Celoteh

Proses Pembelajaran Berbasis Profentik

PROSES PEMBELAJARAN BERBASIS PROFETIK

Proses pembelajaran merupakan inti dari pendidikan. Baik buruk, berkualitas atau tidak sebuah produk pendidikan sangat tergantung dari pengelolaan proses pembelajaran. Semua pihak menyakini bahwa aktor utama proses pembelajaran adalah peserta didik dan guru. Setiap proses pembelajaran (selanjutnya ditulis PP) terjadi, pastilah kedua aktor saling berinteraksi. Disatu pihak, ada perbedaan signifikan antara guru dan peserta didik: setiap tahun siswa ‘datang’ silih berganti untuk belajar, tetapi sebaliknya guru itu tetap, tidak tergantikan dengan tugas dan kewajiban yang sama membelajarkan siswa yang berbeda dari tahun ketahun.

Sudah bisa dipastikan pada titik ini, para guru akan bertemu sebuah situasi yang ‘menggerogoti’ semangat guru dalam menjalankan tugas mulianya: kebosanan, kejenuhan, kemalasan, kepasifan, kecuekan, ketidakkreatifan, dll.

Ada 7 (tujuh) hal yang mengindikasikan guru berada pada titik ini: (1) mengajar sudah lama, 8-10 tahun lebih; (2) tidak mau belajar, pasif, bersifat menunggu, dan ‘jago ngomong’ hanya dalam kelas, tapi ‘sangat menderita’ bila diminta berbicara didepan publik, upacara bendera, kultum atau forum-forum ilmiah lain dan yang ‘lebih parah’ gaptek, tidak pernah ‘megang’ komputer atau laptop; (3) tidak ‘akur’ dengan kolega disekolah atau ‘terlalu akrab’ sehingga sehingga setiap kesempatan pasti ‘ngota’; (4) energi guru terkuras ‘dijalan’ karena jarak sekolah dengan rumah guru relatif jauh; (5) merasa tidak diperhatikan ‘atasan’ walaupun guru itu merasa berprestasi dan ide-idenya sudah tidak didengar sekolah; (6) sekolah terlalu ‘perhitungan’ kalau mengurus ‘hak-hak’ guru; (7)  jarang ‘para pembina guru’ memberi pencerahan, dan dalam kesempatan tertentu, kebijakan sekolah sering diawali dengan ungkapan ‘pokoknya’: pokoknya anak lulus, pokoknya anak belajar, pokoknya selesai’ tapi tidak diajari bagaimana melaksanakan hal hal itu.

Dalam kondisi seperti ini, tugas guru dibantu oleh kepala sekolah, pengawas adalah ‘berijtihad’ mencari formula untuk kembali menyegar semangat guru untuk memulai proses pembelajaran secara maksimal dengan kembali ke hakikat manusia sebagai makhluk tuhan. Dalam hal ini, guru harus meng-upgrade niat mengajar.

Yang ‘mungkin’ bisa dilakukan guru dibantu oleh para atasan guru adalah menyakinkan diri bahwa mengajar itu ibadah yang tak terhitung pahalanya. Membuat peserta didik berilmu merupakan pekerjaan mulia di sisi Allah SWT. Supaya ‘ibadah’ ini tidak kehilangan arah, guru harus mencari ‘seorang figur’, seorang suri tauladan yang menjadi acuan guru dalam ‘ibadah’ itu. Figur yang ideal yang bisa dicontoh pada setiap kondisi adalah model pembelajaran para nabi, yang disebut kepemimpinan profetik.

Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan yang digali dari konsep dan praktik kepemimpinan Rasulullah Saw dalam membangun masyarakat baru yang berdasarkan keyakinan ilahiyah dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kepemimpinan profetik membawa misi kemajuan moral dan spiritual manusia, menanamkan motif-motif kehidupan yang lebih tinggi dan agung, yaitu berupa kualitas kebaikan, keindahan, keadilan, kedermawanan, kehalusan, dan sifat-sifat agung lainnya. Berbekalkan sifat dan karakter tersebut, maka semua nabi dan rasul sukses membawa perubahan dan kemajuan membangun sikap hidup pengikut dan masyarakatnya sesuai dengan zamannya masing-masing (Mujtahid, 2011).

PP profetik dipandang sebagai pola pembelajaran yang paling sukses dalam membentuk sebuah tatanan kehidupan manusia yang berkualitas. Nilai-nila profetik seyogyanya dapat ditransformasikan ke dalam model pembelajaran disekolah.

Micheal H. Hart menempatkan Nabi Muhammad saw dalam urutan pertama di antara seratus tokoh yang paling berpengaruh. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Nabi Muhammad saw berhasil mengubah sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan yang dilakukan olehnya masih terasa sampai saat ini. Ajarannya senantiasa dilaksanakan terus-menerus oleh umatnya tanpa perubahan apa pun. Bukan janji belaka tetapi bukti nyata yang dapat diterima oleh semua manusia

Idealnya guru mempertimbangkan 7 (tujuh) ayat tentang karakteristik pembelajaran profetik yang bisa dilakukan yang diadaptasi dari (Mujtahid, 2011):

Pertamashidiq (jujur). Guru yang profetik mengedepankan integritas moral (akhlak), satunya kata dan perbuatan. Guru yang “shiddiq” selalu bekerja pada kebenaran, tulus, adil, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain, bukan merasa diri atau pihaknya paling benar. Dalam PP, dia jujur menggunakan model, disain, pendekatan, strategi, metode, prosedur, tehnik, taktik sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran. Dia tidak pernah mengajar ‘permainan bola kaki dengan metode ceramah, dsb. Dia jujur dalam merencanakan PP ‘dengan keringat sendiri’, melaksanakan PP juga ‘dengan keringat sendiri’. Dia juga jujur dalam menilai: hebat dibilang hebat, gagal dibilang gagal bukan sebaliknya. Dia tidak pernah menilai siswa dengan membanding ilmu yang dia miliki dengan ilmu siswa.

Keduaamanah. Guru yang profetik mengutamakan nilai-nilai tanggungjawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan keberhasilan, profesional dalam melaksanakan tugasnya.  Dalam PP, guru dipercaya, diandalkan karena dia selalu memberi yang terbaik untuk siswanya, selalu bertanggung jawab atas beban kerja yang diberikan dan kerjanya selalu memuaskan semua pihak.

Ketigatabligh. Guru yang profetik berinteraksi dan berkomunikasi dengan efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi yang jauh ke depan. Dia ‘orator’ sejati, bahasanya simple, mudah dipahami, diamalkan, dan dialami oleh siswa. Apa yang disampaikan kepada siswa selalu menjadi motivasi untuk belajar.

Keempatfathanah (cerdas). Guru yang profetik itu punya kecerdasan majemuk: intelektual, emosional dan spiritual. Guru ini tidak pintar tapi cerdas. Guru ini adalah pemimpin pembelajar, mampu mengambil hikmah dari pengalaman, percaya diri, cermat, inovatif dan bermotivasi tinggi. Setiap kata yang keluar dari ‘mulut’ guru selalu menginspirasi siswa untuk berkarya bukan mematikan kreativitas siswa.

Kelimaistiqamah (konsisten). Guru yang profetik berprinsip selalu ingin berubah kearah yang lebih baik. Guru yang istiqamah adalah guru yang taat peraturan, tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh. Kalau ada siswa yang belum mengerti dengan materi pelajarannya, dia tidak akan menyerah, dia akan mencari metode lain untuk membelajarkan siswa itu.

Keenamijtihad. Guru yang profetik selalu berfikir. Setiap kasus yang terjadi selama PP dijadikan media baginya untuk berijtihad mencari solusi terbaik dalam membelajarkan siswa. Guru itu tidak melihat sebuah masalah dengan ‘kasat mata’, tetapi dia melihat dengan kacata ilmiah, dia seorang peneliti sejati.

Ketujuhmuhasabah (intropeksi diri). Guru yang profetik berprinsip tulis apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang ditulis dalam rangka menjadi bahan untuk intropeksi diri. Dia selalu belajar dari kesalahan dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dia bermuhasabah dan berpikir kritis untuk mencari alternatif melenjitkan prestasi siswa.

Jadi, karakter seperti Nabi inilah yang semestinya di jadikan referensi dalam PP di sekolah. Guru memang tidak akan ‘pernah’ menjadi manusia layaknya seorang Nabi, tetapi guru bisa “mengarahkan” dirinya seperti layaknya Nabi khususnya dalam pengelolaan PP.  Guru InsyaAllah bisa!

Amri Ikhsan, Pemerhati Pendidikan, Dosen STAI Muara Bulian.