Berita

Kerancuan Berkelanjutan

Jakarta, 02/12/14.

bonusdemografi– Kerancuan Penyelenggaraan Pendidikan Nasional.

Diskusi seri ke -2 kelompok pemerhari bonus demografi, desk pendidikan, dilaksanakan pada hari selasa (02/12/14), bertempat di kantor pusat BKKBN, Jakarta. Hadir sebagai narasumber di diskusi tersebut, Prof. Ganjar Kurnia (Rektor UNPAD, Bandung), Prof. Isa Setiansyah (Direktur Poltek Negeri Bandung) dan Prof. Achmad Jazidie (Dirjen Pendidikan Menengah, Kemdikdasmen).

Masih merujuk pada tema utama seri diskusi bonus demografi yakni, strategi penguatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia Indonesia dalam memanfaatkan peluang bonus demografi, diskusi dihadiri para praktisi pendidikan, mulai dari kepala sekolah menengah sampai rektor perguruan tinggi di Jakarta.

Diawal paparannya, Prof. Ganjar meluruskan terlebih dahulu pengerrian dan pemahaman istilah bonus demografi. ‘…kita jangan terkecoh dengan istilah bonus. Tingginya jumlah penduduk usia produktif tidak bisa diartikan merupakan sebagaj sebuah bonus sebab jika laju pertumbuhan penduduk ini tidak dikelola dengan baik maka justru berakibat malapetaka bagi kita. Jadi, sebenarnya persoalan bonus demografi itu tidak lain adalah masalah kependudukan. Itu intinya’ jelasnya. Oleh karenanya, lanjut Prof. Ganjar, yang harus menjadi perhatian bagi kita adalah bagaimana dunia pendidikan mampu memberi kontribusi terhadap kualitas ‘skill’ yang kompetitif dari tenaga kerja kita.

Pada kesempatan berbicara, Prof. Isa Setiansyah, mengungkapkan bahwasannya Indonesia saat ini membutuhkan kurang lebih 15 juta enjinering sementara yang tersedia baru sekitar 7 juta insinyur. ‘Permasalahan yang cukup mengganggu di dunia pendidikan kita antara lain erat huhungannya dengan mindset dan adaptasi budaya. Misal, pada umumnya banyak dari calon mahasiswa sebenarnya kurang memahami pendidikan apa yang tepat untuk memberdayakan potensi diri mereka sendiri’. ujarnya.

Sementara, Prof. Achmad Jazidie, selaku dirjen pendidikan menengah mengulas program dan kebijakan pemerintah terkait upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan yang menurutnya memiliki pengaruh besar atas kesiapan sdm kita dalam menghadapi bonus demografi.

Diskusi desk pendidikan berjalan dinamis dan sesekali muncul ungkapan ringan menyegarkan. Purwo, kepala sekolah SMK Grafika Jakarta, misal, dengan gaya khas menggugat pendidikan tinggi yang menurutnya menghasilkan lulusan (output) yang berdasarkan pengalamannya malah tidak membantu. ‘bagaimana bisa menghasilkan anak didik yang memiliki kompetensi, lha gurunya sendiri tidak menguasai mesin praktiknya’. ungkapnya. Seperti meng-iya-kan kondisi carut marut dunia pendidikan, Prof. Ganjar, menyentil melalui perumpamaan segala hal bisa dikerjakan mahasiwa pertanian kecuali pertanian itu sendiri. Demikian pula mengemuka istilah SMK (STM) Sastra sebagai cermin STK yang minim peralatan pratiknya.

Konklusi diskusi tersebut menyiratkan beberapa hal, pertama, perlu penataan ulang penyelenggaraan pendidikan nasional kita. Universitas sebaiknya diarahkan untuk menghasilkan para pemikir sedang yang berkaitan dengan keakhlian teknis tidak ditingkat universitas. Demikian pula perlu kejelasan posisi SMA dan SMK; di mana SMA lebih diarahkan bagi mereka yang berminat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (universitas), sedang SMK diperuntukkan bagi mereka yang berminat langsung bekerja. Kedua, penataan struktur penyelenggaraan pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap upaya peningkatan daya saing bangsa. Ketiga, perlu dibuat pemetaan riil keahlian yang dibutuhkan, misal, berapa tenaga insinyur, dokter, guru dan lain-lain. sehingga bisa diketahui kolerasi antara permintaan dan kebutuhan. Keempat, perlu dibuka seluasnya kreativitas di dunia pendidikan agar kebiasaan yang bertumpu pada pola ‘mendengar, mencatat dan menghapal’ dapat diminimalisasi sebab kebiasaan tersebut menghambat kemajuan SDM kita. Kelima, perlu diupayakan perubahan mindset/cara berpikir agar mampu menjawab tantangan masa depan, termasuk permasalahan demografi.

Post Comment