Berita

Kreativitas Kekuatan Berkarya

rawamangun-slide

KREATIFITAS BERDAYA HASIL

ybb, 22/09/15; Styrofoam atau polystyrene, banyak kita temui dalam keseharian yang umumnya dipergunakan sebagai pembungkus atau bahkan wadah makanan siap saji. Penggunaan Styrofoam begitu marak, karena bahan ini tidak mudah bocor, praktis, ringan dan murah. Namun akibat yang ditimbulkannya sungguh sangat berbahaya, karena Styrofoam termasuk salah satu jenis plastik berbahan dasar polysterenedan, gas butana, dioktilptalat, butyl hidroksi toluene dan butyl stearat yang dapat memicu timbulnya kanker dan penurunan daya pikir anak.

Sulit untuk menghindari bahaya akibat penggunaan bahan yang disebut ‘gabus’ ini, bahkan setelah menjadi limbahpun gabus ini juga sulit diurai tanah sehingga dapat mengganggu perkembangan kesuburan tanah. Tetapi limbah berbahaya ini di tangan trampil siswa SMK Negeri 7 Jakarta, menjadi beragam produk bermanfaat yang dalam proses pembuatannya menyertakan juga limbah-limbah lainnya seperti kertas dan plastik.

Dalam kunjungan kerjanya di SMK Negeri 7 Jakarta pada hari selasa, 22 September 2015, Sarwono Kusumaatmadja dan Indragara selaku Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Yayasan Bhakti Bangsa, berkesempatan mendengarkan secara langsung presentasi yang disampaikan oleh siswa-siswi yang tergabung dalam kegiatan ekstra kurikuler Kelompok Pecinta Lingkungan (KPL), dengan didampingi Kepala Sekolah Purwosusilo serta guru-guru lainnya seperti Maria Ulfa dan lainnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Budi siswa pemrakarsa pemanfaatan limbah styrofoam, bahwa proses yang sekarang masih dalam taraf uji coba dan belum ada hitungan ekonomisnya. Proses pemanfaatan limbah styrofoam, plastik dan kertas terbilang cukup sederhana, tidak memerlukan tempat yang luas dan peralatan yang digunakan juga tidak terlalu khusus. Sebagai langkah awal styrofoam dilumatkan dengan bensin lalu dicampur dengan sedikit tanah hingga menjadi adonan. Limbah kertas dilumatkan dengan air hingga menjadi bubur kertas, lalu limbah botol plastik dipotong kecil-kecil dan dicampur jadi satu dalam adonan styrofoam dan bubur kertas serta diberi kompond untuk mempercepat pengeringan lalu dicetak pada cetakan yang telah disediakan seukuran batubata standar 20 x 8 cm. Proses pengeringan terbilang cepat tanpa perlu dibakar atau dipanaskan secara khusus, cukup didiamkan saja dalam beberapa jam batubata styrofoam tersebut akan mengeras. Ukuran dan bentuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan, seperti untuk dinding, lantai bahkan hiasan relief dan kolam taman.

Beragam kreatifitas dapat dibuat dengan memanfaatkan limbah-limbah yang selalu ada dalam setiap harinya. Ide sebagaimana yang dilakukan para siswa yang tergabung dalam Kelompok Pecinta Lingkungan ini, adalah bagaimana caranya agar sampah atau limbah ini dapat dimanfaatkan, demikian disampaikan oleh Puwosusilo selaku Kepala SMK N 7, yang terlihat begitu antusias mendukung langkah-langkah positif anak didiknya.

Sekolah yang beralamat di Jl. Tenggiri No. 1, Rawamangun, Jakarta Timur, sesungguhnya merupakan sekolah kejuruan bidang grafika (dahulu STM 4 Grafika di Jl. Garuda, Kemayoran, Jakarta Pusat), dan kini semakin dikembangkan dengan menambah bidang studi multi media. Kualitas hasil didikan sekolah ini terlihat dengan banyaknya pesanan dari dunia usaha terhadap lulusan sekolah ini, bahkan sejak mereka masih duduk dikelas 1 atau kelas 10, sehingga kelas 11 dan kelas 12 beberapa diantaranya khusus untuk para siswa yang sudah dipesan oleh beberapa perusahaan untuk langsung bekerja setelah lulus.

Kelas pesanan ini (istilah untuk kelas anak-anak yang telah terdaftar siap kerja), selain belajar sesuai kurikulum, mereka juga mendapat tambahan dari guru khusus yang berasal dari perusahaan pemesan, untuk menyampaikan materi terkait jenis pekerjaan, budaya perusahaan, etos kerja, kedisiplinan dan lain sebagainya, termasuk juga kesehatan pisik siswa mendapat perhatian utama. Siswa kelas pesanan ini terpilih melalui proses seleksi secara normatif yang dilakukan oleh perusahaan pemesan.

Sarwono Kusumatmadja dalam kesempatan tersebut, menyambut baik dan sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh para siswa-siswi SMK N 7 sebagai inisiatif murni mereka terhadap permasalahan sampah yang menjadi bagian dari persoalan sosial keseharian masyarakat. Ditambahkan juga agar para siswa tersebut semakin kreatif dalam membangun ide-ide baik pada kreasi maupun dalam menggali potensi lainnya agar lebih bermanfaat untuk orang banyak. Kita harus ikut memikirkan bagaimana merubah sampah menjadi sumber daya, oleh karena itu disarankan agar SMK N 7 mulai merintis untuk membuat ‘Bank Sampah’ yang jaringan komunitasnya telah begitu luas hingga tingkat nasional, sehingga masyarakat sekitar sekolah dapat turut berpartisipasi dalam pengendalian sampah dan merubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

HW/22-9-2015.