Berita

Gig Workers

MILENIAL DAN GIG ECONOMY

JAKARTA, KOMPAS.com – Gig Economy atau ekonomi yang bergantung pada pekerja dengan kontrak sementara kini terus bekembang di era industri 4.0, termasuk Indonesia. Tumbuh dan bertambahnya mereka yang sering disebut gig workers ini tak lepas dari perkembangan teknologi maupun zaman.

Istilah Gig Economy muncul karena pengaruh industri 4.0 dan ini masih terbilang baru di tanah air dan bagi masyarakat. Managing Director Amar Bank-Tunaiku, Vishal Tulsian menilai, hal ini berkaitan dengan besarnya tuntutan pekerjaan yang memaksa perusahaan untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) andal dan profesional di bidangnya. Lebih tepatnya disebut sebagai on-demand worker alias buruh siap kerja.

“Peningkatan ini terjadi disebabkan oleh faktor efisiensi biaya recruiment serta ide-ide baru yang lebih segar dihadirkan para gig workers,” sebutnya.

Vishal menyebutkan, beberapa perusahaan di industri kreatif akan lebih efisien dan efektif dengan menggunakan para pekerja lepas. Selain kontrak kerja yang tidak terikat atau terkait, perusahaan juga akan dapat pekerja profesional yang diinginkan sesuai kebutuhan pada saat itu. Dia menambahkan, besarnya minat para milenial atau generasi kini untuk lebih memilih bekerja sebagai gig workers juga dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya karena jam kerja yang fleksibel dan menyebabkan perputaran karyawan yang tinggi di dalam perusahaan. Ini tentu akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

“Sebut saja perusahaan tidak akan mengedukasi sesuai visi, misi dan budaya dari perusahaan tersebut. Namun justru pekerja milenial ini lebih memilih pekerjaa lepas demi kenyamanan. Hal ini juga memberikan sentuhan baru bagi perusahaan untuk dapat menyelaraskan visi dan misi perusahaan terhadap tren gaya bekerja yang sedang terjadi saat ini,” tambahnya.

Dampak digitalisasi Sementara Country Manager Job Street Indonesia, Faridah Lim mengatakan, tren pekerja lepas di Indonesia tidak terlepas dari digitalisasi dan automisasi yang terjadi di era industri 4.0. “Perusahaan cenderung melakukan efisiensi besar-besaran, terlebih lagi cara kerja milenial yang menyambut baik hal ini dengan pekerjaan yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja,” kata dia.

Menurut Faridah, dengan semakin terbuka dan lebarnya kesempatan kerja, para pekerja ini juga harus meningkatkan kemampuan atau skill. Sehingga dapat bersaing dan berkompetisi di era yang semakin kompetitif ini. “Gig Economy ini memberikan pergeseran gaya bekerja di masa mendatang,” terangnya. Dia menilai, Gig Economy merupakan hal yang wajar jika di tengah perkembangan dan perubahan zaman.

Ini dikarenakan revolusi industri maupun era digitalisasi telah mengaburkan keterbatasan jarak dan waktu. Kehadiran internet membuat orang bisa dan dapat bekerja di mana saja dan kapan saja, selagi memiliki keahalian yang dibutuhkan perusahaan. “Perkembangannya tidak sepesat di negara-negara berkembang. Di daerah Jabodetabek dan pulau Jawa mungkin perkembangannya lebih cepat dikarenakan kemajuan pendidikan, pembangunan, dan infrastruktur. Namun kebanyakkan perusahan di luar pulau Jawa, masih menerapkan sistem ketenagakerjaan konvensional yaitu mempekerjakan karyawan,” ujarnya. Dia menyebut, ada sejumlah alasan perusahaan mempekerjakan pekerja lepas ini. Misalnya untuk menghemat biaya dibandingkan harus mempekerjakan pekerja tetap, dimana banyak biaya yang harus disediakan atau dikeluarkan. Seperti tunjangan, asuransi, dan lain-lain. Selain itu, di sisi para pencari kerja terutama generasi milenial semakin tertarik dengan konsep ini. Karena bisa bekerja di rumah atau lepas di mana saja dan kapan saja.

“Semakin banyak pula behavior generasi milenial yang sering berganti-ganti pekerjaan, yang menunjukkan semakin besarnya kecenderungan menerima dan beradaptasi dengan Gig Economy. Ini yang menyebabkan Gig Economy akan semakin berkembang,” ucap dia. Berdampak negatif Namun Vishal mewanti-wanti, Gig Economy ini bisa melukai perekonomian secara umum dalam jangka panjang. Pasalnya dengan makin banyak pekerja yang memilih bekerja secara lepas, menurut dia, bisa meningkatkan angka pengangguran serta daya beli per orangnya. “Jika hal ini terus berkembang, perekonomian Indonesia akan menjadi stagnan dan tidak berkembang ke arah perekonomian inklusif,” ucapnya.

Dia menyebutkan, dari data yang diperoleh terungkap bahwa dari 127 juta masyarakat Indonesia yang bekerja, sepertiga dari mereka masuk pada katagori pekerja lepas. Bekerja kurang dari 35 jam per minggunya. “Dari sepertiga angka tersebut, lebih dari 30 juta masyarakat Indonesia bekerja paruh waktu,” ucap dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Milenial dan “Gig Economy” di Era Industri 4.0″,
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/15/200900526/milenial-dan-gig-economy-di-era-industri-4.0.
Penulis: Murti Ali Lingga
Editor : Erlangga Djumena