CELOTEH

Simpel dan Positif

Screen Shot 2017-02-09 at 18.45.15

SEDERHANA NAMUN BERMANFAAT

Kehalusan budi pekerti, diantaranya dapat diukur dari kesantunan bertutur kata dan bersikap. Tidak usah njlimet menggunakan ragam teori untuk mengukurnya; cukup dua kalimat indah yang sebenarnya telah menjadi kesatuan bagian dari tata krama pergaulan kita, yakni ucap terima kasih dan mohon maaf.

Entah bermula dari mana, kedua kalimat tadi mulai ramai jadi ulasan; bahkan ada pula yang mengkaitkan perilaku kesantunan tersebut dengan kemajuan sebuah bangsa. Misal, Prof. Asep Saefuddin, Guru Besar Statistik IPB yang juga Rektor Universitas Trilogi, bercerita pengalaman ketika masih menjadi mahasiswa di luar negeri. Menurut beliau, Jepang dan Kanada, adalah dua Negara maju yang masyarakatnya masih ketat membiasakan keseharian bersikap santun.

Menurut saya, kedua kalimat tersebut masih kurang banyak dipergunakan dalam komunikasi keseharian diantara kita, baik itu pada lingkungan keluarga, kerja maupun di tempat-tempat umum.

Walau, bukan bermaksud menghakimi, suka atau tidak mesti diakui agak jarang sekarang kita melihat dan atau menerima perlakuan elok itu. Contoh sederhana saja, bisa dihitung dengan jari ucap terima kasih yang kita sampaikan setelah kita menggunakan jasa tertentu (misal, membayar di kasir; turun dari kendaraan umum; dan lain sebagainya) pada penyedia jasa yang bersangkutan. Biasanya hal itu berkaitan karena melihat dari sisi pandang proses transaksi (mengapa harus berterima kasih, kan kita sudah membayar). Contoh lain, saat kita bersamaan masuk ke satu ruangan, katakanlah pintu swalayan dimana seseorang menarik tuas pintu terlebih dahulu, adakah kita mengucapkan terima kasih? Ini baru sedikit contoh.

Demikian pula dengan permohonan maaf. Kalimat ini diungkap apabila berhubungan dengan suatu perbuatan salah atau suatu kejadian yang berakibat kurang baik dan menyakiti pihak lain. Jika dampak yang diakibatkan dari perbuatan tersebut dianggap tidak menimbulkan kerugian maka ada kecenderungan kalimat itu pun tetap tersebunyi entah dimana. Misal — dan ini cukup sering saya alami — ketika orang menanyakan alamat, biasanya langsung to the point bahkan seringkali ucapan terima kasih pun luput disampaikan. Contoh lain, ketika jalan terhalang oleh seseorang, sekarang cukup menepuk bahu dan isyarat tangan meminta jalur. Sepertinya berat untuk berkata, “maaf, permisi”. Mungkin hal ini terjadi karena beranggapan haknya terlanggar oleh orang lain. Satu lagi contoh yang sering ditemukan, ucap mohon maaf akan tersampaikan kalau kaki kita agak keras menginjak kaki orang lain, ya kalau terinjak sedikit sih lewatkan saja, begitu kan?

Kalimat terima kasih dan mohon maaf, bukanlah hal yang layak untuk disematkan sebagai basi-basi belaka. Bahkan dapat dikatakan, makna dari kedua kalimat tersebut sesungguhnya cermin dari pergaulan beradab yakni, menghargai dan menempatkan diri sendiri pada posisi keunggulan manusiawi.

Kalau digunakan sebatas basa-basi, dampaknya seperti yang kita cermati sekarang, tidak sedikit orang mempertontonkan pola komunikasi kasar dan jauh dari beretika. Mengapa? Roh dan makna, kedua kalimat tadi belum menjadi bagian dari nilai dan norma kepribadian (internalized, mengendap, dihayati).

Asa dan rasa kita terbangun, lebih peka dan peduli dalam konteks hubungan pergaulan manusia. Kita akan sangat lebih berhati-hati dan menjaga berpilaku terutama pikiran dan tindakan, demikian pula dengan ucapan.

Suasana keakraban, saling menghargai, menghormati dan saling menjaga membuat komunikasi dan pergaulan akan terasa harmonis dan nyaman tentunya. Sikap-sikap tersebut akan hadir seiring kita sering melatih dan membiasakan diri. Mengasah kepekaan asa dan rasa kita dapat dilakukan melalui mengucap dua kalimat sederhana tersebut. Tampak seperti perkara sepele, namun jika tidak ditradisikan akan terlupakan.

Saya percaya benar, sikap perilaku kita memiliki keterkaitan dan dipengaruhi erat oleh kebiasaan berterima kasih dan memohon maaf …

Maaf apabila kurang berkenan.

Salam.

Sumber: kumparan.com/yayasan-bhakti-bangsa/