CELOTEH

Mawas Diri

SIAPAKAH DAN SEPERKASA APAKAH KITA ?
Joko Rahardjo

Di dalam waktu akan datang kita menantikan sebuah masa yang membawa sebuah kebahagiaan dan kenyamanan dalam kehidupan. Sejalankah masa penantian kita yang ingin memperoleh kebahagiaan dan kenyamanan tersebut?.  Apakah dengan hanya menanti saja maka kebahagiaan akan datang ?. Kita adalah pelaku utama dari segala peristiwa yang terjadi secara langsung. Dan, kita adalah saksi dari segala rupa bentuk kejadian yang di alami oleh orang-orang yang ada di sekitar kita.

Tanggung jawab siapakah kebahagiaan dan kenyamanan hidup itu?. Jika kita cermati secara seksama pemikiran ini maka kita akan menjawab bahwa adanya kebahagiaan, kenyamanan atau ketidak bahagiaan dan ketidak nyamanan adalah tanggung jawab diri kita sendiri, bukan orang lain ataupun Negara. Setelah  mengetahui bahwa segala sesuatunya itu tergantung oleh diri sendiri maka apakah kita akan tetap menyalahkan orang lain atas ketidak berhasilan itu ?.

Kita sebagai manusia yang hidup di masa ini tentunya telah mendengar dan mengetahui tentang sebuah cerita kehidupan yang dilalui oleh orang-orang yang keberadaannya telah mendahului kita. Jika dapat di simpulkan maka kita semua adalah para kolektor fakta sejarah. Akan tetapi sejauh manakah kita mengkoleksi fakta sejarah kehidupan itu ?; apakah kita termasuk orang-orang yang mau mendengar dan belajar dari sebuah pelajaran yang di bawa oleh sang waktu ?.

Semua manusia yang sudah mati atau yang masih hidup di saat sekarang ini mempunyai banyak sekali kumpulan-kumpulan keinginan. Apakah kita pernah menggambarkan bagaimana kalau sekumpulan keinginan-keinginan semua manusia yang ada di dunia ini dikumpulkan dan diketahui oleh kita yang masih hidup ini?. Apakah setelah kita mengetahui sebuah kebenaran tentang cerita, keinginan dan harapan-harapan mereka itu akan menjadi manusia yang akan memberikan sebuah kesaksian palsu terhadap anak-anak dan generasi penerus kita?. Bagaimana mungkin sebuah kesaksian palsu itu akan menjadi sebuah kesaksian yang benar jika awal langkah kita saja sudah salah untuk melangkah?.

Kita tidak bisa hidup tanpa memegang sebuah kepercayaan begitu pula dengan para generasi penerus kita kelak. Tanpa sebuah kepercayaan yang kita pegang maka kehidupan kita akan mandul.  Memang benar bahwa saat ini kita hidup di dalam era yang di penuhi oleh sebuah krisis kepercayaan terhadap para pemimpin dan bahkan sesama diantara kita. Bagi sedikit diantara kita yang mencoba melihat secara jernih tentu sangat kecewa melihat kenyataan dimana pendewaan atas jabatan dan tetek bengek materi dunia seakan telah menguasai tidak saja prilaku namun telah melebur bersenyawa dalam tiap tarikan dan hembusan nafas kelompok pemimpin dan masyarakat negeri ini atas yang apa mereka emban.

Adakah kesalahan dalam menafsirkan dan memaknai modernisasi sebagai kunci pembuka guna membangkitkan kesadaran kita agar menjadi manusia yang semakin manusiawi ? manusia yang dibekali akal dan budi pekerti, yang menjadi ciri pembeda nyata dari makhluk lainnya. Merasakan kenyataan yang dirasakan, bergumul selaksa pertanyaan di simpul otak rumit ini, benarkah kecenderungan kebanyakan pemimpin kita orientasinya mencari kebahagiaan pribadi dengan mengkesampingkan kesejahteraan rakyatnya. Tidakkah mereka menarik pelajaran dari koleksi fakta bahwa sebagai manusia kita dengan mudahnya dapat kehilangan segala rupa hal yang kita punyai. Ataukan justru modernisasi telah menjauhkan mereka dari kemajuan peradaban kemanusiaan dan juga sebagian diantara kita.

Hukum sang waktu telah memberikan fakta hidup yang benar bahwa siapapun yang motivasi utama hidupnya penuh ketamakan, gila kekuasaan dan terbutakan mata hati atas keindahan nilai dan norma keseimbangan hidup maka genta kehancuran membayangi tidak saja dirinya melainkan juga sekitarnya. Dapatkah kita membayangkan jika pola pikir para pemimpin negeri ini terjebak dalam kedangkalan tersebut. Hujat menghujat, salah menyalahkan, caci maki dan merasa diri paling benar menebar aroma perpecahan di kalangan rakyatnya. Mungkin saya salah, namun getar bibit permusuhan, kebringasan, masa bodoh dan emosi tidak proporsional sangat kentara pada kehidupan keseharian. Berita pertikaian, perselisihan dan tabur kebencian menyeruak menjadi menu pagi hingga pagi lagi. Inikah potret yang akan diturunkan pada generasi mendatang ?

Kita jangan mengambil atau meniru segala rupa yang tidak baik yang dipertontonkan dan dicontohkan oleh segelintir pemimpin dari berbagai tingkatan, termasuk pimpinan informal dan tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi panutan dan teladan. Jangan memperkeruh dan membuat keadaan semakin parah yang menggiring kita seakan sekumpulan manusia yang hidup di sebuah negeri yang gembira karena dapat membuang-buang waktu yang sudah  susah payah ditegakkan oleh para pahlawan negeri ini dahulu, untuk menjadi merdeka dan terlepas dari penjajahan dan penindasan penjajah.

Penyimpangan prilaku yang diperlihatkan oleh segelintir pemimpin dan tokoh masyarakat, semoga tidak membuat naluri kelangsungan hidup untuk memperoleh kebaikan, kebahagiaan dan kenyamanan tidak berhenti memotivasi kita sebagai warga Negara yang cerdas dan mempunyai semangat hidup tinggi. Hindarkan naluri kita dari kelumpuhan untuk mempertahankan keindahan peradaban dengan menggadaikannya pada kemuliaan sesaat dari ukuran kedangkalan pikiran manusia, sehingga kita malah memilih kehancuran yang akan menggulung Negeri ini daripada pengorbanan yang harus kita lakukan sekarang untuk mempertahankan Negeri ini tetap mempunyai martabat yang agung.

Siapakah kita?. Mari kita mawas diri, bercermin pada mereka-mereka yang telah mampu menempatkan diri pada kemuliaan hidup, terutama dihadapan Tuhan Yang Maha Berkuasa dan Perkasa.

***

pick : Top10Magz