Berita

Kemitraan UI – YBB

post pics(1)

YBB DAN UI MENJALIN KEMITRAAN STRATEGIS

ybb, 14/03/17—Bertempat di ruang rapat 2 A Gedung Rektorat UI, Senin (13/03/17), Ketua YBB, Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Ir. D. Aditya Sumanagara (Ketua I) dan pengurus lainnya diterima oleh Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met yang didampingi Wakil Rektor Bidang SDM, Pengembangan dan Kerjasama, Dr. Hamid Chalid, SH, LLM dan Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LDFEB-UI) Turro S. Wongkaren, Ph.D beserta staf LDFEB-UI.

Kunjungan pengurus YBB tersebut tidak lepas dari keinginan YBB untuk menjalin kemitraan dengan salah satu Universitas terkemuka, khususnya menjajaki kemungkinan kerjasama program dengan Lembaga Demografi. ‘…mungkin saat sekarang sudah banyak orang yang tahu tentang apa itu bonus demografi yang dari waktu ke waktu informasi tentang hal itu banyak dikemukakan diberbagai media, namun sejauh mana tingkat pemahaman tentang urgensi nya, kami merasakan belum sejauh itu dipahami, baik oleh kalangan pemerintahan maupun masyarakat luas. Kami ingin isu ini memiliki greget menyengat, mampu membangkitkan kesadaran, kepedulian serta mendorong semua pihak untuk bergerak dan berbuat dalam mensikapinya…’ ujar Sarwono pada saat kesempatan pertama menyampaikan pendapatnya.

Lebih lanjut Sarwono juga mengungkapkan tujuan dari silaturahim menemui dan mengajak peluang kerjasama dengan pihak Lembaga Demografi Universitas Indonesia tidaklah lepas dari kerangka menemukan format untuk menjadikan isu bonus demografi memiliki nilai menggigit yang mampu menarik perhatian komponen bangsa. ‘…kami menyadari sepenuhnya tentu YBB tidak bisa bekerja sendiri guna mewujudkan keinginan tersebut. Kami berharap dapat membangun dan mengembangkan sinerji dengan banyak pihak, misal, kemitraan dengan CISDI, Pt. PBMT Ventura dan lainya. Sedang, kaitannya dengan demografi, kami juga memang didukung pula oleh Pusat Kajian Demografi dan Kependudukan, Universitas Trilogi Jakarta. Semakin luas sinerji dikembangkan tentu akan semakin mendekati capaian harapan. Dan, kami mengetahui Universitas Indonesia melalui dukungan Lembaga Demografinya akan memacu daya dorong semangat kami mewujudkannya…’

Pada kesempatan sambutan pengantarnya, Prof. Muhammad Anis, menyampaikan permasalahan demografi ini memang sangat mendasar agar bangsa Indonesia mampu mencapai kesejahteraan seperti diamanatkan dalam UUD 1945. Karena itu menurut M. Anis, perlup perhatian khusus atasnya. ‘…kami menyambut gembira atas kepeminatan YBB untuk menggandeng, menjalin kerjasama dengan lembaga kami. Secara pribadi saya juga mengikuti perkembangan demografi ini., meskipun kesibukan tugas cukup banyak karena persoalan demografi tidak bisa diabaikan atau kita lalai dalam menanganinya. Oleh karena itu, secara khusus kami meminta rekan-rekan dari lembaga demografi untuk hadir serta menerima kehadiran pak Sarwono beserta kawan-kawan pengurus YBB lainnya…terlebih kami mencermati juga sedang memproses pengelolaan elektronik jurnal, jadi sekalian hadir dalam pertemuan ini rekan-rekan editor Jurnal Health Research FK-UI agar dapat membantu penangan dan pengelola jurnal YBB…Kita berharap e-Jurnal yang akan diterbirkan YBB bisa memiliki keterhandalan baik sehingga bisa menjadi stimulus KUM bagi para penulis dari kalangan dosen, terutama dosen UI, dan menjadi semacam penambah gairah untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi bagi bangsa kita…’ ujar M. Anis.

Sementara, Turro S. Wongkaren, Kepala Lemabaga Demografi UI mengurai penjelasan program yang sedang dipersiapkannya. ‘…istilah bonus demografi pertama kali muncul dalam tulisan ilmiah Prof. Murtiningsih Adioetomo atau lebih dikenal dengan Prof. Tuning saat orasi ilmiah pengukuhan sebagai guru besar FEB-UI beberapa tahun lalu. Istilah asing untuk bonus demografi umumnya digunakan ungkapan demographic dividend, dan agar tidak rancu dengan istilah dividend sebagai saham, maka oleh Prof. Tuning diganti menjadi bonus. Kami tertarik dengan YBB ketika YBB bersama Bappenas menyelenggarakan FGD di Solo, bulan November tahun lalu. Saya sempat kaget ada Yayasan yang memfokuskan program kegiatannya menyangkut demografi. Dan, semakin jelas informasinya setelah kawan-kawan dari YBB pada sekitar dua minggu lalu menemui kami…’ katanya.

Menurut Turro, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LDFEB-UI) sejak terbentuk pertama kalinya pada tahun 1964 oleh Prof. Widjojo Nitisastro, memang berangkat atas dasar dorongan kuat untuk mewujudkan pembangunan nasional yang berbasis kependudukan, atau suatu konsep pembangunan yang lebih berorientasi pada pembangunan manusia melalui pembangunan infrastruktur yang dimaksudkan sebagai penunjang pembangunan dan pengembangan eksistensi manusianya. Pendekatan kependudukan atau demografi akan mencangkup beragam aspek pada setiap sektor bidang, sehingga pendekatan ini akan membutuhkan banyak dukungan dari berbagai disiplin ilmu maupun sektor riil yang langsung dapat mengimplementasikan gagasan menjadi kerja nyata.

‘…beberapa hari lalu kami menyelenggarakan seminar tentang bonus demografi, dan dari YBB juga hadir. Kami sedang melakukan pengkajian mendalam akar permasalahannya atau istilah saya ‘genderuwo’nya. Sebab menjadi bonus atau tidak, struktur usia penduduk Indonesia ke depan tetap akan menggembung bersamaan dengan semakin besar penduduk muda usia produktif. Ke depan mungkin setelah tahun 2025 atau tahun 2030an, kami memperkirakan jumlah penduduk muda usia produktif akan didominasi oleh mereka yang memiliki pendidikan baik, terdidik. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika mereka-mereka yang terdidik tersebut tidak bekerja, mengganggur dengan jumlah yang cukup banyak…ada kekhawatiran jika jumlah penduduk usia produktif yang berlimpah tersebut, hanya sedikit yang benar-benar dapat produktif, maka apa yang terjadi di wilayah Timur Tengah dengan istilah The Arab Spring, tidak mustahil akan terjadi di Indonesia…’ ungkap Turro.

Sebagai bentuk komitmen lembaga, diakhir pertemuan M. Anis, mengharapkan agar segera ditindaklanjuti jalinan kerjasama YBB dan UI, tidak saja hanya dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) namun harus dipertajam sampai ke Letter of Implementation (LoI). ‘…kami berharap kerjasama yang akan kita bangun bersama tidak terhenti di atas kertas kesepakatan, namun bagaimana mesti diupayakan untuk dapat dikerjakan. Tantangan demografi ini masalah urgent, bagaimana nanti kerjasama ini mampu mengangkat dan memberikan getaran kuat bagi kita semua seperti yang disampaikan pak Sarwono. Saya minta agar akhir bulan ini, atau paling lama satu bulan kedua bentuk kerjasama itu (MoU dan LoI —red) dapat direalisir…’ M. Anis menetapkan target dan menugas Turro sebagai Person in Charge.

sb: hdodo//