Celoteh

Jauhi Lumpur Kotor

MEMBANGUN PERTANIAN KOTA

Pengembangan sektor pertanian kota (urban agriculture) dapat menjadi salah satu ikhtiar dalam upaya menjamin ketahanan pangan negeri ini di masa depan.

Kawasan perkotaan kita dewasa ini cenderung semakin padat. Akibatnya, kota-kota kita menanggung beban yang kian berat. Menurut taksiran, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di kawasan perkotaan saat ini telah mencapai 45 persen dari total penduduk keseluruhan dan diperkirakan bakal meningkat hingga mendekati 75 persen pada tahun 2035 mendatang.

Roderick Lawrence (2008) menyebutkan sejumlah risiko yang umumnya bakal dihadapi kawasan-kawasan perkotaan di masa kini dan masa datang. Salah satunya yaitu risiko ekonomi berupa persoalan penyediaan rumah layak huni, ketersediaan pangan, ketersediaan air bersih, dan juga ketersediaan lapangan kerja, maupun ketersediaan layanan kesehatan dan pendidikan yang adil dan terjangkau bagi semua warga.

Khusus dalam konteks masalah ketersediaan pangan, aspek ketahanan pangan bakal menjadi hal yang sangat krusial bagi kawasan perkotaan di masa depan, termasuk bagi kawasan-kawasan perkotaan di Indonesia. Saat ini, kawasan perkotaan kita lebih banyak menggantungkan dirinya dalam soal pasokan bahan makanan, seperti beras, sayur-mayur, buah-buahan, dan lauk-pauk kepada kawasan perdesaan dan kawasan-kawasan pinggiran kota.

Sejauh ini, kawasan perdesaan dan kawasan pinggiran kota lazimnya menjadi area di mana industri pertanian dan peternakan dijalankan. Dengan model semacam ini, kawasan perdesaan dan pinggiran kota menjadi pemasok utama bahan makanan bagi kawasan perkotaan.

Selain bergantung kepada kawasan perdesaan dan daerah pinggiran, kawasan perkotaan juga terkadang menggantungkan pasokan bahan makanannya dari aktivitas impor. Ketergantungan seperti ini sangat tidak menguntungkan dilihat dari aspek ketahanan pangan secara umum. Sekali saja pasokan bahan pangan terganggu, misalnya, maka jaminan ketahanan pangan kawasan perkotaan bakal mengalami goncangan.

Di sisi lain, dengan kecenderungan makin meningkatnya laju pertambahan jumlah populasi kawasan perkotaan, di mana penduduk kota dipastikan bakal terus mengalami peningkatan, ketergantungan pasokan bahan pangan kepada kawasan perdesaan dan daerah pinggiran maupun dari aktivitas impor bakal cenderung menyulitkan kondisi perkotaan di masa depan.

Sebagai salah satu solusi agar ketahanan pangan wilayah perkotaan tetap terjamin, kawasan perkotaan –mau tidak mau– harus juga mampu memasok bahan pangannya sendiri untuk mencukupi kebutuhan sebagian besar warganya. Di antara solusi yang bisa dijalankan adalah apa yang disebut sebagai pertanian kota.

Secara internasional, pentingnya peran serta fungsi pertanian kota telah diakui oleh Organisasi Makanan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization-FAO), Lembaga Konsultasi Penelitian Pertanian Internasional (Consultative Group on International Agricultural Research), Konferensi PBB Mengenai Lingkungan dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development ), serta Program PBB bagi Pemukiman Manusia (United Nations United Nations Human Settlements Programme).

Bailkey & Nasr (2000) mendefinisikan pertanian kota sebagai aktivitas menanam, memproses, dan mendistribusikan bahan pangan dan produk-produk pangan lainnya melalui metode pertanian dan peternakan di seputar kawasan perkotaan secara intensif.

Sementara, menurut Smith dkk (1996), pertanian kota merupakan aktivitas industri yang menghasilkan, memproses, dan memasarkan bahan pangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari konsumen di perkotaan dengan memanfaatkan lahan dan perairan yang ada di daerah perkotaan dan daerah di sekitarnya lewat penerapan metode intensif serta menggunakan sumber-sumber daya alam dan sampah perkotaan untuk menghasilkan berbagai produk pertanian maupun produk peternakan.

Salah satu keuntungan dari keberadaan pertanian kota adalah berkurangnya rantai waktu transportasi bahan pangan. Dengan demikian, bahan pangan dapat lebih cepat sampai ke konsumen dalam kondisi yang jauh lebih segar. Sebagaimana diketahui, sebagian besar bahan pangan harus melakoni perjalanan yang tidak singkat untuk sampai ke para konsumennya di daerah perkotaan.

Rata-rata, diperlukan jarak ratusan hingga ribuan kilometer bagi setiap bahan pangan dari daerah pertanian untuk sampai ke piring tiap-tiap konsumen di perkotaan. Jarak yang panjang itu sudah barang tentu mempengaruhi kesegaran serta kualitas nutrisi bahan pangan. Belum lagi soal kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan yang mengangkutnya, yang pada gilirannya ikut berpengaruh dalam soal penetapan harga bahan pangan.

Dari segi ekologi, pertanian kota dapat ikut berkontribusi ke arah terciptanya lingkungan kota berkelanjutan (sustainable city). Mengapa? Karena selain ikut memperelok lanskap kota, pertanian kota juga ikut membantu merestorasi lingkungan kota lewat pemanfaatan lahan-lahan kota yang tidak terawat maupun pemanfaatan sampah kota sebagai kompos tanaman.

Aktivitas pertanian kota yang menciptakan lanskap hijau nan asri bakal ikut berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan perasaan (emosi) warga kota, yang pada gilirannya akan berdampak positif bagi kondisi kesehatan secara keseluruhan. Di samping itu, pertanian kota dapat ikut membantu mengurangi konsumsi BBM dan laju polusi udara karena, seperti di sebutkan di muka, dapat mereduksi rantai waktu transportasi bahan pangan ke tangan para konsumen.

Kebun Warga

Siapa pun warga kota bisa melakukan aktivitas pertanian kota. Aktivitas pertanian kota bisa dilakukan baik secara perseorangan maupun secara berkelompok. Secara perseorangan, pertanian kota dapat dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan, teras rumah, atap bangunan, maupun ruang-ruang lain yang tersisa yang ada di rumah-rumah warga.

Produk-produk pertanian yang dihasilkan selain dapat dinikmati anggota keluarga juga bisa dibagi dengan para tetangga terdekat. Jika hasilnya lumayan melimpah, tidak menutup kemungkinan dapat dijual sehingga menghasilkan pendapatan tambahan bagi rumah tangga.

Secara berkelompok, aktivitas pertanian kota dapat dijalankan dengan membuat apa yang diistilahkan di Barat sebagai community gardenalias kebun warga. Kebun warga ini bisa didirikan dengan memanfaatkan lahan-lahan terlantar yang ada di sekitar pemukiman warga di lingkungan perkotaan.

Selain sebagai lahan pertanian untuk pemenuhan kebutuhan pangan sejumlah warga, kebun warga juga dapat dijadikan wahana untuk memupuk kebersamaan antarwarga dan juga sebagai lahan rekreasional warga yang menyehatkan.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Twiss dkk dan dipublikasikan dalam American Journal of Public Health, kebun warga mempunyai peran berarti dalam ikut meningkatkan taraf kesehatan dan kualitas kehidupan masyarakat.

Mengingat manfaatnya yang sungguh besar, sudah saatnya pemerintah kita perlu memberi perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan sektor pertanian kota ini, sehingga aspek ketahanan pangan kawasan-kawasan perkotaan kita di masa depan bakal kian terjamin.

Djoko Subinarto, kolumnis dan blogger
(detik.com;mmu/mmu)