Berita

Model Hafalan Sudah Usang

IMG-20170201-WA0018

MODEL HAFALAN SUDAH USANG

ybb, 01/02/17—‘…saat ini dan untuk beberapa waktu ke depan Indonesia sedang menghadapi tantangan demografi dimana kaum muda kita bukan saja dihadapkan pada kondisi persaingan ketat sesama anak bangsa melainkan juga dengan bangsa lainnya. Tentunya, selain tuntutan standar kompetensi global yang harus dipenuhi oleh kaum muda kita, yang tidak kalah penting adalah bagaimana membekali karakter agar mereka nanti benar-benar siap menghadapi tantangan demografi dan dapat mengungguli persaingan tersebut, baik dari sisi kompetensi maupun mentalitas. Ambil contoh, Di Jepang, untuk tiga tahun pertama pendidikan yang diberikan pada siswa ditekankan pada pembangunan karakter dan kesantunan. Begitu pentingnya peranan karakter. Oleh karenanya, saya berharap diskusi ini, setidaknya bisa menghasilkan rumusan-rumusan untuk membangun karakter usia muda yang ideal, sesuai tantangan era bonus demografi itu…selain itu, saya berharap hasil diskusi nantinya hanya menjadi kertas kerja yang memenuhi lemari arsip dan meja kerja saja, namun harus dapat diimplementasikan dan terukur…’ ujar Sarwono Kusumaatmadja, saat memberi arahan di diskusi terbatas kerjasama Yayasan Bhakti Bangsa (YBB) dengan Majelis Pendidikan Nasional (Madiknas) Kosgoro, di Jakarta (01/02/17), bertempat di sekretariat YBB, Jalan Kalibata Timur Raya, Gg. Batu Merah III No. 19, Jakarta Selatan.

Sarwono juga mencermati, dalam konteks era bonus demografi inovasi proses penyelenggaraan pendidikan harus dilakukan. ‘…dari beberapa diskusi yang pernah saya ikuti tampak ada kecenderungan model pendidikan yang ada lebih bertumpu pada pola penghafalan sehingga kebanyakan anak didik kita kuat dalam hafalan namun lemah dalam penalaran. Karena itu, semestinya pendidikan di sekolah sudah bergeser dari model hafalan ke model analisis. Ini berkontribusi pada kemampuan daya nalar mereka, bahkan bisa dikatakan turut menghambat kreatifitas dan inovasi. Oleh karena itu, guna membangun dan mengembangkan karakter dan potensi kaum muda kita tidak pelak lagi pendidikan dengan model analisis merupakan keharusan. Melalui model itu pula diharapkan kita dapat mendorong motivasi kaum usia muda sedini mungkin agar mereka siap dengan perubahan dan bahkan kreatif dan aktif untuk melakukan perubahan itu sendiri secara positif…sudah tidak jamannya lagi anak-anak sekolah memenuhi tas ransel dengan setumpuk buku yang harus mereka hafalkan, sementara mereka juga tidak tahu manfaat, kegunaan, dan menggunakannya dari apa yang mereka hafalkan selain memenuhi tuntutan pendidikan agar naik kelas…’

Turut hadir pada pembukaan diskusi, Ketua I YBB, Ir. D. Aditya Sumangara. Menurut Aditya, kegiatan diskusi ini menarik dan penting. ‘…saya melihat ada kesamaan pandang diantara kami, baik YBB maupun Madiknas, yaitu perlunya penguatan karakter bangsa pada kaum muda seperti yang mas Sarwono sampaikan tadi. Menurut hemat saya, paling tidak ada tiga karakter universal yang harus benar-benar mengakar dan menjadi daya dorong untuk mewujudkan harapan dan cita-cita founding fathers dan tentunya kita semua, yaitu integritas, keberanian, dan pantang menyerah. Ketiga karater tadi sudah dicontohkan oleh para pendiri bangsa kita. Namun demikian, karena bangsa kita ini heterogen sehingga ketiga karakter tadi harus dilengkapi dengan nilai khas (karakter—red) yang telah tumbuh subur dan menjadi bagian tidak terlepaskan dari kehidupan masyarakat kita sejak dahulu, yakni karakter nasional kita, gotong royong. adanya diskusi ini mudah-mudahan ketiga karakter tersebut yang bersendikan karakter gotong royong dapat kembali disentuh dalam pembahasannya…’

Yang tidak kalah penting, menurut Aditya, bagaimana sekolah juga bisa berkontribusi juga dalam membentuk watak kepemimpinan. ‘…kita memang tidak bisa menaruh mimpi pada semua anak didik kita kelak bisa menjadi pemimpin nasional, pemimpin bangsa. Tapi paling tidak, dilingkungan terkecil mereka mampu untuk berperan dalam memelihara dan menularkan karakter-karakter tersebut…sehingga menjadi penting, dilingkungan pendidikan kita untuk memulai bagaimana secara sitematis dapat tersistemkan pembinaan leadership atau kepemimpinan itu…’ imbuhnya.