CELOTEH

Stunting, Ancaman Demografi

STUNTING, ANCAMAN LATEN DEMOGRAFI INDONESIA

ybb.or.idJakarta – Jumlah anak stunting di Indonesia, secara nasional, terbilang tinggi yakni mencapai 37%. Padahal, jumlah yang di tolelir WHO maksimal sekitar 20%. Dengan jumlah tersebut maka stunting di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Kementerian Komunikasi dan Informatika merilis, anak stunting tidak hanya dialami oleh keluarga yang miskin dan kurang mampu, tetapi juga dialami oleh keluarga yang tidak miskin yang berada di atas 40 persen tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi.

‘…melihat fakta bahwa stunting dialami juga oleh keluarga yang terbilang baik secara ekonomi menunjukkan persoalan stunting bukan semata disebabkan kurang baiknya asupan melainkan berperannya faktor-faktor lain, misal, jika dilihat dari sisi kesehatan maka kontribusi kesehatan diperkirakan sekitar 30%, selebihnya 70% dikarenakan seperti sanitasi, lingkungan bersih, dan lain-lain…’ ujar Fasli Jalal, di Jakarta beberapa waktu lalu (03/01/19).

Lebih lanjut, Fasli menyampaikan saat ini ia bersama lembaganya sedang melakukan pengkajian, pemetaan mendalam diseluruh desa/kelurahan se- Indonesia. ‘…peran perangkat desa/kelurahan sangat strategis. Masih amat langka perangkat desa/kelurahan memiliki data valid by address, demikian pula tingkat kepedulian yang masih jauh dari optimal…’

Menurutnya, selain peran Pemerintah, mulai dari pusat hingga desa/kelurahan, peranan orang tua juga sangat menentukan. ‘…kebanyakan para orang tua belum banyak mengetahui persoalan stunting sehingga pertumbuhan anak yang terhambat sering dianggap sebagai akibat faktor keturunan…’

Untuk mengenal gejala stunting tidaklah terlalu sukar karena secara fisik bisa dilihat yaitu antara lain, anak bertubuh lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/ kecil untuk usianya, pubertas terlambat dan performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar.

‘…Stunting dapat menjadi ancaman bagi generasi Indonesia di masa depan jika tidak segera dicegah. Indonesia akan melewatkan masa bonus demografi hingga tahun 2030, dengan tidak optimal karena tidak dapat menciptakan generasi emas Indonesia…kami (baca: YBB) berharap para pengurus KPBD turut berpartisipasi aktif dalam memerangi ancaman bahaya laten stunting…’ pungkasnya.

sb: esispr//