Opini

Literasi Digital

digital

PEMBELAJARAN LITERASI MEDIA

Dalam kurun beberapa bulan terakhir, media sosial kita kebanjiran para pakar; entah itu pakar hukum, pakar politik, pakar pemerintahan, pakar sosial masyarakat, pakar agama. Pokoknya sembarang pakar deh.

Istilah ‘pakar’ rasanya mungkin cukup layak disematkan mengingat daya respon mengunggah, mengirim lanjut, dan memberi komentar reaktif terhitung cepat, semua berpikir seakan pendapatnya paling benar; terlepas apakah unggahan maupun komen yang dilontarkan tersebut memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan atau tidak, tepat atau tidak, benar atau salah, lain hal urusan belakang itu. Yang penting berkomentar dululah…

Yaaa. Budaya komentar. Seperti yang diungkapkan Karlina Supeli (ingat astronot wanita pertama kita?), masyarakat saat ini sedang terserang demam budaya komentar; nyaris segala hal dikomentari, suka dan senang berkomentar. Bayangkan saja, menurut Karlina kita menempati ranking ke 5 paling cerewet di dunia, paling cerewet lho, bukan main. Salah satu indikatornya, misal, untuk masyarakat Jakarta saja, paling tidak rata-rata melakukan 15 twitt per-detik. Mmmmm, hebat kan.

Tidak mengherankan demikian ramainya dunia maya kita dan pantas jika dikatakan cerewet. Bagaimana tidak, 52% warganya sudah melek internet, alias 132 juta dari keseluruhan jumlah penduduknya sudah menjadi pengguna internet. Kita termasuk 5 besar Negara di dunia yang memanfaatkan internet. Lebih dari 60 juta penduduknya punya smartphone; termasuk negara kelima terbanyak di dunia dalam kepemilikan smartphone.

Nah, yang membuat sedikit miris (sebenarnya ‘sebel’ juga), itu lho komentar-komentar para ‘pakar’ yang terlontar kebanyakan terkesan sesuka hatinya saja. Coba deh perhatikan, sering kali komentar yang diberikan hanya untuk menanggapi judul besar unggahan minus membaca isi atau kontennya secara seksama. Sehingga yang terjaadi banyak juga yang komentarnya tidak memiliki keterkaitan dengan isi unggahannya. Berita juga tidak luput banyak yang terkena amnesia; judulnya apa, isinya kemana. Serunya, kalau unggahan itu memancing pro dan kontra; yang menimbulkan perdebatan; yang bernada provokatif, tanpa check n recheck kebenarannya langsung deh berpuluh dan bahkan beratus komen bertebaran. Kebanyakan komennya, kalau istilah bahasa kerennya ‘not well educated’, jauh dari mendidik gitu; cenderung memunculkan pertentangan dan menyisakan luka. Sampai-sampai, pastinya pernah dengar sinyalemen komunikasi dalam dunia maya, medsos kita tidak sehat, sakit, dan lain sebagianya, yang disebabkan riuh rendahnya kata-kata maki, hujat, memecah belah dan lain-lain. Intinya, negatif dan jelek.

Entah apa sebab. Menurut laporan UNESCO tahun 2012, minat baca (literasi) Indonesia berada diurutan 60 dari 61 Negara. Sementara itu, merujuk data BPS terkait sumber serapan pasar kerja berdasarkan tamatan tertinggi pendidikan, mayoritas didominasi oleh tingkat pendidikan dasar (44,25%), pendidikan menengah 28,15%, perguruan tinggi 11,46%, dan sisanya tidak tamat SD serta tidak/belum pernah sekolah. Perkembangan jumlah media juga sangat pesat, yakni mencapai sekitar 43.400, sementara yang terdaftar di Dewan Pers hanya sekitar243 media; sehingga masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi dari ragam media, terlepas apakah beritanya resmi atau tidak. Maaf, apakah hal tersebut ada kolerasinya dengan minat baca dan tulis yang masih rendah, tingkat pendidikan, dan kombinasi diantara keduanya yang kemudian disiram oleh ribuan media, atau karena sebab-sebab lain.

Kita tidak tahu persis batas waktu sampai kapan sisi negatif kekurangbijakan pemanfaatn kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut akan surut meramaikan dunia maya, khususnya medsos.

Benar adanya yang disampaikan Bernei dan Charles dalam bukunya tentang tantangan abad ke -21 bahwa salah satu dari tiga kompetensi, yakni kemampuan dalam penguasaan literasi digital tidak dapat dielakkan lagi. Seperti apa dan bagamana cara kita mengotimalkan kemampuan tersebut? tentunya pemanfaatan dunia maya seperti yang berkembang saat ini bukanlah suatu pembelajaran yang tepat dan baik, terlebih untuk membentuk generasi yang berkarakter kuat dan tangguh di masa depan. Sebaiknya kita selalu mengingat: perkembangan pesat tekhnologi (informasi) tentu ditujukan untuk memberikan nilai kemanfaatan positif bagi kemajuan kehidupan manusia, bukan merusak.

Salam.