Celoteh

Mempertanyakan Integritas

MEMBONGKAR PENGHAPUSAN JEJAK

Dalam rahim sejarah akan melahirkan kehidupan dan kematian yang akan merekam kejadian, kondisi dan situasi. Rekaman manusia yang mampu menjadi ksatria dan manusia pecundang akan terpisah di dalam kitab kebajikan yang tersimpan dalam tubuh sang waktu dan dengan sendirinya rekaman itu akan terbongkar oleh manusia generasi penerusnya untuk di jadikan acuan dan pegangan hidup di dalam menjalani kehidupan.

Legenda tentang negeri hitam nan jauh itu mempunyai cerita kelam dalam rekaman sang waktu. Negeri hitam itu dahulu kala adalah sebuah negeri yang putih sehingga banyak orang asing mengatakan bahwa daratan dan lautannya adalah titisan dari negeri surga sehingga banyak sekali orang asing ingin menguasai dan memiliki kekayaan alamnya. Siapa yang akan menyangka bahwa negeri itu benar-benar terjajah dan di kuasai oleh pihak asing.

Di pinggir pesisir samudera hindia dimana daratannya di penuhi oleh beribu-ribu pohon kelapa yang hijau itu fikiranku terbawa oleh hembusan angin ombak samudera hingga diriku larut dalam imajinasi untuk membayangkan sesuatu hal yang di buat dari ketiadaan. Sebagai seorang pendatang di tanah yang belum sekalipun pernah di jamah, diriku menemui betapa sangat mahalnya arti senyum bagi pribumi yang menghuni dataran ini. Sudah satu bulan aku berada di tanah yang masih satu daratan dengan kepulauan jawa tapi berbeda bahasa. Hampir aku menemui sebuah keputus asaan untuk bisa mempelajari kehidupan yang ada di daerah ini.

“Ini yang namanya sebuah pemerataan pembangunan ketika kami membangun dua rambu suar  nelayan“. Jawaban yang aku sampaikan itu seakan-akan tidak berpengaruh terhadap para oknum yang menyeleweng. Seperti biasanya di manapun kami berada untuk membangun sebuah proyek Negara maka akan menemui oknum-oknum yang sama seperti yang kami temui di sini. Tak banyak memang uang yang akan di keluarkan kami untuk jatah premanisme oknum dalam menjamin kelancaran pekerjaan ini. Fikiranku begitu sangat kacau kenapa budaya premanisme ini di budayakan hingga sampai daerah terpencil itu mempunyai budaya yang tidak patut di gunakan. “Apakah mereka bercermin pada layar televisi yang mempertontonkan kasus-kasus yang di buat oleh orang berdasi dan terhormat itu?”. Ucapku pada gurita yang masuk ke dalam keranjang para nelayan.

Udang Lobster yang sedang aku nikmati ini membawaku untuk dapat melihat dunia sebagaimana adanya, membuka lebar mata fikiran guna mencapai sekeping informasi tentang kehidupan masyarakat, tidak mengenal lelah untuk menemukan kebenaran atas pertanyaan yang ada di benakku kenapa tidak ada seuntai senyum pada wajah masyarakat yang ada disini?’.  Aku berupaya memperoleh pandangan yang jelas tentang realitas karena melalui hal itu para pemikir yang cerdas memperhatikan detai-detail yang mungkin sekali di abaikan oleh orang yang lain.

Dimanapun tempat penugasan kerja yang aku emban sebagai orang lapangan pasti mempunyai tanggung jawab nurani yang besar untuk bisa menyatu dengan adat istiadat setempat. Aku tidak akan memperlihatkan sikap lupa terhadap sebuah kejadian seperti masyarakat luas dan pejabat pemerintahan negeri  hitam yang selalu mengabaikan sebuah peristiwa sejarah yang patut di kenang dan di ambil hikmahnya. Terkadang kepalaku ingin aku benturkan kepada batu karang samudera hindia ini ketika ingat bagaimana naifnya orang yang menjabat pemerintahan pada negeri hitam itu begitu khidmat mengikuti upacara peringatan sebuah sejarah yang pernah tercatat dalam kelender nasional. Bukan sebuah keanehan apabila di negeri hitam itu pejabat pemerintahannya terperangkap dalam kasus korupsi, kolusi dan nepotisme hingga akhirnya hidup di bui. Banyak senyum yang di perlihatkan kepada para pejabat yang terlibat dalam sebuah kasus hukum ketika kita melihat mereka di boyong ke penjara melalui layar televisi, seakan-akan mereka tidak mempunyai dosa apapun atas apa yang telah di perbuatnya. Sepertinya jika melihat banyak dari para oknum, pejabat, pemimpin dan penguasa yang masuk bui maka pada saat ini di negeri hitam itu maka bisa di katakan bahwa tidak ada seorangpun yang menganggap serius sebuah peringatan sejarah bahwa negeri hitam yang di huni oleh mereka dapat merdeka dan terlepas dari penjajahan di karenakan melalui perjuangan yang banyak menghilangkan nyawa, air mata dan darah.

“Hidup di negeri hitam ini memang sungguh menakutkan. Lebih baik bertemu dengan rajanya setan yang paling mengerikan daripada menemui manusia yang mempunyai jabatan di pemerintahan. Pejabat disini lebih sangat menakutkan daripada setan”. Ucap bermacam-macam ikan yang masuk perangkap jala para nelayan.

Betapa pentingnya peran persepsi dalam proses berfikir yang jeli dan tajam untuk merangkai sebuah fakta melalui kata-kata para saksi sejarah dan bukti nyata yang tertinggal berupa penginggalan-peninggalan benda yang menyimpan tragedi yang pernah terjadi di negeri hitam itu. Hati, jiwa dan fikiranku begitu tak berdaya, ke dua mataku benar-benar mendung, aku berusaha tegar dalam segenap kesedihanku untuk menghibur hati mereka yang lara dengan berguman “Ketika kalian mengatakan kepadaku sudah terbiasa dengan ketidak adilan maka kini biasakanlah kalian untuk biasa dengan keadilan. Ketika kalian berguman untuk apa  kementerian kehakiman ada jika hukum mandul maka kini jangan mandulkan keberanian kalian untuk menegakan keadilan”.

Jangan mengembangkan kebencian yang mendalam terhadap negeri yang kalian huni ini wahai penduduk negeri hitam. Jangan lanjutkan ingatan-ingtan kalian apabila ingin menyudahi kelanjutan kengerian atas perilaku ketidak adilan yang pernah kalian dapatkan dari para penguasa dahulu. Mari senantiasa kita bersama-sama memupuk harapan suci agar pejabat dan penguasa negeri hitam yang kalian huni itu mempunyai fikiran cerdas sebelum bertindak, tidak menyusun suatu kasus bila suatu tuduhan tidak berhasil dalam mendakwakan kalian sebagai masyarakat miskin untuk menjadikan tersangka atas apa yang tidak kalian perbuat hingga membuat mereka tidak akan lagi membuat tuduhan-tuduhan lain lagi ketika menyuarakan keadilan dalam menjalani kehidupan.

Lanjutkanlah itikad baik kalian yang senantiasa ingin menyuarakan keadilan untuk mencegah para pejabat, penguasa dan pemimpin negeri hitam yang kalian huni ini agar mereka tidak lagi mempunyai sebuah kemampuan untuk melanggar hukum serta peraturan dengan kebal hukum, jangan biarkan para penguasa, pejabat, pemimpin dan pemerintahan negeri hitam itu menggunakan alat pemerintahan bagi kepentingan diri mereka sendiri.

Kini mulutku benar-benar bisa merasakan enak dan lezatnya rasa udang lobster super yang hanya mampu di beli oleh mereka yang kemungkinan banyak melakukan sebuah korupsi. Melalui nelayan baik yang aku temui dengan tidak harus mengeluarkan uang yang mencapai satu juta perkilo gramnya dalam membeli udang lobster super segar, fikiranku di ajak melalang buana dan menemukan sebuah kalimat ketika sedang mengunyah lobster mahal ini, “ Jangan percaya sedikitpun dalam masalah hitung menghitung apalagi masalah memberi kepercayaan dalam menghitung uang kepada orang, pejabat, penguasa, pemimpin maupun oknum pemerintahan di negeri hitam ini jika kalian tidak ingin celaka dan merugi.

Semoga negeri hitam itu kelak akan menemukan pemimpin, pejabat, penguasa dan oknum pemerintahan yang mengedepankan prinsip kebenaran, kejujuran, ilmu pengetahuan, cerdas, memiliki intelektualitas tinggi, komunikatif dan professional agar negeri hitam itu berubah kembali menjadi negeri putih. Lamunanku tersadarkan ketika melihat nelayan yang baik hati itu kembali melaut mencari lobster dengan menggadaikan nyawanya di atas pelampung yang terbuat dari ban dalam truck fuso, gelombang besar ombak samudera hindia yang terkadang mencapai puluhan meter itu tidak menyurutkan nyalinya untuk tetap mencari rejeki yang halal.

***