Opini

Peran Perempuan

post pics

KUNCI MASA DEPAN INDONESIA

Di tengah memperingati Hari Perempuan Internasional, isu kesetaraan gender kembali terlontar dari beberapa kawan yang melihat pelaksanaannya masih belum cukup terakomodir sebagaimana yang diharapkan.

Terlepas dari ragam teori dan pendekatan, termasuk konsep dan pengertian dari kesetaraan gender, yang dikehendaki oleh mereka (para pendukung kesetaraan gender) adalah diberikannya ruang kesempatan yang sama (equal purpose) bagi perempuan seperti layaknya yang didapat oleh kaum lelaki; ditempatkan harkat dan martabatnya sebagaimana seharusnya sesama manusia. Dalam konteks ini, saya melihat apa yang dimaksud lebih mendekati keterkaitan dengan essensi kemanusiaan ketimbang persamaan dalam artian penisbian terhadap fakta perbedaan biologis. Sehingga penerjemahan perjuangan kaum perempuan Indonesia untuk mendapat kesetaraan itu pun tentu menjadi berbeda dengan apa yang diperjuangkan oleh kelompok feminis di luar negeri, dimana pada umumnya terpengaruh oleh america’s core culture.

Sejarah telah mencatat upaya panjang kaum perempuan untuk hal itu. Mary Wollstonecraft, tahun 1792, menulis deklarasi berjudul a vindication of the rights of women, yang intinya mengetengahkan bahwa peran perempuan memiliki kontribusi yang sama bagi kemajuan masyarakat. Oleh karenanya, wajar jika mereka juga memiliki hak yang setara dengan kaum laki-laki. Di Indonesia sendiri, kita baca dan dengar bagaimana gigih perjuangan Ibu R.A. Kartini di Jepara berupaya membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk mendapat hak pendidikan. Demikian pula dengan Ibu R. Dewi Sartika di Bandung dan deretan pejuang pendidikan lainnya. Pertanyaannya kemudian, sejauhmana pemerintah atau negara memenuhi keinginan itu, apakah sudah mengakomodirnya?

Merujuk pada pembukaan (preambule) Undang-undang Dasar 1945, dimana tercantum jelas kalimat melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Katakanlah apa yang tertulis di pembukaan UUD 1945 itu merupakan nilai ideal sebagai suatu bangsa, namun tetap tidak bisa diabaikan bahwa kandungan nilai itu mencakup kesetaraan penempatan hak atas seluruh warga negara dengan tidak membeda-bedakan gender (dalam artian sempit; berdasar jenis kelamin). Dan, itu tercermin pada bab per-bab, pasal per-pasal, dan ayat per-ayat pada isi atau batang tubuh dari UUD itu sendiri.

Demikian pula turunan dari Undang-Undang Dasar, diantaranya, UU No. 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia, mulai pasal 45 hingga pasal 51. Bahkan pada pasal 49 ayat (1) dinyatakan ‘wanita berhak untuk memilih, dipilih diangkat dalam pekerjaan, jabatan, dan profesi sesuai persyaratan dan peraturan perundang-undangan’.

Di bidang politik, negara melalui pemerintah mewajibkan terpenuhinya keterwakilan perempuan sekurangnya mencapai 30%, sebagaimana diatur pada pasal 15 huruf (d) UU No. 10 tahun 2008 jo. UU No. 31 tahun 2002. Perlindungan dan penempatan istimewa perempuan dalam bekerja juga telah diatur sedemikian rupa melalui UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jadi sebenarnya jika kita memperhatikan peraturan perundangan di atas maka pemerintah sudah memenuhi apa yang dimaui.

Dewasa ini, kesempatan dan peluang perempuan untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan jati dirinya sudah sedemikian terbuka, baik di dunia politik maupun di dunia usaha, dan lainnya. Di politik, Jumlah anggota legislatif perempuan sudah di atas 12,2%, sementara daftar calon anggota legislatif, dipastikan pada urutan kedua selalu terisi dengan calon perempuan. Demikian pula jabatan Eksekutif, bukankah menteri dan juga kepala daerah ada yang dipimpin oleh Perempuan?. Sementara di dunia usaha, tidak sedikit perempuan tampil sukses sebagai pengusaha. Angkatan kerja perempuan per-februari 2016 mencapai 49 juta jiwa lebih, dan yang bekerja diatas 46 juta jiwa. Angka tersebut belum lagi ditambah para ibu rumah tangga (lebih dari 33 juta jiwa) yang nyambi atau berwirausaha, yang sementara sampai saat ini tidak dihitung sebagai bagian dari angkatan kerja. Di dunia pendidikan terlebih lagi, dua kali lipat tenaga pendidik perempuan dari lelaki. Mmmm…

Kita tidak bisa menafikan pengaruh signifikan kontribusi perempuan pada perjalanan bangsa, entah dari konteks kesejarahan, kekinian, dan bahkan untuk waktu kedepan.

Selamat Hari Perempuan Internasional !!!

Salam.