Opini

Membiasakan Dan Berlatih


LEMBAGA PENDIDIKAN SEBAGAI PUSAT PEMBUDAYAAN

Keberhasilan seseorang bukan semata disebabkan oleh kecerdasan dan atau kepintaran semata melainkan lebih ditentukan oleh karakter dan sikap dalam memaknai kehidupannya. Demikian pula tentunya dengan keberhasilan suatu bangsa akan sangat dipengaruhi oleh karakter dari bangsa tersebut. Misal, bagaimana kekuatan karakter menjadi daya dorong bagi bangsa Jepang bangkit dari keterpurukan, usai perang dunia ke dua, dan (bahkan) berhasil menghantarkannya menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh dan diperhitungkan dunia, khususnya bagi Negara-negara di kawasan Asia. Demikian juga, kita bisa lihat bagaimana setelah melewati masa gelap di jajah Jepang, bangsa Korea (Selatan) kemudian mampu membangun dirinya menjadi salah satu kekuatan ekonomi tangguh dewasa ini, terutama di bidang tekhnologi. Menariknya, bangsa Korea pada bidang tersebut justru mampu mengungguli Jepang yang pernah menjajahnya.

Kekuatan pengaruh karakter (bahkan dapat dikatakan penentu) terhadap sebuah keberhasilan untuk mencapai kemajuan bangsa sangat disadari oleh para pemimpin negeri ini; sejak presiden pertama hingga sekarang, yang senantiasa menaruh perhatian besar terhadap pembangunan dan pembentukan karakter bangsa. Berbagai kebijakan dan komitmen politik untuk menghasilkan generasi Indonesia yang berkarakter digulirkan, diantaranya, melalui program Pendidikan Karakter Bangsa lewat dunia pendidikan.

Memang agak ironis, ketika Pemerintah gencar berupaya memperkuat karakter bangsa, kaum muda kita dihadapkan pada potret kondisi sosial (politik) masyarakat yang justru kurang sehat dan berpotensi menggagalkan upaya tersebut. Sebagai contoh, pada salah satu tulisannya, Bambang Kesowo (BK), mencoba mengungkap gambaran mentalitas dan perilaku yang memprihatinkan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, saat ini. Dan, kondisi itu dipastikan didengar, dilihat  dan dirasakan oleh kaum muda kita.

Dengan bahasa santun, BK, mengistilahkan kemarutan yang terjadi sebagai bentuk kegelisahan yang dirasakan masyarakat; pokok pendapatnya sebagai berikut, pertama, disiplin sosial dalam masyarakat rendah (kecenderungan bertindak sesuka hati dengan melanggar aturan dan norma susila, meningkatnya keberingasan). Kedua, Etika dalam kehidupan budaya dan sosial meluntur (menipisnya sikap hormat kepada orang tua, guru, dan warga senior lainnya, meningkatnya kejahatan dengan kekejaman). Ketiga, intoleransi menguat (maraknya benturan antarsuku, penganut agama). Keempat, tumbuhnya sikap inferior (sikap yang menempat-kan hal dari bangsa asing —utamanya, barat— lebih baik dari bangsa sendiri). Kelima, keinginan mendapat kemewahan dan kenikmatan dengan mudah, cepat, dan berlebih (lebih senang meminta, menuntut, dan korupsi). Keenam, etos kerja yang lembek/ lamban dan produk-tivitas rendah. Ketujuh, kecenderungan senang mengelak dari tanggung jawab dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain. (halaman 6 (opini), Kompas, 20 Oktober 2015).

Terkait pendapat di atas, tentunya kita tidak berkeinginan kaum muda kehilangan jatidiri, ketidak mapanan kepribadian dan utamanya ketidakjelasan karakter sebagai bangsa akibat pencermatan, pemahaman dan penafsiran yang salah atas kondisi kehidupan sosial (politik) masyarakat. Kita juga tidak berkehendak pengendapan nilai-nilai yang tidak selaras dan destruktif pada kaum muda kita. Oleh karenanya perlu upaya terus menerus melakukan upaya penguatan karakter bangsa pada kaum muda kita; mempersiapkan modal sosial yang baik bagi mereka sebab kunci keberhasilan suatu bangsa terletak pada modal sosial yang baik, yakni karakter yang bagus. Mengapa mesti mepersiapkan dan karakter seperti apakah yang di maksud ?

Kita tahu bahwa saat ini Indonesia sedang menjalani apa yang kemudian lebih dikenal dengan era bonus demografi, yaitu suatu peristiwa dimana usia produktif jauh lebih tinggi dibanding usia produktif. Dan, era bonus demografi itu sendiri hanya akan di-alami satu kali oleh kita (Indonesia). Dikatakan ‘bonus’ sebab jumlah proporsi usia produktif yang jauh lebih besar dari usia non-produktif merupakan ‘jendela kesempatan’ yang dapat mendorong bagi peningkatan perolehan pendapatan kotor negara yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti yang dialami oleh sejumlah negara yang telah berhasil memanfaatkan secara optimal peluang bonus demografi itu; diantaranya, seperti, Jepang, China, Singapura, dan Thailand.

Akan tetapi, meski jumlah usia produktif besar (banyak) belumlah merupakan jaminan bonus tersebut akan didapat. Ada yang berpendapat bahwa bonus demografi akan dapat diraih apabila keterserapan calon tenaga kerja tinggi. Artinya, ketersediaan lapangan kerja harus berbanding sejajar dengan jumlah calon tenaga kerja. Untuk Indonesia sendiri maka bonus demografi harus dilihat berdasarkan keseimbangan pertumbuhan usia produktif didaerahnya masing-masing, sehingga diperkirakan ada beberapa daerah (seperti NTT) yang tidak dapat menikmati kemanfaatan dari peluang bonus demografi.

Pendapat lain melihat bahwa persoalan bonus demografi bukan terkait dengan kependudukan dan kegiatan ekonomi (serapan pasar kerja) semata melainkan menyentuh juga aspek sumber daya manusia. Dasar pemikirannya adalah dengan potensi sumber daya manusia yang kurang mendukung maka hal tersebut tentu tidak akan mendorong secara optimal kegiatan ekonomi. Satu contoh, seperti disinggung di atas, selaras dengan pendapat BK, kelompok pelaku usaha cenderung berpendapat bahwa daya dukung sumber daya manusia indonesia lemah, atau etos kerjanya lembek. Jika itu inti persoalannya maka yang diperlukan adalah upaya penguatan karakter yang menompang kerberdayaan kompetensi, baik softskills maupun hardskills. Menurut hemat saya, dalam konteks ini maka karakter yang harus diperkuat pada bangsa kita sangat lekat bersentuhan dengan penguatan karakter integritas dan kebangsaan, mengingat keduanya memiliki pengaruh kuat terhadap pembentukan mental dan moral bangsa.

Sepenuhnya dipahami jika pembentukkan karakter, pada dasarnya, membutuhkan proses waktu yang cukup panjang. Untuk itu, diperlukan strategi dalam pendekatan yang akan digunakan; diantaranya, yakni melalui proses pembudayaan nilai-nilai tertentu yang dipandang dapat bergulir mempengaruhi nilai-nilai lainnya. Pendekatan pembudayaan ini diorientasikan untuk membangun lingkungan budaya yang mendukung terwujudnya lingkungan yang kondusif bagi proses penanaman dan pengendapan atau internalisasi nilai-nilai yang hendak diperkuat dalam kepribadian peserta didik, yakni nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab dan kepekaan sosial.

Pentingnya lingkungan budaya sebagai titik perhatian di dalam proses pembudayaan didasarkan pada premis bahwa perilaku dapat berubah apabila lingkungan berubah. Pernyataan tersebut merujuk pada pendapat dimana lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir seseorang, sedangkan perilaku merupakan cermin dari pola pikir itu sendiri. Namun implementasinya tidak sesederhana yang digambarkan pastinya mengingat terdapat beberapa faktor yang dibutuhkan untuk pencapaian keberhasilan pem-budayaan tersebut. Pertama, dukungan tatanan pergaulan, suasana kehidupan ber-masyarakat warga sekolah yang kemudian lebih kita kenal dengan lingkungan sekolah. Kedua, konsistensi penegakan peraturan dan ketentuan yang mengikat seluruh warga belajar. Ketiga, efektivitas peranan dan fungsi Kepala Sekolah sebagai perencana, pengoranisir, pelaksana, pengawasan, dan penilaian. Keempat, kompetensi profesional, kepribadian dan sosial pendidik dan tenaga kependidikan yang tercermin dalam perilaku, baik sebagai pribadi maupun kapasitas profesi. Kelima, kelengkapan fisik sekolah yang memenuhi kebutuhan dan mendukung bagi tumbuhkembang lingkungan budaya. Permasalahannya adalah bagaimana semua faktor-faktor tadi dapat disinerji-kan menjadi sebuah kekuatan bagi penguatan karakter peserta didik.

Substansi dari proses pembudayaan itu sendiri terletak pada pembiasaan dan pelatihan; pembudayaan sulit diwujudkan bila hanya bertumpu pada pendekatan teori. Mungkin kita sering dengan pepatah yang mengatakan ‘bisa karena biasa’; memang sejati untuk bisa memahami dan menguasai sesuatu dengan mahir perlu dilakukan terus menerus, dan itu hanya bisa didapat dengan melakukan pembiasaan. Adakah diantara kita masih ingat ketika baru memasuki sekolah (dasar), guru kita dengan tekun membiasakan kita untuk menulis huruf dengan baik ? rasanya mungkin sampai saat ini yakinilah jika tidak dibiasakan maka dipastikan kita tidak akan bisa menulis. Demikian pula dengan internalisasi nilai, ‘pembiasaan’ menjadi suatu keharusan. Orang tahu tentang disiplin, tentang jujur, dan lain sebagainya namun sekedar tahu dan tidak dibiasakan untuk melakukannya maka pengetahuan tentang itu semua tinggallah sebuah pengetahuan yang tak bermakna. Misal, tindakan mencontek. Mereka yang suka mencontek mungkin awalnya hanya sekedar mencoba dan ketika berulang terus menerus dilakukan maka jadilah seuatu kebiasaan yang disebabkan proses pembiasaan.

Disamping pembiasaan, proses pembudayaan juga membutuhkan pelatihan yang terjaga dan terus menerus sehingga apabila sudah terlatih maka alam bawah sadarnya akan otomatis bereaksi menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi; tanpa harus diperintah ataupun diawasi. Seperti juga latihan yang terkait dengan fisik, alam pikiran dan emosi juga harus ditempa melalui pelatihan rutin.

Kombinasi pembiasaan dan pelatihan dalam proses pembudayaan tersebut meng-arahkan proses pengendapan atau internalisasi nilai itu melalui mekanisme penumbuhan kesadaran, bukan semata bersandar pada penerapan ‘sanksi dan ganjaran’. Pada proses itu yang harapkan terjadi adalah pengendapan nilai tanpa ‘iming-iming’, bujukan baik berupa pujian dan ataupun hukuman. Sehingga, nilai-nilai yang dikehendaki dapat melekat menjadi satu kesatuan kepribadian keseharian.

Adalah sangat disadari bahwa keberhasilan penguatan karakter peserta didik sangat dipengaruhi pula oleh kondisi lingkungan budaya keluarga dan masyarakat. Akan tetapi bukan berarti pula pengembangan lingkungan budaya sekolah akan menjadi kesia-siaan. Yang kemudian perlu di cari adalah format bagaimana lingkungan budaya sekolah yang dikembangkan juga bisa menular dan mempengaruhi keluarga serta lingkungan masyarakat luas.…..

salam.