Berita

Melirik Potensi Laut

MASI

DIALOG INDONESIA BANGSA PENYELAM

ybb, 01/04/17 —- Mengambil tema ‘Indonesia Bangsa Penyelam’, Perkumpulan Masyarakat Selam Indonesia (MASI) yang ketuai Ricky Soeprapoetra, sekaligus memoderatori dialog terbuka seputar potensi kelautan Indonesia. Bertempat di Assembly Hall, Jakarta Convention – Jakarta, 31/03/17, dialog diadakan sebagai salah satu bagian rangkaian kegiatan ‘Deep & Extreme 2017’.

Tampil sebagai pembicara, diantaranya, Sarwono Kusumaatmadja, Hayono Isman, Basuki Rahmad, Nesha Ichida, Saefullah, dan Dharmawan Gharonk.

Menurut Sarwono Kusumaatmadja, pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan pertama di Republik Indonesia di era Presiden Abdurrahman Wahid, dalam paparannya mengulas singkat perbedaan konsep Negara Kepulauan dengan Negara Maritim. ‘…setelah melalui perjuangan panjang, konsep Negara Kepulauan atau kita lebih suka mengistilahakan Wawasan Nusantara, semenjak dikeluarkannya Deklarasi Djuanda 1957 dan baru berhasil ketika UNCLOS menyetujui dan menetapkan Hukum Laut Internasional pada tahun 1994. Perjuangan kita jelas dan mendasar mengingat tentu perairan laut dalam yang membelah pulau itu juga semestinya bagian yang tidak boleh terpisahkan dan harus menjadi satu kesatuan dengan ribuan pulau besar dan kecil yang menyatu dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia..’ Lebih lanjut, Sarwono meminta agar dilakukan pendataan lebih valid mengenai jumlah pulau-pulau yang konon katanya mencapai jumlah sekitar 18.000 pulau, ‘…apakah benar atau jangan-jangan ada pulau milik negara lain yang kita klaim…’, ujarnya.

Berkait dengan tema acara, menurut Sarwono ke depan tidak mustahil Indonesia dapat menjadi bangsa penyelam. ‘…acara sekarang saja dapat kita saksikan benyak komunitas selam se Indonesia yang hadir sebagai peserta ‘deep & extreme 2017’ ini dan sebagai penyelam juga, saya rasakan tiap tahun jumlah peminat selam semakin meningkat. Persoalannya kemudian ialah bagaimana mewujudkan obsesi tersebut, perlu segera dilakukan pembenahan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait masalah kelautan dan wilayah pesisir, karena membangun ‘kelautan’ Indonesia, bukan hanya sekedar membangun infrastruktur atau yang bersifat fisik saja, namun terutama membangun jiwa dan semangat cinta laut sejak dini pada anak-anak…’ kata Menteri Kelautan di era Gus Dur itu.

Sarwono, yang saat ini sedang mencurahkan perhatian pada kaum muda di era bonus demografi melalui Yayasan Bhakti Bangsa-nya, melihat perlunya penanaman pemahaman sejak dini tentang Indonesia yang 2/3 bagian wilayahnya berupa lautan. ‘…penanaman pemahaman tentang wilayah Indonesia sebagian besar adalah laut akan membantu membentuk kebanggaan dan kecintaan pada lautan Indonesia. Jadi selain agraris, kita juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa dalam kandungan laut Indonesia, sehingga ketika murid sekolah dasar diminta untuk melukis pemandangan tidak akan hanya menggambar dua gunung dengan sepenggal matahari dan sawah-sawah saja, namun mereka juga bisa menggambarkan pemandangan laut dan pantai..’ harapnya.

Memaknai laut, Nesha Ichida menandaskan bahwa kecintaan pada laut juga harus sekaligus menumbuhkan semangat untuk menjaga dan memelihara laut beserta segala isinya. ‘…terkadang kita lalai dan tidak berpikir panjang, bahwa sebatang sedotan plastik yang baru kita gunakan hanya sepuluh menit untuk menghabis sebotol soft drink, akan menghasilkan bencana untuk sedikitnya serratus tahun bagi biota laut. Belum lagi sampah-sampah buangan lainnya yang tidak mudah terurai alami, jutaan kubik sampah tersebut akan dikonsumsi oleh ikan dan selanjutnya ikan tersebut dikonsumsi manusia, jadi secara tidak langsung kita mengkonsumsi sampah yang kita buang seenaknya…’ ujarnya.

‘…kesadaran bahwa lautan dan pantai merupakan sumber harta terpendam, rupanya hanya dipahami oleh sebagian kecil masyarakat kita, justru orang-orang dari negara lain banyak yang meneliti dan menjadikannya sumber pengetahuan untuk dikembangkan di negara mereka masing-masing…’ kata Dharmawan Gharonk dari Shark Diving Indonesia, yang telah sejak beberapa tahun terakhir lebih mengkonsentrasikan diri pada pengamatan dan penelitian terhadap spesies Ikan Hiu di Indonesia. Menurutnya, regulasi yang mengatur perlindungan terhadap ikan Hiu di Indonesia memang belum terlalu ketat. Dari sekian banyak jenis Hiu yang ada di Indonesia, larangan menangkap dan mengkonsumsinya hanya dibatasi untuk satu jenis hiu saja dan untuk hiu lain boleh ditangkap asal tidak di ekspor.

Terkait regulasi, Saefullah yang mewakili Bappeda Kota Sabang, Nangroe Aceh Darussalam bahkan dengan tegas menyatakan bahwa peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Sabang, melarang penangkapan segala jenis Ikan Hiu dan akan dikenakan sanksi bagi yang kedapatan menangkapnya. Kota Sabang dalam mewujudkan komitmen perlindungannya terhadap terumbu karang dan biota laut, akan menggelar kegiatan ‘Sabang Coral Day’ tahun 2017 ini, dengan memberikan fasilitas bagi para penyelam untuk terlibat dalam kegiatan konsevasi laut dan pesisir di Kota Sabang.

Tak kalah menarik dalam diskusi yang sangat dibatasi oleh waktu, Hayono Isman, mendukung penuh upaya-upaya pelestarian lingkungan, utamanya laut dan pantai. Hayono Isman, Ketua Umum KOSGORO dan juga Ketua Umum Federasi Olahraga Rekreasi dan Masyarakat Indonesia (FORMI) menyampaikan keprihatinannya akan mulai hilangnya olahraga tradisional masyarakat yang berbasis laut dan pantai. Hayono mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menghidupkan, memelihara dan mengembangkan olahraga tradisional dengan pantai dan laut sebagai media utamanya.

Tentang regulasi yang mengatur penangkapan hiu, Hayono berpendapat bahwa seyogyanya kita hentikan mengkonsumsi sirip hiu, karena nilai ekonomisnya hanya sedikit yang didapat. ‘…ada pengalaman pribadi yang menarik bagi kami, saya dan keluarga, untuk menolak eksploitasi dan mengkonsumsi ikan hiu. Cucu saya mengingatkan agar kami tidak mengkonsumsi yang berbahan sirip ikan hiu setelah dia melihat dalam suatu tayangan TV bagaimana para pemburu hiu membantai ikan hiu hanya untuk diambil siripnya saja…’ ujarnya.

Diskusi yang sebenarnya menarik, kaya akan informasi baru , dan masih minim dipublikasi ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin, kalau perlu malah paling tidak dua kali dalam setahun. ‘…masa kita Negara yang sangat kaya akan sumber daya kelautannya namun nilai keekonomian yang di dapat masih jauh dari Negara-negara yang malah boleh dikatakan minim kepemilikan pantai dan lautnya. Belum lagi bukan hanya potensi ekonomi, tetapi kekayaan ilmu pengetahuan yang terpendam itu diharapkan bisa berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan…’ harapan Arifuddin yang sengaja hadir memenuhi keingintahuannya.

sb: dodotjigandjoer//