Opini

Perlukah Keragaman Itu ?

screen-shot-2017-01-01-at-21-05-22

PERLUKAH KERAGAMAN UNTUK KEMAJUAN ?

 

Dalam ilmu genetika kuantitatif dikenal istilah genetic progress atau kemajuan genetik. Secara teori, kemajuan genetik itu berbanding lurus dengan keragaman genetic (genetic variance). Artinya semakin besar keragamannya, semakin besar kemajuannya. Hal ini juga berarti bahwa produktivitas suatu komoditas semakin baik. Karena produktivitas itu fungsi dari genetik. Kesimpulannya, keragaman genetik sangat penting dalam kemajuan, termasuk di dalamnya produktivitas dan mutu produk.

Lebih dalam lagi ilmu genetika menjelaskan pentingnya keragaman ini berkaitan dengan “genetic drift” atau penurunan genetik. Bila suatu populasi sudah terlalu seragam, maka yang terjadi bukan saja kemandegan, tetapi juga penurunan kinerja. Drift bisa diartikan turun secara drastis atau anjlok. Salah satu penyebab penurunan drastis ini adalah persilangan dalam satu kelompok atau inbreeding yang membuat populasi semakin homogen. Bahkan untuk sifat-sifat tertentu inbreeding ini bisa menyebabkan kematian (lethal).

Berdasarkan teori genetika itulah para pemulia tanaman atau ternak membuat strategi-strategi pemuliaan (breeding strategy) agar pertanian dan peternakan terus berkembang. Selain produktivitas, kemajuan ini juga berlaku untuk sifat-sifat yang berkaitan dengan mutu, kesehatan, daya tahan, keindahan. Dengan semakin kuatnya rekayasa genetic (genetic engineering), bioteknologi, dan teknologi nano dewasa ini telah membuat strategi pemuliaan semakin canggih. Teknologi telah banyak menyumbangkan nilai tambah produk secara kualitas dan kuantitas. Itulah yang menjadi faktor perkembangan dunia pertanian, peternakan, dan perikanan di negara-negara maju.

Di balik itu semua tentu adanya manusia yang selalu ingin belajar, memahami hakekat keilmuan, teknologi, serta kekuatan riset dan inovasi. Termasuk mereka memahami makna keragaman berpikir serta tidak saling menihilkan. Apalagi saling hujat. Pemahaman terhadap perbedaan pendapat ini juga melahirkan budaya menulis dan diskusi tanpa saling menyalahkan. Masyarakat model ini biasa disebut K-society yakni masyarakat berbasis pengetahuan yang lebih mengedepankan rasionalitas bukan emosionalitas.

Konsep keragaman genetik ini saya pikir sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam ilmu sosial dikenal istilah keragaman atau kemajemukan sosial (social diversity). Keberagaman sosial adalah cerminan keragaman kelompok yang bisa menstimulir kemajuan. Adalah benar bahwa keragaman itu menjadi rahmat. Karena keragaman dapat menjadi kemajuan sosial seperti halnya kemajuan genetik dalam ilmu genetika. Namun demikian, diperlukan strategi-strategi pemanfaatan keberagaman sosial agar dapat menyumbangkan kemajuan bagi komunitas atau negara. Di sinilah letak pentingnya semua komponen bangsa memahami hakekat kemajemukan atau keberagaman sosial.

Untuk itu kita patut bersyukur bahwa Indonesia dikenal sebagai negara-bangsa yang secara SARA (suku, agama, ras, antar kelompok) cukup beragam. Modal ini bisa menjadi faktor kemajuan bila kita mampu mengoptimumkan potensi ini. Kesalahan perlakuan terhadap modal ini tidak mustahil akan menyebabkan “drift” (penurunan drastis) atau bahkan “lethal” (kematian). Ini cukup mengerikan.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar kemajuan sosial berbasis keragaman ini bisa terwujud secara berkelanjutan. Pertama, syukuri dan hormati keberagaman yang kita miliki. Jangan sampai terjadi perpecahan akibat perbedaan kelompok SARA. Kedua, biasakan memaknai perbedaan pendapat sebagai keragaman berpikir. Bila seseorang mempunyai perbedaan pendapat terhadap sesuatu jangan langsung dimatikan atau bahkan dihujat. Perbedaan itu bisa jadi akibat beda sudut pandang atau latar belakang pengetahuan. Hal ini dapat menjadi bahan untuk diskusi, bukan saling serang. Menghujat berarti juga membunun kreatifitas seseorang.

Ketiga fahami perbedaan mendasar dalam konsep keagamaan dan kebudayaan. Termasuk keragaman konsep di dalam satu agama sekalipun. Tidak perlu memaksakan pemahaman harus diterima kelompok (orang) lain. Pemaksaan kehendak akan berefek pada kehilangan sumber-sumber keindahan dari kelompok berbeda. Keempat lakukan kebiasaan saling memaafkan. Bila ada kekhilafan atau bahkan kesalahan yang dilakukan seseorang lalu dia dengan sungguh-sungguh meminta maaf, sebaiknya dimaafkan. Memberi maaf adalah ciri kebudayaan tinggi yang sangat bermanfaat bagi semua orang, apalagi bagi mereka yang meminta maaf. Perilaku saling memaafkan akan menumbuhkan budaya toleransi dan penghormatan, bukan kebencian dan iri hati.

Kelima jauhkan dari kebiasaan melakukan fitnah, termasuk menyebarkan berita “hoax”. Ada pepatah yang mengajarkan teliti dulu sebelum menyebarkan berita. Bila berita itu tidak benar dan cenderung memecah belah, jangan disebarkan. Bila hal itu berita baik, kegembiraan dan positif, baru sebarkan. Kita harus mampu membedakan antara kritik dan ujaran kebencian.

Keenam biasakan memanjatkan do’a untuk kebaikan atau kemajuan tanpa harus terhalang oleh perbedaan SARA. Do’a itu selalu mendorong semangat baik bagi yang mendo’akan atau pun yang dido’akan. Ketujuh bangunlah budaya politik yang rasional dan lebih mengutamakan kemajuan bersama ketimbang kepentingan kelompok. Kekuasaan harus diarahkan untuk membangun dan melayani masyarakat, bukan perilaku dominasi dan korupsi.

Kesimpulannya, keragaman atau keberagaman sosial itu sangat penting untuk kemajuan. Sebenarnya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika itu mengandung unsur keragaman untuk kemajuan bangsa. Untuk itu harus dipelihara dan dijaga agar tidak terjadi “social chaos” yang lebih berbahaya daripada sekedar kemandegan sosial. Siapakah yang harus memelihara itu semua? Tidak lain adalah semua komponen bangsa, bukan saja pemerintah.