Opini

Kekuatan Harapan

KEKUATAN DI BALIK SELAPUT HARAPAN
Oleh : Anggie Larasati *)


Anggie110 ta
hun berlalu ketika tiba-tiba setiap langkah yang kulakukan demi bumi manusia dipertanyakan… Kenapa harus mencari serpih rejeki di atas derita manusia yang lain? Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik? Yang lebih berguna? Yang lebih dekat dengan keluarga? Yang bukan bersumber dari penderitaan manusia lain? Manusia macam apa yang berpesta pora menelan upah dari onggokan mayat-mayat di sekelilingnya?

Coba tengok aku di sini…

Apa guna uang ribuan dolar tanpa potongan pajak itu untuk masyarakat pengungsi di kepulauan Mentawai dan Nias? Apa guna gaun, perhiasan dan gadget high-tech itu ditengah-tengah hutan tanpa akses manusia sejauh mata memandang? Apa guna selembar kartu ATM di negeri tanpa bank seperti perbatasan tim-tim dan NTT? Berpestakah aku dengan gaji ribuan dolar dari penderitaan manusia-manusia lain? Kemana harus ku tukar sepotong kartu atm ini dengan bergantang-gantang beras yang lebih kami perlukan di gurun terik seperti Jericho yang hampir musnah?

Tapi tulisan ini bukan pembenaran atas bagaimana aku menghabiskan sisa uang di dalam rekening payroll ku, bukan… bukan itu… bukan pula untuk menceritakan penderitaanku bersama teman-teman pekerja humanitarian diberbagai belahan dunia agar kalian semua bisa tidur tenang tanpa harus peduli dengan manusia-manusia lain yang sedang dilanda bencana.. sama sekali bukan itu..

Tulisan ini adalah sebuah permintaan dari orang yang sangat aku hormati, sebagai penanda bahwa aku pernah ada, berbagi cerita, tentang dunia, tentang menjadi diriku sendiri. Sebagai penanda bahwa aku sempat berfikir, sempat mengada dalam tulisan. Seperti seorang filsuf pernah berkata “Cogito ergo Sum” (saya berfikir maka saya ada)..

Atjeh dan seorang volunteer yang membuatku memutuskan untuk menjadi seorang aku yang sekarang ini. Dua hal ini yang membuatku bertahan.. baiknya kuceritan satu persatu..

Aku tidak masuk ke Atjeh beberapa hari setelah terjadi tsunami. Saat itu bapakku bilang, “Urus dulu skripsimu! Lulus dulu kao !” dan dengan sukses memunahkan dorongan impulsif seorang bocah yang tak pernah mikir panjang.

Aku masuk ke Atjeh setahun kemudian, oktober 2005. Tidak lagi menjumpai onggokan mayat dan sampah, dan merasa ‘kecil’ sekali dibanding kawan-kawan lain yang lebih ‘metal’, yang menggotong-gotong mayat, yang nyaris tak pernah tidur membersihkan sampah dan mengubur jasad-jasad. Aku masuk ke Atjeh ketika ia merangkak, ngesot, tertatih-tatih bergerak pelan untuk bangkit kembali.

Aku masuk ke Atjeh ketika RI dan GAM berada dalam keadaan gencatan senjata, hasil dari resolusi helsinki diprakarsai oleh Hasan Tiro sebagai representasi GAM. Aku melihat AMM, pasukan koalisi negara-negara mediator Perdamaian RI-GAM menyertai TNI dan GAM dalam mengumpulkan senjata-senjata GAM dan menyerahkannya kepada NKRI.

Aku masuk ke Atjeh ketika ada pasukan asing yang bisa-bisa saja memetakan dengan baik kehidupan sosial budaya masyarakat Atjeh, mengintip sedikit teritori dan kondisi kontur beserta semua sumber daya alam area paling utara dari pulau sumatera.

Bencana, musibah perang, kecurigaan politik dan ketertinggalan. Kurasa masyarakat Atjeh dahulu dan sekarang adalah orang-orang yang luar biasa tangguh dan hebat. Aku tidak merasa berguna atau merasa menyumbang apa-apa untuk mereka. Aku merasa kecil sekali. Setidaknya itu yang kurasakan ketika aku menginjakkan kaki di Banda Atjeh.

Masih teringat jelas ketika aku berdiri di Banda Atjeh, dan mampu melihat garis ufuk di kota yang dulu demikian padat. Bisakah orang Jakarta melihat garis pertemuan langit dengan bumi dari jalan-jalan raya mereka? Berani taruhan tidak bisa! Tidak sampai lima meter pasti mereka sudah melihat rumah, gedung, mall, dan lain sebagainya, menghalangi pandang mata.

Ya, aku melihat ufuk, dari bagian paling padat kota Banda Atjeh! Hanya saja sekarang terlihat membentang ribuan puing-puing rumah hancur sepanjang jarak antara aku dengan garis ufuk. Benar-benar aneh. Kalau orang Indian ngomong bahwa, ‘sesekali, manusia harus berjalan di gurun untuk memahami ketiadaan dan belajar bersyukur’, maka aku bisa balas: ‘hanya sekali seumur hidup manusia bisa berjalan-jalan di puing-puing Atjeh, dan itu sudah cukup untuk mengubah seluruh hidupnya.’

Berjalan-jalan dipuing-puing itu memberi suatu pengalaman yang aneh, keras, tajam menusuk dan membuat semua bulu di badan berdiri. Setidaknya untukku. Betapa tidak? Bayangkan saja berjalan diatas ribuan puing-puing rumah! Dulu ada pemilik-pemilik rumah disini. Dulu ada beribu manusia dengan jutaan asa, cita-cita, kesusahan, kesedihan, tawa, kasih sayang dan lain-lain itulah. Dulu disini ada ketangguhan. Keinginan hidup. Kerja keras maupun rasa malas, tak peduli kaya atau miskin.

Masyarakat Atjeh sepertinya menganut sistem adat uxurilokal, yaitu pola menetap yang menentukan bahwa sepasang suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri. Biasanya orang tua perempuan akan memperluas dan menambah rumahnya untuk tempat tinggal anak perempuan dan menantunya. Sehingga melalui bekas-bekas pondasi (yang kini menjadi puing-puing itu) benar-benar bisa dilihat sebesar apa keluarganya, dan sesejahtera apa.
“oo.. Ini orang kekurangan, cuma dua kamar satu kamar mandi, atau paling tidak keluarga kecil”
“oo.. Ini orang kaya, luas rumahnya mengagumkan..”

Apalah yang ada di otak mereka sebelum bencana ya? Aku membayangkan mereka yang miskin barangkali penuh dengan kecemasan akan ketidakpastian dalam keseharian menjalani hidupnya. Aku membayangkan yang kaya, barangkali, penuh dengan pemikiran peluang-peluang bisnis, merencanakan sekolah-sekolah ternama untuk anak-anaknya, walaupun juga mungkin dirundung kecemasan dalam menjaga dan mempertahankan harta beserta segala martabatnya.

Tapi ternyata lagi, hal-hal itu tidak penting sekarang. Setidak-tidaknya di hadapan puing-puing ini. Tidak pandang bulu, entah dia kaya, entah miskin, entah tua, muda, entah sehat, entah penyakitan, mulai dari sekedar panu dan kadas, sampai dengan kanker atau jantung atau stroke, begitu roda nasib memainkan kelakarnya, habis sudah!

Merata dan menyeluruh…
Semua dipanggil…
Semua menghadap…
Lalu apa yang bisa kulakukan?

Seperti kukatakan tadi, aku kecil, tak berguna, hanya sebutir pasir dari sekian trilyun! Tak ada satupun kegunaanku bagi Atjeh dan tak satupun bisa kulakukan untuk memperbaikinya, kecuali satu hal: bersyukur. Atas hidupku, atas situasiku, atas keseharianku, atas orang-orang yang masih kupunyai.

Ya, aku tak berguna buat Atjeh. Akan tetapi Atjeh memberikan warisan mereka yang paling Indah kepadaku: rasa syukur, rasa pasrah, dan kepunahan rasa banggaan diri berlebihan, yang entah kenapa selalu menyertai setiap lulusan universitas di Jakarta: merasa dirinya lebih berhak, lebih terdidik, lebih pintar, lebih tahu, dan lebih tinggi derajatnya dari manusia lain.

***

Monday, January, 10th 2011 at 3:36am

aku bertemu dengan orang-orang yang menarik!

Sebulan lalu kuliat salah seorang disini asik masak kunyit, kayu manis dan menyeduhnya dengan teh. ‘oo.. Ini pasti pembantu.’ gumamku.

Lalu beberapa hari kemudian, kutengok dia lagi asik memecahkan batu sebesar-besarnya besar yang paling besar seperti besaran terbesar: untuk bahan bangunan! ‘oo.. mungkin dia juga kuli, buat nambah-nambahin penghasilan’, pikirku berusaha menempatkan fakta-fakta itu dalam sebuah konteks.

Seminggu kemudian, aku memahami bahwa dia pergi kemana-mana dengan sepeda. Mengingat jarak kantor ke mes kira-kira 1,5 km dan jarak kantor ke kampung penerima bantuan itu 20 km, maka kupikir minimal 4-5 jam dalam sehari ia mengayuh sepeda. ‘o well.. mungkin orang kurang kerjaan.’

Lalu aku temukan dia asik bicara dengan bosku, memberi masukan ini itu, memberi kiat-kiat dan saran-saran, melayaninya sampai jauh malam. Aku simpulkan, ‘oo.. Bosku sudah burn out. Sudah stres. Pembantu merangkap kuli merangkap kurang kerjaan merangkap gila koq didengerin!’

Ya mengapa tidak! Aku S2! ESS DUAA! dengan darah, dengan air mata, dengan fans-fans setia, DARI JAKARTA! Masakan dia lebih di dengar? Lebih disimak?

Lalu kali lain kulihat dia sedang asyik mengupas tabel keuangan, cost analysis, earn value analysis, dan istilah-istilah eneg dan bikin muntah lainnya. Aku mulai tidak nyaman. Lalu kulihat dia mengkonsep program pelatihan, participatory rural appraisal, competence-based training, dan istilah-istilah lain yang sepanjang ingatanku pernah bikin malam-malamku seperti neraka ketika tesis dulu.

THIS GIRL CAN DO EVERYTHING!

Tapi sepertinya kawan ini tidak puas membuat aku menerka-nerka, sampai satu ketika kulihat blekberi-nya, WHAT THE F*CK?? tidak, tidak. ini sudah cukup. oke dia bisa bikin teh, aku juga! oke dia bisa pecahkan batu.., mm.. yaa kurasa hampir-hampir sama lah dengan memecahkan gelas emak.. !! oke dia bisa bersepeda 4-5 jam, aku pun bisa bersepeda 4-5 jam, asal jalanannya turunan semua!

NAMUN SEKARANG?? DIA PUNYA BLACK BERRY?? *Cih, bukannya aku tak bisa beli, bisa! tapi tidak mau. Hanya saja sejauh ini belum ada kata sepakat dari kocekku!* Dan akhirnya rasa penasaran mengalahkan gengsi dan bebal. Kutanya dia, kutanya sekeliling, ‘penjahat ini siapa, apa posisinya?’ Semua sepakat menyebut satu kata: volunteer… datang tak diundang, pulang tak diantar.. mmm salah, itu setan jalangkung. Mungkin yang paling benar adalah tidak dibayar, tidak ditanggung, berbuat segala hal dari koceknya alias dana pribadi, untuk orang lain atau sesuatu yang lebih besar. Everything is on her, every expenses came out from his pocket. He chose to be here, doin what he can. Dan satu hari, semua hal di atas kutumpahkan ke dia, dan dia menjawab, ‘kamu harus punya mesin uangmu Gie. mmm.. atau lebih tepat dikatakan: mesin-mesin yang bikin kamu tak berbatas, yang memampukan kamu melakukan yang kamu pingin.’ Hei NEK! F*ck you! While others do this for money, u do this for fun. For others. For the idea of helping.

Big fish in a small pond. I guess we’ll see different kinds of fish, different sizes, at sea.

Aku pengen jadi petani, tapi moga-moga aku kelak bisa jadi sukarelawan deh. sukarelawan yang dalam definisi kawan ini, sukarelawan yang kuteladani dari beberapa minggu melihat tingkah dan kelakuan anehnya! Dan, disinilah aku sekarang, berusaha menciptakan mesin uangku sendiri, mesin-mesin yang membuatku tidak terbatas untuk melakukan apa yang aku inginkan..

*) penulis adalah sukarelawan UNHCR – UNDP, dan kini menetap di Geneva, Switzerland.
Sumber PIC, atas ijin ybs di ambil dari dokumen penulis.

Post Comment