Inspirasi

Kisah Sukses Pengusaha Sablon

MANTAN ANAK JALANAN JADI PENGUSAHA SUKSES

YOGYAKARTA, – Sebuah pepatah “usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil” memang benar adanya. Ketekunan dan kerja keras yang dilakukan oleh Rulli Nur Handoko (36) untuk meraih impiannya mempunyai vendor kaus demi hidup yang lebih baik kini terwujud.

Namun demikian, apa yang diraih oleh Rulli Nur Handoko saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Rulli, panggilan Rulli Nur Handoko, pernah hidup di jalanan dari tahun 2000 hingga 2008.

“Waktu kelas 3 SMA tahun 1999, saya minta motor ke orangtua tapi tidak dikasih. Sebagai pelarian, saya keluar dari sekolah dan hidup di jalanan,” ujar Rulli.

Selama hidup di jalanan, hari-harinya dihabiskan dengan mengamen dan tidur di emperan toko. Uang yang didapatkannya, untuk minum-minuman keras hingga melancong dari kota ke kota. “Jarang pulang, paling tiga bulan sekali. Kalau di jalanan tidur ya di emperan toko,” kisahnya.

Pada tahun 2008, Rulli mengalami kecelakaan saat melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Depok. Ia terjatuh dari atas truk yang ditumpanginya saat di Tol Cirebon, akibatnya lutut kanan Rulli bergeser.

Modal Rp 60.000

Beberapa hari sepulang dari Depok, dan masih mengunakan alat bantu jalan, Rulli datang ke sebuah acara musik. Saat di acara tersebut, Rulli bertemu dengan seseorang yang baginya sudah dianggap sebagai bapak.

Di situ, Rulli dinasihati oleh temannya agar jangan dulu main sebelum sembuh. Nasihat itu ternyata mengetuk hati Rulli. Ia mulai berpikir untuk menata hidup. Namun Rulli merasa bingung mencari pekerjaan. “Saya sudah capek hidup di jalanan, mau mencari pekerjaan tapi kan ada tatto. Saya berpikiran pasti sulit, karena tatto jaman segitu masih dianggap tabu,” terangnya.

Rulli akhirnya memutuskan untuk mencoba membuka usaha sablon kaus kecil -kecilan di rumahnya. Bermodal uang Rp 60.000 pemberian pacarnya yang sekarang menjadi istrinya dan menggunakan alat bekas milik kakaknya, Rulli mulai merintis usaha sablon di rumahnya. “Saat main ke rumah teman-teman jalanan, ternyata mereka punya usaha sablon dan saya sempat bantu-bantu, hingga tahu lah sedikit ilmunya. Tapi masih sablon manual,” tuturnya.

Seminggu berjalan, Rulli terpaksa harus pindah tempat produksi. Sebab rumahnya menjadi bau cat sablon dan diprotes oleh orangtuanya. Rulli lantas mencari kos. Ia mendapatkan kos di daerah Condongcatur, Depok, Sleman. Karena tidak mempunyai uang yang cukup, Rulli harus mencari cara agar bisa bayar uang kos dengan murah.

Ia berinisiatif membersihkan seluruh rumah kos. Pemilik kos yang melihat apa yang dilakukan Rulli memberi kepercayaan menjadi penjaga meski tetap bayar dengan harga murah. Rulli pun akhirnya hanya membayar Rp 50.000 per bulan.

“Kamarnya kecil ukuran 2×3, jadinya tidur itu ya sama kaus, papan sablon dan bau cat sablon. Pokoknya bisa untuk survive tidak hidup di jalanan,” urainya. Pendapatan dari sablon kaus, lanjutnya, masih sangat sedikit, karena hanya dijual ke teman-teman sendiri. Bahkan untuk biaya makan sehari-hari saja masih sulit.

Melihat kondisi keuangan tidak kunjung membaik, Rulli lantas memutuskan bekerja dengan orang. “Saya sempat kerja ikut orang tapi ya tidak lama keluar,” ucapnya.

Pergi ke Bali

Setelah beberapa lama menjadi pengangguran, Rulli mendapat informasi bahwa seorang temanya membuka usaha sablon di Bali. Ia pun mencoba keberuntungan hijrah ke Bali untuk bekerja dengan temannya tersebut.

“Melihat alat-alat sablon yang digunakan, semangat saya tinggi lagi. Saya seperti melihat jalan hidup,” katanya.

Di Bali, Rulli mengawali pekerjaannya dari nol. Rulli diminta mengerjakan hal-hal kecil, seperti membersihkan skrin sablon. Pekerjaan itu ia lakukan dengan tekun mengingat kemampuannya di dunia sablon memang belum mumpuni. Guna untuk menopang kebutuhan hidup di Bali, Rulli tidak hanya bekerja di satu tempat. Sebab, saat itu orderan sablon kaus di tempat temannya memang begitu belum banyak.

Seiring berjalannya waktu, Rulli sempat berpindah-pindah tempat bekerja selama di Bali. Namun masih di bidang yang sama, yakni sablon. Dari bekerja di beberapa tempat inilah Rulli mendapat banyak ilmu, mulai jenis sablon, pentingnya kebersihan, memecah warna hingga menjaga kualitas sablon.

“Kerja sambil belajar karena saya punya impian. Di salah satu vendor tempat saya bekerja, lantainya bersih sekali, setiap kali ada cat tercecer harus langsung dilap kalau tidak dimarahi, di situlah saya belajar tentang pentingnya kebersihan,” ucapnya.

Seiring dengan kehamilan istrinya yang menginjak tujuh bulan, Rulli memutuskan untuk meninggalkan Bali dan kembali ke Yogyakarta. Meskipun Rulli mengaku sudah cocok dengan Bali, namun kondisi memaksanya kembali ke kota Gudeg. “Saya sempat kembali lagi ke Bali naik motor, karena sudah cocok mau gaji berapapun tidak masalah. Tapi tidak ada tempat di sana dan memang harus kembali,” tuturnya.

Berbekal ilmu yang didapatnya selama bekerja di Bali, Rulli mencoba keberuntungan dengan melamar pekerjaan di beberapa vendor sablon di Yogyakarta. “Tiga kali dapat pekerjaan, tapi selalu saja ada kendala dan saya memilih keluar.

Kendalanya, misalnya kerjaan yang harus saya kerjakan enggak jelas, terus beberapa karyawan ada yang enggak jujur, kan ya bikin tidak nyaman,” ujarnya.

Usaha dari nol

Rulli akhirnya membulatkan tekad dan memberanikan diri meraih mimpinya dengan kembali membangun usaha sablon sendiri dari nol. Apalagi, dirinya sudah mempunyai bekal ilmu yang cukup mumpuni tentang sablon.

Ia mulai mengumpulkan alat-alat sablon lama yang masih bisa digunakan. Sebab modal yang ada tidaklah banyak.

“Setelah istri melahirkan, saya pilih ngekos, sekalian buka sablon dan kebetulan ada tabungan saat di Bali dulu. Kamar kos 3×6 saya bagi, untuk kerja dan tidur,” tuturnya.

Penghasilan dari buka sablon sendiri ini, menurut Rulli, sudah lumayan bisa untuk hidup. Bahkan ia bisa menabung meski tidak banyak. “Lumayan sebulan dapat Rp 2,4 juta sampai Rp 2,5 juta. Bagi saya dapat segitu hidup di Yogya sudah aman, bisa nabung sedikit-sedikit,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, Rulli bertemu dengan seseorang yang dahulu menjadi pelanggan di tempatnya bekerja. Orang tersebut ternyata sedang membuka usaha sablon. Karena orderannya banyak, maka beberapa diberikan agar dikerjakan oleh Rulli. “Ada customer yang mencari karena tahu saya buka sendiri, lalu bertemu dengan tukang jahit langganan saya. Tukang jahit ini yang mempertemukan saya, ya akhirnya diberikan orderan,” katanya.

Melihat orderan yang datang semakin banyak, Rulli bersama penjahit langganannya lantas berkolaborasi dengan mengontrak di Selatan Madukismo, Bantul. Selama dua tahun lebih kerja sama dengan pelanggannya ini, Rulli pun bisa menabung uang lebih banyak. “Customer saya sudah punya vendor satu, dan ingin membuka lagi karena mengejar kuota, tapi tiga bulan berjalan ambruk. Nah, vendor yang lama dijual,” urainya.

Mengetahui rekan kerjanya menjual vendornya, Rulli lalu berpikir untuk membelinya. Rulli mulai menghitung uang dari tabungannya, namun ternyata tidak cukup. “Saya pinjam uang bank dan minta izin orang tua menjual motor, karena tabungan tidak cukup. Tapi akhirnya terbeli juga, dan impian punya vendor sendiri dengan alat-alat sablon yang besar tercapai,” kata Rulli.

Jalur tengkorak

Vendor sablon kaus yang dibeli Rulli tahun 2014 lantas diberi nama Jalurt engkorak. Rulli mendapat nama itu saat dirinya pulang dari Bali ke Yogyakarta melewati kompleks pembangkit listrik Paiton. Di lokasi itu, Rulli yang hendak foto dicegah oleh warga karena jalur tengkorak atau berbahaya.

“Jalur tengkorak itu kan menunjukkan tempat-tempat berbahaya. Jadi bagi saya jalur tengkorak mengingatkan akan tanda bahaya,” urainya.

Setelah membeli vendor, Rulli dan istrinya tak lantas berdiam diri. Keduanya harus memulai dari awal. Setiap pekerjaan pun harus dikerjakan berdua, mulai dari beli bahan, marketing sampai produksi. “Tugas istri saya memecah warna, ngurusi customer, dan belanja kain. Jadi sambil gendong anak, istri saya naik motor belanja kain,” kata Rulli.

Sedangkan Rulli mempunyai tugas produksi sampai pengemasan. Lembur hingga dini hari pun sudah menjadi makanan sehari-hari baginya demi mendongkrak pendapatan. “Pernah gara-gara uang Rp 260.000 nggak tau di mana, kita (Rulli dan istri) itu sampai bertengkar. Ya, bukannya apa-apa, artinya merasa memiliki dan ingin merintis usaha ini benar-benar, karena ini mimpi kami,” terangnya. Seiring banyaknya orderan, sekitar enam bulan berjalan, Rulli dan istrinya berani mencari satu pegawai.

Hingga seiring berjalannya waktu, saat ini Rulli memiliki 17 orang pegawai. “Ya, alhamdulilah sekarang ada 17 (pegawai). Sebulan pesanan mencapai 3.500 kaus dan kebanyakan dari luar Yogya,” ucapnya. Ilmu dan pengalaman yang didapatnya selama kerja di vendor-vendor baik di Yogyakarta maupun di Bali semua diterapkan oleh Rulli. “Semua pelajaran dan pengalaman selama kerja di mana-mana saya terapkan di sini, mulai dari kualitas, kekuatan jahitan, hingga kebersihan tempat produksi,” kata Rulli. Setelah keuangan membaik dan vendornya berjalan, Rulli tak lupa kepada orangtuanya. Ia pun menawari mereka umrah. “Saya pernah tawari, tapi ibu belum siap,” katanya.

Penulis : Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma,
Sumber: Kompas.com