Berita

Pesan Inspiratif TP. Rachmat

PESAN INSPIRATIF TP. RACHMAT

ybb.or.id, – Badan Pembina Yayasan Bhakti Bangsa, TP Rachmat, menyampaikan pidato inspiratif soal pentingnya mindset yang benar, values dan martabat sebagai manusia yang berguna bagi masyarakat banyak.

Berikut kutipan pidato yang disampaikannya pada Scholar Conference 2018, yang digelar YPK A&A Rachmat, di Jakarta.:

Yang terhormat Bapak Boediono, Bapak Buya Ahmad Syafii Maarif, Bapak dan Ibu Rektor atau yang mewakili, rekan-rekan pengusaha, tenaga pengajar, anak-anakku generasi muda, serta Bapak dan Ibu semua yang saya hormati…

Saya ingin mengawali pidato ini, dengan berpesan kepada generasi muda yang hadir dalam acara ini.

Soekarno, Sang Proklamator, di HUT Proklamasi tahun 1964 berkata, “Tuhan tidak akan merobah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya.” 

Kalimat yang diucapkan oleh Soekarno saat HUT Proklamasi tahun 1964 itu sungguh benar adanya. Yang menentukan nasib bangsa adalah bangsa itu sendiri. Yang menentukan martabat sebuah bangsa, adalah bangsa itu sendiri.

Kalian harus menjadi generasi yang lebih hebat daripada generasi pendahulu. Agar dapat menjadi generasi hebat, kalian perlu terus membangun kompetensi yang selaras dengan passion kalian, membangun mindset yang benar, dan memiliki values yang kokoh berakar.

Orang bilang, keberuntungan adalah pertemuan antara peluang dan kesiapan. Selalu siapkan diri habis-habisan, sehingga saat ada peluang, kalian dapat memenangkan peluang itu. Kalian adalah tulang punggung bangsa. Kalian adalah penentu kelangsungan dan kebesaran bangsa ini.

Anak-anakku sekalian,

Bangsa yang besar ini, sejak didirikannya sudah beragam. Beragam suku, agama, ras, dan golongan. 

Pendiri bangsa menegaskan, bahwa bangsa ini harus tetap  bersatu. Beda suku, beda, agama, beda ras, beda golongan, tidak seharusnya jadi pemecah belah. Bhinneka Tunggal Ika.

Sejarah menunjukkan, begitu banyak bangsa yang runtuh, karena mereka mempermasalahkan perbedaan seperti itu. 

Perang saudara, pemusnahan ras, ketidakadilan sosial dan pendidikan, begitu banyak tragedi yang terjadi karena umat manusia mempermasalahkan perbedaan yang tidak pantas dan tidak perlu diperselisihkan.

Saya berpesan pada generasi muda, junjung tinggi ke-bhinneka-an. Jangan mudah terpecah-belah. Jangan justru jadi bagian dari masalah. Kalian harus lantang bersikap dan teguh berdiri menjaga ke-bhinneka-an di Indonesia. Hanya dengan demikian, bangsa ini akan dapat sampai pada cita-cita luhurnya.

Kepada para pendidik, saya ingin menyampaikan hal berikut.

“If you plan for one year, plant rice. If your plan is for ten years, plant tree. If your plan is for one hundred year, educate children. Kata-kata bijak dari Confusius itu sungguh benar. Kualitas dan ketersediaan pendidikan amat sangat penting bagi sebuah bangsa.

Bangsa-bangsa besar menaruh perhatian dan upaya yang begitu bersungguh-sungguh, untuk memastikan kualitas pendidikan. Mereka sadar, Bahwa keberlangsungan, kemandirian, dan kesejahteraan bangsa di masa datang ditentukan oleh kualitas manusianya. Sebuah bangsa akan naik kelas bila kualitas SDM-nya naik. Itu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan kompetensi. Pendidikan juga bertanggungjawab untuk menanamkan values dan membangun mindset. Pengetahuan dan kompetensi akan terus berkembang sejalan jaman, tapi values dan mindset akan selalu relevan dengan segala jaman, dan akan menjadi pembeda yang sulit ditiru.

Bapak dan Ibu dari kalangan pendidikan, yang hadir dalam kesempatan ini, amanah yang dititipkan Tuhan pada Bapak dan Ibu tidak kalah besarnya. Bapak dan Ibu menjadi salah satu kunci, terhadap kualitas generasi penerus. Jangan pernah menyerah untuk mengupayakan kualitas pendidikan yang makin baik, dengan segala keterbatasan yang ada. 

Tuhan memberi hidup dan menjadikan kita seperti hari ini, for a reason. Kita menjadi pendidik, juga for a reason. Baik kiranya bila kita menempatkan profesi kita sebagai wujud ucapan syukur kepada Tuhan, dan menjadikan profesi kita sebagai saluran berkat bagi sesama.

Yang berikutnya, mengenai pengusaha.

Saya akan bercerita sedikit tentang Koch Industries, sebuah perusahaan yang bergerak di industry chemical, yang saat ini merupakan private company terbesar kedua setelah Cargill di Amerika Serikat. Dalam bukunya, Charles Koch mengungkapkan : “Good profit comes from making a contribution in society—not from corporate welfare or other ways of taking advantage of people.” 

Apakah kita sebagai Pengusaha juga berprinsip sama dengan Koch? Sebagai pengusaha, sudah seharusnya berupaya agar usaha kita bermanfaat bagi banyak pihak. Membantu memecahkan masalah masyarakat, atau masalah bangsa, atau bahkan umat manusia. Dan karena usahanya bermanfaat, otomatis secara ekonomi perusahaan mereka tumbuh dengan pesat.

Kita sebagai Pengusaha diberi keberuntungan dapat hidup lebih dari cukup. Kita selayaknya juga berpikir, kalau kita cukup, bagaimana dengan yang lain?

Sudah menjadi tanggung jawab kita juga untuk menjadi distributor of hope bagi banyak pihak. Memberikan sumbangan pemikiran, mempertemukan berbagai pihak, menggalang sebuah gerakan, atau menginspirasi melalui pikiran, perkataan, serta perbuatannya. 

Sudah selayaknya, pengusaha turut serta membangun negara melalui usahanya. Setidaknya karena 2 sebab. Sebab pertama: bersyukur pada Tuhan. Sebab kedua: berterima kasih kepada negara. Bagi yang sudah merasa kaya, ada baiknya untuk bertanya pada diri sendiri: buat apa saya kaya?

Amanah yang diemban pengusaha tidak berhenti sampai di situ. Amanah berikut adalah berkontribusi menyiapkan generasi penerus bangsa yang lebih hebat dari dirinya. Tidak selayaknya pengusaha hanya menggerutu dan menunggu perbaikan kualitas SDM. Pengusaha harus menempatkan diri sebagai pelaku yang aktif dalam meningkatkan kualitas SDM.

Selain membangun kompetensi, saya ingin mengajak para pengusaha untuk juga membangun values (nilai-nilai luhur) dan mindset (cara berpikir) generasi
penerus. Pengalaman hidup saya membuktikan, bahwa values yang kokoh berakar dan mindset yang benar, menjadi pembeda antara orang yang biasa dengan orang yang luar biasa. 

Almarhum teman saya, Pak Benny Subianto, menggambarkan pentingnya values dengan sangat baik, “We have to change with changing time, but we have to hold on to unchanged values”.

Bapak, Ibu, dan anak-anak yang saya hormati dan kasihi,

Martabat manusia ditentukan bukan oleh kekayaannya, tapi oleh seberapa besar dia dapat memberikan manfaat bagi sekelilingnya. Sepanjang jaman, sudah banyak kita lihat, bahkan banyak orang kaya yang justru kurang bermartabat dibanding orang yang kurang kaya. 

Bagi saya, martabat manusia ditentukan oleh seberapa sungguh-sungguh manusia menempatkan kepentingan yang lebih luhur dan mulia, di atas kepentingannya sendiri. Martabat manusia ditentukan oleh seberapa manusia itu sudah ‘selesai dengan dirinya’. Martabat manusia ditentukan oleh life purpose-nya.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak kita semua, untuk merenungkan makna dari martabat. Tuhan tidak menilai kita dari kekayaan kita. Tapi Tuhan tersenyum atas makna dan karya yang kita berikan sepanjang perjalanan hidup kita. Itulah martabat kita.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Jakarta, 12 September 2018

TP. Rachmat.

sb: bisnis.com
editor: indragara.