Celoteh

Masih Berpeluang Bonus Demografi

BERGEGAS MEREBUT PELUANG BONUS DEMOGRAFI

Kita punya peluang. Bahkan peluang itu sudah tersedia sejak 2012, ketika rasio ketergantungan (dependency ratio) mulai kurang dari 50 persen. Yaitu, ketika jumlah usia produktif -yaitu antara 15 sampai 64 tahun- melebihi jumlah usia tidak produktif -yaitu di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun. Itulah keadaan yang disebut bonus demografi.

Ada banyak faktor yang membuat kita memasuki peluang bonus demografi itu sejak 5 tahun lalu. Salah satu faktornya adalah kesuksesan program Keluarga Berencana yang sudah dilangsungkan sejak beberapa puluh tahun lalu.

Dengan bonus demografi, tingkat ketergantungan penduduk usia tidak produktif kepada penduduk yang produktif semakin kecil. Dalam kondisi itu, seorang penduduk yang produktif tidak lagi menanggung ketergantungan satu atau lebih penduduk tidak produktif. Sebaliknya, ketergantungan satu penduduk tidak produktif ditanggung oleh beberapa penduduk produktif. Lebih ringan.

Pertumbuhan ekonomi berpeluang semakin membaik. Masyarakat lebih berpeluang mempunyai tabungan dan mampu berinvestasi. Negara pun lebih bisa menabung banyak devisa. Masyarakat kita berpeluang menjadi lebih sejahtera.

Puncak bonus demografi dalam masyarakat kita, diperkirakan, akan berlangsung pada tahun 2028 sampai 2031. Pada tahun-tahun itu, jumlah penduduk Indonesia yang produktif sungguh melimpah. Saat itu, diperkirakan, 100 orang usia produktif akan menanggung 44 orang yang tidak berusia produktif.

Bonus demografi di negeri kita akan berakhir pada 2040. Selepas itu, rasio ketergantungan akan kembali naik.

Seperti peluang-peluang yang lain, keuntungan yang muncul dalam bonus demografi bukanlah keniscayaan. Ada sejumlah prasyarat agar negeri kita bisa memperoleh keuntungan dari bonus demografi itu. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua negara yang pernah mengalami bonus demografi berhasil menangguk keuntungan.

Thailand, Tiongkok, dan Korea Selatan adalah contoh negara yang berhasil mengoptimalkan peluang bonus demografi. Produk Nasional Bruto negara-negara tersebut, ketika memasuki era bonus demografinya, melesat cukup tinggi.

Sementara Brasil dan Afrika Selatan adalah contoh negara yang gagal meraup keuntungan dari bonus demografinya. Kurang tepatnya perencanaan sering dianggap sebagai penyebab kegagalan Brasil dalam menangkap peluang bonus demografinya. Kemiskinan yang akut membuat Afrika Selatan tidak mampu merebut peluang bonus demografinya.

Karena terkait dengan produktivitas, prasyarat untuk menangguk keuntungan dari peluang bonus demografi adalah sumber daya manusia (SDM) dan lapangan kerja yang juga berkualitas. Tanpa keduanya, bonus demografi akan berlalu begitu saja di hadapan kita tanpa memberikan keuntungan apapun.

Bahkan sebaliknya, jika tidak ditangani dengan baik, bonus demografi justru akan menjadi ancaman. Akan banyak risiko yang harus ditanggung jika melimpahnya jumlah penduduk produktif itu tidak disertai dengan lapangan pekerjaan yang memadai. Kejahatan dan radikalisme adalah dua di antara risiko serius yang bisa menyertai kegagalan dalam memenangkan peluang bonus demografi.

Bagaimanakah peluang kita?

Data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada bulan Februari 2017, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,33 persen. Ada 7,01 juta orang dari angkatan kerja yang menganggur. Pengangguran Terbuka itu berarti keadaan yang di dalamnya orang sama sekali tidak bekerja. (untuk data 2018 bisa di-klik di sini)

Dibandingkan tahun sebelumnya, TPT itu tergolong sedikit membaik. Setidaknya turun 0,17 persen dibandingkan Februari 2016. Namun tentu masih jauh dari tingkat pengganguran di Thailand pada masanya, seperti dikutip Guru Besar FEB UI Sri Moertiningsih Adioetomo, yang mencapai 0.56 persen saja.

Data BPS yang sama juga memperlihatkan bahwa kualitas angkatan kerja kita pun tidaklah baik. Mayoritas tenaga kerja kita berpendidikan Sekolah Dasar ke bawah sebanyak 42,23 persen. Menyusul kemudian berpendidikan SMP (18,16%), SMA (16,48%), SMK (10,87%), Universitas (9,31%), dan Diploma I/II/III (2,95%).

Pendidikan sudah barang tentu menjadi salah satu bagian terpenting untuk meningkatkan kualitas SDM kita. Berbagai persoalan di bidang pendidikan nasional, yang selama ini muncul nyaris tanpa henti, harus segara dicarikan jalan keluar yang tepat.

Pendidikan, selain harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, juga harus memastikan pembentukan karakter SDM yang baik. DI tengah hilangnya batas-batas wilayah kerja, SDM kita harus siap bersaing dengan SDM negara lain.

Begitu juga dengan ketersediaan lapangan kerja. Tanpa ketersediaan lapangan kerja yang memadai, problem yang akan kita hadapi bukan semata-mata pengangguran. Dalam situasi seperti itu, kita berpotensi menghadapi problem gesekan antara buruh -yang secara alami menuntut kesejahteraan yang lebih baik dari pengusaha- dengan pencari kerja yang lebih mengutamakan ketersediaan lapangan kerja.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan 4 program strategis untuk menciptakan lapangan kerja. Pertama, mendorong pembangunan infrastruktur, yang diharapkan menjadi lokomotif penyediaan lapangan kerja dalam jangka pendek. Kedua, menumbuhkan investasi, lewat penyederhanaan perizinan dan penyediaan sarana investasi. Ketiga, mendorong pendidikan vokasional. Keempat, mengalokasikan Dana Desa, yang diharapkan akan mendorong peningkatan perekonomian daerah.

Kita berharap pemerintah mampu mewujudkan program-program tersebut secara tepat sasaran. Lebih jauh lagi, kita berharap berbagai rencana untuk merebut peluang bonus demografi itu tidak mengabaikan aspek kualitasnya.

Untuk mencapai SDM berkualitas, misal, kita tidak cukup hanya menyiapkan perbaikan sistem pendidikan kita. Kualitas kesehatan dan lingkungan juga tak boleh diabaikan sebab merupakan bagian dari upaya mewujudkan SDM yang berkualitas baik.

Bahkan, sebetulnya, perencanaan yang harus dirancang tidak bisa berhenti hanya untuk mengantisipasi puncak bonus demografi. Perencanaan juga harus disiapkan untuk mengantisipasi berakhirnya bonus demografi. Hal itu akan terkait dengan kesiapan sistem jaminan sosial kita dalam mengantisipasi masuk gelombang penduduk yang berusia tidak produktif.

Jarak waktu sekarang ke puncak bonus demografi kita sudah sedemikian dekat. Kita harus bergegas.

***

sumber tulisan: beritagar.id