Berita

Fenomena Kluyuran

SMK Madiun1

FENOMENA KLUYURAN

Ybb, 16 Januari 2017— ‘…ada gejala mencemaskan tentang anak muda putus sekolah di Madiun beberapa waktu ini, saya sering melihat banyak anak-anak usia tanggung menghabiskan waktu kluyuran dijalanan tuh. Kadang mereka sambil menghisap kaleng lem perekat (ngebong—red). Mereka, saya kira, kebanyakan anak putus sekolah yang tidak dapat melanjutkan dan atau mungkin tidak terserap di pasar kerja…’ ujar Sumarto, ketua Yayasan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan KOSGORO Kota Madiun, di sessi tanya jawab di diskusi terpumpun yang diselenggarakan dalam rangka pembentukan Komunitas Peduli Bonus Demografi daerah Kabupaten Sragen, Kota Madiun, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Kediri, hari sabtu (14/01/17).

Lebih lanjut, Sumarto, tokoh yang pernah mengabdi di Dinas Tenaga Kerja dan juga berkecimpung di dunia politik Kota Madiun tersebut mengungkapkan keprihatinannya atas gejala yang terjadi.

Menurut Sumarto, tidak tertutup kemungkinan gejala seperti itu juga terjadi di daerah lain mengingat pertambahan jumlah usia produktif kian membesar sementara ketersediaan lapangan kerja belum berbanding lurus dengan pertambahan jumlah kaum muda usia produktif. Dan, hal itu dialami juga di daerah lain.

Selaras dengan Sumarto, sekretaris eksekutif Yayasan Bhakti Bangsa, Indragara, menyatakan bahwa besarnya jumlah penduduk usia produktif, terutama kaum muda merupakan potensi luar biasa yang mampu mendongkrak percepatan kesejahteraan masyarakat kita. ‘…kaum muda merupakan mesin penggerak pembanguan, engine of growth, yang dapat mendorong kemajuan bagi kita bersama. Namun, apabila kondisi kaum muda sebagaimana disampaikan mas Sumarto tadi dalam sekala cukup banyak, misalnya, tentu keberadaan mereka bukan menjadi kekuatan mesin pembangunan melainkan malah menjadi beban yang meresahkan. Alih-alih bonus yang di raih, malah sebaliknya bencana yang di dapat…’

Kehadiran Indragara di Kota Madiun merupakan perjalanan tugas dalam kerangka membentuk Komunitas Peduli Bonus Demografi (KPBD) Kabupaten Sragen, Madiun, Jombang dan Kediri. Pembentukkan di keempat kota/kabupaten tersebut sebagai realisasi kerjasama Yayasan Bhakti Bangsa dengan Majelis Pendidikan Nasional Kosgoro. Sehingga menurut Indragara, hal itu yang melatar belakangi pembentukan KPBD dengan basis sekolah-sekolah Kosgoro.

‘…alhamdulillah, dalam pertemuan tadi kawan-kawan yang hadir sepakat untuk membentuk KPBD didaerahnya masing-masing, tentu kami dari Yayasan Bhakti Bangsa sangat terbantu dalam mensosialisasikan dan edukasi bonus demografi kepada masyarakat luas..’ ujarnya. Selanjutnya, menurut Indragara, setiap KPBD dapat mengembangkan program kerja sesuai kondisi daerah, karena setiap daerah akan memiliki persoalan berbeda dan cara penanganannya pun tentu akan berbeda pula. Meskipun demikian substansi persoalannya kan tetap sama, yakni mengerucut pada persoalan kesiapan kita dalam pemanfaatan secara optimal peluang bonus demografi.

Ketika ditanya tentang apakah KPBD ini, yang digagas Yayasan Bhakti Bangsa hanya akan dikembangkan di kota/kabupaten yang ada sekolah Kosgoro. Indragara menegaskan bahwa KPBD ini merupakan sebuah wadah bagi anggota masyarakat yang memiliki kesamaan perhatian dan peduli terhadap persoalan bonus demografi. ‘…di Pekanbaru, Riau, pembentukan KPBD disana justru diinisiasi oleh anak muda yang tidak ada hubungan kerjasama dengan kami, bang Bernard. Kami malah terkejut pada satu hari mendapat berita bahwa bang Bernard bermaksud berkunjung ke secretariat kami. Menurutnya, dia browsing dan membuka website kami, saat itu masih www.bonusdemografi.or.id (sekarang ybb.or.id–red). Secara khusus dating ke Jakarta menyampaikan ketertarikan untuk berpartisipasi aktif membentuk KPBD di sana. Dan, kegiatan bang Bernard bersama kawan-kawannya luar biasa.’

Indragara, mencontohkan juga pembentukkan KPBD Kabupaten Kuningan yang digagas oleh Radio KOS 95,6 FM. ‘…pada akhir tahun 2016, 30 Desember lalu, salah satu program acara di Radio KOS 95,6 FM meminta kami untuk mengisi acara dengan topik bahasan seputar bonus demografi..’ Kota lain, dari Madiun saya akan langsung ke Yogyakarta bertemu dengan mas Eri Indriawan, Ketua SAR SENA Indonesia, kelompok relawan bencana alam (rescuer—red), guna membicarakan hal yang sama, pembentukkan KPBD.

Indragara berharap KPBD bisa dibentuk dibanyak daerah. Menurutnya sampai akhir bulan Januari ini masih ada dua kota yang akan dikunjungi, yakni Kota Bogor dan Tanggerang Selatan. ‘mudah-mudah dengan semakin banyak partisipasi masyarakat melaluli KPBD, kami bersama kawan-kawan dapat membantu meminimalisasi dan mengalihkan fenomena kluyuran kearah kegiatan produktif.’ ujarnya.