Berita

Penguatan Karakter

 

img-20161019-wa0010

MEMBANGUN LINGKUNGAN BUDAYA SEKOLAH

ybb,17/01/16 ‘…mereka yang jujur, disiplin, tanggugjawab, memiliki kepekaan, kerja keras, tidak nyontek dan seterusnya itulah yang berhasil. Berdasarkan pengalaman saya jadi dosen di ITB sudah dapat dipetakan bahwa mahasiswa yang berkarakter, dosen yang berkarakter itulah bagian dari mereka-mereka yang sukses. Demikian pula pemimpin harus punya karakter. Dengan kepemimpinan yang berkarakter maka dia akan mampu untuk membangun dan membawa kemajuan bagi lembaganya…’ ungkap Indra Djadi Sidi, mantan Dirjen Dikdasmen Kemdikbud ini dalam paparan di Aula Graha Solidaritas, SMA KOSGORO Kota Bogor, 16/01/16.

Indra Djati Sidi juga menegaskan sekolah memegang peran penting untuk bisa menanamkan nilai-nilai tersebut dan mendorong penguatan karakter seluruh warga sekolah melalui pebudayaan. Namun demikian yang harus diperhatikan bahwa pembudayaan itu sebuah proses dan karenanya harus dilakukan upaya pembiasaan dan pelatihan yang terkait dengan proses tersebut. Indra Dati mencontohkan, dimana seorang bisa juara tidak begitu tiba-tiba melainkan melalui latihan yang keras dan ketat. Demikian pula penanaman nilai harus dilakukan pembiasaan dan pelatihan yang terus menerus dan berkelanjutan.

Selain Indra Djati Sidi, pada kegiatan Diskusi dan Pelatihan Pendidikan Karakter Bangsa, yang digelar atas kerjasama antara Yayasan Dharma Setia Kosgoro (YDSK) dengan Yayasan Bhakti Bangsa itu, menghadirkan juga Prof. Asep Saefuddin (Rekor Universitas Trilogi/Guru besar statistic IPB) dan Prof. Abdorrakhman Gintings (konsultan pendidikan).

Menurut Iwan Ruswandi, Ketua YDSK, kegiatan diskusi dan pelatihan ini merupakan bagian dari program Yayasan untuk memperkuat karakter peserta didik SMP, SMA, dan SMK Kosgoro, terutama mempersiapkan mereka guna menghadapi era bonus demografi. Lebih lanjut Iwan Ruswandi mengemukakan bahwa saat ini lembaga pendidikan Kosgoro di Kota Bogor sudah dikenal masyarakat sebagai salah satu sekolah yang memiliki reputasi karakter yang bagus, terutama dalam kedisplinan. Akan tetapi, menurutnya, YDSK menginginkan kedisiplinan sebagai salah satu dari 4 (empat) nilai yang dikembangkan yaitu, ditambah kejujuran, tanggungjawab dan kepekaan sosial, bisa tertanam dengan kuat sehingga melekat menjadi kepribadian utuh yang tercermin dalam prilaku keseharian semua komponen di lembaga kami.

‘…selama ini sebenarnya, nilai-nilai ideal yang ingin kami perkuat tersebut sudah berjalan sebagaimana mestinya, namun demikian di program yang sedang digarap dan dipersiapkan saat ini adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai itu, yang kami sebut dengan istilah catur dharma, dapat teruji dan terukur. Prosesnya ialah melalui konsep pembudayaan dengan membangun lingkungan budaya sekolah baik dari aspek lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-kultural…’ ujarnya.

Dalam paparannya, Prof. Asep Saefuddin, menjelaskan bahwa performace kepribadian manusia itu pada dasar bisa dibentuk menjadi lebih baik melalui sentuhan kombinasi genetika, lingkungan, dan interaksi antara gen dan lingkungan. Pendapatnya tersebut didasarkan hasil penelitian seorang doktor genetika, Benben Benyamin. Menurut Prof. Asep Saefuddin, melihat bahwa lingkungan berkontribusi besar untuk membentuk perilaku seseorang. Dia berpendapat, seseorang dengan gen bawaannya buruk jika hidup dilingkungan yang baik maka perilakunya juga bisa menjadi baik, meskipun sifat bawaan (gen) tetap tidak hilang. Dalam konteks itu, sifat bawaan yang buruk itu tertutupi oleh dominasi nilai-nilai positif dari lingkungannya. Lebih lanjut, Prof. Asep Saefuddin, mengulas strategi-strategi bagaimana mengefektifkan lingkungan budaya sekolah guna memperkuat karakter warga sekolah.

Adalah perlu untuk membuka cara dan pola berpikir warga sekolah jika ingin berkembang. Pola pikir kita harus berani out of box dan atau inklusif serta adaptif. Menurutnya, lingkungan budaya sekolah semestinya diawali dengan mengembang-kan hal-hal diatas.

Diskusi dan pelatihan, diikuti oleh pendidik, tenaga pedidik, perwakilan orang tua dan perwakilan peserta didik. Kegiatan itu dihadiri pula oleh Ketua Yayasan Bhakti Bangsa, Ir. Sarwono Kusumaatmadja, dan D. Aditya Sumanagara sebagai Ketua Dewan Pembina YDSK.

Yang tidak kalah menarik, usai sesi pertama diskusi, Sarwono Kusumaatmadja didaulat untuk menyematkan selempang pada perwakilan peserta didik yang dikukuhkan sebagai duta sekolah. Duta Sekolah adalah peserta didik yang telah loloh seleksi dan memenuhi kriteria yang ditetapkan yang mengemban tugas mewakili siswa untuk kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Sementara di dalam sekolah, para duta tersebut harus menjadi sosok tauladan bagi kawan-kawannya. Pada acara tersebut dikukuhkan sebagai 125 duta sekolah yang terdiri 45 dari SMP 40 dari SMA dan 40 dari SMK Kosgoro.

sb: esis//