Opini

Potret Industri Pariwisata Indonesia

INDUSTRI PARIWISATA INDONESIA

catatan redaksi: tulisan ini bukan merupakan tulisan baru sehingga perlu update data untuk melengkapinya. Tulisan ini kami unggah melihat substansi ulasannya masih relevan dengan kondisi sekarang dan konklusi seminar nasional yang pernah diselenggarakan oleh Yayasan Bhakti Bangsa terkait kepariwisataan, Agustus 2017.

Penting bagi industri pariwisata Indonesia untuk meningkatkan kontribusinya pada produk domestik bruto (PDB) karena hal ini akan memicu lebih banyak pendapatan devisa (karena setiap turis asing menghabiskan rata-rata antara 1.100 dollar AS sampai 1.200 dollar AS per kunjungan) dan juga menyediakan kesempatan kerja untuk masyarakat Indonesia (berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik, tingkat pengangguran di negara ini mencapai 5,81% di Februari 2015). Diperkirakan bahwa hampir 9% dari total angkatan kerja nasional dipekerjakan di sektor pariwisata.

Saat ini, sektor pariwisata Indonesia berkontribusi untuk kira-kira 4% dari total perekonomian. Pada tahun 2019, Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan angka ini dua kali lipat menjadi 8% dari PDB, sebuah target yang ambisius (mungkin terlalu ambisius) yang mengimplikasikan bahwa dalam waktu 4 tahun mendatang, jumlah pengunjung perlu ditingkatkan dua kali lipat menjadi kira-kira 20 juta. Dalam rangka mencapai target ini, Pemerintah akan berfokus pada memperbaiki infrastruktur Indonesia (termasuk infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi), akses, kesehatan & kebersihan dan juga meningkatkan kampanye promosi online (marketing) di luar negeri. Pemerintah juga merevisi kebijakan akses visa gratis di 2015 (untuk penjelasan lebih lanjut, lihat di bawah) untuk menarik lebih banyak turis asing.

Di bawah ini kami menyajikan data kunjungan wisatawan asing ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Harap dicatat bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mengubahkan definisi kunjungan wisatawan asing per Januari 2016. Maka terjadi peningkatan tajam antara tahun 2016 dan 2015.

Kunjungan Wisatawan Asing di Indonesia, 2013-2016:

Kunjungan Wisatawan Asing di Indonesia, 2007-2015:

Sumber: BPS

Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah kedatangan turis asing di Indonesia telah bertumbuh secara stabil dari tahun 2007 sampai 2015. Performa yang solid ini didukung oleh pengurangan insiden teroris di Indonesia. Meskipun sedikit, di Indonesia ada kelompok Muslim radikal yang percaya tidak hanya Islam harus menjadi satu-satunya panduan hidup namun juga bersedia menggunakan tindakan-tindakan ekstrim (kekerasan) untuk mengubah dan menghancurkan kondisi-kondisi yang ada saat ini.

Serangkaian serangan teroris yang ditujukan untuk menyerang para pendatang dari negara-negara Barat (Bom Bali 2002/2005 dan Bom Ritz-Carlton/Marriott 2009 di Jakarta) berhasil untuk menghambat kedatangan turis asing karena banyak turis asing dari negara-negara Barat tidak mau menjadikan Indonesia sebagai tempat tujuan wisata di bulan-bulan setelah insiden-insiden kekerasan tersebut (namun dalam setahun jumlah turis pulih kembali). Bom Ritz-Carlton/Marriott 2009 menjelaskan mengapa pertumbuhan kedatangan turis di 2009 terbatas (lihat tabel di atas).

Setelah tahun 2009, belum ada lagi serangan teroris yang ditujukan terhadap para pendatang dari negara-negara Barat. Kesuksesan ini adalah karena usaha pasukan khusus anti terorisme negara ini (Densus 88), yang disponsori oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan dilatih oleh CIA, FBI dan Secret Service AS. Setelah 2009, kelompok-kelompok radikal mulai beroperasi dalam jaringan yang lebih kecil (yang lebih sulit untuk dilacak) dan serangan-serangan ditujukan pada simbol-simbol negara Indonesia (seperti polisi), bukan pada simbol Dunia Barat. Ini mungkin adalah reaksi dari banyak penangkapan yang dilakukan Densus 88 di beberapa tahun terakhir.

Apa yang Menghambat Perkembangan Industri Pariwisata Indonesia?

Dalam Travel & Tourism Competitiveness Report dari World Economic Forum, yang “mengukur sejumlah faktor dan kebijakan yang memungkinkan perkembangan berkelanjutan dari sektor travel & wisata, yang pada gilirannya, berkontribusi pada pembangunan dan daya kompetitif negara ini,” Indonesia melompat dari peringkat 70 di tahun 2013 menjadi peringkat 50 di tahun 2015, sebuah kemajuan yang mengagumkan. Lompatan ini disebabkan oleh pertumbuhan cepat dari kedatangan turis asing ke Indonesia, prioritas nasional untuk industri pariwisata dan investasi infrastruktur (contohnya jaringan telepon selular kini mencapai sebagain besar wilayah di negara ini, dan transportasi udara telah meluas). Laporan ini menyatakan bahwa keuntungan daya saing Indonesia adalah harga yang kompetitif, kekayaan sumberdaya alam (biodiversitas), dan adanya sejumlah lokasi warisan budaya.

Kendati begitu, laporan itu juga menyatakan bahwa Indonesia tidak memberikan cukup penekanan pada keberlanjutan lingkungan hidup (mengakibatkan penggundulan hutang dan membayakan spesies-spesies langka, sementara hanya sedikit dari limbah air yang diolah). Laporan ini juga menyebutkan kekuatiran-kekuatiran tentang keselamatan dan keamanan, terutama kerugian bisnis karena terorisme. Kekuatiran lain adalah karena Indonesia tertinggal di belakang dibandingkan Singapura (peringkat 11), Malaysia (peringkat 25) dan Thailand (peringkat 35) dalam pemeringkatan Travel & Tourism Competitiveness Report 2015.

Kurangnya infrastruktur yang layak di Indonesia adalah masalah yang berkelanjutan, bukan hanya karena hal ini sangat meningkatkan biaya-biaya logistik sehingga membuat iklim investasi kurang menarik namun juga mengurangi kelancaran perjalanan untuk pariwisata. Infrastruktur di Bali luar biasa dan di Jakarta cukup layak (kecuali untuk kemacetan lalu lintas yang sangat besar) namun di luar Bali dan Jakarta kebanyakan infrastruktur di negara ini kurang layak, terutama di wilayah Timur Indonesia karena kurangnya bandara, pelabuhan, jalan, dan hotel. Kurangnya konektivitas di dalam dan antar pulau berarti ada sejumlah besar wilayah di Indonesia dengan potensi pariwisata yang tidak bisa didatangi dengan mudah.

Selain infrastruktur, pendidikan juga menjadi halangan. Meskipun di Pulau Bali dan hotel-hotel mewah di Jakarta kebanyakan penduduk asli yang bekerja di sektor pariwisata cukup fasih berbahasa Inggris (dan bahkan bahasa-bahasa asing lainnya), di wilayah-wilayah yang lebih terpencil penduduk asli kesulitan untuk berkomunikasi dengan para turis. Oleh karena itu, fokus pada mempelajari Bahasa Inggris akan membantu mengatasi keadaan ini. Halangan bahasa ini adalah alasan mengapa sejumlah warga Singapura lebih memilih Malaysia ketimbang Indonesia sebagai tempat tujuan wisata mereka. Kebanyakan turis asing yang datang ke Indonesia berasal dari Singapura, diikuti oleh Malaysia dan Australia.

Titik-Titik Kedatangan

Kebanyakan orang Indonesia memasuki Indonesia melalui Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali, pulau yang paling populer sebagai tempat berlibur untuk turis asing di Indonesia. Pulau ini adalah tempat tinggal dari sebagian besar masyarakat minoritas Hindu Indonesia dan menwarkan berbagai jenis pariwisata Hindu Bali yang berkaitan dengan seni dan budaya dan juga kehidupan malam yang semarak serta wilayah pedesaan yang cantik.

Titik kedatang kedua adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, terletak dekat dengan Ibukota Jakarta. Banyak turis memulai liburan mereka dengan tinggal beberapa hari di Jakarta sebelum berkunjung ke wilayah-wilayah lain dari Indonesia. Jakarta juga merupakan pusat ekonomi dari Indonesia dan, walaupun dilarang oleh hukum, banyak pengunjung asing yang menggunakan visa turis (berlaku untuk 30 hari) untuk berpartisipasi dalam pertemuan ataupun even bisnis di Jakarta.

Titik masuk ketiga yang paling banyak digunakan adalah Batam, kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau, di seberang Selat Singapura. Batam telah berkembang cepat menjadi sebuah kota dengan industri yang berkembang sangat cepat dan juga pusat transport. Kota ini adalah bagian dari zona perdagangan bebas dari Segitiga Indonesia-Malaysia-Singapura. Sejak 2006, Batam (bersama-sama dengan Bintan dan Karimun) menjadi bagian dari Zona Ekonomi Khusus yang bekerja sama dengan Singapura, mengimplikasikan bahwa tarif perdagangan dan pajak pertambahan nilai untuk barang-barang yang dikirimkan antara Batam dan Singapura dihapuskan.

Kebijakan Visa Baru Indonesia

Di 2015, Pemerintah Indonesia memberikan tambahan akses bebas visa ke Indonesia kepada warga dari 45 negara (Peraturan Presiden No. 69/2015 tentang Bebas Visa Kunjungan) dalam rangka mendongkrak industri pariwisata. Sebelumnya, warga dari negara-negara ini harus memiliki visa sebelum memasuki Indonesia. Ini berarti bahwa saat ini ada total 90 negara yang warganya tidak memerlukan visa untuk datang dan tinggal di Indonesia (untuk periode maksimum 30 hari). Sementara itu, Pemerintah juga memperkenalkan peraturan baru tentang kapak-kapal pesiar dan yacht. Peraturan baru ini menghapuskan kewajiban cabotage untuk kapal-kapal pesiar dan yacht internasional, yang berarti bahwa kapal-kapal pesiar internasional kini bisa menaikkan dan menurunkan penumpang di lima pelabuhan Indonesia: Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Belawan (Medan), Soekarno-Hatta (Makassar) dan and Benoa (Bali). Sebelumnya, hanya kapal-kapal Indonesia yang diizinkan secara legal untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di perairan Indonesia.

Perubahan-perubahan kebijakan ini dilakukan untuk menarik lebih banyak pengunjung asing. Meskipun membuka lebih banyak akses bebas visa ke Indonesia menyebabkan negara ini kehilangan kira-kira 11,3 juta dollar AS per tahun (karena saat ini biaya 35 dollar AS ditetapkan untuk ‘visa kedatangan’), tindakan ini diperkirakan akan menarik tambahan 450.000 turis asing per tahun. Mengingat bahwa tiap turis menghabiskan rata-rata antara 1.100 dollar AS sampai 1.200 dollar AS per orang setiap kali mereka berkunjung ke Indonesia, negara ini akan mendapatkan kira-kira 500 juta dollar AS sebagai tambahan pemasukan devisa setiap tahunnya (turis domestik menghabiskan kira-kira Rp 711.000 per perjalanan).

Melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Indonesia mempromosikan diri sebagai tujuan wisata untuk turis-turis asing dengan kampanye “Wonderful Indonesia”. Penting bagi Pemerintah untuk berinvestasi dalam kampanye-kampanye promosional sejenis itu untuk menyebarkan citra positif Indonesia karena kebanyakan negara-negara Barat menerima berita-berita headline negatif dari Indonesia (contohnya Islam radikal, bencana alam seperti tsunami dan letusan gunung berapi), menyebabkan citra negatif yang tidak tepat dari negara ini.

Juga penting bagi pihak-pihak berwenang untuk menciptakan brand yang magnetis mengenai negara ini secara keseluruhan. Walaupun Pulau Bali telah memiliki brand yang kuat dan sangat terkenal di seluruh dunia, Indonesia secara keseluruhan belum memiliki brand seperti itu.

Kesempatan-Kesempatan dalam Industri Pariwisata Indonesia

Dengan bertambahnya jumlah kedatangan turis asing (baik turis maupun pebisnis asing) dikombinasikan dengan pertumbuhan PDB sebesar +5% dan pertumbuhan investasi, ada permintaan yang meningkat untuk hotel dan kondominium (yang menggabungkan ciri-ciri apartemen dan hotel), dan juga tempat-tempat konferensi dan pameran. Apabila target Pemerintah menyambut 20 juta turis asing pada 2020 tercapai maka ada kebutuhan besar untuk industri perhotelan negara ini. Terlebih lagi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang akan dimulai pada akhir tahun 2015, mengimplikasikan hubungan dagang yang lebih intensif di wilayah ASEAN (mengakibatkan semakin besarnya permintaan untuk akomodasi hotel, dll).

Kendati begitu, Bali dan Jakarta telah mendapatkan investasi yang besar di beberapa tahun terakhir (terutama di pasar kelas atas) yang menyebabkan suplai yang berlebihan. Para investor yang ingin mendirikan hotel-hotel di wilayah ini (dan juga hotel-hotel yang sudah ada) perlu memunculkan konsep yang asli dan kreatif untuk menjadi pemimpin pasar.

Kondisi Industri Pariwisata Indonesia:

sumber: Indonesia Investment