Opini

Kekerasan, Anomali Prilaku Bangsa

DIALOG IMAJINER, BANGSA KU SENANG KEKERASAN

Sore cerah, lembayung senja tampak indah mewarnai sisi barat batas langit. Seperti biasa saatnya mengisi celah waktu sambil ngupi bareng. Aku, Yus, Bay, dan Dodo  sering habiskan waktu bertukar pendapat, berdiskusi dari yang ringan sampai kadang agak sedikit berat, menurut ukuran dan kapasitas daya pikir kami yang terbatas.

Lelah membaca berita dan komen-komen di jejaring sosial dan juga seliweran komentator berita media elektronik mendorong aku memulai dan membuka obrol seputar kekerasan, dalam arti seluasnya, yang pada pandanganku merupakan anomali prilaku. ”mmmm….rupanya kekerasan sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat ya ….” membuka awal pembicaraan usai seruput kopi setegukkan.

”..koq mudah sekali kamu mengkaitkan kerusuhan dan kekerasan yang terjadi di masyarakat sebagai cermin dari budaya ?” sergah Yus sambil sedikit dahinya mengernyit. ”apa dasarnya ?”

”…ya segala sesuatu yang sering kita lakukan dan itu pada akhirnya seolah telah menjadi nilai dan biasa bukankah dapat kita anggap telah menjadi budaya? Kekerasan pun tampaknya demikian. Saya teringat ketika belajar sejarah bangsa kita, selalu saja kekerasan hadir di situ. Mulai dari dinasti Sanjaya, Syaelendra, Singhasari, Majapahit bahkan sampai Mataram (islam) pergolakan suksesi kekuasaan selalu terjadi. Bahkan, perjalanan negara Indonesia yang kita cintai ini, mulai dari kemerdekaannya sampai saat ini tidak luput dari haru biru kekerasan. Benar kan? sampai-sampai seorang budayawan pernah berpendapat bahwa bangsa kita ini memiliki dendam sejarah (masa lalu! Lalu kalau bukan budaya, apa bisa kita katakan saja itu merupakan kultur bangsa ?” jawab ku.

”ach… tidak sesederhana itu…” timpal Babay. ”…kamu pasti tahu karena ini sudah pengetahuan umum bahwa budaya atau lebih kita kenal dengan kebudayaan adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Substansinya terdiri dari cipta, rasa dan karsa. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, relegius dan lain-lain. Didalamnya terkandung pengetahuan , kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Ia (budaya/kebudayaan—red) bersifat abstrak dan bisa terefleksi dalam tatanan nilai yang kemudian menjelma menjadi penuntun sikap dan prilaku keseharian ataupun bentuk nyata kebendaan, misal. terwujud dalam ragam karya sebagai pencerminan nilai-nilai tersebut. Ada yang khas dan spesifik dari budaya atau kebudayaan itu yang mengandung nilai estetika, keindahan, keluhuran, ketulusan dan sebagainya sehingga apa yang dihasilkan tampak berbeda dari setiap bangsa. Dengan demikian, kita melihat bahwa ada pengakuan kolektif atasnya sebagai nilai dan atau karya bersama dari kelompok masyarakat atau bangsa..” berhenti sejenak.

Kemudian lanjutnya, ”…nah apakah kekerasan bagian dari pranata sosial ? menurut hemat saya, kekerasan merupakan tindakkan individual yang muncul sebagai suatu reaksi emosional sesaat dan bisa disebabkan oleh tekanan atau kepentingan jangka pendek yang bersangkutan. Biasanya, kalau emosi sudah reda maka akan muncul rasa penyesalan dari pelaku kekerasan. Kalaupun dilakukan banyak orang, biasanya yang lain cenderung ikut-ikutan karena turut tersulut emosi saja. Oleh karena itu, yang namanya kekerasan yang kamu maksud tadi, apapun bentuknya, tentunya tidak termasuk dalam apa yang saya maksud dengan budaya, terlebih karakter. Emosi yang tidak mendasari diri pada budi dan akal…” jelasnya dengan nada serius.

”…tapi kalau bukan bagian budaya atau kultur mengapa selalu terjadi pengulangan sejarah dari kekerasan pada perjalanan waktu bangsa kita?…” tanya ku.

”itu bukan pengulangan sejarah, sejarah tidak pernah berulang. Setiap kejadian akan dibatasi oleh persoalan dan kurun waktu tertentu. Yang mungkin terjadi adalah kita tidak pernah belajar atas sejarah… apa dan mengapa suatu peristiwa kekerasan itu terjadi? pernahkah kita belajar dari peristiwa itu untuk kemudian mencegah sejauh mungkin agar hal itu tidak terjadi lagi?…” sanggah Yus. Sementara Babay dan Dodo mengangguk tanda setuju dengan pendapat Yus.

”…nyatanya…” potong ku, masih penasaran, ”…coba tengok, kekerasan di negeri ini sudah merambah dan sepertinya sudah mengakar. Ada kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat atas masyarakat lain, seperti kerusuhan yang saya bilang tadi. Ada kekerasan penguasa atas masyarakat berupa rendahnya keberpihakan kepada mereka, beban hidup bukannya semakin ringan malah semakin memberatkan. Ini termasuk kekerasan juga kan. Yang lebih memprihatinkan meletupnya pertikaian antarpelajar dan atau mahasiswa, sampai-sampai memakan korban jiwa. Belum lagi kekerasan dilingkungan pendidikan seolah menanamkan sekaligus pengabsahan tindak kekerasan sebagai bagian pendidikan anak bangsa, meski dengan dalih untuk menegakkan disiplin.  Dan masih banyak contoh lagi yang dipertontonkan kepada kita saat ini…” masih berargumentasi aku coba meyakinkan dalam bentuk pertanyaan, ’…menurut kalian, apa bukti-bukti tersebut masih belum meyakinkan pendapat saya tadi bahwa benar adanya kekerasan sudah merupakan budaya, kultur dan pengulangan sejarah? karena kekerasan dilakukan berulang dan lama-lama mengendap menjadi bagian dari tatanan sosial dan nilai kita, bukan begitu?…” tanya ku.

Hening sejenak. Masing-masing memainkan cangkir kopi yang isinya masih lumayan meski sudah tidak tampak asap mengepul, kecuali kepulan asap rokok Dodo…

”…bukan begitu…” ujar Dodo sambil menghela nafas agak panjang. ”…tolong pisahkan dan jangan baurkan semuanya menjadi satu kesimpulan. Tadi sudah disampaikan sampaikan Babay batasan pengertian budaya atau kebudayaan atau kultur yang kamu maksudkan, kan didalamnya juga ada norma, ada hukum yang mengaturnya. Meskipun prilaku atau tindak kekerasan itu telah berulang-ulang terjadi, tidak mesti dia pun bisa kita anggap sebagai budaya. Memang ada dicontohkan dalam epik kepahlawanan ataupun dalam sendra tari yang bisa dianggap mencerminkan unsur kekerasan, seperti tarian yang diciptakan oleh Mangkunegara I sebagai penghargaan atas loyalitas prajuritnya melawan Belanda. Atau yang lekat dengan sejarah perjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dari agresor Belanda setelah tahun 1945. Heroik pejuang kita dengan semboyan yang melegenda; hidup atau mati. Ada nuasa kekerasan di sana, tapi kan konteksnya berbeda dengan kekerasan dengan apa kamu sampaikan…”

”…Oleh karena itu tadi saya bilang, jangan men-generalisir, akhirnya malah rancu jadinya. Persoalannya sekarang, apakah akar masalah yang memicu kekerasan itu juga sama ? di ranah yang mana kekerasan itu terjadi, ranah kriminal murni, ranah politik, ranah sosial kah atau ada yang lain ? ini yang mesti dipahami lebih awal sehingga kamu tidak terjebak pada pandangan yang bersifat men-generalisir. Ini pun tidak berarti keharusan pembenaran atas setiap kekerasan, baik yang dilakukan penguasa, kelompok atau perorangan. Sejauh mungkin tetap harus dihindarkan bahkan jika mungkin ditiadakan. Ketentraman harus diwujudkan mulai dari lingkungan terkecil bahkan dari tiap-tiap pribadi…” ungkapnya.

”…jadi apa pemicu kekerasan itu? Apa kepentingan kekuasaan, ekonomi, kerawanan sosial kalau bukan disebabkan oleh budaya, nilai-nilai yang mengendap dan menjadikannya sebagai bagian dari tatanan nilai kita?…” kata ku.

”…begini… dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara tentu ada norma-norma yang mengatur dan harus kita patuhi. Setiap orang punya hak untuk mendapatkan hak dan mempertahankan haknya, baik itu hak hidup, hak penghidupan layak, pendidikan dan ragam dari hak yang dirasakan bagian dari kebutuhan manusiawi. Tapi mestikah dalam mencapai dan atau mempertahankan hak tersebut lalu kita bisa dan dibenarkan melakukan apapun yang mungkin pada sisi lain malah justru akan melanggar hak dari pihak atau orang lain? Satu contoh, manakala keyakinan atas hak kita terusik oleh pihak lain yang kebetulan tidak sejalan dengan kita lalu dapatkah kita menghakiminya secara sepihak sebagai wujud penegakkan hak? apakah dibenarkan dalam menyampaikan aspirasi, demonstrasi misal, yang berakhir dengan perusakan terhadap aset negara, yang notabene dibiayai oleh uang rakyat untuk atas dan nama penegakkan hak? Tentu hal tersebut sangat bertentangan dengan apa yang kita harapkan…” jelasnya. Lanjutnya, ’…apakah cara itu dibenarkan oleh tatanan nilai dan norma yang ada ? andai itu dibenarkan maka rusaklah tatanan kehidupan kita bersama. Orang akan silih baku hantam karena perbedaan keyakinan; orang akan saling menindas atas nama hak. Penguasa akan bertindak represif dalam kesewenangannya sebagai langkah pembenaran atas nama pemerintah dan negara. Pencurian, perampokan akan marak dengan dalih mempertahankan hak hidup dan kelayakan hidup. Semua kekrisuhan dan kekerasan menjadi sah adanya…” berhenti sejenak, meneguk seruput kopi.

”…jadi pemicunya ?…” tanya ku, penasaran.

”sebentar…belum selesai…” jawabnya. ”…dalam kebersamaan, yang harus kita sadari, pertama, bahwa kita hidup tidak sendiri dan untuk diri sendiri. Ada orang lain yang pun harus kita perhatikan sebagaimana kita memperhatikan diri kita sendiri. Kedua, hendaknya kita pahami pula bahwa untuk menjaga harmonisasi maka kita pada dasarnya harus rela menyerahkan bagian dari hak kita untuk dikelola secara bersama. Ini yang kemudian sebagai sendi dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Ini pula yang menjadi pengertian dasar ber-demokrasi. Sebagai sesama anggota masyarakat maka nilai toleransi, nilai kebersamaan haruslah kita terapkan; di mana sebenarnya, ”ke-aku-an” diri kita pun dibatasi oleh adanya ”ke-aku-an” orang lain. Sebagian ”ke-aku-an” diri kita diserahkan untuk diatur dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pun demikian penguasa atau pemerintah, dia juga berada pada situasi seperti itu. Pemerintah atas nama negara juga tunduk pada norma tadi. Nah apa alat untuk meredam segala kekerasan yang tidak proporsional itu?…”

’..jadi menurut hemat saya apa yang kamu katakan kemungkinan sebagai pemicu adalah seperti masalah ekonomi, sosial bahkan politik sekalipun itu hanyalah pergulatan reaksi emosional semata dan bukan inti pemicu dari kekerasan itu sendiri. Memang dalam konteks tertentu ada juga koneksitasnya dengan budaya, atau mungkin lebih tepat dengan tatanan nilai dalam berbangsa dan bernegara”

”…saya malah jadi kian kurang mengerti…’ potong ku. ”…katanya tadi tidak ada hubungan dengan budaya atau kultur tapi tadi dibilang kemungkinan ada koneksitasnya, bagaimana ?…”.

”In… tolong jawab pertanyaan saya…” berhenti sejenak, melirik ke Yus dan Babay seakan minta ijin waktu menjelaskan lagi. ”…agar dua, tiga, empat buah bambu atau bahkan lebih untuk bisa terikat dengan kokoh maka apa yang menjadi kuncinya?…”

”…simpul…” jawab ku spontan.

”…untuk agar bangunan rumah dapat kokoh tegak berdiri, menopang segala kelengkapannya, apa yang diperlukan?…”

”…tentu pondasinya dong lah”. Kembali jawab ku.

”…Nah, untuk dapat mewujudkan rumah tangga yang baik, apa yang kita perlukan?…”. tanyanya lagi.

”…komitmen…” jawab ku pula.

”..Nah itu yang sebenarnya kita alami sekarang, sumber dari segala pemicu kekerasan yang terjadi. Simpul-simpul ikatan kita mulai longgar, pondasinya mulai tergerus dan komitmen sebagian diantara kita semakin lemah sebagai ssatu kesatuan bangsa….”

’…kita hampir tercerabut dari akar budaya, dari akar nilai-nilai dan, dari akar norma-norma yang selama ini telah kita sepakati bersama sebagai suatu bangsa. Kita hampir melupakan komitmen terhadap apa yang mengikat kebersamaan kita, yang sudah ada dan tertanam serta diturunkan kepada kita oleh para pendahulu dan pendiri negara ini, yaitu Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara sekaligus falsafah kita, yang didalamnya terkandung nilai-nilai luhur, nilai-nilai yang digali dan di sari dari tatanan nilai yang telah hidup dan berkembang di tanah ini sejak dahulu kala namun, yang saya rasakan, saat ini termarjinalkan, tersingkirkan justru oleh kita sendiri. Ada yang menabukan, ada yang menganggap sumber dari kemunduran bangsa bahkan ada yang memperlakukan sebagai simbol tanpa makna. Jangan untuk memahami dan melaksanakannya, untuk menyebutkan butir per-butir saja tidak sedikit yang lupa dan tidak tahu. Ironis kan?…” lontarnya

”…Iya, tapi kan Pancasila juga toh tidak mampu membawa kita pada kesejahteraan, perbaikan hidup dalam kenyataannya ? Pancasila telah dijadikan sebagai alat politik penguasa untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuasaannya semata?…” ujar Yus.

”…mungkin ada suatu periode waktu yang memanfaatkannya tetapi tidak berarti menghilangkan arti pentingnya bagi keutuhan dan ketenteraman kita. Pancasila mengajarkan kepada kita hakekat baik sebagai pribadi, anggota masyarakat dan juga warga negara. Meletakkan orientasi bagaimana bangsa ini harus bersikap, bertindak, berprilaku dan untuk mencapai harapan serta tujuannya. Kita diajarkan untuk memahami bahwa apa yang kita miliki dan apa yang ada disekitar kita pada dasarnya bukan milik kita melainkan Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan kemerdekaan yang kita dapatkan ini pun karena rahmat-Nya. Penyadaran diri ini sangat penting tidak saja untuk sebagai suatu bangsa melainkan untuk pribadi perseorangan sebab mencerminkan betapapun kemerdekaan atau keluasan kebebasan itu tetap dalam kerangka keterbatasan sebagai manusia. Dengan demikian, apakah kita berhak untuk memperlakukan sesama dengan melampaui keterbatasan tadi?…”

”…kerusuhan dan juga kekerasan yang tercipta dan diciptakan kita jelas-jelas melanggar pemahaman kita akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila pun mengajarkan kita untuk arif dan menjaga kemurnian sebagai manusia yang memiliki peradaban nyata, bukan manusia yang lepas dari sifat kemanusiaannya. Kehebatan, kebesaran, kedigjayaan dan keperkasaan manusia bukan diukur dari kemampuan fisiknya dan kekuasaannya untuk berbuat kesewenangan, mengalahkan satu sama lainnya dengan tanpa memperdulikan nilai, norma dan hukum yang berlaku. Melalui nilai Pancasila pun kita dihadapkan pada pemahaman arti penting persatuan bagi bangsa ini dalam mencapai cita-citanya. Semangat otonomi kan tidak mesti melupakan ikatan di mana kita merupakan bagian kecil dari yang besar, yang kita junjung sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pun dalam menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang terjadi mekanisme ketatanegaraan yang didasarkan sila keempat kan sudah jelas dan gamblang. Nah ini yang menurut saya saat ini perlu benar-benar diperhatikan oleh semua pihak, terutama pemerintah, yakni menyangkut masalah keadilan. Mungkin ini yang dirasakan dan menimbulkan kegelisahan diantara kita, rasa keadilan yang masih jauh api dari panggangnya. Padahal secara tegas hal tersebut tercantum sebagai salah satu butir Pancasila…” ungkap Dodo dengan nada sedikit perlahan, berusaha untuk mencairkan kehangat diskusi yang sedikit jauh dari selingan riuh canda tawa, seperti biasanya.

“…itu baru pandangan saya lho, mungkin para pakar atau mereka yang memahami Pancasila dapat mengupas secara lebih rinci. Kalau Pancasila hanya menjadi simbol saja dan tanpa makna lalu apa yang menjadi dasar karena kho saya merasakan itu yang sebenarnya sekarang sedang terjadi. Sepertinya kita sedang mencoba meraih sesuatu nilai yang bukan merupakan nilai kita sendiri sementara kita pun seperti enggan untuk tetap mempertahankan dan menerapkan nilai yang memang sudah bagian dari tatanan nilai kita sendiri juga. Akibatnya kita mengambang, tidak jelas apa pijakan kita sekarang. Sesuatu yang tidak jelas maka akhirnya pun akan tidak jelas juga. Maka dari itu, seyogyanya kita instrospeksi dan kembali mem-perteguhnya. Boleh jadi kekerasan yang kita lihat dan rasakan saat ini lebih disebabkan karena kita sebenarnya sedang kehilangan arah dan bingung….limbung…Sebenarnyalah kita bangsa yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan bukan suka akan kekerasan…” pungkas Dodo.

Aku dan yang lainnya sama-sama menghela nafas, entah apa artinya. Dan, yang pasti kopi yang telah dingin di sore itu tetap mempu menghangatkan jiwa ke-Indonesia-an kami…

Salam.

***