Opini

Mengubah Mentalitas

REVOLUSI MENTAL JELANG BONUS DEMOGRAFI
Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono *)

Sarlito WSIndonesia diprediksikan akan mendapat bonus di tahun 2020 – 2030. Bonus tersebut adalah Bonus Demografi, di mana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.

Bonus demografi ini merupakan peluang untuk Indonesia menyejahterakan rakyatnya sampai ke tingkat paling optimal, tetapi bisa juga merupakan ancaman yang akan membawa Indonesia kepada kebangkrutan yang paling parah. Kedua kemungkinan itu sangat bergantung dari mentalitas manusia-manusia Indonesia yang sehari-hari melaksanakan roda kehidupan di berbagai sektor, termasuk perekonomian, politik, sosial, kebudayaan, pendidikan, pertahanan, keamanan dan seterusnya.

Oleh karena itulah salah satu strategi penting pemerintah Jokowi-JK adalah revolusi mental. Mentalitas bangsa Indonesia harus diubah dari mentalitas yang kurang produktif, seperti korupsi, menjadi mentalitas kerja yang bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain di negara-negara tetangga, bahkan di dunia. Pertanyaan kita sekarang adalah: (1). Apakah mental itu, dan (2). Bagaimana mengintervensi mental itu supaya berubah kea rah yang kita kehendaki ?.

Apakah Mental ?

Istilah mental sering sekali dipakai dalam berbagai percakapan atau tulisan yang maksudnya adalah merujuk kepada kondisi kejiwaan tertentu, seperti sikap mental PNS, mental pahlawan, mental juara, mental disiplin, mental teledor dan sebagainya, termasuk juga gangguan mental yang dimaksud adalah gangguan jiwa.

Tetapi pengertian tentang jiwa ini memang sangat abstrak dan intangible. Sejak jaman para filsuf Yunani kuno (sekitar 4 abad sebelum Masehi) para filsuf (seperti Socrates, Plato dan Aristoteles), telah mencoba mendefinisikan dan mendeskripsikan konsep tentang jiwa ini yang kemudian diteruskan oleh filsuf-filsuf sampai abad Renesance (Rene Descartes, Francis Bacon dll) dan filsuf-filsuf yang lebih kemudian (John Stuart Mill, John Locke dll), sampai akhirnya lahir ilmu Psikologi di tahun 1879 dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman oleh seorang dokter bernama Wilhelm Wundt.

Bahwa psikologi justru dicetuskan oleh seorang dokter adalah karena memang sebelumnya, fenomena kejiwaan ini telah menarik para pakar ilmu faal dan kedokteran, dan mereka menelitinya dari sisi yang lain, yaitu dari sisi ketubuhan manusia. Sebelumnya para filsuf memang mensinyalir adanya hubungan antara jiwa dan badan, seperti misalnya yang oleh Hipocrates (Bapak Ilmu Kedokteran sedunia) tentang empat tipe temperamen manusia yang berhubungan dengan tubuh manusia. Karena itu, para ilmuwan sejak abad pertengahan sudah melakukan eksperimen-eksperimen sehingga menemukan perbedaan syaraf sensorik dan motorik (Bell & Magendie), perbedaan antara rflex dan tingkah laku (Marshall Hall) dan sebagainya, dan yang paling terkenal diantaranya adalah temuan pakar ilmu faal Rusia, bernama Ivan P. Pavlov (1849-1936).

Pavlov menemukan bahwa seekor anjing bisa dikondisikan refleksnya dengan memberi rangsangan tertentu yang diasosiasikan dengan reward tertentu. Anjing yang setiap kali diperdengarkan bunyi bel sebelum ia mendapat makanannya, lama kelamaan ia akan mengeluarkan air liurnya begitu mendengar bunyi bel, walaupun makanan belum ada. Proses belajar ini dinamakannya proses kondisioning, yang kemudian sangat mempengaruhi para peneliti di Amerika Serikat, sehingga lahirnya psikologi di AS yang dicetuskan oleh William James (seorang dokter juga) beraliran lebih kepada mempelajari prilaku (karena konkret dan tangible) ketimbang mempelajari jiwa seperti pakar-pakar di Eropa. Aliran psikologi yang saat ini paling terkemuka di AS adalah Behaviorisme, yang dipimpin oleh murid William James, bernama J.B. Watson.

Sementara itu di Eropa sendiri, studi tentang jiwa berkembang terus, sampai ke struktur yang paling dalam dari jiwa yang dinamakan unconsciousness. Aliran ini dinamakan psikoanalisis dan penganjurnya adalah seorang dokter psikiater Austria, bernama Sigmund Freud (1856-1939). Menurut Psikoanalisis, hampir semua prilaku manusia, terutama pada penderita gangguan jiwa, dipengaruhi oleh unconsciousness, yang berisi naluri-naluri bawaan sejak lahir dan trauma-trauma yang diperoleh pada masa Balita seseorang.

Dengan demikian, dalam dunia psikologi ada dua paradigm besar, yaitu aliran Eropa yang mempelajari jiwa dalam konstruk Mental yang abstrak, dan aliran Amerika yang lebih kongkrit, pragmatis dan terukur. Kelebihan pendekatan AS adalah lebih onjektif, dan karenanya dianggap lebih ilmiah. Sedang pendekatan Eropa dianggap subjektif, sehingga kurang ilmiah. Tetapi pengalaman dilapangan membuktikan bahwa teori-teori yang dikembangkan dari pendekatan objektif, seringkali mengurangi bahkan menghilangkan subjektivitas manusia, seperti mengabaikan keunikan individual, faktor emosi, motivasi, spiritual dsb. Karena itu dalam 30 tahun terakhir timbul aliran baru yaitu psikologi Indigenous (ulayat) dan psikologi lintas budaya, yang berusaha mempertahankan kedua sisi dari psikologi, yaitu objektivtas (ilmu) dan subjektivitas (manusa, sebagai objek).

Bagaimana mengubah mental ?

Dalam psikologi dikenal suatu kostruk yang disebut ‘sikap’ (attitude), yaitu suatu ekspresi tentang suka atau tidak suka terhadap orang, tempat, benda atau kejadian (objek sikap). Jadi sikap inilah yang menentukan seseorang untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, berbuat mendekati, ingin memiliki, atau dengan semangat tinggi (sikap positip), atau sebaliknya. Orang yang bersikap positip pada korupsi, misalnya, akan melakukan korupsi jika ada kesempatan, sedangkan orang yang bersikap negative pada korupsi akan menghindari korupsi sejauh mungkin.

Sikap itu sendiri mengandung tiga domain, yaitu Kognitif (pengetahuan, memori, pengalaman dll tentang objek sikap), Afektif (perasaan suka atau tidak suka terhadap objek sikap) dan psiko-motorik (perbuatan mendekati atau menjauhi objek sikap). Biasanya ketiga domain itu sambung-menyambung. Orang yang tahu korupsi itu jahat, merugikan rakyat dll (kognitif), akan tidak suka pada korupsi (afektif) dan akhirnya menghindari korupsi (psikomotorik).

Pendekatan psikologi mazhab Eropa untuk merubah prilaku, selalu berawal dari domain kognitifnya dulu (melalui pendekatan pendidikan akhlak, budi perkerti, agama dsb untuk meningkatkan pengetahuannya dan mengubah kepercayaannya), baru kemudian lambat laun akan mengubah afeksi dan prilaku bersangkutan. Inilah yang antara lain menyebabkan Restorasi Meiji (1868-1912) berhasil menanamkan semangat Bushido yang sudah mengakar sejak ratusan tahun sebelumnya ke dalam mentalitas bangsa jepang sampai sekarang. Selama periode restorasi tersebut Kaisar Meiji melarang hubungan seluruh bangsa Jepang dengan bangsa lainnya untuk menghindari kontaminasi budaya lain terhadap adat isitadat Jepang. Sementara itu ia mengirimkan pemuda-pemuda terbaik Jepang ke luar negeri untuk belajar ilmu yang paling modern dan membawanya pulang ke Jepang dan mengembangkannya sehingga Jepang menjadi negara yang kuat secara militer (pada PD II) dan ekonomi (pasca PD II).

Tetapi pendekatan Eropa ini bisa makan waktu terlalu lama dan sulit diterapkan di Indonesia yang sudah terlanjur bermentalitas seperti yang disampaikan oleh Muchtar Lubis. Pengalaman selama Indonesia merdeka, belum ada kemajuan yang signifikan terhadap pemberantasan korupsi, misalnya, sejak Kemerdekaan Indonesia 1945, walau setiap rejim pemerintahan sudah membuat lembaga anti korupsi dan mengganti pendidikan budi pekerti (yang dianggap sudah tidak efesien) dengan pendidikan agama (yang ternyata lebih tidak efesien lagi). Bahkan kecenderungan yang muncul adalah munafikisme (sinyalemen pertama dari Muchtar Lubis), yang dimungkinkan kognisi (pengetahuan tentang korupsi) bisa mendorong kepada sikap ambigu (korupsi itu buruk, merugikan, tetapi korupsi itu enak dan tidak ada salahnya karena banyak orang yang melakukannya), maka muncul dua prilaku (psikomotorik) yaitu prilaku normative anti korupsi (biasanya dalam bentuk verbal) dan prilaku pragmatis yaitu berkorupsi (dalam bentuk prilaku riil).

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan berbagai upaya pemerintah yang berhasil mengatur prilaku birokrasi dan masyarakat kea rah yang lebih baik. PT Kereta Api Indonesia, misalnya, berhasil menertibkan penumpang yang tidak disiplin, PKL yang berdagang sembarangan dan oknum-oknum pegawai kereta api sendiri yang menyalahgunakan wewenangnya untuk masuk kantong sendiri. Pemda DKI di bawah Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok berhasil menertibkan Pasar Tanah Abang dan pemukiman liar dalam waktu singkat, para pegawai yang tidak patuh langsung di-staf-kan dan seterusnya. Intinya adalah bahwa perubahan-perubahan itu langsung dilaksanakan di domain perilaku itu sendiri, tanpa berlama-lama berusaha di domain kognitif dan afektifnya. Asumsinya adalah dengan teori Pavlov, manusia bisa dikondisikan untuk berperilaku tertentu setelah diberi rangsangan (reinforcement) tertentu juga. Lama kelamaan, kalau terus menerus diulang prilaku itu akan menjadi kebiasaan (habit) dan kebiasaan lama kelamaan akan diinternalisasikan menjadi pengetahuan, kesadaran atau keyakinan. Dengan perkataan, keberhasilan pemerintah/Pemda/BUMN yang sudah terbukti selama ini adalah dengan menggunakan pendekatan mazhab AS.

Keberhasilan mazhab AS tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa manusia itu pada umumnya adalah mahluk penurut, yang bisa diarahkan seperti bebek-bebek yang otomatis mengikuti jalannya bebek terdepan. Bebek terdepan diarahkan oleh gembala, yang disebut sontoloyo (jawa) dengan menggunakan sebatang tongkat bambu panjang yang diujungnya diberi rumbai-rumbai. Dalam kasus bangsa, masyarakat atau massa, tergantung pimpinannya (amalogi: sontoloyo) kemana bangsa ini akan di bawa. Sejarah telah membuktikan bahwa seorang Hitler, sendirian, bisa membawa bangsa Jerman menjadi bangsa yang paling disegani dan ditakuti menjelang PD II, dan Bung Karno telah membuat bangsa Indonesia mampu Ganefo (Games of New Emergency Forces) hanya setahun setelah penyelenggaraan Asia Games sebelumnya dan merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda yang persenjataannya jauh lebih kuat pada tahun yang kurang lebih sama (1962). Semua hanya mengandalkan kewibawaan satu orang.

Di sisi lain, sejarah juga telah membuktikan bahwa ketika sang pemimpin sudah meninggalkan posnya, keadaan bisa berubah lagi, bahkan mungkin lebih jelek dari kondisi sebelumnya. Itulah sebabnya maka kita tidak hanya harus fokus kepada proses perubahan prilaku yang quick yielding, melainkan juga harus mengupayakan perubahan mental melalui upaya-upaya yangkan panjang (program pendidikan tepat guna, pendidikan agama yang lebih menekankan kepada hubungan manusia dll).

Kesimpulan.

Ada dua kutub yang perlu digarap pemerintah dalam rangka mempersiapkan mentalitas manusia Indonesia dalam menghadapi Bonus Demografi, agar bangsa Indonesia mendapat hasil yang optimal, yaitu kutub prilaku untuk memperoleh hasil cepat (efesien) dan efektif, untuk agar manusia Indonesia siap menghadapi bonus demografi tahun 2020-2030 (yang tidak akan terulang lagi), dan yang kedua adalah kutub sikap mental, yang merupakan tujuan jangka panjang untuk mempersiapkan manusia-manusia baru yang berkarakter pemimpin dan bisa mempertahankan keunggulan bangsa Indonesia sampai batas waktu selama mungkin.

Di samping itu perlu diperhatikan pendekatan psikologi lintas budaya khusus buat bangsa Indonesia yang multietnik ini. Pengalaman Amerika Serikat mempraktikkan pendekatan objektif semata terbukti tidak berhasil memenangkan operasi-operasi perangnya sejak pasca PD II, baik di Korea, Vietnam maupun sekarang ini di Afganistan dan Irak.

*) bahan pemaparan Sarlito Wirawan Sarwono di diskusi terbatas bonus demografi, hotel Bidakara, tanggal 03 November 2014.

Post Comment