Celoteh

Petani Di Era Modern

ERA PETANI MILENIUM

Kuntoro Boga

Kementerian Pertanian terus mendorong generasi milenium untuk mengelola dan meningkatkan semua produksi sektor pertanian. Melalui mereka, perdagangan dunia tidak mengenal batas negara dan batas kontinen atau yang dikenal borderless.

Kementerian Pertanian fokus pada program menumbuh kembangkan satu  juta petani milenium dari seluruh Indonesia. Dengan begitu, era percepatan digitalisasi dapat terealisasi secara cepat dan tepat.

Selama ini peran pemerintah dalam transaksi ini sangat terbatas. Dominasi penjual dan pembeli selalu diawali dari generasi milenium. Generasi Milenium diyakini mampu memenangkan kompetisi global yang sangat ketat, keras bahkan kejam. Karena manusia yang kompetitiflah yang akan keluar sebagai pemenangnya.

Anak muda diharapkan mampu melakukan jual beli dengan menentukan term mutu, volume dan time delivery. Sedangkan untuk penjual bisa menyampaikan kondisi barang, harga, syarat serta mekanisme pengiriman dan pembayaran barang.

Situasi ini yang akan mendorong para pihak melakukan upaya untuk memperoleh mutu dan harga serta term pembayaran maupun pengiriman barang yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kopetensi Untuk Generasi Milenial

Dalam upaya menyiapkan generasi unggul, pemerintah juga sedang menyiapkan program sertifikasi berkopetensi untuk generasi milenium. Pemuda harus memosisikan diri sebagai agen perubahan yang siap menghadapi tantangan.

Sertifikasi ini memungkinkan kualitas produk dapat ditingkatkan. Kemudian ada nilai tambah sehingga penetrasi pasarnya makin luas dan dapat diberikan apresiasi harga yang lebih baik.

Sertifikasi ini nantinya bisa digunakan sebagai prasyarat bagi pembeli komoditas pertanian sebagai bagian dari assurance atas kualitas produk. Program sertifikasi juga memungkinkan generasi muda memiliki profesi sebagai pemodal dalam mengembangkan kariernya.

Program ini adalah salahsatu bukti kompetensi atas kemampuan petani dalam melakukan budidaya sampai pengolahan hasil. Kompetansi dalam sertifikasi ini juga telah membuka peluang petani dan generasi milenium untuk memutuskan masa depan profesinya yang terhormat, bukan sebagai buruh atau tenaga kerja kasar.

Anak Muda Harus Bangkit

Melalui program ini, generasi muda diharapkan bangkit dan meneruskan cita-cita pembangunan pertanian. Petani milenium harus mampu berfikir kreatif, inovatif dan mampu memiliki daya saing, sehingga bisa berdiri dan berjaya di negerinya sendiri.

Program ini sejalan dengan kebijakan pemerintah bahwa tahun 2019 adalah tahunnya SDM. Petani milenial juga harus mampu memiliki kompetensi agar bisa menunjukkan keahlian dan kemampuan yang dimiliki.

Sekedar diketahui, saat ini pemerintah sudah menyediaka 98 skema sertifikasi untuk bidang keahlian sektor pertanian. Untuk itu akan dilakukan pelatihan sertifikasi dalam jumlah besar denga  tenaga profesi bidang pertanian dari berbagai sektor bidang pertanian, khususnya siswa, mahasiswa, dosen dan tenaga pertanian lainnya.

Kurang lebih 15.000 orang tenaga pertanian akan disertifikati pada tahun 2019 melalui kerjasama dengan BNSP.

Dukung Kewirausahawan

Upaya dalam mendukung program kewirausahawan dilakukan dengan cara digitalisasi pertanian. Cara ini merupakan salah satu pemanfaatan era keberlimpahan (abandent era), baik dalam bentuk IT maupun proses bisnis baru berupa brand dan konsumen.

“Kita mengunakan ini untuk menggantikan system lama yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi,” kata Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (PPSDMP), Andriko Noto Susanto, Selasa (8/1).

Menurut Andriko, digitalisasi ini dilakukan untuk merespon keterbatasan tenaga kerja dan meningkatkan effisiensi yang mampu meningkatkan produktivitas bisnis, value, produk dan konsumen baru yang men-disruptiveteknologi budidaya konvensional.

“Melalui,precisions farming, marketing  onlinedapat menekan biaya produksi dan pemasaran secara signifikan serta membuka akses pasar tanpa batas,” katanya.

Petani Bisa Bekerja Secara Optimal

Melalui digitalisasi, lanjut dia, petani dapat melakukan otomatisasi dalam panen, pengolahan tanah dan tanam, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman, serta mampu melakukan pemupukan.

Biaya produksinya juga rendah karena mekanisasinya memungkinkan petani mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan cara konvensional. Cara ini memberikan insentif yang lebih baik bagi pemuda milenial yang mengelola lahannya.

Pola moderenisasi yang diatur secara baik diharapkan mampu mendorong anak muda lebih mendalami dan memahani sektor pertanian. Mereka diyakni akan tertarik pada keuntungan tanpa harus kena berpanas-panasan, atau kena hujan dan lumpur.

“Kita harus mendorong minat generasi muda milenial turun ke sawah karena sangat menjanjikan. Implikasinya, petani milenial akan lebih innovative, kreatif, responsiveterhadap perubahan dan tidak pernah puas dengan apa yang sudah dicapai. Inilah awal dari modernisasi pertanian yang kita dambakan,” kata Andriko.

Percepatan Digitalisasi

Menurut Andriko, digitalisasi ini mampu mempercepat peningkatan kesejahteran petani pada era digital secara terintegrasi. Selanjutnya, penggunaan program daring diharapkan bisa menciptakan aplikasi terbarukan untuk mengefisienkan jaringan distribusi dan penjualan langsung dari sentra-sentra produksi ke konsumen.

“Secara umum, kita ingin mengefisienkan sektor pertanian dalam arti luas. Kemudian pemasaran online dan off line juga memungkinkan generasi milenial mengakses penjualan semakin terbuka, sehingga dapat menghasilkan harga terbaik,” katanya.

Seperti diketahui, pemerintah terus berupaya mengakselerasi pembangunan infrastruktur agar menciptakan sistem distribusi pangan yang efisien dan efektif, dalam pencapaian swasembada pangan di seluruh daerah dan tingkat nasional.

“Upaya ini kita harapkan menjadi bahan bakar pembangunan pertanian dalam upaya menyambut generasi emas Indonesia 2045,” kata Andriko.

Digitalisasi Adalah Terobosan


Dia menambahkan, digitalisasi memungkinkan adanya terobosan atau breakthroughpemasaran indirect marketke direct market. Kondisi ini menguntungkan produsen dan konsumen, sehingga dapat membuka peluang kerjasama langsung antara produsen generasi milenial dengan konsumen milenialnya, sesuai dengan syarat, kondisi dan requirement masing masing.

“Program terbaru pemerintah melalui regenerasi petani muda dan digitalisasi dapat mengoptimalkan sinergi di bidang pangan dan nonpangan dalam mewujudkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, memperluas akses petani ke sistem finansial, serta mengurangi kesenjangan antar daerah,” pungkasnya.

***

sumber tulisan: kompasiana.