Opini

Hindarkan Mitos

BONUS DEMOGRAFI JANGAN HANYA MENJADI MITOS
Hari Widodo

Bonus Demografi dalam dua tahun terakhir ini menjadi topik yang menarik perhatian beberapa kalangan tertentu, baik di kalangan akademisi, pemerintah (pengelola negara melalui lembaga kependudukan) hingga kelompok masyarakat multi profesi, yang peduli dengan isu tersebut. Sesungguhnya apa yang menjadikan istilah tersebut menjadi begitu strategis?. Ulasan secara statistik telah banyak disampaikan terutama melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) baik di tingkat pusat maupun di daerah, singkatnya bonus demografi dapat diartikan sebagai lonjakan jumlah penduduk usia produktif (15 – 65 tahun), yang dimulai sejak tahun 2012 hingga tahun 2045, dengan puncaknya pada tahun 2028 – 2031 yang akan mencapai jumlah sekitar 180 juta jiwa usia produktif tersebut.

Kelompok usia produktif, dalam hal ini adalah kelompok usia yang masuk dalam kategori tenaga kerja, yang merupakan kelompok usia mayoritas dan selalu menjadi topik dalam setiap perbicangan mulai dari warung kopi hingga seminar-seminar di hotel. Pembahasan selalu berkisar pada sedikitnya kesempatan kerja yang ada hingga lebih banyak yang tetap berstatus sebagai pencari kerja (baca; penganggur). Berbagai solusi (walau terbatas masih dalam bentuk wacana) banyak di sampaikan, mulai dari pemikir ala socrates dengan segala teori sosialnya hingga pemikiran sederhana yang lebih berpijak pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar hidup, bahkan tidak sedikit pemikir ala penganut azas konspirasi yang mencoba beragam dialektika melalui pendekatan polarisasi kepentingan. Keseluruhan tersebut masih belum mampu menjawab pertanyaan dasar, yakni mau diapakan jumlah usia produktif yang besar ini nantinya?.

Angka 180 jutaan nanti bukanlah angka yang sedikit untuk dipikirkan bagaimana menyalurkan potensi tersebut menjadi energi yang produktif secara positif. Hari ini saja permasalahan pencari kerja masih menjadi persoalan yang belum selesai, bahkan pembangunan usaha mandiri sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar yang oleh Abraham Maslow dikategorikan kebutuhan level pertama, juga masih belum terpenuhi seluruhnya. Usaha kecil menengah yang dalam slogannya selalu menjadi jargon sosial membangun ekonomi kerakyatan, masih terkendala oleh daya beli masyarakat yang rendah, sehingga secara perlahan tapi pasti usaha-usaha tersebut akan mati secara teratur.

Kemudian kembali pada sektor usaha klasik, yakni meningkatkan aktifitas ekonomi di sektor pertanian dan perikanan, melalui pemberdayaan potensi masyarakat secara bersama melalui wadah koperasi atau kelompok-kelompok usaha lainnya. Lagi-lagi upaya tersebut tak mampu mengatasi persoalan dasar membangun kesejahteraan masyarakat, karena dalam praktiknya ternyata hanya sebagian perorangan yang memperoleh manfaat, hal ini sejatinya sudah dapat diprediksi sejak awal, bahwa mustahil membangun usaha bersama jika pelakunya masih berjiwa individualistik yang dikemas dalam semangat kapitalis.

Dalam konteks persiapan pemberdayaan usia produktif hari ini dan nanti (baca; antisipasi peristiwa bonus demografi), setidaknya ada 2 (dua) orientasi yang harus dipersiapkan, yakni mempersiapkan usia produktif tersebut untuk menjadi tenaga keja yang handal dan profesional dalam keahliannya masing-masing serta mempersiapkan para pelaku usaha mandiri yang tekun, ulet, kreatif dan inovatif agar kesemuanya tersebut memiliki prospek pengembangan yang baik dan mampu bersaing secara global. Kedua orientasi tersebut tidak bisa terjadi semudah membalikkan telapak tangan, namun harus melalui proses yang bertahap serta dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk merealisasikannya.

Untuk mencapai harapan sumber daya manusia Indonesia sebagaimana diatas, pertama-tama kita beri perhatian pada sektor pendidikan yang mempersiapkan tenaga-tenaga kerja (untuk mengarah pada klasifikasi mahir dan professional), dimana fasilitas infrastruktur dan suprastruktur yang tersedia harus siap berbanding dengan target keluaran yang diharapkan. Kebijakan pendidikan terapan yang diberlakukan sejak pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi, dirasa masih belum memenuhi kebutuhan standar tersebut, antara lain dari fasilitas pendukung proses pendidikan hingga tenaga pendidik yang lebih pandai dalam teori namun minim praktik dan pengalaman. Rendahnya kualitas lulusan pendidikan terapan tersebut salah satunya akibat rendahnya kualitas pengajar yang juga hasil dari dunia pendidikan, jadi bagai lingkaran permasalahan yang berputar-putar di rotasi yang sama terus menerus.

Demikian juga harapan untuk dapat membentuk wirausaha-wirausaha mandiri yang handal, akan menemui nasib yang sama jika akar permasalahan yang tidak jauh berbeda tersebut, tidak segera diurai untuk mendapatkan jawaban yang signifikan. Kita sudah sedemikian repotnya hanya untuk mempersiapkan sumber daya manusia sebagaimana dua orientasi tersebut, belum lagi jika di kedua pilihan profesi tersebut diletakan syarat utama yang masing-masing secara personal harus mampu membangun citra karateristik manusia Indonesia yang ideal, jujur, berintegritas, berdaya juang tinggi, cerdas, inovatif, kreatif, memiliki semangat kebangsaan dan berjiwa humanis, tentunya akan semakin panjang perjalanan persiapan yang harus dilakukan.

Terlepas dari bagaimana sulitnya membangun harapan ideal mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia tersebut, kesemua itu adalah keharusan yang mesti dilakukan tanpa tawar menawar, apabila kita tidak ingin kembali menjadi ‘bangsa Inlander’ di era modern ini. Bonus Demografi atau apapun istilahnya menjadi peluang bagi bangsa Indonesia untuk melakukan percepatan pencapaian kemajuan melalui modal sumber daya manusia yang handal dan pasti menang dalam setiap persaingan positif, jika tidak maka kebalikannya yang akan terjadi pada bangsa ini, dimana pengangguran semakin meningkat sementara di waktu dan lokasi yang sama, tenaga kerja dan pengusaha asing semakin menikmati kekayaan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah. Akhirnya peluang dan harapan pada peristiwa Bonus Demografi yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah, akan tinggal sebagai mitos sebagaimana slogan, jargon, semboyan dan berbagai macam ajimat lainnya dalam bentuk ungkapan-ungkapan penyemangat yang selama ini hadir kering dan sepi tanpa jiwa.

***

Post Comment