Berita

Kaum Muda Rebut Peluang

KAUM MUDA HARUS MEREBUT PELUANG

ybb, 26/03/15; ‘…era bonus demografi akan dibanjiri limpahan investasi dari luar negeri, demikian pula tidak tertutup kemungkinan tenaga-tenaga muda nya dengan berbagai keakhlian berlomba memanfaatkan peluang itu. Kaum muda Indonesia, para sarjana terdidik harus siap merebut peluang tersebut sehingga dapat dihindari kemungkinan terjadi justru tenaga muda akhli dari luar yang menguasainya, sementara para kaum muda kita, para sarjana akan menjadi pengangguran di negeri sendiri…’ ungkap Prof. Haryono Suyono ketika membuka seminar bonus demografi yang diselenggarakan Universitas Trilogi, 26/03/15/, di Auditoriun Universitas Trilogi, Jakarta.

Senada dengan pendapat tersebut, Sarwono Kusumaatmadja, berpandangan bahwa persaingan perebutan sumber daya alam sebagai imbas dari perubahan iklim (climate change) membuka celah bagi terjadinya migrasi bangsa untuk mencari daerah yang nyaman dan memenuhi kebutuhannya. Tak pelak Indonesia akan menjadi tempat atau negara incaran bangsa-bangsa lain melihat kedudukan geostraegis, sumber daya alam, sumber daya manusia yang relatif masih belum unggul dan sebagainya. Menurut Sarwono, relevansi dari perubahan iklim terhadap persoalan demografi ini masih belum menarik perhatian pengamat-pengamat kita. ‘…saya berharap pendirian Pusat Kajian Demografi dan Kependudukan Indonesia yang diprakarsai dan diluncurkan Universitas Trilogi ini benar-benar dapat memenuhi keinginan kita bersama agar Indonesia bisa menangani masalah bonus demografi ini dengan baik, termasuk pencermatan atas dampak perubahan iklim…’ ujarnya.

Seminar sehari yang mengusung tema ‘Indonesia dari sudut pandang bonus demografi: tantang dan harapan’ ini diselenggarakan sebagai bagian rangkaian dies natalis ke-2 Universitas Trilogi. ‘…kami, civitas academica Universitas Trilogi, menaruh perhatian besar terhadap isu bonus demografi sebab hal tersebut erat kaitannya dengan masa depan bangsa kita…’ kata Prof. Asep Saefuddin, Rektor Universitas Trilogi, usai pers conference terkait seminar. Lebih lanjut, Asep Saefuddin mengemukakan kepedulian terhadap masalah bonus demografi lebih terpacu mengingat masih sedikit orang yang memberi perhatian dan peduli akan hal itu. Menurut Asep, Indonesia tidak boleh terlambat menyadarinya. ‘…kita tidak ingin apa yang terjadi di Afrika Selatan yang gagal mengantisipasi dan juga pengalaman Brazil yang tidak sepenuhnya berhasil menangani bonus demografi dialami pula oleh Indonesia. Sebenarnya kita agak terlambat menyadari arti penting masalah demografi ini, mestinya beberapa tahun lalu kita harus sudah bersiap untuk menanganinya dan menurut pendapat para pakar ternyata saat ini pun masih banyak pemangku kepentingan salah memahami dan menterjemahkan bonus demografi. Keprihatinan akan hal itu menjadi salah satu dorongan bagi kami untuk mendirikan Pusat Kajian Demografi dan Kependudukan Indonesia dan mudah-mudahan kami dapat memenuhi harapan banyak pihak.’ ujarnya.

Tampil sebagai narasumber seminar, diantaranya, Prof. Fasli Jalal, Sarwono Kusumaatmadja, Adhi Lukman, perwakian BPS dan BKKBN. Meski disayangkan tidak hadir perwakilan BAPPENAS namun pada kesempatan tersebut, hadir kepala dinas kependudukan mewakili Bupati Lombok Timur mempresentasikan pokok pandangan dan upaya-upaya penanganan bonus demografi didaerahnya sekaligus studi kasus aktual di seminar tersebut.

dihadiri lebih dari tiga ratus peserta yang memenuhi ruang Auditorium, seminar tersebut telah mampu menarik perhatian peserta, tidak saja dari kalangan akademisi melainkan juga berbagai latar belakang profesi. Dari daftar kehadiran peserta, diantaranya, penggiat IT, perwakilan pengusaha minyak sawit, animator sampai sineas dan lain sebagainya.

Post Comment