Opini

Mengapa Mesti Impor?

BERHARAP KETAHANAN PANGAN KEPADA GENERASI MUDA
Oleh : Asep Saefuddin *)

Asep Saefuddin2Di penghujung tahun 2014 Himpunan Mahasiswa Bioindustri Universitas Trilogi mengadakan suatu diskusi terbuka tentang kebijakan impor pangan. Peserta merupakan campuran antara mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas di Jabodetabek. Saya sebagai Rektor Universitas Trilogi merasa bahagia dapat membuka acara yang digagas murni oleh mahasiswa ini dengan pola kegiatan cukup sersan (serius tapi santai) berbentuk diskusi diselingi dengan alunan musik dari kalangan mahasiswa. Materi juga juga berbobot, yakni tentang seputar impor pertanian. Acara lebih substansial, tidak basa basi.

Saya memulai dengan sambutan apresiasi kepada mahasiswa yang peduli terhadap masalah pangan nasional ini. Persoalan pangan, saya tegaskan, adalah masalah sepanjang peradaban manusia yang tidak akan pernah pudar. Ciri utama kekekalan isu pangan ini dikarenakan tidak ada produk teknologi yang bisa menggantikan pangan. Masalah perut manusia ini tidak bisa digantikan oleh produk teknologi apapun yang bukan pangan. Memang teknologi sangat berperan dalam dunia pangan dan pertanian, tetapi bahan dasarnya tetap sesuatu yang tidak bisa digantikan. Food is not replaceable product. Produk-produk God Made (buatan Tuhan) seperti pangan itu hanya bisa dimodifikasi melalui teknologi (human made) tetapi tidak dapat dirubah secara mendasar.

Saya mencontohkan produk-produk teknologi seperti komputer, smart phone, dan produk-produk human made lainnya yang bisa menjadi usang dan tergantikan oleh produk-produk baru sesuai dengan perkembangan zaman. Tetapi jagung tetap jagung tidak bisa digantikan oleh e-corn (jagung elektronik) sebuah jagung buatan yang dapat kita makan. Kita bisa menikmati rasa jagung asli yang mengenyangkan dan fungsional terhadap kesehatan. Kalau pun ada perubahan, saya pikir tetap dalam koridor modifikasi, bukan perubahan total. Hal itu terjadi sejak zaman dulu dan di berbagai Negara, modernisasi hanya akan merubah tampilan, kandungan, atau bentuk. Tidak akan merubah esensinya. Intinya, buatan Tuhan bersifat abadi, buatan manusia bersifat temporer.

Mengapa Impor Pangan?

Acara dimulai dengan pancingan seorang dosen Universitas Trilogi yang mencoba lebih obyektif menghadapi persoalan impor ini. Produk pangan ini memang berkaitan dengan sumberdaya alam yang tetunya menjadi keunggulan komparatif. Secara umum, Indonesia patut bersyukur karena memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa. Produk-produk pangan baik untuk makanan pokok ataupun hortikultur, buah-buahan, dan perikanan tidak ada yang meragukan kekayaan Indonesia. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa produk pertanian yang secara alamiah tidak dapat bisa tumbuh sempurna di sini. Seperti gandum, misalnya, daya tumbuhnya di Negara kita tidak sebaik di Negara-negara Amerika Utara. Untuk keperluan industri pangan berbasis gandum ini, sudah barang tentu kita masih memerlukan impor. Saya pikir ini sangat wajar. Sama saja dengan industri coklat di Negara-negara Eropa yang bergantung pada pasokan bahan baku dari Negara penghasil coklat, termasuk dari Indonesia.

Pola saling pasok kebutuhan bahan dasar pangan ini saya lihat masih wajar. Persoalan muncul ketika ada ‘uang negara’ di balik impor. Tidak jarang, inilah yang menyebabkan tumbuhnya para pemburu rente (rent seeker). Keadaan ini sering menjadi praktek bisnis kong kali kong di Indonesia. Namun demikian, dengan keterbukaan pengelolaan pemerintahan (government governance), mafia pemburu rente ini akan semakin kecil ruangnya, bahkan lama kelamaan akan habis. Pada titik inilah impor bahan pangan akan menjadi ‘fair’. Hukumnya menjadi bagian dari bisnis yang berbasis pada azas saling menguntungnkan. Sejauh tidak merugikan rakyat dan mengkorup uang Negara, pola impor ini disinyalir masih wajar.

Masuk lagi ke persoalan diskusi, saya senang ketika ada seorang mahasiswa yang mempersoalkan impor untuk produk-produk yang mampu diproduksi di dalam negeri. Mereka sangat menyayangkan mengapa harus impor singkong, cabai, durian, garam, jahe, terasi, jeruk, ikan laut dan pangan lainnya yang sebenarnya tersedia diIndonesia. Mahasiswa juga mengeluh mengapa produk pertanian dalam negeri lebih mahal daripada hal yang sama dari luar negeri. Persoalan inilah yang harus dibongkar lalu dibenahi. Dimana letak kekacauan ini terjadi. Apakah di hulu, dalam proses agribisnis, ataukah di hilir? Ini adalah PR (Pekerjaan Rumah) pemerintahan Kabinet Indonesia Hebat, supaya Indonesia semakin hebat.

Manajemen Agribisnis Bersama

Salah seorang mahasiswa semester awal berpendapat bahwa salah satu persoalan pertanian di Tanah Air adalah ketidakberesan budidaya pertanian. Hasil amatannya selama di SMK Pertanian menunjukkan bahwa ketergantungan petani terhadap input sudah melewati batas. Pupuk buatan yang mulai marak diperkenalkan di awal tahun 70an, saat ini sudah menyebabkan kerusakan tanah. Penggunaan pupuk dan pengendalian hama-penyakit tanaman berbasis non-organik telah menyebabkan tanaman sangat tergantung kepada input luar. Daya tahan tanaman terhadap hama-penyakit menjadi sangat lemah. Pada saat yang sama, tanah yang terlalu sering diberikan pupuk buatan itu semakin keras dan tidak subur kembali. Efek ganda dari dalam dan luar tanaman ini telah menyebabkan mutu dan produktifitas pertanian menjadi turun. Mahasiswa ini berharap praktek budidaya pertanian harus dikembalikan ke pola sehat yang berbasis input organik.

Mahasiswa lain mulai mengajak untuk kembali ke pertanian secara benar. Teknologi memang perlu, tetapi harus dilakukan secara bijak. Dan yang lebih penting lagi adalah keterpaduan manajemen, termasuk manajemen lahan bersama. Produksi ada kaitannya dengan luas lahan. Bila luas lahan sangat terbatas dan dikelola secara sendiri-sendiri, sudah barang tentu hasilnya tidak akan optimum. Mahasiswa menyarankan sebaiknya dilakukan manajemen lahan bersama. Para petani di satu hamparan yang beredekatan berkumpul untuk menyatukan lahan agar dikelola secara bersamaan secara professional. Petani cukup bertindak sebagai pemegang saham berdasarkan surat kepemilikan tanahnya, sehingga di saat penjualan hasil panen, petani mendapat pembagian keuntungan sesuai dengan luas lahan yang dimilikinya. Petani itu sendiri bisa saja bekerja di korporasi usaha bersama itu, atau mengerjakan bisnis lain. Bagi yang bekerja di korporasi itu, selain dia mendapatkan keuntungan dari bagi hasil, juga akan mendapat gaji sebagai pegawai.

Kelebihan dari manajemen bersama ini banyak sekali, seperti perluasan lahan, efisiensi dan efektifitas pemupukan, mekanisasi pertanian, manajemen penggunaan air, sampai ke masalah pasar. Selain itu, manajemen dapat melibatkan tenaga muda untuk operasionalisasi kegiatan, pemasaran, pencatatan keuangan, dan kegiatan lainnya sehingga pertanian dapat dikelola secara professional. Tenaga muda ini dapat berasal dari para lulusan SMK Pertanian atau tenaga kerja yang akhir-akhir dipulangkan dari berbagai Negara. Manajemen dapat dipimpin oleh seorang sarjana pertanian untuk satu hamparan sekitar 100-200 Ha. Sehingga tidak ada lagi cerita sarjanapertanian hanya mampu bisnis bunga bank, bukan bunga sebenarnya.
Detil teknis dari gagasan manajemen bersama untuk optimasi pertanian ini memang panjang. Tetapi saya melihatnya semua itu dapat dikerjakan (doable), bukan merupakan sesuatu yang mustahil, bukan juga magik. Semuanya itu rasional serta ada unsur pemanfaatan sains dan teknologi. Dan ini dapat bekerjasama dengan fakultas-fakultas pertanian yang bertebaran di Indonesia. Para pemuda tidak perlu mencari nafkah di negeri jiran, cukup di Indonesia melalui agribisnis pertanian yang tidak akan pernah usai, sepanjang manusia masih perlu makan.

Penutup

Mendengarkan diskusi masalah pangan yang dikelola oleh mahasiswa Bioindustri ini, rasa optimism saya muncul kembali. Para mahasiswa semangat untuk menangani pertanian ini dengan baik berbasis sain dan teknologi. Pemerintah harus memanfaatkan kegairahan agribisbis ini sebagai bagian dari upaya mencapai kedaulatan pangan, memanfaatkan bonus demografi, menanggulangi persoalan tenaga kerja, dan implementasi agroekoteknopreneur. Kemudahan perijinan, akses ke perbankan, penyediaan bibit unggul, akses pasar dan semua aspek yang terkait agribisnis perlu terus dijaga supaya pertanian Indonesia ini berdaya saing. Insya Allah semuanya ini akan menjadi kenyataan, seperti kata pepatah Sunda “Mun keyeng tangtu pareng” atau dalam Bahasa Inggris “If there is a will, there is a way” atau Bahasa Arab “Man jadda wa jada”. Artinya, kalau kita serius, pasti tercapai. Aamiin.
*) penulis adalah Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika FMPIPA IPB

Post Comment