Celoteh

Nikmati Keasrian Perkampungan Baduy

MENIKMATI KEASLIAN PERKAMPUNGAN SUKU BADUY

Bagi anda yang gemar berpetualang dan ingin menikmati suasana kehidupan alami kelompok masyarakat yang masih memegang teguh ajaran dan budaya leluhur, yang tetap terjaga hingga kini maka perkampungan suku Baduy direkomendasikan layak dikunjungi.

Perkampungan masyarakat Baduy dapat kita temui di pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Butuh waktu sekitar 3-4 jam dari Jakarta menuju desa terdekat perkampungan masyarakat Baduy, yakni desa Ciboleger. Kendaraan hanya bisa sampai di situ dan parkir di desa tersebut. Selebihnya hanya dapat di tempuh dengan berjalan kaki.

Sebenarnya areal perkampungan suku Baduy ini sangat luas, namun terpecah-pecah dalam kelompok yang cukup banyak. Pemberian nama setiap kelompok pemukiman disesuaikan dengan nama desa di mana mereka tinggal, misal, desa Balimbing, desa Kadu Ketub, desa Kanekes dan lain sebagainya.

Yang unik, mereka lebih suka memperkenalkan dirinya dan dipanggil sesuai nama desa asal mereka. Jadi kalau dia berasal dari desa Ciibeo maka mereka akan memperkenalkan diri sebagai ‘urang Cibeo’ (urang sinonim dari orang—red) dari pada suku Baduy.

Keunikan lainnya masyarakat Baduy terbagi atas dua kelompok utama yaitu, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Dari sisi pandangan hidup, kedua kelompok ini sama, tidak ada bedanya. Mereka memiliki kepercayaan yang dikenal dengan ‘Sunda Wiwitan’ sebagai warisan leluhur. Sama-sama memegang teguh prinsip harmonisasi dengan alam sehingga sampai saat ini pola kehidupan tidak berubah dari jaman ke jaman, asli seperti awal kehidupan leluhur mereka. Perbedaan mereka terletak pada corak warna pakaian dan ikat tali kepala.Baduy Dalam berwarna putih sedang Baduy Luar warna pakaiannya hitam.

Baduy Dalam, mendiami tiga desa utama di gunung Kendeng yaitu, desa Cikeusik, desa Cibeo dan desa Cikertawan. Ketiga desa itu masuk dalam gugusan desa Kanekes. Jika digabung dengan Baduy Luar, ada sekitar 57 desa di sana.

Memasuki kawasan Baduy dari desa Ciboleger berjarak sekitar 200-300 meter. Menginjak kaki diperbatasannya atau traveller menyebutnya ‘pintu gerbang’, kita sudah dapat merasakan suasana berbeda. Butuh waktu tempuh 1,5-2 jam untuk mencapai desa Balimbing, desa persinggahan bagi para wisatawan.

Apa keunikan yang bisa kita nikmati di sana?

Tentunya suasana kehidupan masyarakat dan perkampungannya. Kehidupan masyarakat yang jauh dari sentuhan peradaban modern; pagi ke hutan atau huma (sawah tadah hujan). Wanitanya mengasuh anak dan kadang menenun. Anak-anak memainkan permainan tradisional pekarangan rumah. Rutinitas keseharian nyaris tanpa hiruk pikuk.

Kita tidak akan menemukan peralatan elektronik, seperti tv, radio dan sejenisnya. Kalaupun ada, telepon selular yang kita bawa, tidak akan mendapat signal, selain pada titik-titik tertentu yang sangat jarang. Di malam hari kita bisa membuat bercengkerama bersama diantara hangat api unggun dan selingan hiburan lokal, selain senandung irama ‘jangkrik’ terkadang alunan ‘suling’ (alat tiup tradisional) yang diperdengarkan oleh satu dua penduduk desa.

Paduan keheningan malam dan bintang dilangit menjadikan kita serasa berada di dunia lain; tenang dan nyaman, menyegarkan jiwa. Menurut para wisatawan, suasana seperti itu membuat mereka merasa lebih damai.

Di sana, kita menginap di rumah (panggung) penduduk. Tidak ada ruang kamar karena dalam rumah bebas dari sekat. Tidur beralas tikar, menutupi lantai terbuat dari anyaman bambu.

Ayam berkeliaran di luar, namun pantang bagi penduduk setempat untuk memperjualbelikan. Lauk pauk mereka cukup nasi dan ikan asin. Tapi kita tidak perlu khawatir, mereka akan membantu kita membeli dan memasak kornet, mi instan ataupun roti untuk menempuh perjalanan. Nasi yang dimasak di atas ‘hau’ (kompor terbuat dari tumpukan bata dan nyala api kayu bakar) dan padi panen huma menyajikan kelezatan sendiri.

Selain suguhan tatanan kehidupan tradisional alami, kita juga dapat menikmati beberapa objek wisata alam, seperti, danau alam yang cukup luas, ‘Dandang Ageung’ masyarakat menyebutnya, di daerah leuwi buleud. Etimologi, ‘dandang’ adalah peralatan untuk memasak nasi yang terbuat dari tembaga dan berbentuk seperti topi. Sedangkan ‘ageung’ itu artinya besar. Dikelilingi pepohonan rimbun, permukaan air tenang nyaris tampa riak menggeliat, keindahan danau ini memanjakan mata memandang.

Dari desa Blimbing, perjalanan menuju danau ditepuh sekitar 2-3 jam. Namun bisa lebih lama dari itu jika diperjalanan kita banyak berhenti untuk motret panorama, seperti, jembatan yang diapit oleh akar pohon karet besar. Entah berapa ratus tahun usia pohon tersebut. Atau pemandangan elok aliran sungai dari atas tebing yang tidak terlalu tinggi. Jembatan akar karet itu berada di desa Gajeboh. Sebelum menuju danau, biasanya pemandu mempersilahkan para wisatawan untuk sejenak melihat jembatan itu.

Memang hanya dua keunikan yang ditawarkan bila kita mengunjungi Baduy. Disanapun kita hanya diperbolehkan menginap 2 malam saja. Entah apa sebabnya, namun begitulah kepercayaan dan ketentuan mereka. Tapi, seperti yang lalu, percayalah sekali anda bertandang maka anda akan tergoda untuk datang kembali.

Selamat berpetualang..!!

Penulis: Jofie
Editor: Indragara
Sumber: infolibur.com