Celoteh

Osing, Khazanah Budaya

SEJARAH TERBENTUKNYA BAHASA USING

Nurakhmad *)

Orang Using, (baca;osing)- siapakah? Pertama-tama mereka adalah sebuah sub suku di Banyuwangi yang mendiami semenanjung Blambangan di pantai paling timur di Jawa Timur. Dalam kontek bahasa, bahasa Using masih menjadi debatable (perdebatan) sekelompok budayawan Banyuwangi setuju bahwa bahasa Using adalah bahasa yang berdiri sendiri sebagai mana bahasa-bahasa daerah lain di Nusantara sebagai bahasa yang memiliki ciri khas, bahkan berbeda dengan bahasa masyarakat jawa yang lainnya. Sebagian budayawan yang lain Bahasa Using bukanlah bahasa melainkan hanya sebuah dialek dari bahasa jawa seperti seperti dialek Banyumasan, dialek Bojonegoro, dialek Suroboyo dan lain–lain . Karena dalam masalah budaya pandangan yang menentukan adalah pandangan images, yaiu adalah pandangan yang berasal dari dalak masyarakat itu sendiri,maka keinginan sebagaian budayawan yang didukung oleh Kepala Daerah Bupati Samsul Hadi , yang berkeinginan menjadikan bahasa Using berdiri sendiri bisa diajarkan sebagai muatan lokal, mulai dari SD sampai SMA.

Dengan adanya keputusan politik dan persetujuan departemen pendidikan dan kebudayaan maka perebatan masalah bahasa using (banyuwangen)atau bahasa Blambangan atau sebagai dialek bahas Jawa dengan sendirinya , perdebatan itu menjadi gugur, yang secara politis telah diakui, sebagai bahsa yang berdiri sendiri, yang dijadikan muatan lokal diajarkan ditingkat SD atau SMA. Kalau dari populasi penutur bahasa Using mencapi 53 % dari satu setengah juta penduduk banyuwangi. Untuk menunjukan jati diri mereka memang menggunakan terminologi yang non kultur jawa, seperti wong Banyuwangen atau banyuwangi “asli”. Mereka meletakan dirinya di luar kultur jawa dan mengatakan orang jawa “asli’ sebagai orang Jawa. Kapan bahasa Using itu terbentuk melepaskan diri dari kultur jawa atau bahasa jawa memang agak sulit dirunut.

Menurut penelitian leksiko satistic, Suparman Heru Santoso, bahasa using terbentuk tahun 1163-1174. Pada masa itu pula diperkirakan mulai berprosesnya kultur sosial masyarakat Using. Sedangkan menurut Stopflar (1927) dalam bukunya Recht Blambangan menduga kata Using berasal dari kata sing berati tidak. Arti inilah diduga lahirnya istialah wong Using dan “bahasa Using “ yang diberikan oleh wong Kulonan. Sedangkan menurut Pegaud malah menyimpulkan lebih jauh; Using merujuk pada penolakan penduduk asli Banyuwangi dalam menerima dan hidup bersama dengan pendatang luar. Perilaku ini mengingatkan kita pada suku-suku terasing di pedalaman Nusantara. Sebenarnya, bahasa Using adalah sisa-sisa dari bahasa jawa kuno, seperti kata “parandine, Isun, Riko, dll”, dan kemudian karena Banyuwangi ini paska perang Bayu banyak pendatang-pendatang baru yang masuk ke Banyuwangi sehingga Banyuwangi bisa dikatakan sebagai tempat bertemunya diaspora Budaya. Terbukti, bahasa Using selain sisa-sisa jawa kuno, bahasa using juga menyerap unsur-unsur melayu seperti kata “sulung, awak, dan ancik” serta cara mengeja bahasa Arab pada pemula anak-anak yang belajar mengaji dengan coro Melayu seperti alif diatas “a” alif dibawa “i” alif di depan “u”. Selain itu juga, bahasa Using juga banyak mendapatkan pengaruh unsur-unsur Madura seperti akhiran “a”, sebagai contoh kata meronoa, kedigua, dan kalek. Untuk pengayaan bahasa Using, banyak juga menyerap bahasa Inggris, seperti kata “ enjong” dari kata enjoy artinya menikmati “ Jerangkong”, yaitu hantu tengkorak jalan, “drongos” yaitu dari kata dangerous artinya berbahaya, “metani” dari kata to meeting yang artinya menemukan dan kata-kata bahasa Inggris yang lainnya.

Ciri Khas Bahasa Using.

Sebenarnya, bahasa Using hampir sama dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Nusantara. Perbedaannya :

  1. Tidak mengenal pelapisan bahasa atau tingkatan-tingkatan dalam bahasa seperti dalam bahasa Jawa, bahasa Bali, dan bahasa Madura. Bahasa Using adalah bahasa yang demokratis egaliter tidak mengenal pelapisan bahasa. Namun demikian bahasa Using mengenal juga istilah “besiki” yaitu bahasa halusnya orang Banyuwangi yang di gunakan untuk acara-acara formal misalnya bahasa untuk khutbah dan sambutan-sambutan dalam upacara-upacara adat maupun kenegaraan, “besiki” tidak digunakan untuk komunikasi sehari-hari.
  2. Masalah merfologi dan sintaksis adalah sama dengan bahasa-bahasa daerah yang lain. Perbedaannya yaitu hanya terletak pada aspek ponologi yaitu masalah diftongesasi, glotalisasi dan palatalesasi.

Fonologi.

Fonologi adalah ilmu bahasa yang menekankan pada maslah unsur bunyi terutama masalah bunyi fonim. Unsur suprasekmental (nada, tekanan, dan panjang dialek Banyuwangi yang nampak menonjol adalah tekanan-tekanan kata dialek Banyuwangi selalu jatuh pada suku akhir). Tekanan pada suku akhir itu menimbulkan peristiwa :

(1). Diftongesasi.

(2). Glotalisasi.

(3). Palatalesasi.

Diftongesasi,yang terjadi akibat tekanan pada suku akhir terdapat pada ponim “ i ” dan “u”. contohnya : (tabel I)

Glotalisasi,yang terjadi akibat tekanan pada suku akhir terdapat pada ponim “ e ”, “ o ” dan “ a ”. contohnya : (Tabel II)

Palatalesasi,terjadi pada ponim “b”, “j”, “d”, “g”, “n”, “ai”, “r”, “l”, dan “w”, yang diikuti oleh ponim “a” atau “e”. contohnya seperti : (tabel III)

Pesebaran Bahasa Using.

Sebagai hasil perkembangan sejarah Blambangan hampir seluruh karesidenan Basuki mulai awal Blambangan di Lumajang kemudian di Panarukan (Situbondo) kemudian kembali ke Puger Jember terus kembali ke Bayu (Songgon), Macan Putih-Kabat, Wijenan-Singonjuruh, Lateng-Rogojampi, Ulupang-pang-Benculuk, kemudian ke Banyuwangi 24 Oktober 1774. Dari pengalaman sejarah itu, maka bahasa Using tentunya sesuai dengan dinamika sejarah Blambangan. Pesebaran bahasa Using di luar Kabupaten Banyuwangi kantong-kantong penutur bahasa Using antara lain di Pato’an, Panarukan-Situbondo, dan Desa Blendungan-Bondowoso. Sedangakan di Kabupaten Jmber, komunitas penutur bahasa Using cukup banyak, karena dalam sejarahnya indigiunis people (penduduk asli Jember) sebenarnya adalah wong Using karena pengaruh orang Madura dan orang Jawa akhirnya wong Using di Jember menjadi minoritas. Sisa-sisa komunitas Using di Jember :

  1. Kampung Using (dekat stasiun KA kota Jember).
  2. Biting Arjasa Jember.
  3. Desa Kemiri Kecamatan Panti.
  4. Desa Glundengan kecamatan Wuluan.
  5. Kecamatan Puger (mayoritas Using).

Penutur bahasa Using yang mayoritas di kabupaten Banyuwangi adalah di daerah :

  1. Kecamatan Giri.
  2. Kecamatan Glagah.
  3. Kecamatan Kabat.
  4. Kecamatan Rogojampi.
  5. Kecamatan Singonjuruh.
  6. Kecamatan Songgon.
  7. Kecamatan Licin.

Penutur bahasa Using yang minoritas di Kabupaten Banyuwangi antara lain :

  1. Desa Gambiran Kecamatan Gambiran.
  2. Genteng wetan dan kembiritan Kecamatan Genteng.
  3. Kampung Using di sekitar belakang terminal Jajag Kecamatan Gambiran.
  4. Desa Keradenan dan Grajakan Kecamatan Purwohardjo.
  5. Kampung Using di Tembok Re’jo dan Blambangan Kecamatan Muncar.

Penutur bahasa Using yang imbang di kabupaten Banyuwangi antara lain :

  1. Kecamatan Cluring.
  2. Kecamatan Srono.
  3. Kecamatan Sempu.
  4. Kecamatan Kalipuro.

Persamaan dan Perbedaan Penuturan bahasa Using Jember (BJUJ) dengan Bahasa Jawa Using Banyuwangi (BJUB).

Persamaan.

Persamaan Sama-sama mengenal Diftongesasi, seperti roti menjadi “Rotai”, albertini menjadi “albertinai”, Guru menjadi “gurau” dan lain-lain (lihat Tabel I).

Perbedaan.

  1. Bahasa Jawa Using Jember tidak mengenal Glotalisasi sedangkan bahasa jawa Using Banyuwangi mengenal Glotalisasi. Contoh, BJUJ : ayo dibaca ayo, mrono dibaca mrono, guru dibaca guru, biru dibaca biru. Sedangkan bahasa jawa using Banyuwangi atau BJUB misalnya; tahu dibaca tahu’, tempe dibaca tempe’, dan lain-lain (lihat tabel II).
  2. Perbedaan leksikon tau arti kata. Contoh; kembang melati (dalam BJUJ) sedanagkan kembang menur (BUJB) yang mempunyai arti yang sama. Semangka (BJUJ) – Blungking (BUJB), permen (BJUJ) – mut-mutan (BJUB), tewel (BJUJ) – tombol (BJUB), pelem (BJUJ) – poh (BJUB), nyai (BJUJ) – adon (BJUB).

Mengapa terjadi perbedaan antara bahasa  jawa Using Jember dengan bahasa jawa Using Banyuwangi. Kemungkinan terjadi karena secara geografis letak Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi di pisahkan oleh pegunungan dan jaraknya cukup jauh yakni 105 KM. selain itu isolasi geografis Jember-Banyuwangi baru di buka transportasi terowongan Merawan Jember tahun 1903 sehingga transportasi-komunikasi antara masyarakat Jember dan Banyuwangi bisa lancar. Selain itu juga karena masyarakat etnik Using di Kabupaten Jember termasuk masyarakat Using pinggiran dan jauh dari pusat budaya Using yang terletak di Kabupaten Banyuwangi. Hal ini sejalan dengan teori dialektologi, bahwa apabila wilayah pakai suatu bahasa itu semakin jauh dari pusat budaya, maka besar kemungkinan terjadi perbedaan dalam bahasa itu (Arya Trohaidi; 1988) dengan kenyataan yang demikian maka dalam masyarakat Using di Kabupaten Jember mungkin tidak lagi terdapat local genius. Hal lain yang juga berpengaruh adalah bahwa masyarakat Using di Kabupaten Jember berada dalam kondisi lingkungan yang terbuka sehingga banyak mendapat pengaruh dari kelompok masyarakat yang lain. Seperti Jawa dan Madura yang memang tercatat juga sebagai penduduk Jember. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa bahasa Jawa dan bahasa Madura ikut mempengaruhi bahasa jawa Using Jember.

*) Penulis adalah Ketua KPBD Banyuwangi

pic: Phinemo