Opini

Manusia Bukan Robot

MEMANUSIAWIKAN PENDIDIKAN

Dr. Novianty Elizabeth, SH.,M.Pd

Meski sudah cukup klasik pembahasan Freire soal bagaimana pendidikan yang membebaskan memang akan selalu ada relevansinya sampai saat ini. Kritik Freire atas metode pendidikan yang menindas yang disebutnya sebagai model pendidikan ‘gaya bank’ yang hanya menjejali anak didik dengan bahan hafalan; duduk manis diruang ruang kelas dengan guru sebagai subjeknya dan murid adalah objek belaka. Gambaran itu nampaknya berlaku pula untuk ide tentang pendidikan yang membebaskan dunia akademis Barat di dasawarsa 1970 hingga 1980-an (dan Indonesia sejak akhir 1980-an).

Moh. Yamin pernah menulis tentang  “sekolah mencerdaskan”  bahwa sekolah adalah pembelajaran, pendewasaan dan mengantarkan anak menjadi manusia dewasa, kreatif, dan cerdas. Maka dua pembanding inilah yang menjadi inspirasi untuk di jadikan sebuah pembelajaran. Dua pemikiran yang berbeda, saya pribadi  sangat tidak setuju dengan pemikiran Paulo Freire jika dikaitkan  dalam pendidikan nasional kita, karena pada saat ini pendidikan telah melakukan  pencerahan terhadap anak didik, yang di maksud kaum tertindas menurut Paulo Freire .

Bahwa sekolah adalah penjara, sekolah ibarat sebuah pabrik yang harus mencetak produk yang sama jangan sampai ini terjadi dalam praktik pendidikan kita. Sekolah jangan sampai membuat anak didik tidak independen sebagai manusia otonom. Sekolah jangan menyempitkan ruang gerak dan berfikir anak didik dalam beraktivitas, sekolah jangan membatasi setiap kegiatan yang akan dilakukan olehanak didik. aturan sekolah jangan  kaku yang dapat membuat anak didik menjadi stres. Yang jelas aturan sekolah harus menampilkan nilai–nilai pogresif terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan. Dengan demikian seluruh elemen sekolah harus dibangun atas dasar kepentingan anak didik dan kehidupan. Bahkan, hal penting kedua, bagi anak didik supaya mereka kerasan, Sekolah merupakan sebuah bagian dari pembentukan nilai–nilai kesantunan sosial dan sebagainya. Sekolah harus memiliki wajah yang baik dan satun dalam proses belajar mengajar.

Sesuatu yang naïf mengharapkan seorang anak didik harus bisa menguasai segala kemampuan yang disyaratkan dalam kurikulum tanpa melihat bakat minat mereka. Thomas Amstrong menggambarkan potensi manusia yang beranekaragam tersebut dalam sebuah dongeng yang berjudul In Their Own Way Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences.  Diceritakan dalam buku tersebut bahwa dunia digemparkan oleh sebuah kabar bahwa para binatang akan membuat sebuah sekolah unggulan bagi para binatang yang akan memberikan pelajaran berbagai keterampilan yang dimiliki oleh semua binatang. Kemudian dibuatlah kurikulum yang memuat berbagai kecakapan hidup binatang seperti terbang, lari, berenang, loncat, memanjat dan menggali. Sekolahpun dibuka dan menerima murid dari berbagai belahan hutan. Hampir semua perwakilan spesies binatang datang untuk menjadi siswa di sekolah unggulan tersebut, mulai dari burung, kelinci, ikan, kanguru, monyet, kepiting dan sebagainya.  Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah tersebut. Tersebutlah salah satu murid yang bernama kelinci. Jelas kelinci adalah binatang yang pandai untuk berlari. Ketika mengikuti pelajaran berenang. Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang membuat Kelinci prihatin. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran renang, si kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Setelah kasus kelinci, ada kejadian lain yang cukup membuat Kepala Sekolah pusing. Ini melanda siswa lain yang bernama burung.  Burung jelas binatang yang sangat hebat untuk terbang. Namun ketika mengikuti pelajaran memanjat, si burung tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik di sekolah. Akhirnya ia pun mengikuti les memanjat untuk mengejar ketinggalan pelajaran dengan siswa lainnya. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.

Demikian kesulitan demi kesulitan juga dialami oleh siswa tidak lagi punya kesempatan untuk berprestasi dalam bidang keahliannya masing-masing. Itu semua dikarenakan mereka dipaksanakan untuk melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka. Berdasarkan dongeng itu Amstrong mengajak kita semua untuk bisa memehami lebih baik tentang potensi yang dimiliki oleh setiap anak. Berpijak dari temuan Howard Gardner tentang Multiple Intelligences(Kecerdasan Majemuk),  Amstrong mengajak kita semua untuk tidak lagi memisahkan atau menjuluki bahwa ada siswa bodoh dan ada siswa pandai di sisi lain. Thomas Amstrong yang dalam bukunya  berjudul Multiple Intelligences in Classroommenjelaskan bahwa manusia memiliki 9 kecerdasan dasar yang meliputi: 1) Kecerdasan Linguistik, 2) Kecerdasan Matematis-logis, 3) kecerdasan Spasial, 4) Kecerdasan Kinestetis-jasmani, 5) kecerdasan Musikal, 6) kecerdasan Interpersonal, 7) Kecerdasan Intra Personal, 8) kecerdasan Naturalis, dan 9) kecerdasan Eksistensional. Setiap anak pasti memiliki 9 kecerdasan tersebut namun dengan takaran yang berbeda-beda.

Indonesia dengan kurikulum 2013 membuka ruang untuk   memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi, berpendapat, dan berkreasi, Siswa lebih dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi di sekolah. Adanya penilaian dari semua aspek. Penentuan nilai bagi siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja tetapi juga didapat dari nilai kesopanan, religi, praktek, sikap dan lain-lain. Munculnya pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah diintegrasikan kedalam semua program studi. Adanya Kompetensi yang menggambarkan secara domain sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.Guru berperan sebagai fasilitator, pembelajaran berpusat pada siswa dan kontekstual dengan metode pembelajaran yang lebih bervariasi.

Akhirnya sekolah menjadi media berbenah diri dan membentuk nalar berfikir yang kuat. Lebih tepatnya anak didik belajar menata dan membentuk karakter, Sekolah merupakan wahana yang mencerdaskan dan memberikan perubahan kehidupan anak–anak didik. Tingkat keberhasilan sebuah bangsa dalam konteks kehidupan manusia yang sangat luas diukur bagai mana sekolah berperan membangun kemandirian dan kecerdasan anak didik. jika pendidikan dijalankan dengan baik di sekolah dimana  kurikulum menjadi penyangga dan di implementasi secara tepat melalui guru-guru sebagai ujung tombak  yang sudah dilatih dan didampingi sebelum mereka melaksanakan kurikulum,   pendidikan kita dapat lebih baik dan dapat menghasilkan generasi-generasi penerus yang hebat yang siap berkompetisi di era global.