Berita

Kaum Muda Galau

sarasehan

SARASEHAN BONUS DEMOGRAFI; PELUANG & ANCAMAN

Sabtu, 12 September 2015, telah berlangsung kegiatan sarasehan tentang bonus demografi yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Setia KOSGORO di Kampus Sekolah KOSGORO, Jl. Pajajaran No. 217 A, Kota Bogor, Jawa Barat. Dengan mengambil tema Bonus Demografi; Peluang dan Ancaman, sarasehan ini menghadirkan pembicara Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, Ir. D. Aditya Sumanagara dan Moderator Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc (Rektor Universitas Trilogi, Jakarta).

Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan 28 tahun berdirinya Yayasan Dharma Setia KOSGORO selaku pengelola SMP, SMA dan SMK KOSGORO di Kota Bogor. Suatu perjalanan panjang yang telah dilalui dengan segala dinamika, hingga mampu bertahan bahkan semakin berkembang, menandakan bahwa landasan pedoman perjuangan KOSGORO mampu menjadi penguat semangat kebersamaan dalam tekad pengabdian di dunia pendidikan untuk kepentingan bersama, demikian disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Setia KOSGORO Ir. D. Aditya Sumanagara.

Sarasehan yang mengambil tema Bonus Demografi; Peluang dan Ancaman, disambut baik oleh Walikota Bogor Dr. Bima Arya, yang dalam sambutannya mohon maaf karena tidak menyangka jika sarasehan ini ternyata menghadirkan tokoh-tokoh nasional sebagai pembicara, sehingga tidak mempersiapkan diri dalam alokasi waktu dan terutama busana yang dikenakan, disampaikan oleh walikota bahwa setiap hari sabtu dan minggu memang jadual untuk ‘blusukan’ jadi pakaian yang dikenakan hari itu yang pakaian santai untuk blusukan ke warga-warga Kota Bogor. Namun semangat dan antusiasme Walikota Bogor tampak demikian besar menyambut sarasehan tersebut, antara lain dengan mengusulkan agar dibentuk ‘Poros’ antar kota di seluruh Pulau Jawa dalam menyongsong dan mengantisipasi era bonus demografi ini.

Ditambahkan bahwa permasalah bangsa, khususnya pada generasi muda adalah masih banyak dari mereka yang belum selesai keberadaan dirinya sendiri terkait dengan proses pembentukan karakternya, setidaknya ada 3 (tiga) kategori anak muda yang saat ini tengah berlangsung, yakni: (1) ada yang masih asyik dengan dirinya sendiri tanpa tahu apa dan untuk apa segala yang dia lakukan; (2) ada juga yang masih galau dengan banyak hal yang tengah dilakukan sekarang dan apa yang harus dilakukan nanti; dan (3) yang telah berhasil melewati masa-masa galau dan telah menemukan jati dirinya, namun yang ketiga ini sangat sedikit sekali jumlahnya. Intinya telah sekian lama pemerintahan di Indonesia terlalu sibuk dengan urusan otak-atik struktur tata kelola pemerintahan dan regulasi (state building) namun mengabaikan proses pembangunan bangsa (nations building). Hal tersebut dapat dilihat pada target-target pembangunan yang harus dicapai oleh setiap kepala daerah (gubernur, bupati atau walikota) dalam lima tahun, yang terkesan instan dan kasuistik namun sesungguhnya tidak menyelesaikan masalah secara substansif.

Pada kegiatan ini juga sekaligus dilakukan penandatanganan nota kerjasama antara Yayasan Bhakti Bangsa (YBB) dengan Yayasan Dharma Setia KOSGORO (YDSK) dan Universitas Trilogi serta antara Yayasan Dharma Setia KOSGORO (YDSK) dengan Universitas Trilogi, dalam hal persiapan menyongsong era bonus demografi melalui kerjasama perencanaan pola pendidikan karakter bagi generasi muda dan penyusunan modul-modul pendidikan penguatan karakter atau yang menjadi bagian dari penguatan soft competency.

Kegiatan selanjutnya adalah sarasehan dengan pengantar oleh Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc, Rektor Universitas Trilogi Jakarta selaku moderator, yang mengaku bangga karena dapat memandu sarasehan dengan para pembicara tokoh-tokoh nasional dengan prestasi pada bidang masing-masing dan terbukti dedikasinya selama ini bagi bangsa dan negara. Sebagai pembicara pertama Ir. Sarwono Kusumaatmadja selaku Ketua Umum Yayasan Bhakti Bangsa (YBB) mengawali pembicaraan dengan mengusulkan agar diselenggarakan Lomba Essay tentang Bonus Demografi, untuk kategori siswa SMP, SMA dan SMK serta untuk para guru se Kota Bogor dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 1 Januari 2016 untuk setiap kategori. Lomba essay ini sebagai kerja bersama antara YBB, YDSK dan Universitas Trilogi yang merupakan implementasi program kerjasama sebagaimana nota kerjasama yang telah ditandatangani bersama ketiga lembaga tersebut.

Selanjutnya, dalam materi terkait peluang dan tantangan bonus demografi, di Indonesia kini tengah mengalami masa pertumbuhan usia produktif yang sedemikian pesat, dimana 100 orang usia produktif akan menanggung sekitar 48 orang usia tidak produktif dan kondisi ini akan berlangsung sampai dengan tahun 2045 mendatang. Suatu perbandingan yang memberikan harapan dan peluang terjadinya peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia, sebagaimana yang telah dialami oleh bangsa China, Korea Selatan, dan beberapa negara lain, yang mampu memanfaatkan laju pertumbuhan penduduk usia produktifnya menjadi berkah atau bonus bagi pertumbuhan ekonomi mereka.

Sekarang ini kondisi di setiap negara-negara yang telah melewati era bonus demografi, mereka justru dipenuhi oleh penduduk yang tidak lagi produktif alias telah berusia tua, sehingga ini menjadi peluang bangsa Indonesia untuk tampil mengambil alih peran mereka dalam konstelasi global. Namun, untuk mencapai itu perlu syarat-syarat, utamanya kemampuan atau kompetensi manusia Indonesia harus mampu bersaing dengan kemajuan yang telah lebih dulu dicapai oleh bangsa lain, selain juga tetap menjaga dan memperkuat karakteristik sebagai individu yang handal dan bermartabat.

Jika mencermati perkembangan terakhir dengan masuknya modal asing dalam bentuk investasi kontrak karya seperti investasi negara China di industri semen yang hampir seluruhnya berasal dari China, mulai dari uang, teknologi hingga tenaga kerjanya. Inilah konsekuensi dari kerjasama dengan negara yang memberlakukan sistem ‘Turnkey Project Management” yang disesuaikan dengan undang-undang mereka, yang mengharuskan semua teknisi, operator dan seluruh tenaga kerja yang terlibat telah bersertifikasi dari China. Ini salah satu contoh apa yang dilakukan oleh China, mungkin nanti Korea juga dalam investasi di Indonesia, karena di negara mereka masing-masing sudah hampir semuanya telah dibuat, artinya sektor infrastruktur mereka telah tuntas, dunia industri semua telah berjalan, fasilitas publik terpenuhi semua, kualitas pendidikan penduduknya juga telah melewati standar, sehingga sekarang ini mereka harus invasi modal ke negara-negara lain agar ritme aktifitas mereka tetap terpelihara dan menjamin kesejahteraan penduduknya secara penuh.

Sementara itu, kita masih terus berkutat dengan permasalahan dasar yang belum tuntas-tuntas, yakni antara lain pada kesiapan sumber daya usia muda yang masih belum menemukan jatidirinya, pembangunan karakteristik bangsa yang masih sebatas slogan, kungkungan kebiasaan lama dalam wujud ‘mainstream’ yang menolak perubahan realistis. Tapi pada sisi lain ketergantungan pada penggunaan produk teknologi justru semakin menenggelamkan sebagian generasi muda pada aktifitas yang kurang membawa kemajuan, seperti terlalu membuang waktu dengan menggunakan gadget untuk sekedar ngobrol dengan sesama teman atau browsing hal-hal yang tidak bermanfaat, ketimbang menggunakan teknologi tersebut untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam rangka peningkatan kompetensi. Bahkan saking tergantungnya pada gadget, mereka lebih rela kehilangan dompet daripada kehilangan handphone.

Persaingan yang akan dihadapi oleh anak muda dalam mencari kerja misalnya, pelaku usaha akan mengutamakan kompetensi nyata ketimbang nilai-nilai bagus dalam ijazah atau bahkan mengesamping nasionalisme ketika harus memilih tenaga kerja asing dengan alasan keahlian yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Untuk itu generasi muda kita harus siap menghadapi kenyataan tersebut, melalui upaya peningkatan kompetensi yang siap bersaing dengan siapa saja, mampu bekerja dalam satu tim, siap memimpin dan lebih siap lagi untuk dipimpin serta mampu beradaptasi dengan segala perubahan-perubahan besar yang terjadi karena pergerakan peradaban zaman.

Pembicara kedua, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D dengan pengalamannya sebagai Kepala BKKBN periode yang baru lalu, mengingatkan kepada kita semua bahwa penduduk dunia sekarang ini telah mencapai sekitar 7 milyar penduduk, sementara idealnya bumi ini hanya mampu memenuhi kebutuhan untuk sekitar 4 milyar penduduk saja, lantas bagaimana jadinya jika prediksi tahun 2100 yang akan datang penduduk dunia akan mencapai jumlah 16 milyar penduduk. Sedangkan Indonesia dengan laju pertumbuhan penduduk yang ada sekarang, diprediksi pada tahun 2035 akan mencapai kisaran 300 – 350 juta jiwa, dengan jumlah usia angkatan kerja akan mencapai sekitar 270 juta jiwa. Hanya saja dari tenaga kerja tersebut, yang berpendidikan tinggi hanya 7,20 %, berpendidikan menengah 22,40% dan berpendidikan dasar atau tidak sama sekali 70,40%, sementara Malaysia 20,30%; 56,30%; dan 23,40% bahkan negara-negara maju pada kisaran 40,30%; 39,30%; dan 20,40%. Dalam hal ini peran pendidik atau para guru sangat signifikan dalam upaya mempercepat kemajuan berpikir dan menganalisis masalahan pada anak-anak didik, dan bukan hanya sekedar menghafal pelajaran saja.

Ir. D. Aditya Sumanagara selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Setia KOSGORO lebih menyoroti pada peran tanggung jawab yayasan sebagai pengelola sekolah-sekolah meliputi SMP, SMA dan SMK , yang tidak hanya mempersiapkan anak didik dalam penguasaan ilmu sesuai program studi yang tengah ditekuni, namun juga memberikan dasar pendidikan pada pembentukan pola pikir (mindset) sebagai bagian dari proses pembentukan karakter atau bagian dari ranah pembekalan soft skills. Pentingnya pembentukan dan pembinaan pola pikir ini, sesungguhnya yang menjadi pijakan awal hingga terbentuknya Yayasan Bhakti Bangsa dengan lingkup program mempersiapkan generasi muda Indonesia di era bonus demografi.

Dialog dalam sarasehan ini sangat benas, dengan penuh antusias para peserta mengangkat jari untuk bertanya atau menambahkan komentar, antara lain: Karina (siswi SMK KOSGORO) mengajukan pertanyaan tentang sedikitnya peluang kerja yang dapat diraih oleh para pencari kerja karena terbatasnya kemampuan berbahasa inggris, kemudian Dania (siswi SMK KOSGORO) lebih menyoroti pada kenyataan bahwa banyaknya profesi yang jauh dari disiplin ilmunya, apakah hal ini terjadi karena sulitnya mendapatkan pekerjaan atau profesi yang sesuai atau itu pilihan yang dilakukan secara sadar atau karena kedua alasan tersebut.

Penanya ketiga Sabar (guru SMA BPS Bogor) menyatakan bahwa kita telah terjebak pragmatisme sehingga lalai dalam membangun pondasi bangsa yang kuat. Selama 70 tahun merdeka, kita selalu beranggapan bahwa negara kita kaya dengan sumber daya alam, padahal kenyataannya kekayan itu makin menyusut dan hampir habis. Pendidikan penguatan nasionalisme juga semakin dirasakan hanya menjadi semacam ritual saja. Sentot B. (guru SMA KOGORO) menyoroti perilaku anak didik sekarang ini sangat berbeda dengan anak didik ketika teknologi informasi dan komunikasi belum sepesat ini. Sekarang makin malas beraktifitas karena lebih asyik dengan gadget. Oleh karena itu perlu lebih digalakkan program-program aplikatif yang mampu membangun karakter anak seperti kegiatan Pramuka yang sangat positif namun kini telah kehilangan semangat tersebut, untuk itu perlu dibangun kembali semangat pramuka dalam kegiatan yang bermuatan pendidikan karakter serta dasar-dasar nilai untuk bekal mereka terjun di kehidupan nyata nanti. Hal senada juga disampaikan oleh Herman (guru SMK KOSGORO) dengan menekankan pada pentingnya peran pemerintah dalam penyiapan hard skills bagi anak didik. Kelima pertanyaan tadi ditujukan kepada Prof. Fasli Jalal.

Satu pertanyaan yang ditujukan kepada Ir. Sarwono oleh seorang guru SMP KOSGORO, yang mempertanyakan kejelasan arah dan tujuan pembangunan nasional sekarang ini, jika dulu pernah ada GBHN (garis-garis besar haluan negara) sedangkan sekarang apa yang dijadikan sebagai pedoman?. Pertanyaan terakhir disampaikan oleh Hendra Koesnoto (Psikolog Pengamat Bonus Demografi) tentang pentingnya para pendidik atau guru untuk menjadi tauladan bagi para anak didiknya serta bagaimana cara melakukan perubahan pada pola pikir pada generasi muda untuk menghadapi tantangan ke depan. Selain itu mengusulkan agar YDSK membuat rencana untuk mendirikan perguruan tinggi, khususnya yang berkaitan dengan ilmu psikologi dan ilmu pengelolaan sumber daya manusia.

Kesempatan pertama diberikan oleh moderator kepada Prof. Fasli Jalal untuk menanggapi diskusi ini, dengan menyatakan bahwa kemampuan berbahasa inggris memang perlu tapi bukan segala-galanya, sebagai contoh kemampuan bahasa inggris masyarakat Jepang juga masih minim, namun pemerintahnya memfasilitasi dengan menterjemahkan berbagai buku dan literatur asing ke dalam bahasa jepang, agar masyarakatnya mampu menyerap perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi maju yang masih dikuasai bangsa asing, dengan demikian sebagian besar masyarakat Jepang dapat mendalami dan mengembangkannya tanpa harus membuang waktu dulu untuk mempelajari bahasa-bahasa asing tersebut, khususnya bahasa inggris.

Tentang banyaknya pekerja atau profesi yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari, dapat terjadi karena keterbatasan kesempatan kerja yang ada tidak sesuai dengan jenis kesarjanaan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi di Indonesia atau karena dewasa ini dunia usaha lebih melihat pada kemampuan nyata calon tenaga kerja (kompetensi atau keahlian) ketimbang nilai tinggi di ijazah. Selain itu tuntutan dunia usaha adalah kompetensi yang handal, kemampuan bekerjasama, mampu bekerja dibawah tekanan, target waktu yang singkat dan semangat yang tinggi, sehingga pekerja yang walau memiliki nilai akademis yang tinggi akan tertinggal apabila tidak memiliki ketangguhan yang kuat, gampang menyerah dan tidak siap beradaptasi dengan lingkungan.

Selain itu juga kondisi sekarang menuntut orang untuk mandiri dan tidak mengantungkan diri pada relasi atau kekerabatan dalam upaya mendapatkan kesempatan kerja. Hal tersebut bersifat ‘instan’ dan tidak akan mampu bertahan lama karena kompetensi yang dimilikinya rendah. Untuk itu keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter anak sejak dini, agar tumbuh menjadi sosok yang tangguh, memiliki semangat juang pantang menyerah serta tidak akan memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan. Memang perlu pendidikan khusus tentang bagaimana menggunakan gadget secara positif dan bermanfaat, terutama dalam mendukung proses belajar, selain juga pentingnya kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat aplikatif untuk mendukung proses pembentukan karakter anak, seperti membiasakan diri untuk berorganisasi, membuat aturan kerjasama, membuat proposal program dan melaksanakannya, mempresentasikan rencana program kepada pihak lain untuk mendapat dukungan dan lain sebagainya yang merupakan dasar-dasar pembentukan kemandirian, kejujuran, kepemimpinan, kebersamaan dengan membangun jaringan komunikasi dan beragam hal positif lainnya sebagai bekal bagi kehidupan mereka ke depan.

Tambahan komentar dari Ir. D. Aditya Sumanagara lebih pada nilai-nilai dan semangat yang melandasi pembentukan suatu lembaga atau organisasi, yang bukan hanya sebatas retorika atau wacana saja, namun lebih pada program-program nyata yang bermanfaat bagi kepentingan bersama, yang disusun secara terencana, terarah dan terukur. Sedangkan Ir. Sarwono Kusumaatmadja menggaris bawahi pada pola patron client atau pathernalistik yang masih berlaku di sebagian masyarakat Indonesia, ada positifnya namun tidak sedikit negatifnya. Kecenderungan pragmatisme justru banyak terjadi pada level pimpinan, dimana pimpinan kerap dijadikan panutan bagi perangkat dibawahnya, jika pimpinananya baik, anak buah akan ikut baik dan jika pimpinannya korup maka dibawahnya juga akan korup. Pragmatisme juga terkadang menutup terjadinya perubahan-perubahan positif, yang sesungguhnya terjadi karena cara berpikir kebanyakan kita hanya sebatas tekstual belum mencapai tingkatan kontekstual. Tentang produk teknologi seperti gadget, seyogyanya dijadikan sebagai instrumen pendukung dan bukan justru menjadi salah satu kendala mencapai kemajuan kompetitif. Terakhir sebagai penutup Ir. Sarwono menyarankan kepada YDSK untuk mulai memikirkan tentang ‘strategic planing’ bagi pengembangan sekolah-sekolah KOSGORO di Bogor ini.

Demikian catatan yang didapat sebagai oleh-oleh dari kegiatan Sarasehan Bonus Demografi; Peluang dan Ancaman, yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Setia KOSGORO Bogor dalam rangka peringatan hari jadi ke-28. Semoga sarasehan ini dapat menjadi pendorong untuk kemajuan perkembangan pendidikan di lingkungan sekolah KOSGORO Bogor demi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Sb: HW//