Opini

Menatap Hari Esok

MENATAP ESOK HARI

Joko Rahardjo *)

Generasi Seperti Apa Yang Hendak Di Cetak Negeri Ini ?”.

Masyarakat dan generasi penerus negeri ini di hadapkan pada sebuah realitas yang terjadi di lingkungan sekitar kehidupannya bahwa kejujuran tidak bisa di pertahankan namun kemunafikanlah yang justru terus di pelihara. Pemandangan inilah yang merusak pemikiran generasi muda penerus negeri ini jika mereka terus-menerus melihat orang-orang yang lebih tua memperlihatkan tingkah lakunya seperti ini. Masyarakat hampir mengetahui bahwa pemimpin dan pemerintahan sangatlah sukses ketika memproduksi sebuah harapan akan tetapi belum banyak menghasilkan bukti-bukti yang mengisi karung-karung harapan. Padahal hidup adalah sebuah tindakan yang nyata terlihat, terdengar dan teralami. Hidup itu bukan kata-kata yang indah, manusia tidak akan sembuh dari penyakitnya dan masyarakat tidak akan kenyang dari laparnya jika hidup dari kata-kata.

Setelah negeri ini merdeka dari penjajahan maka musuh setelah kemerdekaan adalah kemiskinan. Untuk membangun karakter bangsa tidak bisa hanya dengan membangun karakter anak-anak atau pemudanya. Tetapi yang paling terpenting dan yang paling utama harus dengan memperbaiki system berbangsa dan berbangsa yang sebenarnya di dalamnya justru lebih banyak di perankan oleh mereka yang tua dan pemimpin negeri ini. bagaimana generasi penerus negeri ini akan menjadi baik jika para pemimpin dan panutannya memperlihatkan sesuatu yang tidak baik ?”. Disinilah muncul di depan kita sebuah masalah pemikiran keilmuan yang memisahkan antara pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang salah.

Manusia adalah factor penting dalam menciptakan kehidupan yang baik. Namun sebaik-baiknya system modern atau konsep baru yang ada jika manusianya sendiri tidak baik maka kehidupan tidak akan berubah menjadi baik. Manusia modern bukan saja kaya materi tetapi juga kaya pemikiran dan wacana. Mereka mengkonsumsi pemikiran dan wacana sebagaimana mereka mengkonsumsi makanan. Jangan sampai kita melihat mereka mereka memuja-muja apa yang telah mereka kecam kemarin, begitu sebaliknya tanpa ingat akan besarnya pertentangan yang mereka lakukan. Kita harus mulai sadar diri sekarang bahwa masyarakat kita yang modern itu hanya mengkonsumsi segala sesuatunya secara berlebihan, bahkan dalam bidang pemikiran mereka mengkonsumsi tanpa perhitungan, tanpa kenangan dan tanpa keinginan untuk maju. Negara ini tidak akan pernah bisa berubah menjadi mandiri jika hanya ada satu atau dua orang saja yang mandiri. Kita semua sebagai masyarakat harus bisa menyatukan pola piker bahwa Negara kita yang kaya raya ini mampu untuk di kelola menjadi bangsa yang mandiri dengan tidak mengekor bangsa-bangsa yang telah maju.

Generasi Unggul

Di dalam setiap pergantian pemerintahan yang terjadi lima tahun sekali maka kita akan di hadapkan oleh kebijakan-kebijakan baru dari pemerintahan yang memenangkan percaturan politik. Perlu kita ketahui bahwa Kebijakan memainkan peran yang sangat menyolok di masyarakat. Kebijakan akan menimbulkan suatu tatanan sifat kepribadian yang baru dan karakter-karakteristik tertentu yang ujung-ujungnya mempengaruhi identitas yang melibatkan kinerja, sifat, karakter dan hakikat dan sifat-sifat lainnya pada masyarakat.  Seharusnya sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan baru jangan pernah melupakan bahwa masyarakat mengharapkan pengakuan dan perhatian atas masalah-masalah yang sedang di alaminya. Masyarakat selalu sangat berharap ketika pemerintah mengembil kebijakan dan memutuskan sebuah keputusan harus benar-benar di landasi sebuah keikhlasan bukan di karenakan adanya unsur politik. Baik dan buruknya kebijakan birokrasi juga menjauhnya Negara dari kepentingan-kepentingan warga negaranya maka mengakibatkan masyarakat terpaksa berhadapan dengan system dagang dalam pertukaran jasa dan harta melalui perantara.

Lima belas tahun dari sekarang Negara ini akan mengalami Bonus Demografi. Dimana Bonus Demografi adalah usia produktif yang tinggi pada saat usia non-produktif rendah. Jika kita semua tidak memaksimalkan dan memperhitungkan dari sekarang maka apa yang akan terjadi pada negeri yang kita huni ini?”. Faktor yang bisa memanfaatkan peluang bonus demografi dengan baik adalah dengan memberikan pendidikan yang baik untuk generasi penerus negeri ini yang mana dalam dunia pendidikan jangan sampai menerapkan metode-metode ilmu pasti terhadap bidang kemanusiaan. Karena kalau iya maka berarti kita akan merubah manusia menjadi benda untuk mengungkapkan hukum-hukumnya. Pendidikan seharusnya membangun karakter dengan muatan pendidikan yang harus mampu membentuk karakter manusia yang mengarah pada kualitas diri.

Negara harus mempersiapkan untuk menampung keberadaan generasi muda yang terusir secara sosiologis dan politis oleh generasi terdahulu yang sejak sekarang dan seterusnya jumlahnya makin sedikit. Jangan sampai keberadaan kalangan muda yang sangat besar ini tidak mendapatkan perhatian dan kebutuhan-kebutuhan social dan fungsi-fungsinya terabaikan. Karena kalau generasi muda di sia-siakan maka mereka akan merasa frustasi dan terpojok saat menyaksikan realitas di lingkungan kehidupannya dan menyaksikan televise yang memperlihatkan kehidupan konsumeris, kemakmuran dan kemewahan. Sehingga individu atau masyarakat yang tuduk terhadap jaringan desakan ekonomi, sosiologis, politis akan menuntut mereka menggerakan seluruh kemampuannya dan mengikuti strategi-strategi perilaku yang bertentangan dengan akhlak berbangsa dan bernegara.

Apapun itu halnya bahwa Sebuah keberhasilan atau kegagalan akan mengalami sebuah proses sebab akibat. Mari kita jadikan bonus demografi ini sebagai anugerah yang besar bukan petaka dengan mencetak generasi-generasi unggul menjadi manusia yang berkarakter dengan identitas ciri yang mempunyai keinginan dan tujuan, sikap percaya diri, bertype pemimpin, berani ambil resiko, berinisiatif, mandiri, kreatif dan bertanggung jawab. Mari kita mensinergikan untuk selalu memahami kebenaran realitas dan mewariskan kebaikan kepada generasi penerus negeri ini agar negeri ini bisa mengoptimalkan keberadaan bonus demografi sebagai berkah dan anugerah untuk semuanya. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama membangun kesadaran melalui proses komunikasi di semua sektor lapisan masyarakat dan pemerintah agar bangsa Indonesia berjiwa besar di hadapan dunia internasional di dalam menghadapi bonus demografi.

*) Ketua KPBD Pekalongan, Jawa Tengah.

 

Post Comment