Opini

Modal Sosial Bangsa Indonesia

SEMANGAT KEBERSAMAAN SEBAGAI MODAL SOSIAL BANGSA INDONESIA

Judul tersebut mencoba mengangkat potensi tersembunyi bangsa ini, yang bukan semata pada modal sumber daya manusia (human capital), sumber daya alam (natural capital) atau sumber daya ekonomi (economic capital), namun lebih pada nilai-nilai budaya turun temurun yang tetap terpelihara, yang akan lebih dahsyat kekuatannya jika teroptimalisasi dalam fungsi dan perannya secara sistematis, sehingga menjadi modal sosial yang signifikan dengan kebutuhan bangsa. Modal sosial tersebut, yang melekat di dalamnya manusia dengan segala aktifitas sosialnya, akan menjadi satu kesatuan dengan segenap potensi alam yang kita miliki dan itu akan menjadi sumber daya (resources) bangsa Indonesia yang tiada tara.

Modal sosial atau social capital oleh sebagian besar negara diyakini sebagai investasi untuk mendapatkan sumber daya baru guna menggerakkan kemajuan melalui kebersamaan, menumbuhkan kepercayaan dan mengembangkan ide-ide positif yang saling memberikan manfaat bagi kepentingan bersama. Hal tersebut dapat terbangun dalam suatu kelompok sosial yang antar anggotanya dapat saling memelihara dan mengembangkan nilai-nilai positif, membangun jaringan kerjasama yang saling menguntungkan serta saling percaya satu dengan lainnya. Dalam perannya, modal sosial berfungsi memperkuat kehidupan masyarakat dengan segenap aspek terkaitnya seperti aspek budaya, ekonomi, hukum, sosial dan politik. Dengan demikian, akan terbangun semangat kebersamaan untuk keluar dari permasalahan kehidupan menuju kesejahteraan bersama, yang didasari atas keyakinan akan nilai-nilai atau norma-norma bersama dalam jalinan kerjasama suatu kelompok atau antar kelompok masyarakat.

Bangsa Indonesia memiliki kebiasaan yang terpola sedemikian rupa, yang mengandung unsur-unsur potensi modal sosial, yang berasal dari kebiasaan turun temurun, antara lain: adanya sifat saling percaya satu dengan lainnya, baik antar individu maupun antar kelompok yang saling berhubungan erat dan bersatu padu dalam kerukunan warga; cenderung mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri; memiliki sifat dan perilaku untuk membantu orang lain dan melakukan sesuatu pekerjaan untuk kepentingan bersama; dan terbiasa membangun Jaringan dan kolaborasi sosial, baik di dalam kelompok sendiri maupun di luar kelompoknya dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan bersama.

Modal sosial menjadi semacam energi penggerak yang sangat besar perannya dalam mendorong atau bahkan memperlambat lajunya suatu kemajuan. Unsur-unsur dalam kebiasaan kelompok manusia Indonesia tersebut tetap memiliki dua makna, yakni: kebersamaan untuk bergerak mengejar kemajuan zaman melalui penguasaan teknologi dan di sisi lain kebersamaan tersebut juga mampu membentengi nilai-nilai budaya luhur dari terjangan arus kemajuan peradaban yang kadang kerap tidak peduli dengan filosofis dasar kehidupan semesta, yakni tetap menjaga dan memelihara keseimbangan, sebagaimana konsep ‘yin – yang’ dalam filosofis Thionghoa, atau disparitas ‘siang-malam; gelap-terang; getah-getih; dan lain sebagainya.

Keseimbangan ini oleh para tetua kita di waktu lampau senantiasa dijaga dan dipelihara dalam balutan nilai-nilai kebijakan (local wisdom – local genius). Manusia dan lingkungan tidak saling menguasakan, manusia tidak harus mengeksplorasi alam untuk kepentingannya semata, namun juga harus demi kepentingan alam itu sendiri. Ketika kita memetik pucuk daun singkong untuk disayur atau lalapan, tidak semata karena kita butuh daun tersebut untuk dimasak, tapi juga untuk membantu mempercepat pembesaran umbi singkong dibawahnya. Leluhur kita sangat tahu mana pohon yang harus ditebang, kapan ikan di sungai harus ditangkap, berapa batas maksimal bahan tambang boleh digali dan diangkut, kenapa daerah aliran sungai tidak boleh dirubah, mana saja areal yang boleh dijadikan pemukiman, mana yang untuk pertanian, peternakan dan usaha lainnya. Kesemuanya itu dapat berjalan dengan tertib karena adanya hubungan antar individu dalam kelompok yang patuh dengan pimpinannya yang bijak dan antar kelompok juga terjalin kerjasama yang harmonis, sehingga semua kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik.

Modal sosial plus dengan nilai-nilai kebijakan lokal yang sangat akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia, baik antar individu maupun komunitas (paguyuban atau patembayan), kadang berjalan dalam ritme yang konstan dan linier tanpa penambahan bobot yang lebih nyata dan kreatif guna peningkatan manfaatnya. Terkadang kebersamaan yang masih terjalin terbatas hanya sekedar menjaga tradisi yang telah berlangsung lama, namun terasa kering dari makna dan hakekat kebersamaan itu sendiri. Untuk itu kebersamaan yang mendasari terbentuknya modal sosial tersebut, harus bernas dan memberi warna sebagai suatu komitmen moral untuk berbuat yang terbaik demi hal yang baik. Oleh karenanya kelompok-kelompok masyarakat sebagai bagian dari modal sosial tersebut, harus mampu membangun jaringan hubungan sosial yang saling berdampingan dan dilakukan secara sukarela, berlandaskan prinsip kesamaan (equality), kebebasan (freedom), dan keadaban (civility).

Modal sosial dalam bentuk kelompok-kelompok masyarakat yang bersatu dalam suatu pola hubungan yang sinergis, memberikan pengaruh yang besar bagi keberhasilan suatu bangsa dalam mencapai tujuannya. Semangat kolektifisme atas dasar saling percaya, menjadi pendorong peningkatan partisipasi masyarakat menuju kemajuan bersama. Kontribusi masyarakat akan sangat berarti dalam upaya membangun semangat persatuan yang tunduk dan patuh pada aturan dan tata nilai sosial (social norms), yang walaupun tidak seluruhnya terkodifikasi, namun selalu hidup dalam tradisi masyarakat. Tata nilai sosial tersebut akan memperkuat hubungan antar individu maupun antar kelompok, oleh karena itu tata nilai sosial menjadi bagian yang penting dari modal sosial.

Nilai sebagai suatu ide yang sejak lama telah dianggap benar, bahkan sangat penting dan sakral oleh kelompok masyarakat, merupakan bagian utama dalam kebudayaan yang tumbuh dan berkembang secara dominan dalam kehidupan kelompok masyarakat serta memberikan pengaruh terhadap aturan-aturan yang mengatur pola pikir dan pola tindak anggotanya. Nilai inilah yang mampu menjadi pendorong terbangunnya semangat partisipasi masyarakat dalam suatu aktifitas sosial yang tidak hanya sekedar untuk kepentingan kelompoknya saja, namun untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Partisipasi tersebut dapat diterjemahkan melalui upaya-upaya aktif yang umumnya berangkat dari inisiatif sendiri untuk selalu terlibat dalam interaksi yang terjadi dan wujud modal sosial yang demikian akan sangat bermanfaat bagi proses pembangunan masyarakat.

Kita patut bersyukur bahwa leluhur bangsa ini telah mewariskan nilai dan semangat kebersamaan dalam kehidupan sosial antar warga masyarakat, yang terbingkai dalam beraneka ragam bentuk dan maksud. Sebagaimana naskah Negarakerthagama menuliskan ‘Bhineka Tunggal Ika – Tanhana Dharma Mangrwa’, pada masa-masa kejayaan imperium Majapahit, tentang keragaman budaya masyarakat yang tetap bersatu dalam bingkai kebangsaan. Esensi dan makna filosofis yang terkandung didalamnya menjadi pencapaian utama budaya nusantara yang integralistik dan kebersamaan dalam keragaman tersebut adalah modal sosial utama bangsa nusantara (Indonesia) hingga mampu bertahan hingga sekarang ini. Ke depan modal sosial bangsa Indonesia dalam wujud kebersamaan kelompok maupun antar kelompok yang terbalut nilai-nilai kearifan budaya, harus mampu dioptimalkan sebagai pendorong percepatan kemajuan bangsa, terlebih lagi dalam upaya memanfaatkan era bonus demografi yang tengah berlangsung sekarang ini hingga tahun 2045 mendatang.

Ke depan, permasalahan bangsa dengan segala tantangan dan peluangnya hanya mungkin dapat diatasi melalui kerja bersama demi kepentingan bersama, bukan oleh individu atau bahkan kelompok yang berjalan dengan agenda masing-masing. Catatan sejarah telah banyak terbukti, apabila orientasi telah terpecah, maka akan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh kepentingan luar tanpa kita sadari. Oleh karena itu paguyuban-paguyuban ataupun komunitas-komunitas masyarakat atas dasar keragaman budaya dan minat, menjadi modal sosial utama yang sangat kuat dan berpotensi besar sebagai pendorong kemajuan bangsa, walaupun ada juga bagian-bagian yang rentan, yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik. Namun sisi negatif tersebut dapat dicegah jika segenap elemen didalamnya senantiasa menjaga nilai-nilai sosial yang menjadi pijakan dasar serta selalu menjaga orientasi gerak aktifitas hanya pada satu kepentingan, yakni mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia, melalui peningkatan kecerdasan, kesantunan dan semangat juang menuju kesejahteraan bersama.

catatan red: tulisan menarik ini pernah disajikan pada tahun 2015 yang masih relevan dengan kondisi sekarang, Kami tampilkan kembali untuk mengingatkan kita bersama arti pentingnya menjaga dan memelihara semangat kebersamaan sebagai sebuah bangsa.