Berita

Gaya Hidup Sumbang Jumlah Penganggur

SISI UNIK MENYOAL PENGANGGURAN

ybb.or.id, Jakarta — Persoalan pengangguran terbuka yang relatif masih cukup tinggi merupakan masalah yang hampir merata dihadapi oleh banyak Kota/Kabupaten di Indonesia. Menurut Bambang Wasito Adi, Ketua II Yayasan Bhakti Bangsa (YBB) yang juga membantu Bappenas dalam pilot projek di sejumlah Kota/Kabupaten, selain persoalan kompetensi —daya dukung keterampilan—“gaya hidup” juga merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi jumlah pengangguran, terutama di daerah perkotaan.

‘…pengangguran memang bukan persoalan sederhana dan tidak bisa di sama ratakan antarsatu daerah dengan lainnya…tiap daerah punya sumber masalah dan keunikan sendiri-sendiri…’ ujarnya. Namun untuk daerah perkotaan, menurut Bambang, gaya hidup merupakan fenomena yang nyaris sama ditemukan dan jadi penyumbang terhadap jumlah pengangguran.

Dari pengalaman telaahannya, sebagai contoh di kota Surakarta, menurutnya sebenarnya lapangan kerja cukup banyak tersedia, terutama sektor industri pabrikan. Akan tetapi tampaknya kaum muda kota tersebut banyak yang kurang berminat untuk bekerja di pabrik, sehingga kesempatan dan peluang kerja justru diminati dan diisi oleh para pekerja pendatang dari daerah sekitarnya. Hal tersebut juga hampir mirip terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

‘…yang unik lainnya dari persoalan pengangguran ini saya temukan di Makasar dan Jawa Timur, yakni pada satu sisi tingkat pendapatan masyarakat meningkat namun di sisi lain tingkat pengangguran malah tidak berkurang. Ada apa, apakah faktor penyebabnya? dan ini nanti akan kami kaji lebih dalam…’ katanya, di Kantor Sekretariat YBB, di Bogor.

Menurut Bambang, jadi melihat persoalan pengangguran tidak lantas semata kita (baca: masyarakat) membuta membebankan ke Pemerintah, terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ‘…harus diakui bahwa masih banyak kelemahan yang mesti dibenahi menyangkut dunia pendidikan kita, khususnya sekolah menengah kejuruan. Data yang disampaikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah mengungkapkan di mana dari sekitar 14.000 SMK, sekitar 6.000 SMK sudah tidak sehat, dalam artian jumlah siswanya sangat kecil. Selain itu, kita juga tahu bahwa banyak SMK Swasta terutama yang tidak didukung oleh sarana penunjang memadai…’ urai Bambang. Salah satu akibatnya, kompetensi lulusannya belum mampu memenuhi kebutuhan dunia industri.

Kombinasi antara keduanya (gaya hidup dan kompetensi —red) sebaiknya perlu jadi bahan pencermatan semua pihak. ‘…terutama untuk Pemerintah Daerah, saya kira perlu mendalami secara cermat persoalan dan solusi mengatasi pengangguran di daerahnya masing-masing; maping by name, by adress sangat diperlukan agar keakuratan data benar-benar valid. Demikian pula, potensi daerah dalam arti seluasnya harus dapat eksplorasi. Sehingga kebijakan publik yang dibuat Pemerintah (Daerah) benar-benar berbasis kependudukan dan demografi…’ pungkasnya.

sb: esispr//