Berita

Harus Dipaksa

 

diskusi 19 nov

PERUBAHAN HARUS DENGAN PAKSAAAN

ybb, 20/11/15. Yayasan Bhakti Bangsa (YBB) menggelar diskusi terbatas untuk mendalami karakteristik bangsa yang diperlukan guna memaksimalkan peluang bonus demografi, kamis (19/11/15), di hotel puri Denpasar – Jakarta Selatan. Selain jajaran pengurus, diskusi internal tersebut dihadiri pula oleh mitra YBB, seperti Universitas Trilogi, IKAL Lemhannas, Yayasan Dharma Setia Kosgoro Kota Bogor dan Madiknas Kosgoro. Sarlito Wirawan Sarwono (guru besar psikologi UI) dan Bambang Kesowo (mantan Menteri SekNeg) di daulat sebagai pembicara utama pada diskusi terbatas tersebut.

‘realitas yang dilihat dan dirasakan masyarakat saat ini menumbuhkan kegelisahan yang mesti segera ditangani, misal, rendahnya displin nasional yang dicontohkan antara lain pelanggaran rambu (lampu, jalur) lalu lintas bagi sebagian masyarakat (pengendara roda dua) sepertinya dianggap bukan lagi sebuat pelanggaran; lunturnya etika sosial budaya, yang dicerminkan melalui sikap kurang rasa hormat terhadap yang lebih tua, dan lain sebagainya’ jelas Bambang Kesowo. Anomali prilaku itu jika dibiarkan maka semakin lama dapat membentuk karakter yang sangat tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia ke depan, khususnya peluang memanfaatkan bonus demografi.

Sarlito Wirawan Sarwono, lebih dalam mengungkap sisi psikologi. Menurutnya, manusia Indonesia cenderung memiliki sikap ‘kurang percaya diri’ dan bergantung pada faktor dari luar (reaktif —red). Merubah prilaku/sikap manusia Indonesia, mau tidak mau harus dengan cara ‘sedikit dipaksakan’. Misal, apa yang dilakukan PT. KAI dalam mentertibkan pengguna jasa kereta api. ‘dulu orang naik di atap kereta, ngemplang tiket dan kelakuan buruk lainnya, tapi kita lihat sekarang, semua pengguna dapat tertib setelah jasa dipaksa untuk mengikuti aturan’ ungkap Sarlito.

konklusi

Sarlito juga menawarkan solusi guna mengatasi persoalan anomali prilaku yang dirasakan merata dalam kehidupan keseharian masyarakat saat ini, melalui konsep hijrah. ‘hijrah itu proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Substansi hijrah terletak pada proses perubahan. Oleh karenanya, tiga hal yang harus ditekankan agar tujuan perubahan itu bisa tercapai, yakni ubah lingkungan, ubah prilaku dan internalisasi nilai’ ujarnya.

Diskusi yang di gelar mulai pukul 19.30 berakhir hingga pukul 22.00, dirasakan masih kurang cukup sehingga disepakati untuk diselenggarakan diskusi lanjutan pendalaman. Hal tersebut disampaikan Sarwono Kusumaatmadja usai menutup kegiatan diskusi terbatas YBB.

sb: esi//