Celoteh

Jalan Ke Candi Kalasan

KALASAN, CANDI YANG TERLUPAKAN

Candi Kalasan merupakan salah satu candi yang cukup terkenal bagi para wisatawan baik peminat sejarah/ilmiah maupun umum, di era tahun 1970an. Candi yang terletak di desa Tirtomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman, ini letaknya tidak jauh dari jalan raya Solo – Jogya. Di bangun pada masa dinasti Mataram Kuno, saat Maharaja Tejapumapana Panangkaran bertahta sekitar tahun 778 M sebagai tempat peribadatan pemeluk Budha. Disinyalir para ahli purbakala jika pada dasarnya candi ini merupakan pengembangan dari bangunan dari konstruksi yang lebih tua sebelumnya.

Seiring dengan semakin berkembangnya eksplorasi dan minat wisata budaya – alam di daerah Jogya dan sekitarnya, perlahan popularitas candi ini kian meredup; tak lagi banyak pengunjung menjambanginya, termasuk di agenda ‘studi tour’ pelajar saat mengisi liburan sekolah. Di samping akibat pergeseran arah ‘selera’ wisata tersebut, diperkirakan beberapa faktor turut andil menurunya minat wisatawan (umum) untuk meluangkan waktu melangkah melirik warisan leluhur ini. Pertama, meskipun Candi Kalasan sesungguhnya menyimpan banyak keindahan bukan saja dari segi kehalusan pahatannya melainkan juga dari kekayaan ornamen-ornamen yang tampak variatif, namun bagi khalayak umum sulit untuk bisa menangkap getar keindahan tersebut. Dari pandangan mata awan, Candi ini hanya sebuah bangunan kecil di atas sepetak lahan sempit. Panorama sekitarnya pun kurang mendukung bagi mereka yang suka ‘berklak-klik’ untuk menoreh kenangan. Padahal bila dibanding Candi Ratu Boko, keutuhan Candi Kalasan terbilang lebih baik. Tidaklah mengherankan apabila candi tersebut pada akhirnya lebih banyak dikunjungi dan diminati peminat sejarah/ilmiah.

Kedua, meskipun jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tepi jalan raya dan 2 km dari Candi Prambanan. Bangunan candi tersebut tidak tampak terlihat, tertutup oleh bangunan penduduk didepannya. Demikian pula rambu tanda adanya Candi Kalasan jauh dari mencolok pandangan mata. Oleh karenanya, besar kemungkinan, bagi mereka yang tidak secara khusus untuk datang melihat, maka seringkali candi tersebut terlewati. Belum lagi lintasan jalan raya ini terbilang padat dan ramai, sehingga menambah keengganan memutar balik. Selebihnya, pamor Prambanan yang tak jauh letaknya tentu lebih menarik untuk dikunjungi.

Menurut literatur, terdapat keunikkan yang sedikit ditemukan pada candi tertua lainnya. Diantaranya, candi ini memiliki lapisan penutup candi, semacam plesteran (semen kuna, terbuat dari getah pohon tertentu). diukiran batu halus yang dikenal dengan istilah Bajralepha. Atap tersebut berbentuk segi delapan dan puncaknya berbentuk stupa (dagoba), bertingkat dua. Pada tingkat pertama terdapat sebuah arca yang melukiskan  Budha, sedang pada tingkatan kedua terlukis Yani Budha. Nyaris tiada tempat baik di badan maupun atap candi yang tiada terukir indah. Relief-relief cantik itu memiliki ragam bentuk; diantaranya, bercerita para penghuni khayangan tengah memainkan alat musik rebab, gendang, kerang dan camara. Pada setiap pintu masuk bilik candi terdapat hiasan kepala kala (raksasa) yang dijenggernya terlukis kuncup bunga.

Hal yang lebih menarik selain apa yang ditampakan dari fisik Candi Kalasan ini adalah justru nilai kesejarahan didirikannya candi itu. Pertama, disimpulkan bahwa Candi Kalasan bisa diterjemahkan sebagai bukti sejarah di mana kerukunan umat beragama telah terwujud sejak lama di tanah air ini. Candi Kalasan didirikan sebagai bangunan suci untuk menghormati Bodhisattva, sementara tak jauh dari situ berdiri megah bagunan suci peribadatan umat Hindu, Candi Prambanan. Disamping itu, berdasar Prasasti Kalasan, Prof. DR. Casparis, menyimpulkan bahwa dibangun bersama antara Budha dan Hindu. Kedua, Candi Kalasan dapat dikatakan mewakili kerukunan hubungan dua Dinasti besar pada saat itu (kolaborasi politis ?), yakni Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Karena menurut keterangan Prasasti Kalasan, candi ini dibangun sebagai penghargaan atas pernikahan Pancapana (Dinasti Sanjaya) dengan Dyah Pramudya Wardhani (Dinasti Syailendra).

Bangunan fisik Candi Kalasan memang tidak se-elok dan megah Prambanan maupun Borobudur. Namun Candi Kalasan menyimpan keindahan nilai sejarah yang tak pupus oleh waktu di mana didalamnya tersimpan peradaban tinggi dari leluhur bangsa Indonesia. Mungkin ada baiknya jika saat ada waktu luang ketika mengisi liburan ke daerah wisata di Jogya dan sekitarnya untuk mampir sejenak menikmati relief/ornamen candi yang satu ini sekaligus mengembangkan imajinasi tatanan kehidupan dahulu.

Jalan yuukkk….

Salam…