CELOTEH

Global Village

Screen Shot 2017-02-19 at 20.25.44

GLOBAL VILLAGE

Pakar strategi Manajemen Kenichi Ohmae pernah memprediksi akan datangnya sebuah era desa global.Pada tahun 80-an, masyarakat belum membayangkan apa yang dimaksud dengan prediksi tersebut.Sekarang kita bisa melihat dengan jelas, era desa global itu adalah lompatan teknologi media sosial yang menghubungan setiap manusia di dunia.Dibalik makin mudahnya kita mengakses informasi dan mengetahui hampir seluruh kejadian dunia baik itu perang maupun pemilihan kepala negara, hingga informasi olah raga yang banyak digandrungi kaum muda.

Tapi, tidak kita bisa pungkiri, dibalik semakin mudahnya akses informasi tersebut, musibah juga dapat ditimbulkan dari media sosial.

Kita bisa melihat, banyak berita yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya alias HOAX menjadi santapan nikmat dalam meluaskan kebencian. Para Teroris juga sekarang sudah sangat cerdik memamfaatkan perekrutan anggotanya dengan kecanggihan teknologi .

Kalau kita tidak hati hati dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, ini bisa akan menjadi bencana di masa depan, apalagi pada tahun 2020-2035 Indonesia akan mengalami era bonus demografi yang melimpah usia produktifnya (15-64 tahun) dan sekitar 34 % nya adalah usia 15-34 tahun (60jt) . Usia ini sangat sering mengakses informasi dari internet dan sangat cakap dalam menggunakan banyak media sosial baik itu dalam menyelesaikan pekerjaan maupun berinteraksi dengan sesama temannya.

Dalam kecepatan teknologi yang telah banyak mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat khususnya kaum muda, sangat perlu di sadarkan sebuah pendidikan karakter.

Pendidikan karakter dijadikan sebuah landasan dalam sekolah maupun pendidikan informal agar tidak terjadi generasi yang gampang terprovokasi dan melakukan tindakan yang melanggar moral tanpa mengetahui alasan jelas ketika bertindak.

Orang tua juga menjadi pintu pertama memberikan bimbingan dan binaan karakter agar anak tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tersebar luas di media sosial atau media online lainnya.

Tibalah saatnya, era bonus demografi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam menyusun kebijakan untuk menghadapinya, tapi bisa dimulai dari pendidikan karakter akar rumput yakni keluarga , sekolah, universitas dll.

Harapannya, pada tahun 2020 – 2035 ketika era bonus demografi Indonesia di penuhi usia produktif, tidak terjadi persaingan yang saling menjatuhkan. Kompetensi jelas merupakan hal yang penting dalam menghadapi tantangan bonus demografi untuk menjadi produktif, tapi juga diperlukan karakter yang baik agar posisi strategis dalam sebuah perusahaan maupun pemerintahan tidak terjadi korupsi yang membuat bangsa kita lamban maju laju pembangunannya yang berakibat kemunduran kehidupan perekonomian di masyarakat. Ini tantangan bangsa kita di era desa global yang dalam waktu dekat mengalami bonus demografi.