebagai istilah yg menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin karena Prof. Renald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), jadi banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa belajar setengah2 itu berbahaya, little bit learning is dangerous.

Bagaimana dengan pendekatan disruptive innovation? Saya kutip kembali tulisan Dr. Mukhaer Pakkanna sebagai berikut:

Clyayton Christensen dkk dalam What Is Disruptive Innovation?(25/12/05), menguraikan bahwa inovasi ini telah memanfaatkan aplikasi sederhana dengan menggarap segementasi basis masyarakat bawah yang selama ini kurang digarap serius oleh pendekatan konvensional. Dengan pendekatan disruptive, perusahaan tidak perlu berdiri secara formal, tidak perlu organisasi yang rapi dan ketat, tidak banyak melibatkan karyawan dan rantai kendali manajemennya pun sederhana. Tentu, model pendekatan bisnis seperti ini menyulitkan pihak regulator (pemerintah) dalam treatment policy. Demikian pula, lambat atau cepat, disruptive innovation akan segera merontokkan manajemen operasional dalam bisnis dengan pendekatan formal yang konvensional.

Secara prinsip, pendekatan sharing economy sangat kompatibel dengan prinsip berbagi dalam ajaran Islam. Dalam Islam, dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia paling bermanfaat (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Tatkala menjalankan roda bisnis, hendaknya kaum muslim lebih mengutamakan akhlak mulia daripada sekadar mencari keuntungan. Sedangkan keuntungan merupakan side effect akibat menjalankan bisnis yang benar sesuai syariat. Dalam sharing economy, selain dibutuhkan aqad yang transparan dan akuntabel, juga dibutuhkan niat yang tulus. Ketulusan inilah melahirkan prinsip saling membagi (sharing). Allah SWT berfirman bahwa “Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan”. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ”Pancinglah riski dengan saling membagi”. Rasulullah SAW bersabda, ”Bersegeralah saling membagi sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului saling membagi”

Bahkan, prinsip saling membagi itu dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah SAW menganjurkan, ”Obatilah penyakitmu dengan saling membagi, dan saling membagi dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah SAW, ”Perbanyaklah saling membagi, sebab saling membagi bisa memanjangkan umur.”(Tambahan Koes: Manusia berserikat dalam air, tanah dan api- Hadist).

Dalam konteks pendekatan sharing economy di dalam bisnis aplikasi online yang telah mewabah dalam manajemen operasional moderen saat ini, sejatinya telah memanfaatkan nilai-nilai ekonomi Islam. Hanya persoalannya, tatkala bisnis aplikasi ini menggurita, banyak pihak kapitalis jahat memanfaatkan bisnis sistem layanan ini untuk mengeruk surplus ekonomi. Menurut CK Prahalad dalam The Fortune at the Bottom of the Pyramid: Eradicating Poverty through Profits(2004), sejatinya surplus ekonomi itu terletak pada segmentasi masyarakat bawah (bottom of the pyramid). Secara kuantitatif, empat miliar orang miskin di dunia dan sekitar 30 juta di Indonesia, adalah pasar potensial yang besar.

Dari sudut daya beli riil, potensi pasar bottom of the pyramid lebih dari 13 triliun dollar AS, melebihi nilai total pasar Jepang, Jerman, Perancis, Inggris, dan Italia. Sehingga tidak mengherankan, esksistensi bisnis sistem aplikasi tentu secara telanjang memanfaatkan untuk mengeruk surplus ekonomi pada pasar bottom of the pyramiduntuk kepentingan kapitalis jahat. Tentu, dengan memafaatkan komparadornya di setiap negara berkembang yang berpenduduk besar. Jika ini terjadi, nasionalisme ekonomi bisa dipertaruhkan.

Oleh karena itu, Pemahaman Era Digital atau Era Disruptif yang di-drive oleh perkembangan teknologi informasi sebagai basis determinan faktor produksinya dan sebagai faktor produksi unlimits( tidak terbatas) karena berbasis inovasi dan industri kreatif, harus merumuskan kembali kerangka filosofi, paradigma, teori, dan acuan konseptualnya sesuai fakta-fakta empirik. Adapun hal-hal lebih lanjut yang kitab hadapi di Era Disruption, saya kutip kembali tyulisan AFZ (Ahmad Faiz Zainuddin, Mahasiswa MBA,Warwick Business School, UK. Indiana University, USA Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA.

Menurut AFZ, Era disruption adalah fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yang menelorkan teori ini adalah Peter Diamandis (Co-founder dari Singularity University tersebut). Menurut beliau, abad ini akan ditandai perubahan besar-besaran yangg terjadi dalam 6 fase (6D’s of Exponential Growth):

1) Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

2) Deception (Kodak tertipu karena dikira ini teknologi amatir yang ndak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel).

3) Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yang bikin kehebohan disana sini, karena di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4) Dematerialization (semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah “material” karena tiba-tiba semua bisa disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Jadi silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jika anda perlu foto itu tinggal download)

5) Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: www.pdfdrive.net. Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin lama makin murah, karena tidak ada lagi “biaya cetak”.

6) Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar & Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua). Peter Diamandi menulis buku khusus yg menjelaskan fenomenna “Abundance” ini. Sekedar intermezzo: Saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill, “mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?” Peter menjawabnya, “Karena saya tidak pernah baca berita (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data2 ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah kesana, bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”. Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini agar kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data2 ilmiah. Yakinlah hidup ini dengan prasangka baik khususnya kepada Allah SWT.

Maka seharusnya, eradisruptionitu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, namun perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yg makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua. the greatest good for the greatest number of people. Kalau dalam revolusi ada korban-korban yg bergelimpangan karena ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semuapun perlu belajar lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini.

Akhirnya AFZ menutup tulisannya sebagai berikut, Terimakasih Prof. Renald Kasali, yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini jangan kebablasan jadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan.  Karena ide-ide besar kreatif dan terobosan-terobosan baru inovatif untuk survive dan Berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang-orang dan perusahaan-perusahaan yang tenang dan optimis.

Saya tutup dengan mengutip ayat dalam Al Quran yang disenangi oleh Bung Karno dan Mas Isman, Guru Nasionalis yang tulus dimata saya, sbb, “ Innalloha Laa yughoyirru maa, bikaumin, hatta yghoyirru maa, biamfusihim”. (Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, sebleum bangsa itu, mau mengubahnya sendiri). La taiasyu Mirruhillah.

*) Ketua Umum Majelis Pendidikan Nasional KOSGORO.