Opini

Merubah Pola Pikir

PERUBAHAN POLA PIKIR MENYONGSONG BONUS DEMOGRAFI

Pendahuluan

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar pembahasan mengenai bonus demografi. Topik ini memang sangat menarik karena pada saat ini kita sedang mengalaminya. Definisi akademik yang diberikan beberapa ahli mengatakan bahwa bonus demografi adalah semakin banyaknya manusia dengan usia produktif dibandingkan dengan yang tidak produktif, dengan demikian tercipta secara keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) sebagai hasil penurunan fertilitas jangka panjang (Wongboonsin, 2003).

Di Indonesia, fenomena bonus demografi terjadi karena keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang dilaksanakan oleh pemerintah selama berpuluh tahun sebelumnya sehingga mampu menggeser struktur piramida kependudukan di Indonesia dari penduduk berusia di bawah 15 tahun yang semula berjumlah lebih besar ke penduduk berusia lebih tua atau usia produktif (15-64 tahun). Pendapat tersebut disampaikan oleh Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D dan Prof. Dr. Haryono Suyono dalam berbagai kesempatan.

Haryono Suyono, lebih menekankan pada program pembangunan berkelanjutan, melalui intervensi terpadu yang berpihak pada keluarga sederhana serta ajakan kepada kelompok masyarakat menengah ke atas untuk secara aktif peduli dan terlibat dalam pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi, karena ukuran keberhasilan intervensi adalah partisipasi penduduk utamanya dari kelompok usia muda. Untuk mensukseskan bonus demografi diperlukan upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan, peningkatan peran perempuan, menurunkan kematian anak, memperbaiki kesehatan ibu, mencegah penyakit menular, bersahabat dengan lingkungan, membangun kemitraan global, membangun komitmen politik, membangun jaringan kota desa dan memberikan perhatian pada generasi lansia.

Tantangan bagi Generasi Muda

Tantangan generasi muda dewasa ini lebih kompleks, karena mereka diperhadapkan dengan persaingan yang semakin keras dan ketat. Dalam hal ekonomi, sebagian besar dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup layak, tidak memiliki biaya untuk sekolah, akhirnya banyak yang menganggur. Bagi yang telah lulus dari dunia pendidikan mengalami persaingan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan dalam kenyataannya banyak diantara mereka yang gagal, bekerja serabutan atau memasuki sektor informal. Mereka tidak mampu bersaing dengan sesama rekan apalagi dengan tenaga kerja asing. Dari segi sosial, mereka cenderung berlomba tampil menjadi pusat perhatian, melalui kendaraan, gadget, makan di tempat makan yang “wah”, dan lainnya.

Perubahan Pola Pikir

Dari semua tantangan tersebut, perlu ada perubahan pola pikir, yang diarahkan pada upaya pengembangan karakter generasi muda sebagai pemilik masa depan bangsa. Pola pikir yang perlu diubah adalah yang berkaitan dengan cara kita memandang persoalan yang berkaitan dengan bonus demografi. Bonus demografi perlu dipahami dengan baik agar benar-benar bisa menjadi bonus apabila bisa dimanfaatkan dengan baik dan benar, namun jika sebaliknya, maka akan menjadi malapetaka demografi.

Usaha untuk mengembangkan karakter generasi muda di masa depan adalah suatu keniscayaan sesuai dengan tantangan yang dihadapi, dan selayaknya hal ini menjadi agenda nasional yang melibatkan semua pihak. Tanpa upaya pengembangan karakter generasi muda, akan sangat sulit bagi mereka untuk menghadapi masa depan dengan baik. Untuk itu yang pertama dilakukan adalah membuat kesepakatan atau konsensus nasional bahwa bonus demografi adalah agenda semua elemen bangsa. Kedua, semua program pemerintah diarahkan pada pembentukan karakter generasi muda dan membangun kemitraan dengan berbagai lembaga yang memiliki kompetensi pada hal tersebut.

Ketiga, para pelaku pendidikan melalui Kementerian Pendidikan Nasional maupun jajarannya, agar memiliki pemahaman dan concern yang tinggi terhadap bonus demografi demi pembentukan masa depan generasi muda. Upaya pendidikan bukan hanya sekedar mencetak generasi yang pintar secara akademik, namun juga harus matang secara emosional dan spiritual. Jadi keberhasilan dalam kehidupan bukanlah sekedar karena mendapat nilai akademik yang bagus, namun yang utama harus juga memiliki karakter yang tangguh untuk mengarungi kehidupan. Penulis menyarankan agar para pendidik serta peserta didiknya menonton film “Soedirman”, yang menunjukkan betapa pentingnya membangun karakter yang tangguh, memiliki visi yang jelas, berintegritas, jujur, loyal, berdedikasi, bertanggung jawab, tegas, tidak mudah putus asa, berani mengambil risiko dan setia kawan yang tinggi.

Ke-empat, agar dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang diorientasikan pada pengembangan karakter generasi muda dengan baik dan benar. Begitu pula LSM/ormas untuk melakukan pembenahan diri agar dapat memberikan sumbangan yang nyata dalam menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan karakter generasi muda. Ke-lima, selayaknya para orang tua mengubah rumusan keberhasilan anak-anaknya di dalam mengikuti program pendidikan. Paradigma agar anaknya mampu meraih kekayaan dan status sosial yang baik dengan bekerja tidaklah cukup untuk memajukan bangsa, namun harus bisa juga berkontribusi terhadap negara dan bangsa.

Terakhir, perubahan pola pikir juga perlu dilakukan oleh para peserta didik selaku generasi muda itu sendiri. Selayaknya generasi muda melakukan perubahan pola pikir sejak dini. Mereka perlu mengetahui bahwa globalisasi bukan saja bisa membuat mereka bisa berkomunikasi dengan gadget dan menikmati berbagai fasilitas teknologi informasi, namun globalisasi juga bisa membawa dampak negatif. Mereka harus dapat memanfaatkan dampak positif globalisasi, antara lain menjadi wirausaha dengan memanfaatkan internet sekaligus memperluas pergaulan secara global dan lainnya. Untuk itu perlu dibangun kesadaran mengembangkan dan menerapkan karakter tangguh sebagaimana dimiliki oleh Jendral Sudirman, sehingga mereka tidak akan terlindas begitu saja oleh oleh globalisasi tetapi justru mereka bisa “menaklukkan” globalisasi.

Pengembangan Karakter yang Bagaimana?

Dalam pengembangan karakter diperlukan kemampuan kognitif atau kepintaran, afektif (merasa) dan motorik (pergerakan tubuh). Sayangnya di dalam dunia pendidikan kita lebih mementingkan kemampuan kognitif, akibatnya mulai dari pendidik hingga para orang tua sering terjebak tentang bagaimana cara meningkatkan kemampuan kognitif ini. Pengembangan karakter bisa dilakukan melalui bacaan dan tontonan. Bacaan yang memuat cerita-cerita orang-orang sukses, misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Steve Jobs, Bill Gates dan lainnya tentang keberhasilan mereka dalam mengarungi tantangan kehidupan di era mereka masing-masing. Cara lain dengan membangun pengalaman praktis, dengan mencoba pengetahuan yang diperoleh dari sekolah dan pelatihan atau bimbingan dari orang-orang sukses akan dapat mengembangkan dirinya menjadi sukses.

Untuk mengembangkan karakter dibutuhkan pengetahuan teoritis sekaligus pengalaman. Dalam Forum Diskusi Bonus Demografi dengan generasi muda yang dilakukan oleh Pokja Bonus Demografi beberapa waktu lalu, kebanyakan dari peserta mengembangkan dirinya melalui upaya coba-coba, namun dilandasi dengan karakter kepeloporan dan visi yang jelas. Daniel Goleman (2006) menyatakan selain IQ (Intelligence Quotion), diperlukan juga Emotional Intelligence (EI) sebagai kecerdasan emosional, karena unsur EI terdapat di dalam sikap, dengan sikap yang baik akan mencerminkan adanya “kemampuan merasa” yang baik yang membuat seseorang berhasil.

Berdasarkan ajaran dari Jenderal Sudirman, maka karakter yang perlu dibangun terdiri atas kompetensi mengembangkan visi berani mengambil risiko (strategic orientation), memiliki integritas (integrity) sifat tegas (self-confidence), tidak mengenal kata menyerah (flexibility), dan setia kawan (team work and coodination), melalui pelatihan coaching and counseling (untuk kompetensi integrity, self-confidence dan flexibility) untuk para pimpinan organisasi dan generasi muda, sedangkan mengembangkan visi, strategic orientation dan team work and coordination bisa dikembangkan melalui program pelatihan untuk generasi muda.

Penutup

Untuk dapat membangun bangsa di masa depan tidak ada kata lain selain melakukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan bonus demografi, terutama pengembangan karakter generasi muda. Untuk tujuan tersebut penulis berharap agar semua pihak baik pemerintah, pengusaha, para pendidik, LSM, ormas dan terutama orang tua dapat mau melakukan perubahan pola pikir untuk bekerjasama guna menjalankan program-program sejenis. Penulis juga berharap semoga dengan adanya Yayasan Bhakti Bangsa dapat mempelopori adanya program-program tersebut dengan dukungan masyarakat luas.

Demikian tulisan ini dibuat, semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua guna membangun generasi muda di masa depan sehingga memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga!

Referensi:

1. (Wongboonsin, Kua, Population And Human Resource Development, Bangkok, Chulalongkorn University Printing    House, 2003).
2. Daniel Goleman, (Emotional Intelligence, A Bantam Book, New York, 2006).

*) Pengamat masalah bonus demografi dan dapat dihubungi melalui hendra.koesnoto@yahoo.co.id