Opini

Peranan Strategis Ibu

mom-teaching

Oleh: Indragara & Hari Widodo

Pendahuluan

Kata ‘Ibu’ dalam Bahasa Indonesia banyak mengandung pengertian, salah satunya dalam uraian ini, ‘Ibu’ dimaksudkan sebagai orang tua yang mengandung dan melahirkan kita, yang dalam tradisi masyarakat memiliki banyak sebutan, antara lain: Mak (emak), Inang, Bunda, Ina, Mimi, Mamah, Mami, Nyak (enyak) dan lain sebagainya yang menunjukkan keberagaman budaya masyarakat kita. Walaupun berbeda-beda dalam penyebutannya, namun esensi peran dan tanggung jawab Ibu dalam keluarga tidak berbeda jauh di seluruh masyarakat Indonesia.

Peran dan tanggung jawab perempuan yang lebih dipersonifikasikan pada sosok ‘ibu’, adalah tanggung jawab dalam menjaga dan mendidik anak sekaligus mengurusi beragam keperluan anggota keluarga yang lain, termasuk suami dan dirinya sendiri. Terlepas dari ada tidaknya asisten rumah tangga yang membantu, namun pada beberapa hal tertentu tetap tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. ‘Ibu’ dalam hal ini juga memiliki peran sebagai curahan keluhan dari suami yang kadang tidak lebih mudah untuk dihadapi dibanding rengekan anak sehari-hari.

Keistimewaan sosok ‘Ibu’ ini memang tertutup oleh anggapan bahwa semua tugas, fungsi, peran dan tanggung jawab tersebut merupakan kewajiban sebagai seorang istri kepada suami maupun sebagai ‘ibu’ pada anak-anaknya. Pada sebagian besar masyarakat kita yang dibesarkan dengan nilai-nilai tradisi budaya (walaupun tidak seketat masa lalu), akan selalu menjaga beberapa nilai tersebut sebagai bagian dari memelihara dan melestarikan petuah orang-orang tua terdahulu. Tak kurang bahkan sosok Raden Dewi Sartika mencoba membangun kesadaran tanggung jawab tersebut melalui pendirian Sakola Istri kemudian menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Wanita) pada 5 November 1910 di Bandung, yang berupaya mendorong para wanita (sebagian telah berstatus ‘Ibu’) untuk menjadi wanita utama, yakni wanita yang mengetahui kebutuhannya sendiri, hak dan kewajibannya bagi keluarga dan lingkungan serta mampu berdiri sendiri dalam situasi yang darurat.

Dalam hal ini, pendekatan yang dilakukan oleh Raden Dewi Sartika tetap menggunakan  nilai budaya guna membangun keluarga dan membentuk keturunan sebagai generasi penerus yang memiliki tanggung jawab dan kepatuhan pada nilai-nilai dogmatis maupun budaya, yang diharapkan dapat menjadi dasar penguatan karakter atau kepribadian yang baik. Pendekatan ini dimulai dari lingkungan keluarga melalui dukungan moral pada setiap aktifitas anak dalam kehidupan, sehingga anak akan mampu memahami hal-hal yang patut dan yang tidak patut.

Pentingnya membangun kepribadian tersebut, akan membawa pengaruh yang besar kelak ketika si anak harus membuat keputusan-keputusan secara mandiri. Signifikansi peran ‘Ibu’ yang demikian utama, menjadi semakin strategis terkait keberadaan Indonesia dalam menghadapi era Bonus Demografi. Era ini adalah suatu situasi yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk yang didominasi oleh kelompok usia produktif. Batasan usia produktif secara usia memberikan isyarat akan besarnya potensi usia muda dalam kurun waktu hingga tahun 2045 mendatang. Bagaimana menyiapkan usia muda ini agar tampil sebagai potensi yang mampu memberikan nilai tambah yang tinggi bagi bangsa, kembali berpulang pada peran ‘Ibu’ dalam menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi penerus yang memiliki karakter yang kuat sebagai penopang kemampuan keilmuan dan keahlian aplikatif yang kreatif dan inovatif.

Era Bonus Demografi

Merujuk pada data BPS Pusat tahun 2013, sejak tahun 2012 secara nasional, Indonesia  telah memasuki suatu era atau masa yang dikenal dengan istilah bonus demografi, yaitu masa ketika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding dengan usia tidak produktif, yang ditandai dengan rasio ketergantungan 100/ 50. Artinya, 100 orang usia produktif menanggung beban kurang dari 50 orang usia tidak produktif, atau 10 orang usia produktif menanggung 3-4 orang usia tidak produktif. ILO (International Labour Organisations) telah membuat batasan usia produktif adalah usia direntang 15 tahun sampai 64 tahun, sedang usia tidak produktif dikisaran 14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas.

Dominasi kelompok usia produktif tersebut, tidak secara otomatis memberikan manfaat atau menjadi semacam bonus bangsa bangsa Indonesia, namun harus diterjemahkan sebagai ‘sebuah peluang’ atau window of opportunity untuk menjadi bonus. Ia akan berpotensi menjadi bonus apabila usia produktif tersebut mampu memberikan kontribusi yang ‘bernilai ekonomi lebih’. Sebaliknya, jika usia produktif yang besar tersebut tidak mampu memberi nilai tambah ekonomi, bahkan menjadi bagian dari yang harus ditanggung, maka yang terjadi hanya ‘ledakan jumlah penduduk’, dan ini justru berpotensi menjadi bencana. Untuk mencapai ‘bonus’ tersebut, disyaratkan harus ada nilai ekonomi lebih yang dapat diperoleh dari besarnya penduduk usia produktif serta penduduk usia produktif harus benar-benar produktif sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih tadi.

Lantas apa konsekuensi dari keberhasilan atau kegagalan dari era bonus demografi ini?.  Dari beberapa negara yang telah berhasil mengoptimalkan pemanfaatan era bonus demografinya, saat ini kesejahteraan masyarakatnya semakin baik; pengangguran sedikit hingga kemiskinan bisa ditekan serendah mungkin, pendapatan kotor (GNP) meningkat tajam sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi nasionalnya hingga ke jenjang internasional, sebagaimana yang dialami oleh China, Korea Selatan, Thailand, dan beberapa negara lainnya. Sebaliknya bagi yang gagal memanfaatkan peluang tersebut, yang terjadi adalah meningkatnya jumlah pengangguran yang berimbas pada semakin lebar rasio kemiskinan, kerawanan sosial dan peningkatan angka kriminilitas.

Tantangan Globalisasi

Globalisasi sebagai suatu proses dengan kejadian, kegiatan dan keputusan di salah satu belahan dunia, yang berubah menjadi suatu konsekuensi yang signifikan untuk seluruh masyarakat di daerah yang jauh sekalipu[1]. Pengertian globalisasi tersebut mengisyaratkan bahwa sekat jarak, ruang dan waktu menjadi nisbi pada konteks komunikasi. Kemajuan pesat informasi teknologi telah mengendap menjadi bagian penting dan sulit dilepas dari keseharian bermasyarakat. Pada tingkatan sederhana, nyaris sedikit orang yang tidak memiliki alat komunikasi selular, mulai dari biasa hingga yang tercanggih; dari penggangguran hingga konglomerat pasti menggunakan teknologi ini. Demikian pula pengguna internet, masyarakat Indonesia termasuk pengguna 5 (lima) besar di dunia yang memanfaatkan internet.

Sisi positif dari globalisasi membuat wawasan masyarakat bertambah dan mampu mengikuti setiap perkembangan kejadian dengan cepat. Informasi kebijakan pemerintah akan lebih cepat diakses masyarakat termasuk dalam aktifitas ekonomi yang dapat memacu kelancaran usaha melalui jaringan online. Globalisasi telah mempermudah dan memanjakan sedemikian rupa, sehingga seringkali membuat kita terlena akan sisi negatif terhadap perubahan perilaku, antara lain: Pertama, menguatnya individualistis yang secara perlahan menggeser kepedulian dan kepekaan sosial yang selama ini menjadi ciri perilaku masyarakat kita. Tidak sedikit kaum muda yang cenderung tidak peduli pada lingkungan sekitar bahkan kerap ego lebih dikedepankan ketimbang tenggang rasa. Gejala ini semakin dirasakan utamanya di perkotaan terlebih lagi di kota-kota besar.

Kedua, degradasi atas tata nilai dan norma, baik nilai norma agama maupun norma social, telah membuka ruang bagi perubahan perilaku kalangan usia produktif. Disadari atau tidak, perilaku beringas dan agresif, pergaulan bebas (termasuk sex bebas), kecanduan game dan pornografi, malas dan rendahnya motivasi serta mudah putus asa, kecanduan narkoba, dan perilaku negatif lainnya, kini menjadi bagian dari permasalahan  bangsa. Jika kita simak di jejaring sosial maka sulit kita untuk menolak kenyataan adanya  kegamangan mentalitas kaum muda. Terlebih pada kasus penyalahgunaan narkoba, data PBB untuk kejahatan narkoba, pengguna narkoba di Indonesia diperkirakan sudah mencapai kisaran 3,7 – 4,7 juta jiwa, dengan sasaran terbesar kalangan usia muda hingga remaja usia belia.

Ketiga, ketidaksiapan mengikuti perkembangan teknologi dan informasi yang demikian pesat, menjadikannya kurang optimal dalam pemanfaatannya, sehingga dalam banyak hal, kemajuan tersebut cenderung lebih sebagai bagian dari gaya hidup yang kurang menunjang bagi peningkatan produktivitas. Akibat lain dari ketidaksiapan tersebut tercermin pada sebatas ‘pengguna instan’ ketimbang ‘pengembang’ dari teknologi itu sendiri. Bahkan sebagai pengguna justru banyak dilakukan untuk hal-hal yang tidak tepat guna dan tepat sasaran.

Era Persaingan

Berangkat dari uraian di atas, substansi dari kedua tantangan demografi tersebut, terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Kondisi demikian hanya dapat diatasi melalui pembangunan kualitas manusia yang tangguh, unggul, dan berdaya saing tinggi. Besarnya jumlah penduduk dan sempitnya ruang gerak yang disebabkan oleh globalisiasi membuat persaingan menjadi semakin ketat, yang tidak hanya bersifat internal dalam satu bangsa dan negara, namun telah jauh menjadipersaingan antar bangsa. Dengan demikian, hanya mereka yang memiliki kemampuan sesuai tuntutan jaman yang akan tampil sebagai pemenang di era persaingan ini.

Menurut Bernei dan Charles, sekurangnya terdapat tiga kemampuan (skills) yang mutlak harus dikuasai pada masa ini. Pertama, penguasaan pengetahuan dan inovasi dengan kompetensi yang menjadi acuannya, antara lain kompetensi berpikir kritis dan memecahkan persoalan. kompetensi kreatifitas dan inovasi. Kompetensi dalam  berkomunikasi, dan kompetensi bekerjasama. Dalam pelaksanaannya, keempat kompetensi tersebut menjadi satu kesatuan yang saling menunjang, sehingga kesemuanya mutlak dikuasai.

life
Bernei Trilling & Charles Fadel, 21st Century Skills, Enhanced Edition: Learning for Life in Our Times, 2009.

Kedua, literasi digital yang mencakup literasi informasi, media serta teknologi informasi dan komunikasi. Dunia digital menjadi ciri yang melekat dengan kehidupan dunia modern; nyaris semua pengetahuan dan keilmuan ditransformasi melalui bentuk digitalisasi. Sudah jelas pada abad ini, mereka yang gagap teknologi akan tertinggal dalam segala aspek kehidupan, mulai dari aspek sosial budaya hingga aspek yang termaktub dalam kegiatan ekonomi.

Ketiga, dalam tatanan karir dan kehidupan, di abad ke-21 ini seseorang dituntut memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan lentur terhadap setiap perubahan mengembangkan inisiatif dan mandiri berinteraksi lintas sosial dan budaya produktivitas tinggi dan dapat dipercaya, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggungjawab. Bila merujuk pada pendapat Bernei dan Charles maka kita perlu kerja keras yang cerdas untuk bisa memenuhi semua unsur yang disampaikan, mengingat kondisi sumber daya manusia kita saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan masyarakat kita yang lebih dari 60% masih didominasi lulusan pendidikan dasar. Sedangkan beberapa negara maju, terutama yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) jumlah lulusan pendidikan dasar sangat rendah, rata-rata telah menyelesaikan pendidikan tinggi.

timss

OECD

Kemampuan nalar kitapun masih rendah, dibanding dengan dengan anak bangsa lainnya. Survey yang dilakukan oleh TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) memperlihatkan kecenderungan anak Indonesia kuat di dalam menghafal, namun kurang dalam mata pelajaran yang membutuhkan penalaran. Untuk pertanyaan IPA, hanya berada pada urutan ke-45 dari 48 Negara. Demikian juga dalam matematika berada pada urutan ke-45 dari 50 negara peserta. Hal ini menunjukkan kemampuan nalar kita masih kalah jauh dibanding kemampuan menghafal. Tidaklah mengherankan, dalam suatu diskusi bertema pendidikan yang diselenggarakan oleh Pokja Bonus Demografi di Jakarta tahun 2015 yang lalu, jelas terpotret bahwa proses pendidikan di Indonesia masih kental dengan pola menghafal dan membaca namun kurang dalam menganalisis.

grafik
puspendik.kemdikbud.go.id

Dari aspek kesehatan, perlu mendapat perhatian serius  guna membentuk generasi penerus yang tangguh. Dalam hal ini menjadi peran dan tanggung jawab semua komponen bangsa, terutama kaum ibu muda usia selain juga pemerintah yang utama.

Gizi menjadi masalah dasar yang dihadapi dalam tumbuh kembangnya generasi yang sehat dan tangguh. Dari perspektif ilmu kesehatan, asupan gizi yang cukup akan sangat mempengaruhi dan menentukan tidak saja kecerdasan melainkan juga pembentukan jasmani yang prima. Hal tersebut dapat dilihat dari data prevalensi stunting balita Indonesia dimana kekurangan gizi sebagai salah satu faktor penyebabnya.

grafik1

Stunting adalah kondisi tubuh yang pendek dan sangat pendek. Selain membawa resiko kematian tinggi, balita yang mengalami kondisi stunting akan mengalami gangguan kecerdasan dan mentalnya. Di Indonesia sedikitnya terdapat 23 juta balita dan sekitar 7,6 juta tergolong stunting (35,6%) terdiri dari 18,5% balita sangat pendek dan 17,1% balita pendek. Angka prevalensi ini diatas ambang batas yang disepakati secara universal, batas non public health problem yang ditolerir oleh badan kesehatan dunia (WHO) hanya 20% atau seperlima dari jumlah total balita di suatu negara. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2016, dari 496 Kab/kota yang dianalisis, 404 Kab/Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat akut-kronis; 20 Kab/Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat kronis; 63 Kab/Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat akut; dan 9 Kab/Kota yang tidak ditemukan masalah gizi.

Permasalahan kesehatan tersebut menjadi hal yang serius, yang perlu mendapat perhatian semua pihak, mengingat kesehatan dan kebutuhan gizi akan menjadi dasar pembentukan generasi yang handal di masa depan. Dalam hal peran dan tanggung jawab seorang ibu sangat menentukan sekali, baik dalam menjamin terjaganya kesehatan pisik anak sejak kecil, yang tak kalah pentingnya adalah membentuk, menjaga dan mengembangkan kejiwaan anak, melalui binaan dan asuhan yang baik, sehingga ketika semakin bertambah usia, perkembangan kepribadian anak juga akan terus terjaga dalam kaidah-kaidah norma yang positif.

Peranan ibu memiliki nilai yang sangat strategis sebagai pondasi keluarga dalam membentuk karakter anak, asuhan dalam pendekatan moral yang bermuatan nilai-nilai budaya akan mampu membentuk pribadi anak yang memiliki norma dan etika dalam lingkungan pergaulan sosial, baik di keluarga maupun di tengah masyarakat. Asuhan tersebut dapat berbentuk anjuran atau larangan bagi anak pada hal-hal tertentu yang aplikatif sebagai wujud dari nilai budaya yang ada di masyarakat, antara lain yang bermuatan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab dan kepekaan sosial lainnya.

Peran ibu dalam keluarga, menempati porsi yang besar dalam menentukan masa depan anak sebagai pribadi yang tangguh dan berkarakter. Pendidikan dalam keluarga dapat memberikan pengaruh besar kepada karakter anak, oleh karena itu salah satu kunci untuk menjadikan manusia Indonesia yang tangguh terletak pada pendidikan dalam keluarga. Karakter anak yang baik merupakan salah satu faktor tumbuhnya prestasi anak dalam berbagai bidang. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi dalam salah satu tulisannya mengungkapkan bahwa karakter seseorang dapat dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana yang bersangkutan tumbuh dan berkembang, demikian pula Mustofa Abi Hamid berpendapat bahwa lingkungan keluarga adalah sebagai basis awal bagi kehidupan setiap manusia.

Kedua pendapat tersebut menunjukkan kepada kita betapa penting dan besarnya peranan lingkungan keluarga dalam membentuk karater seseorang. Berawal dari keluarga sejumlah nilai dan norma dasar mulai diperkenalkan pada anak, sehingga ketika dia memulaiaktifitas diluar lingkungan keluarga (di sekolah atau lingkungan bermain lainnya), dia menjadi tahu mana yang baik dan yang buruk, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Pengaruh negatif dari lingkungan luar melalui beragam media atau saluran lainnya, tidak akan terlalu memberikan dampak, apabila seorang anak memiliki kekuatan proteksi yang didapat dari didikan dan binaan di keluarga. Siapakah yang berperan dalam hal itu?, tentu tidak lain adalah seorang Ibu.

Demikian besar peran Ibu dalam membentuk kekuatan karakter seorang anak, yang terlahir melalui pergulatan dan perjuangan batin seorang ibu. Ibu juga memiliki perhatian dan waktu yang banyak dalam mengasuh dan membina anak, melalui belaian lembut dan kehangatan jiwa seorang ibu, seorang anak sejak balita terus dituntun untuk membentuk karakternya. Lewat dekapan seorang ibu pula, seorang anak akan dibangun pemahamannya dalam menghadapi dan mengatasi tantangan jaman.

Generasi Unggul.

Indonesia hingga tahun 2045 mendatang, Isedikitnya terdapat dua tantangan besar yang menentukan keberlangsungan masa depan bangsa dan negara, yakni bonus demografi dan globalisasi. Kedua tantangan ini membutuhkan kemampuan ‘daya saing’ yang tinggi dari generasi muda produktif. Kompetensi tersebut harus juga diimbangi dengan kuatnya kepribadian atau karakter SDM, sehingga ketika mereka mencapai kemajuan pengetahuan dan keahlian (hard skills) tidakakan menimbulkan perubahan perilaku yang terjadi akibat kesiapan yang kurang (culture shock) dalam menghadapi perkembangan dan tuntutan jaman, terutama kemajuan pesat teknologi komunikasi dan informasi.

Di tengah kompleksitas kelemahan sumber daya manusia, ke depan generasi unggul mutlak diwujudkan. Kaum muda yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi, mandiri, mampu melihat perubahan sebagai sebuah kesempatan, inovatif, haus pengetahuan, berdaya saing mampu, tidak muda menyerah dan berjiwa enterprenuer, menjadi suatu keharusan yang mendesak agar bangsa Indonesia dapat menjawab dan mengatasi tantangan jaman. Lantas bagaimana caranya mewujudkan itu?, jawabannya ada diperan dan tanggung jawab seorang Ibu, yang dituntut untuk mampu menjalankan 3 (tiga) peran sekaligus, yakni: Sebagai pusat dinamika keluarga; Sebagai penunjang ekonomi (bekerja diluar atau berusaha sendiri), dan Sebagai pribadi dengan ragam latar belakang budaya bawaan dan tambahan keilmuannya.

Demikian besar, penting dan strategisnya peran seorang Ibu dalam membentuk karakter anak yang kelak akan meneruskan dan mengembangkan masa depan bangsa, maka sudah sepatutnya kita berikan apresiasi dan dukungan penuh bagi para Ibu, yang di tangannyalah masa depan kita titipkan. Hari ini 22 Desember 2016…adalah penghargaan yang masyarakat Indonesia berikan kepada kaum Ibu di seluruh Indonesia, ketulusan ini didedikasikan penuh atas besarnya tanggung jawab ‘Ibu’ sebagai sosok yang melahirkan, mengasuh, membina, membesarkan dan membentuk kita semua hingga sekarang ini..

Selamat Hari Ibu, selamat berkarya dalam pengabdian tulusnya bagi keluarga dan bangsa.